labib akmal basyar

Sekelumit Catatan Politik Anas

In Resensi Buku on 3 February 2014 at 22:08

Gambar

Judul : Janji Kebangsaan Kita (Kumpulan Esai Sosial-Politik)
ISBN : 978-602-14111-0-0
Penulis : Anas Urbaningrum
Penerbit : Penerbit Sierra bekerjasama dengan Perhimpunan Pergerakan Indonesia
Cetakan : Pertama, September 2013
Tebal : 210 + xxiii
Harga : 49.500

ANAS Urbaningrum memang menarik khalayak. Kicauannya di akun Twitter pun bisa menjadi sebuah berita dan tentunya masih ingat status BlackBerry-nya yang membuat “geger” politik terkait apa dan mengapa ia menulis: Politik Para Sengkuni?, saaat ia “berkonflik” dengan internal Demokrat. Anas memang news maker, apalagi sejak ia diduga menerima gratifikasi dalam proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Tiga bulan sebelum ia dijebloskan ke tahanan KPK, buku terbarunya, Janji Kebangsaan Kita, dicetak. Tap ia baru diluncurkan pada 17 Januari 2014 bersamaan dengan peluncuran buku Selalu Ada Pilihan karya Susilo Bambang Yudhoyono.

Memahami Serba-Serbi Jurnalisme

In Resensi Buku on 22 January 2014 at 22:36

Judul : 50 Tanya-Jawab tentang Pers
Pengarang : Agus Sudibyo
ISBN : 9789799106650
KPG : 901130760
Ukuran : 200 x 135 mm
Halaman : 226 halaman
Harga : Rp 40,000

APAKAH infotainment termasuk bagian dari jurnalistik? Pertanyaan ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan pan jang di kalangan pers. Sebagian kalangan media menilai infotainment hanya mengekspos hal-hal yang berbau privat dan gosip para selebritas yang tidak layak ditonton khalayak.

Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers periode 2010-2013, menjelaskan secara lugas persoalan hal itu dalam buku terbarunya berjudul “50 Tanya-Jawab Tentang Pers”  (2013).

Ada tiga tolak ukur yang dipakai Agus Sudibyo untuk menilai apakah produk infotainment termasuk jurnalistik atau bukan.  Pertama , siapa yang memproduksi atau yang bertanggungjawab secara langsung atas program infotainment di stasiun televisi?  Ruang redaksi (newsroom) atau divisi lain? Jika program infotainment dimaksudkan sebagai program jur  nalistik, jelas dia harus melekat kepada ruang redak si, menjadi bagian integral lingkup tanggungjawab penanggungjawab redaksi. “Perlu digarisbawahi, ranah jurnalistik di sebuah stasiun televisi sebenarnya terbatas pada ruang redaksi ini,” tulis Agus. (hal. 37).

Tolak ukur kedua , apakah yang dibahas dalam tayangan infotainment? Perlu digarisbawahi, tidak semua segi dari kehidupan seorang artis bersifat pribadi dan tidak koeksisten, dan tidak bersifat komplementer atau saling menggantikan,” tulisnya (hal. 39).

Tak hanya persoalan itu yang dipaparkan Agus dalam bukunya. Banyak hal tentang jurnalisme yang dibahas seperti budaya amplop, berita negatif, keberimbangan di media siber, kekerasan terhadap wartawan, komentar-komentar di media siber menjadi tanggung jawab siapa, jurnalisme warga, media sosial sebagai sumber liputan, cara pengaduan ke Dewan Pers, fungsi humas, surat pembaca, dan lain-lain. Buku ini disusun dalam bahasa yang populer yang lebih mudah dimengerti pembaca.

Mereka Memilih Menjadi Patung

In Esai on 13 December 2013 at 00:43

salah seorang manusia patung di Monas, Jakarta Pusat (foto: andisn)

BAGAIMANA rasanya dipanggang Matahari seharian? Tanyalah kepada Sugeng Raharjo (37), yang sehari-hari menjadi manusia patung di Taman Monumen Nasional, Jakarta.

“Risiko panas itu sudah biasa. Saya punya hobi naik gunung, saya pernah jalan Jakarta-Bogor, jadi seperti ini enggak kaget,” ujar Sugeng di sela melayani pengunjung Monas untuk berfoto bersama, Kamis (5/12).

Ia memakai baju ala militer bewarna emas. Sampai wajahnya pun diwarnai emas, hanya giginya yang tak ia warnai. Memanggul bedil layaknya tentara, ia pun mematung. Jika ada pegunjung meminta foto bersama, ia berhenti lalu berpose sesuai selera pengunjung. Hari itu, ada empat orang yang menemaninya. Tiga orang berdandan militer juga, sedangkan satunya ala kuntilanak.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 160 other followers

%d bloggers like this: