Keliling Dunia Berkat Jeniper dan Jenisa

SUATU hari kelak, Benhardi yakin akan menjadi pengusaha besar. Keyakinan itu tak membuat dirinya kecewa ketika harus melepas jabatan sebagai general manager (GM) pada 1996. Jabatan sebagai seorang GM di Jakarta dengan gaji Rp4 juta per bulan kala itu ia tanggalkan. Padahal, berapa banyak orang yang berani ambil risiko?

Tetapi, Benhardi mau berisiko. Ia turuti mimpinya untuk berwirausaha. “Saya ingin menjadi pengusaha. Sejak kecil, itu mimpi saya,” katanya kepada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu di sela acara pelatihan Indigopreneur Usaha Kecil Menengah di Kuningan, Jawa Barat.

Bermodal sekitar Rp3,8 juta, bersama keluarga, Ben memilih jualan jeruk nipis. Ia memandang usaha makanan atau minuman tak akan pernah mati, apalagi produk berbahan jeruk nipis masih sedikit di pasaran.

Ia paham bila jeruk nipis ini hanya dijual seadanya, tentu tak begitu menarik perhatian orang. Ia butuh merek andal sampai bertemu nama, “Jeniper“, singkatan dari jeruk nipis peras.

“Saya ingin punya nama enggak hanya untuk saat ini, tapi 10-15 tahun ke depan masih enak didengar,” kata pria kelahiran Jakarta 46 tahun silam ini. Dan ternyata, setelah masa 15 tahun, produknya makin diburu orang. baca selanjutnya

Dari Johar 8: Pasar Boplo

SELASA malam, 31 Januari 2012. Sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya, seorang wartawan menanyakan, “Kantormu kebakaran ya?”

Saya sudah di rumah waktu itu, saya pun menelepon kawan kantor. Benar, kebakaran terjadi di belakang kantor Jurnal Nasional. Karyawan sempat panik dan keluar gedung, tapi api tidak mencapai gedung kantor. Hanya Pasar Boplo atau Gondangdia yang ludes dilalap si jago merah. Enam kios dan tiga rumah raib. “Tadi sempat evakuasi, sekarang kita sudah kerja kembali,” jawab kawan saya itu.

Terbakarnya sebuah pasar, otomatis melumpuhkan roda perekonomian masyarakat bawah. Berapa jumlah pedagang yang merugi hingga jutaan rupiah karena dagangan dan kiosnya hilang. Tak hanya itu, kebakaran itu juga mengancam kerja ekonomi di sekelilingnya, ada perusahaan rekaman Nagaswara dan tentu kantor saya sendiri.

Bayangkan kalau api itu melalap dua kantor tadi, secara domino melumpuhkan ekonomi usaha lainnya. Ada orang gagal jadi artis gara-gara rekaman gagal, oplah koran turun karena tak terbit berbulan-bulan dan tentu tak ada pemasukan perusahaan. Para karyawan menunggu gaji yang tertunda, sedangkan utang keluarga menumpuk, karena terlambat bayar.

baca selanjutnya

Dari Johar 8: Uang dan Sebuah Kutukan

WILL Salas sadar bahwa hidupnya hanya mencapai 25 tahun, dan setelah itu ia hanya punya modal waktu sebanyak satu tahun. Jika tak pandai mengatur, jatah waktu itu bisa habis dalam sejam. Padahal, Will orang miskin.

Makanya, ia berangkat kerja seperti orang diburu anjing. Ia berlari untuk memperpendek jarak dan agar waktu tidak terbuang percuma. Ia tak naik bus karena tiket mahal. Waktu adalah uang, ia ingin berhemat. Saban hari, hidupnya adalah memburu waktu, sebagai modal untuk memperpanjang hidupnya.

Sementara orang-orang kaya atau yang memiliki warisan banyak hidup istimewa di Kota Greenwich. Memiliki jatah waktu hidup puluhan tahun bahkan berabad-abad, tentu saja hidup tak perlu tergesa-gesa.

Mereka “merasa” tidak perlu lagi bekerja. Tapi mereka membuka kasino, berjudi, mabuk di bar, bahkan “mengatur waktu” hidup orang lain dengan menguota waktu per wilayah. Apa susahnya bagi orang kaya mengambil jatah waktu orang miskin? baca selanjutnya

Kenya

untuk kate middleton

bermil-mil dari Berkshire aku menemanimu ke sini, dengan segala harap dan doa. kubawa sekantung embun dari rerumputan tanah Inggris Raya

demi memberimu kesejukan di tanah Kenya. untuk sejenak kemudian memandang senja di pinggir ombak lautan Hindia

kau berkali-kali menyulam senyum, tak lelah menatapku. sementara ragu itu masih tertanam seperti batu

apakah kau pilihanku?

sebab yang sudah-sudah keluargamu, bakal menjauhkanku dari duniaku. aku mengenalmu dan kuharap kau tak seperti ayahmu

I’m the one who wants to love you more {1}

“maukah kau menikah denganku?” kau berbisik seperti debur ombak Hindia, menghantam karang hatiku.

“kau meminangku, William?”

ini tanah Kenya, bumi benua hitam saksimu. ketika kau mengatakan sumpah, untuk memilikiku abadi. dan suatu saat pasti aku ingin kembali ke tempat ini setelah ragaku bakal terkunci berhari-hari di Buckingham

sebab tanah ini tanah Kenya, bumi benua hitam. saksi abadi sebelum kita kembali ke Buckingham

kalibata, 30 April 2011

 

{1}  Celine Dion–to love you more

Aku ingin bercerita tentang bianglala

Lelah kubergunjing di balik tirai ini bersama burung-burung gereja. kumenunggumu menyibak tirai dan mengecup keningku

Setelah sekian puluh malam kau seperti batu membisu. Aku ingin bercerita tentang bianglala yang kau sulam dalam jendela hati ini

dan kuingin ada sebait kisah tentang itu. sebab kutahu kau bukan batu atau mungkin aku salah mengerti?

Entahlah,

Telah berpuluh senja yang kutunggu kau tak berkirim kabar. bahwa tak lagi ada sebaris bianglala yang tergambar di tirai juga di hati.

Sebab apa, ia pergi?

Duhai hati!

Di dalam pedih dan sepiku

(ku)mencoba tetap terus bertahan

Aku ingin kau ada namun kau tak ada (1)

 

Jalan Damai, 26062011

23.00 wib

tabik,

ASN

(1) Baim-Seperti Yang Kumau

Terdampar di Sebuah Kota yang Sunyi

Ketika malam sudah menjelang, kota ini berubah menjadi liar sekaligus sunyi. Orang-orang mulai menggeliat di beberapa kawasan. Sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan selayaknya pagi menjelang, kota ini mulai berisik.

Tapi kota ini berubah sunyi dan kelam bagi orang-orangnya mulai terserang bosan. Orang-orang kota sering diterpa kebosanan dan kejumudan. Mereka memang terlihat senang dan bersuka ria, padahal sunyi dan kelam di lubuk jiwanya.

Kau pasti bisa melihat bagaimana saban malam, mereka yang sering menggap ‘orang kota’ akan mampir di beberapa bar, café, atau sebuah minimarket yang menjual kopi atau bir. Selain menungu kemacetan reda, mereka akan bergosip sambil menyulut beberapa batang rokok hingga larut malam. Atau lari ke beberapa tembok-tembok musik karaoke. Berteriak keras melepaskan kepenatan. Begitulah akrobat-akrobat bagi jiwa-jiwa yang malang.

Pada sebuah malam, ia mengumpat terus menerus. Hari itu hujan turun seharian. Acara televisi berkal-kali digantinya. Ia tak suka dengan film silat, lalu digantinya dengan acara musik.

Dari sekian program acara yang ada, tak ada mampu membuatnya tertarik. Sekilas ditontonnya musik dangdut. Belum semenit lewat, ia sudah memencet remote dan berpindah ke acara wayang. Ia tertawa. “Ini baru acara kita. Indonesia booookk!” baca selanjutnya

Saya Gumun, Saya Jadi Bingung

SEPULANG dari kondangan tadi siang, saya kok masih kepikiran terus pernikahan adik tingkat kuliah dulu di UNS. Dia satu angkatan dengan istri saya. Ini bukan soal tata rias atau pakaian pengantin yang biasa dipergunjingkan tetamu sembari ngemil suguhan resepsi.

Saya ini tipikal orang gumunan; ada saja sedikit aneh dan unik, secara tidak sadar saya kadang tercengang dan bertanya-tanya. Nah, kali ini saya datang ke resepsi pernikahan di hotel. Yang punya hajat menyewa auditorium hotel di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan. Saya enggak tahu, hotel itu punya bintang berapa, yang jelas sewa di situ tarifnya tentu tak murah. Dan, ini resepsi kedua mereka loh!

Sampai di depan auditorium, antrean orang salaman sudah mengular sampai luar pintu. “Wah kok dowo men ki,” kata saya kepada istri. Saya lantas memotret antrean itu pakai telepon genggam. Dekorasinya luar biasa indah. Sayang warna di gebyok penganten hanya dua warna: putih dan biru muda. Bagi saya warna ini sangat pucat, untungnya pencahayaan di ruang itu lebih dari cukup, sehingga tetap terlihat cantik untuk diambil gambar. baca selanjutnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.