Warta – Kriminal & Pengadilan/WASPADA ONLINE – Thursday, 10 December 2009 16:13

oleh Andi S Nugroho

JAKARTA – Abdul Mun’im Idris bisa jadi adalah saksi ahli yang langka. Sebab, baru kali ini ada seorang saksi ahli yang dihadirkan dalam persidangan, menanyakan honor kepada Majelis Hakim karena telah memenuhi panggilan untuk bersaksi.

“Yang bayar saya siapa nih, Pak? di KUHP ada itu Pak! Kalau tidak dibayar, saya tidak mau datang lagi,” ujar Idris tiba-tiba ketika Majelis Hakim akan menyudahi pemeriksaan atas dirinya.

Kontan saja, para pengunjung sidang tertawa mendengar kata-kata itu. Majelis Hakim yang diketuai, Herri Swantoro pun langsung menanggapinya.

“Baik, secara profesional (atau) secara admnistratif tentunya ada,” jawab Herri dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/12).

Baca Selanjutnya

Warta – Kriminal & Pengadilan/WASPADA ONLINE – Thursday, 10 December 2009 17:07

oleh Andi  S Nugroho
JAKARTA – Laki-laki itu bertubuh besar, tinggi dan tegap. Tampilannya necis, wajahnya bersih dari kumis  kali ini dan tak ada jambang . Ia lebih selayaknya laki-laki metroseksual ibu kota.

Dandanan rambutnya, yang pendek selalu disisirnya rapi dan klimis ke belakang. Begitulah tampilan terdakwa Sigid Haryo Wibisino tiap kali menjalani persidangan.

Sigid kembali menjalani persidangan lanjutan atas dugaan pembunuhan berencana Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen Iskandar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (10/12). Kali ini yang hadir menjadi saksi adalah saksi kunci yang juga terdakwa Antasari Azhar.

Dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim, Charis Mardiyanto Antasari dicecar terkait pertemuan-pertemuannya dengan Sigid. Juga adanya pembuatan tim investigasi Kapolri, tim lain yang melibatkan Kombes Pol Wiliardi Wizar.

Baca Selanjutnya

Warta – Kriminal & Pengadilan/WASPADA ONLINE -Thursday, 10 December 2009 17:21

oleh Andi S Nugroho

JAKARTA – Terkuak sudah senjata api (senpi) jenis apa yang digunakan eksekutor untuk menembak Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen Iskandar pada 14 Maret di kompleks Padang Golf Modernland Tangerang. Ternyata senpi itu adalah jenis revolver dengan kaliber 0.38 inchi tertanda SNW (Smith and Wesson).

Hal itu dinyatakan langsung oleh saksi ahli khusus uji balistik (kesenjataan) dari Kepolisian, M. Simanjuntak dalam persidangan lanjutan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/12).

Menurut Simanjuntak, dirinya menerima barang bukti dari penyidik dua buah butir peluru. Ia menerimanya dalam bentuk masih tersegel dari dokter yang melakukan visum.

Setelah dilakukan identifikasi lebih lanjut, kata dia, peluru itu berasal dari jenis senpi revolver. Hal itu didasarkan pada arah uliran peluru yang berulir ke arah kanan.

Baca Selanjutnya

Warta – Kriminal & Pengadilan – WASPADA ONLINE – Tuesday, 15 December 2009 17:01

oleh Andi S Nugroho

JAKARTA – Tut..tut..tut.., tiga kali suara nada sambung telepon seluler itu terdengar, baru kemudian seorang wanita diseberang mengangkatnya. Seorang laki-laki berbincang-bincang kepada wanita itu.

Laki-laki itu adalah Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen Iskandar dan wanita diseberang adalah istri sirinya, Rani Juliani

“Lagi dimana,” ujar Nasrudin

“Lagi di rumah temen,” Rani menjawab.

“Yaudah jangan dimatikan Hpnya,” Nasrudin kemudian memutus pembicaraan, tapi telepon masih tersambung.

Setelah itu, percakapan tak terdengar lagi, namun yang terdengar adalah suara mantan Ketua Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar dengan Rani. Keduanya saat itu berada di sebuah kamar hotel di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan.

Namun, suara keduanya tak jelas dan kurang bisa dimengerti terkait hal-hal apa yang dibicarakan. Namun sekali-kali wanita itu tertawa ngakak, dan seperti orang geli digelitikin.

“Jangan ngambek dong,Om!” suara Rani

Kadang suara bas-nya Antasari terdengar keras, namun tetap saja susah dicerna.

Baca selanjutnya

SUATU hari di Agustus 2003, sebuah berita mengabarkan, Chung Mong Hun tewas bunuh diri. Ia menjatuhkan diri dari lantai 12 di kantornya. Chung ialah Direktur Utama PT Hyundai Asa, Korea Selatan, sebuah satu sayap perusahaan Hyundai Corporation. Ia-lah salah seorang pewaris kerajaan bisnis otomotif Hyundai; bisa dibayangkan betapa besar kekayaannya. Namun, hidupnya berakhir secara tragis.

Enam tahun kemudian, 27 Juli 2009, Raja Pop dunia, Michael Jackson meninggal dunia. Dunia geger. Belahan bumi utara, selatan, timur dan barat riuh rendah menangisi kepergian sang pemimpi dunia anak-anak: Peter pan. Ia bangun dunia impiannya itu dalam sebuah Istana. Tentu saja dengan hartanya yang berjibun setelah album-album lagunya laris di pasaran. Di kehidupannya, dia selalu gelisah dengan penampilan dirinya. Mukanya pun bermetamorfosis dari warna hitam menjadi putih, rambut keriting jadi panjang bergelombang, hidung pun mancung, wajahnya sudah seperti boneka barbie. Seluruh tubuhnya sudah dipermak habis. Namun, di akhir hayatnya, ia juga sama tragisnya dengan Chun. Ia tak menikmati kekayaannya dan meninggal dengan meninggalkan utang mencapai Rp 5 triliun. Bahkan sampai aku menuliskan ini, jasadnya belum juga dikuburkan.

Baca selanjutnya