labib akmal basyar

Pono Banoe dan Buku Babon Musik

In Feature on 16 May 2013 at 07:57
P1020059

Pono Banoe dan Kamus Umum Musik setebal 1.200-an halaman. (foto: andisn)

DI TOKO-toko buku, kebanyakan yang terlihat adalah buku tutorial bermain alat musik. Sedikit buku panduan tentang pendidikan musik. Di sekolah-sekolah, guru musik juga sedikit sekali. Hal itu dirasakan betul oleh Prof. Dr. Pono Banoe, MA. DMusEd. “Cari guru musik itu susah sekali, terakhir saya seminar di Palangkaraya (Kalimantan Tengah) dari 187 orang, yang ngaku bisa cuma enam orang,” kata Pono. “Pendidikan musik di kita dinomorsekiankan.”

Keresahan itulah yang kemudian membuat Pono serius mendalami dunia musik. “Saya ini mimpinya banyak dari saya enggak bisa musik terus sekolah musik. Lantas saya jadi guru,” ujarnya kepada saya pekan lalu di Jakarta.

Cita-citanya terwujud pada 2005, ia mendirikan Music Education College Suling Bambu bagi guru, mahasiswa, artis, atau musisi yang ingin mendalami musik. Ia mendapat restu dari Kementerian Pendidikan, dengan kurikulum mandiri buatannya.

“Bunda Teresa” dari Kelapa Gading

In Feature on 9 May 2013 at 00:06
Bersama lukisan karya sendiri. Keduanya pernah mengadakan pameran lukisan dan menjual beberapa lukisannya hingga terkumpul ratusan juta. (foto: andisn)

NGAPAIN, kok ngajar wong kere (kenapa mengajar orang miskin, red). Enggak bergengsi, kalau ngajar di universitas kan bergengsi,” begitulah suatu kali Sri Rossyati (63) dan Sri Irianingsih (63) menerima cibiran ketika membuka Sekolah Darurat Kartini.

“Ada yang bilang, itu cuma cari sensasi, ya biar saja. Hubungan kami sama Tuhan, bukan sama mereka (yang mencibir,red),” ujar Sri Irianingsih saat saya berkunjung ke rumahnya, di kawasan Kelapa Gading, beberapa waktu lalu.

Kini sudah 23 tahun, Rosi-Rian, sapaan wanita kembar itu, mengajar anak-anak miskin di Jalan Lodan Jaya, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. “Saya memang senang mengajar,” ujar Rosi, yang lahir lima menit lebih awal dari Rian, pada 4 Februari 1950.

Mira Amahorseya dan Gelas Sloki

In Feature on 29 April 2013 at 07:16

“Saya tidak suka sebagai lawyer,” ujarnya. “Saya merasa kurang cocok, apalagi melihat sistem hukum yang karut-marut. Rasanya menjadi penegak hukum sulit ya, sesuai nurani saya.” (foto: andisn)

MIRA AMAHORSEYA berbisik-bisik dengan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. Entah apa yang dibicarakan. Mereka tampak asyik bercengkerama. Kilatan cahaya kamera lalu mengabadikan mereka.

Malam itu, Rabu (24/4) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Mira sedang bahagia. Dahlan Iskan membuka acara Anugerah Kartini BUMN 2013: “The Most Achievement Inspiring Women in BUMN”. Dan, Mira terpilih sebagai salah satu wanita insipiratif. Ada 14 nama wanita lain yang menerima penghargaan tersebut.

Tiap tahun, Majalah BUMN Track menggelar acara tersebut sebagai bagian semangat emansipasi wanita. Selain itu, peran mereka dalam kontribusi meningkat perekonomian nasional.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers

%d bloggers like this: