Menengok Proyek Miliaran di Balaikota
IBARAT perempuan muda bersolek, begitulah dengan DPRD DKI Jakarta. Ruang paripurnanya direhab dengan biaya Rp16,5 miliar dari pagu sebesar Rp18,92 miliar. Rehab selesai akhir tahun lalu oleh kontraktor PT Rimbun Sekawan Utama. Yang diperbarui mulai karpet, dinding marmer, peredam suara, jam dinding berukuran besar, hingga layar ukuran 4,5 x 6 meter di kanan kiri ruangan.
Tak cuma itu, desain atap diubah berikut seluruh komponen penerangan. Hampir sebagian besar rehab mengganti komponen perangkat elektrikal khususnya audio. Mulai dari AC, speaker, amplifier, mixer, wirelles microphone, komputer hingga DVD player.
Menurut Sekretariat DPRD rehab dilakukan karena perangkat audio sudah uzur dan perlu diganti. “Sejak 1984 ruangan ini belum pernah direnovasi,” kata Sekretaris Dewan Hermanto, beberapa waktu lalu. Pada 2011, katanya, sebetulnya tak pernah mengajukan rehab. “Dalam program kami, rehab paripurna tidak ada,” katanya, tetapi saat dirinya mengakses daftar pelaksanaan anggaran (DPA) 2011, alokasi rehab sudah tercantum sebesar Rp18,92 miliar.
Ia mengaku tak membahas anggaran itu. Usulan anggaran itu berasal dari pokok-pokok pikiran dewan. “Kalau sudah muncul di DPA tentu harus dilakukan, kalau tidak nanti kami yang disalahkan,” katanya.
Ia juga tak melibatkan panitia urusan rumah tangga (PURT) DPRD. Ini yang dikritik anggota PURT Wanda Hamidah. Padahal panitia inilah yang menyetujui atau tidak sebelum proyek dilakukan, namun sejak 2011 kedudukannya tak lagi berfungsi. “PURT kan sudah dibubarkan, saya tidak tahu kenapa,” kata Politisi PAN-PKB itu. baca selanjutnya
Buku: kebutuhan atau gaya hidup?
BUKU apa yang mengubah hidup Anda? Tak banyak orang di Jakarta ini, bahkan untuk seluruh negeri ini mengatakan, “Ini buku yang bagus, ini membuat saya mengubah cara berpikir saya terhadap hidup.”
Alih-alih menjawab seperti itu, barangkali malah akan mengatakan,”Apa bagusnya buku itu? Makan saja enggak bisa, mau beli buku. Buku bukan kebutuhan, tapi pemborosan.”
Sudah tidak asing lagi, bilamana kebudayaan baca di Jakarta, atau seantero negeri ini masih kurang begitu baik. Kita bisa cek pengamatan pertama di sekeliling Anda; berapa jam keluarga Anda menonton televisi dibandingkan membaca sebuah koran, majalah, atau buku?; berapa banyak diantara calon penumpang busway atau kereta di Jakarta yang rela sibuk dengan buku yang dibawanya; atau sekedar membawa sebuah buku di tasnya, meskipun itu sebuah komik, yang sering dianggap bacaan rendahan. baca selanjutnya
Suara dari Loteng

SEKITAR jam sembilan malam, aku pulang kerja. Badan terasa letih, sehabis memasukkan motor, kemudian aku rebahan di lantai. Bau asap bercampur keringat terasa betul di tubuhku. Saya belum sempat untuk cuci muka, padahal wajah ini sudah tebal bersaput karbon.
Istri yang menunggu sedari sore memintaku bersih-bersih dan segera tidur, daripada rebahan begitu. Permintaan itu sedikit tak kugubris, sampai kemudian istri sedikit meninggi suaranya. Apa boleh buat, suara istri lebih menakutkan dibandingkan suara setan, bukan?
Aku meminta istri membersihkan mukaku terlebih dulu. Setelah itu, aku ternyata ketiduran dan ketika bangunsudah menjelang jam tiga pagi, dan baru sadar aku belum shalat Isya. Aku bilas bagian tubuh yang terasa panas dan lengket karena keringat.
Saat berganti pakaian, tak lama berselang, terdengar suara tapak kaki di tangga, seperti turun dari lantai dua. Suaranya lembut. baca selanjutnya
Dialog Malam Baru Ibas dan Aliya
MALAM pertama itu selalu dinanti-nanti pasangan yang baru menikah. Apalagi bersama pasangan cantik disampingnya dan musim hujan di bulan November ini. Romantis yang tak terperi.
Ibas dan Aliya, sama pula dengan pasangan pada umumnya. Orang menikah tentunya memiliki niat yang mulia, tapi bagaimana bisa pernikahan kali ini banyak dicibir masyarakat Indonesia. Hampir kebanyakan orang, entah wartawan, karyawan, pegawai negeri, penyiar radio, politikus, aktivis, LSM, pengangguran mencela pernikahan anak ragil Presiden SBY ini.
Padahal, menikah itu sebuah kebaikan. Dan kenapa, orang yang sudah mampu menikah masih saja dicibir? Menikah itu sebuah jalan. Memang banyak rintangan, entah goda wanita dan harta di sepanjang jalan. Tapi, menikah adalah bisa menenangkan syahwat.
saya tak bisa membayangkan apa yang dikatakan Ibas kepada Aliya di malam pertama mereka. Boleh jadi, Aliya berkata, “Mas, kenapa dirimu banyak yang membenci? Apakah kamu benar-benar jodohku selama ini?” baca selanjutnya
Mengunyah Steve Jobs (2)
WALTER ISAACSON adalah wartawan, ia pernah memimpin CNN dan sebagai manajer editor Majalah Time. Setelah keluar dari dua perusahaan itu ia menjadi CEO Aspen, sebuah perusahaan nirlaba internasional yang bergerak di bidang riset untuk membina kepimipinan, memuat dialog isu-isu kontemporer melalui seminar.
Kepiawaiannya menulis biografi, sepertinya membuat Jobs kepincut menggandengnya. Isaacson adalah penulis biografi “Einstein: His Life and Universe”, “Benjamin Franklin: An American Life”, dan “Kissinger: A Biography”.
Tak mudah bagi Jobs untuk membujuknya agar mau menulis dirinya. Isaacson pernah menolak tawaran itu, ia menganggap Jobs masih terlalu ‘muda’ untuk ditulis sebab masih berada di tengah karir yang sedang naik turun, dan Jobs masih dalam suka-duka dalam kerjanya. Makanya ia keberatan untuk menulisnya.
“Tidak sekarang. Mungkin satu atau dua dekade lagi, saat kau pensiun,” kata Isaacson (hal.xvi).
Tapi Jobs berpikir lain, ia seperti memiliki kekuatan untuk membaca masa depan. Saat Isaacson meluncurkan buku Einstein, Jobs diundang. Sambil berjalan dan bincang-bincang, Jobs menawarinya kembali soal ide bukunya. Jobs mengatakan bahwa dirinya akan menjadi topik yang menarik. Dan buktinya, sepekan diluncurkan buku Jobs laris manis tanjung kimpul! Tak ada yang menduga, tapi Jobs berpikir lain.
Keduanya memang sudah saling mengenal sejak Jobs mulai menggembor-gemborkan produknya Macintosh di era 1980-an. Sejak saat itu, ia melihat semangat juang Jobs dalam berinovasi. Ia mulai menyukai Jobs. baca selanjutnya
Mengunyah Steve Jobs (1)
STEVE JOBS tak bisa memberikan pidato dalam peluncuran buku biografinya, “Steve Jobs” karya Walter Isaacson pada 24 Oktober 2011. Itu lebih awal dari rencana semula pada 21 November mendatang. Jobs, pendiri Apple Inc. Sebuah perusahaan komputer pribadi, itu meninggal di usia 56 tahun pada 5 Oktober lalu lantaran penyakit kanker pankreas.
Di tangan penulis sekaliber Isaacson, buku tersebut memukau jutaan orang di dunia. Reuters menulis, di pekan pertama penjualan buku terbitan Simon & Schuster, New York tersebut terjual sebanyak 379 ribu kopi.
“Terjual tiga kali lebih banyak ketimbang buku yang berada di peringkat dua Litigators karya John Grisham,” kata Reuters, 4 November lalu.
Ia menjadi salah satu dari 20 buku paling laris pada tahun ini dan sudah dicetak sampai tiga kali dalam sepekan pertama usai diluncurkan.
Bahkan, BBC memprediksi buku ini akan menduduki 10 besar buku dengan penjualan terbaik pada akhir 2011. Amazon.com, perusahaan ritel online terbesar di dunia, juga mengakui bahwa permintaan terhadap buku Steve Jobs sangat tinggi dan akan bisa menduduki posisi penjualan terbaik tahun ini. baca selanjutnya
Muhaimin dan Doa Tolak Bala

DRAMA politik rombak kabinet Indonesia bersatu II telah usai Oktober lalu. Melihat hasilnya, tanggapan publik toh biasa-biasa saja dan barangkali mau bilang,” Olala…begitu saja?”
Mau dikata menteri-menterinya bagus, tapi kok di dalam hati bilang enggak. Mau bilang enggak pantas, kok ya hasilnya mereka tetap dilantik. Ya sudah. Kita sebagai warga negara yang baik menonton tingkah polah mereka saja. Sampai sejauh mana sepak terjang di tugas barunya.
Barangkali, kalau ada yang ‘keseleo’, paling banter kita tempik sorai dengan tepuk tangan. Yang jadi wartawan kerepotan sana-sini mencari pernyataan. Karena kebanyakan statement, kebenaran yang dicari hilang. Wartawan sibuk mencatat ‘ludah-ludah’ para tertuduh yang malah asyik mejeng di layar kaca. Ya begitulah. Ya sudah. baca selanjutnya



