Sekelumit Catatan Politik Anas

Gambar

Judul : Janji Kebangsaan Kita (Kumpulan Esai Sosial-Politik)
ISBN : 978-602-14111-0-0
Penulis : Anas Urbaningrum
Penerbit : Penerbit Sierra bekerjasama dengan Perhimpunan Pergerakan Indonesia
Cetakan : Pertama, September 2013
Tebal : 210 + xxiii
Harga : 49.500

ANAS Urbaningrum memang menarik khalayak. Kicauannya di akun Twitter pun bisa menjadi sebuah berita dan tentunya masih ingat status BlackBerry-nya yang membuat “geger” politik terkait apa dan mengapa ia menulis: Politik Para Sengkuni?, saaat ia “berkonflik” dengan internal Demokrat. Anas memang news maker, apalagi sejak ia diduga menerima gratifikasi dalam proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Tiga bulan sebelum ia dijebloskan ke tahanan KPK, buku terbarunya, Janji Kebangsaan Kita, dicetak. Tap ia baru diluncurkan pada 17 Januari 2014 bersamaan dengan peluncuran buku Selalu Ada Pilihan karya Susilo Bambang Yudhoyono. Continue reading

Memahami Serba-Serbi Jurnalisme

Judul : 50 Tanya-Jawab tentang Pers
Pengarang : Agus Sudibyo
ISBN : 9789799106650
KPG : 901130760
Ukuran : 200 x 135 mm
Halaman : 226 halaman
Harga : Rp 40,000

APAKAH infotainment termasuk bagian dari jurnalistik? Pertanyaan ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan pan jang di kalangan pers. Sebagian kalangan media menilai infotainment hanya mengekspos hal-hal yang berbau privat dan gosip para selebritas yang tidak layak ditonton khalayak.

Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers periode 2010-2013, menjelaskan secara lugas persoalan hal itu dalam buku terbarunya berjudul “50 Tanya-Jawab Tentang Pers”  (2013).

Ada tiga tolak ukur yang dipakai Agus Sudibyo untuk menilai apakah produk infotainment termasuk jurnalistik atau bukan.  Pertama , siapa yang memproduksi atau yang bertanggungjawab secara langsung atas program infotainment di stasiun televisi?  Ruang redaksi (newsroom) atau divisi lain? Jika program infotainment dimaksudkan sebagai program jur  nalistik, jelas dia harus melekat kepada ruang redak si, menjadi bagian integral lingkup tanggungjawab penanggungjawab redaksi. “Perlu digarisbawahi, ranah jurnalistik di sebuah stasiun televisi sebenarnya terbatas pada ruang redaksi ini,” tulis Agus. (hal. 37).

Tolak ukur kedua , apakah yang dibahas dalam tayangan infotainment? Perlu digarisbawahi, tidak semua segi dari kehidupan seorang artis bersifat pribadi dan tidak koeksisten, dan tidak bersifat komplementer atau saling menggantikan,” tulisnya (hal. 39).

Tak hanya persoalan itu yang dipaparkan Agus dalam bukunya. Banyak hal tentang jurnalisme yang dibahas seperti budaya amplop, berita negatif, keberimbangan di media siber, kekerasan terhadap wartawan, komentar-komentar di media siber menjadi tanggung jawab siapa, jurnalisme warga, media sosial sebagai sumber liputan, cara pengaduan ke Dewan Pers, fungsi humas, surat pembaca, dan lain-lain. Buku ini disusun dalam bahasa yang populer yang lebih mudah dimengerti pembaca. Continue reading

Mereka Memilih Menjadi Patung

salah seorang manusia patung di Monas, Jakarta Pusat (foto: andisn)

BAGAIMANA rasanya dipanggang Matahari seharian? Tanyalah kepada Sugeng Raharjo (37), yang sehari-hari menjadi manusia patung di Taman Monumen Nasional, Jakarta.

“Risiko panas itu sudah biasa. Saya punya hobi naik gunung, saya pernah jalan Jakarta-Bogor, jadi seperti ini enggak kaget,” ujar Sugeng di sela melayani pengunjung Monas untuk berfoto bersama, Kamis (5/12).

Ia memakai baju ala militer bewarna emas. Sampai wajahnya pun diwarnai emas, hanya giginya yang tak ia warnai. Memanggul bedil layaknya tentara, ia pun mematung. Jika ada pegunjung meminta foto bersama, ia berhenti lalu berpose sesuai selera pengunjung. Hari itu, ada empat orang yang menemaninya. Tiga orang berdandan militer juga, sedangkan satunya ala kuntilanak. Continue reading

Mengukur Keberadaan Penjara Anak

penjara anak

sumber: Harian Nasional

KASUS kecelakaan yang dialami AQJ alias Dul (13), anak bungsu musisi Ahmad Dhani menggulirkan berbagai perspektif hukum. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berpandangan bahwa kasus Dul lebih baik tidak diproses ke pengadilan.

Kalau pun dihukum, Dul tak perlu dipenjara lebih baik ditempatkan di panti rehabilitasi. KPAI mempertimbangkan aspek psikologis tumbuh kembang anak ke depan. Bahkan, KPAI berwacana lebih baik keberadaan penjara anak dibubarkan.

Wacana itu mengundang banyak pertanyaan, mengapa KPAI baru kali ini berbicara pembubaran penjara anak? Ketika kasus pidana anak-anak lainnya, yang bukan anak seorang tokoh terkenal atau selebritas, KPAI tak begitu berbicara banyak ke media.

Anggota KPAI Asrorun Ni’am Sholeh menolak bila wacana itu disampaikan berbarengan dengan kasus AQJ. “Jauh-jauh hari sudah disampaikan, termasuk perubahan dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak (UU Nomor 11/2012),” ujar Asrorun, Senin (16/9) di Jakarta. Continue reading

Remaja Merokok, Siapa yang Berperan?

sumber: Harian Nasional

PEROKOK remaja (10-15 tahun) tumbuh dua kali lipat lebih dalam jarak 10 tahun. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 1995 menunjukkan jumlah mereka sekitar 7 persen, sedangkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 20010 sekitar 17,5 persen.

Dari data itu, remaja laki-laki pada naik dari 14 persen menjadi 37 persen, sedangkan para perempuan 0,3 persen meningkat menjadi 1,6 persen. Kondisi ini memprihatinkan, karena generasi ini bakal terbebani masalah kesehatan di masa depan.

Tim Advokasi Komunitas Kretek, Daru Supriyono berpandangan bahwa perokok remaja makin banyak disebabkan kontrol dari orangtua sangat kurang. Menurut dia, sebelum menyerahkan tanggungjawab anak kepada negara, kontrol dan pengawasan orangtua terhadap anak adalah hal utama. Continue reading

Faktor Keluarga Bikin Anak ke Jalanan

 HAMPIR seluruh kota besar di Indonesia tumbuh anak-anak jalanan. Banyak faktor yang menyebabkan mereka lebih memilih tinggal di jalanan. Tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Dosen Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Suharma, PhD di Kota Bandung, Jawa Baratcmenunjukkan, anak-anak turun ke jalan karena faktor dorongan orangtua.

“Untuk anak berumur di bawah 5 tahun, faktor orangtua yang paling dominan,” ujar Suharma kepada saya di Grand Sahid, Jakarta, Rabu (11/9) dalam acara “Konferensi tentang Kemiskinan Anak dan Perlindungan Sosial”.

Hal itu dikarenakan, kata dia, orangtua selalu mengarahkan atau mendoktrin bahwa tugas seorang anak adalah membantu orangtua. Ini dilakukan demi mencari pendapatan guna memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, termasuk untuk biaya sekolah. Continue reading

Jalan Soeharto

foto: andisn

MEMANG, “Apalah arti sebuah nama,” kata Sastrawan Inggris William Shakespeare. Tetapi, nama terkadang memiliki imej sosial tertentu bagi sebagian masyarakat.

Itulah yang terjadi hari-hari ini. Akhir pekan lalu, nama Soeharto mengemuka kembali. Ketika tim Panitia 17 mengusulkan agar nama Soeharto menjadi nama sebuah jalan, menggantikan Jalan Medan Merdeka Barat.

Tentu masing ingat bagaimana pertentangan lima tahun silam, ketika Presiden RI kedua itu dicalonkan sebagai pahlawan nasional. Sebagian kalangan menilai Soeharto tak pantas mendapatkan gelar itu, karena kekuasaan otoriternya selama 32 tahun. Namanya pun tak lolos dari daftar calon. Sosok berjuluk “The Smiling General” memang penuh kontroversial. Seolah-olah dirinya tak memiliki sisi baik, sehingga seluruh hidupnya dianggap aib bagi bangsa ini. Continue reading