Langsung ke isi

Jer Basuki Mawa Bea Dunia Politik Pilkada

22 Mei 2012

“JER basuki mawa bea,” pepatah Jawa itu benar-benar diterapkan di dalam tubuh partai politik di Indonesia. Bahwa segala sesuatu itu membutuhkan biaya, bahkan untuk menjadi kepala daerah mulai tingkat gubernur, bupati, atau walikota.

Perkara itu bukan rahasia umum lagi, bahkan ada calon bupati yang rela mengeluarkan sampai Rp1 miliar hanya untuk menang Pilkada Bojonegoro tahun 2008. Temuan itu diungkap oleh Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro saat dihubungi Jurnal Nasional, Selasa (22/5).

Saat itu, Siti melakukan penelitian di enam pilkada kabupaten serentak digelar di Jawa Timur pada tahun 2008. Dalam penelitiannya, ia mengatakan, para calon mengeluarkan uang yang begitu besar untuk diserahkan kepada partai politik. “Hampir semua partai begitu. Itu bukan rahasia umum lagi dan besaran nominalnya bertahap,” katanya.

Kuasa uang ini juga tak lepas di perhelatan Pilkada Bekasi yang bakal digelar 16 Desember 2012. Partai-partai yang mengusung calon walikota dan wakil walikota Bekasi saat ini mulai menjaring para calonnya. Salah satunya, adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). baca selanjutnya

Dari Johar 8: Dari Gang ke Gang

21 Mei 2012

penjual sayur keliling di jaman kolonial belanda

SAMBIL ngobrol di teras rumah Bude Prada, saya disuguhi jus jambu. Suegeerr…!! jus buatan Simbok manisnya pas di lidah. Hari itu, Bude Prada sedang pergi ke luar kota. Maklum liburan empat hari sejak Kamis kemarin, dimanfaatkan Bude keliling beberapa kota, menemui rekan-rekan bisnisnya.

Saya mampir ke rumah Bude Prada, sehabis liputan dari rumah sakit Polri Said Soekanto: korban pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat dua pekan lalu.

Simbok memanggil tukang sol sepatu, yang melintas di jalan depan rumah. Ada sepatu milik Bude Prada yang perlu dijahit dan dilem lagi. Simbok mengeluarkan dua pasang sepatu. “Ini buatan Cibaduyut,” kata Simbok. “Juragan jarang suka made in Singapura atau Eropa,” lanjut Simbok, sambil cekikikan.

“Itu ngejahit sama ngelem, berapa?” tanya Simbok.

“Dua puluh lima ribu saja,” jawab Ujang, sebut saja begitu namanya, pelan.

Kotak perkakas yang dipikulnya kemudian diturunkan dan dibuka. “Bismillah..,” ucap Ujang. Peralatannya tidak begitu banyak. Ia cuma berbekal gunting, alat pelubang, lem, benang, karet, palu, dan besi penahan mirip cetakan sepatu. Beratnya, katanya,  sekitar 15 kilogram (kg). baca selanjutnya

Dari Johar 8: Megap-megap karena Impor Buah

15 Mei 2012

SORE itu di teras rumah, Budhe Prada sedang leyeh-leyeh di kursi malasnya, sambil membaca Jurnal Nasional, yang belum rampung dibacanya saat sarapan tadi.

Ditambah suasana sore yang cerah, cahaya senja yang menghias langit, rumah Budhe Prada yang bergaya kolonial dipadu ornamen keraton, terasa nyaman dan tenang. Saya hari itu mampir memberi buah tangan setelah pulang dari Medan, Sumatera Utara.

Kok repot-repot Dimas Andi. Simboookk, buat minuman untuk tamu agung kita ini,” kata Budhe Prada.

“Ah enggak seberapa Budhe, cuma duren Medan sama Bika Ambon,” kata saya.

Tak terasa perbincangan ngalor-ngidul, akhirnya Budhe Prada sedikit serius, apalagi menyangkut durian yang saya bawa. “Saya gregetan sama durian asli Indonesia,” katanya. baca selanjutnya

Ketika Pak Raden Merindu “Si Unyil”

10 Mei 2012

PENCIPTA boneka “Si Unyil”, Drs Suyadi atau dikenal dengan “Pak Raden” merasa tak memiliki apa-apa lagi semenjak hak cipta tokoh “Si Unyil” itu ‘hilang’ dari tangannya.

Hak cipta “Si Unyil” diambil alih oleh Perum Produksi Film Negara (PFN). Makanya, ia meminta agar PFN mengembalikan serial yang ditayangkan di stasiun TVRI era 1980-an itu kepada dirinya

“Saya tidak punya apa-apa sekarang,” kata Pak Raden saat ditemui di rumahnya, Jalan Petamburan III, RT03/RW04 No.27 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat, Jumat (13/4).

“Dulu saya tidak memperhatikan soal ini, tapi sekarang, bertahun-tahun saya kerja, sama sekali saya tidak memetik hasilnya. Tapi orang lain dan senang pakai nama ‘Si Unyil’ dan nama ‘Pak Raden,” ujarnya.

Saat datang ke rumahnya, kondisinya sungguh memprihatinkan. Sosok yang terkenal dengan dunia anak-anak, tenar sejak bertahun-tahun tapi tak memiliki rumah.

Sejak tahun 1980-an, tiga kali pindah rumah kontrakan. Rumah terakhir ini adalah milik kakaknya. Kondisinya pun tak layak untuk sekelas Pak Raden; dari atap bocor, sirkulasi udara buruk, berada di gang sempit, sampai rekaman kaset “Si Unyil” dan buku-buku koleksinya yang tak terurus. baca selanjutnya

Suu Kyi dan Bayang-bayang Barat

10 Mei 2012

BEBERAPA waktu lalu saya akhirnya menonton Film The Lady (2012), yang berkisah tentang tokoh pro-demokrasi Burma atau kini dikenal Myanmar. Aung San Suu Kyi, begitulah orang-orang Burma menyebutnya. Wanita ini keturunan Jenderal Ang San, ayahnya yang dibunuh oleh kudeta militer pada tahun 1960-an. Dalam film ini digambarkan bahwa kudeta dilakukan oleh seorang prajurit militer, anak buah Aung San sendiri.

Film itu berdurasi sekitar dua jam. Saya menonton bersama istri di Bioskop Metropole XXI, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/4/2012). Dari mula saya menonton itu karena ingin tahu seberapa jauh peran Aung San Su Kyi ini dalam perjuangan di Burma. Sebagai tokoh politik perempuan, ia sosok yang populer di dunia. Dari film itu pula, saya baru mengetahui kalaulah, Aung San Su Kyi penerima Nobel Perdamaian tahun 1991. Ia juga menjadi cover di Majalah Time  berkat perjuangan politiknya yang ingin mewujudkan demokrasi di Burma.

Apalagi dalam pemberitaan internasional, dirinya selalu ditulis “teraniaya” secara politis oleh junta militer yang berkuasa selama hampir 40 tahun. Ia menjadi tahanan rumah selama hampir 20 tahun: tidak boleh berpolitik, tidak boleh behubungan dan atau bepergian ke luar negeri, dan yang paling menyedihkan – baru saya ketahui di film itu – adalah dirinya tak boleh berkontak telepon dengan suami dan kedua anaknya yang berada di Inggris, sehingga lengkap sudah penggambaran belas kasihan terhadap dirinya.

Dalam film ini, Ang San Suu Kyi – seterusnya saya sebut Suu, diperankan oleh aktris asal Malaysia, Michelle Yeoh, yang lebih sering bermain laga di film-film Hongkong. Menurut saya, dalam hal fisik Yeoh memiliki kemiripan dengan Suu: mulai wajah, tubuh kurus, mata, warna kulit, dan tinggi badannya tak jauh beda. baca selanjutnya

Duh, Sepinya Kerja “Rumah Rakyat” Jakarta

9 Mei 2012

MENGINJAK lobi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta sejak Selasa (8/5), tidak begitu terasa ada aktivitas kerja. Bagi masyarakat yang baru kali pertama datang tentu akan bingung, karena memang selama ini tak pernah ada pengumuman agenda rapat dewan.

Hal sama juga terlihat pada Rabu (9/5). Sejak Senin (7/5) malam, hampir sebagian besar anggota dewan melawat ke beberapa daerah agenda rutin kunjungan kerja. Mereka terbagi-bagi sesuai dengan komisi masing-masing.

Komisi A berkunjung ke Pemprov Jawa Barat, Komisi B dan Komisi C ke Pemprov Bali dan DPRD Bali, Komisi D ke Pemprov Nusa Tenggara Barat, Komisi E ke Pemprov Riau. Lawatan itu terhitung selama tiga hari. Dan Rabu ini adalah hari terakhir. Tapi tidak banyak orang yang tahu agenda kunker ini, karena ketidakjelasan agenda dewan.

Selasa itu, saya menjumpai beberapa office boy (OB) yang keluar masuk ruangan. Saya sempat berbincang dengan seorang perempuan, pesuruh (OB) yang ada di ruangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Saat itu, dirinya sedang duduk berdua di depan pintu, dengan salah seorang staf perempuan di Fraksi PAN-PKB, yang memang bersebelahan. baca selanjutnya

Dari Johar 8: Manusia Merek

8 Mei 2012

DALAM sebuah keluarga metropolitan di kawasan kebayoran baru, azan Subuh baru selesai. Pemilik rumah masih terlelap dalam tidur. Dari ruang dapur, Simbok Minah baru saja bangun dan menyalakan lampu, lalu mengambil wudhu untuk shalat.

Hari itu, Simbok Minah diminta masak semur jengkol, pesanan Budhe Prada, juragannya. Jam 7, Budhe Prada sudah bangun. Ia dandan mlipis. Sambil turun tangga, wanita paruh baya itu menggendong Hermes Cibaduyut di tangan kirinya. Batik cokelat Danarhadi yang melekat ditubuhnya, membuat Budhe Prada tampak anggun.

Budhe Prada ini suka pergi antarakota, antaraprovinsi. Maklum, pebisnis kain terkenal. Ia sering ke luar kota, menyambangi rekan bisnis. Ya, meski tamatan SMP, bukan berarti ia tak paham merek-merek internasional, makanya butiknya diberi nama: “Budhe Prada”. Sudah 10 tahun ia memulai bisnis itu, sampai-sampai, anak buahnya dan pelanggan, sudah lupa nama juragannya dan menggantinya dengan: Budhe Prada. Namun, Watiningsih, nama aslinya, tidak marah, ia malah senang karena sedikit bau kebarat-baratan. baca selanjutnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.