Dari Kedoya hingga Palembang

KIAI NOER muda gelisah; mengapa umat Islam yang ada di sekitarnya, masih begitu terbelakang dan seperti anak tiri pembangunan? Kegelisahan itu terus berkelindan dipikirannya, sejak masih mondok di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, yang dipimpin KH Mahrus Ali tahun 1967-1974, sampai lulus di Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Jakarta. Ia terpicu untuk andil mengatasi hal itu; mengejar ketertinggalan dan beradaptasi dengan modernitas.

Hanya dua cara yang ia yakini mampu membenahi semuanya, yaitu pendidikan dan ekonomi. Tekadnya bulat, mendirikan sekolah dan memberdayakan anak didiknya dalam segala hal. Ia pacu agar menjadi manusia yang tidak sukses di akhirat tapi juga mampu berjuang dan sukses di dunia. Namun, semangat mendirikan sebuah ponpes, bukanlah hal mudah. Ia melihat waktu itu, imej ponpes masih buruk. Pemerintah mengintervensi kurikulum pendidikan Islam.

“Dominasi pemerintah saat itu memang terasa pahit di kalangan umat Islam, khususnya penyelenggara pendidikan Islam. Mereka seakan dijadikan objek untuk kepentingan praktis,” kata pemilik nama lengkap KH Noer Muhammad Iskandar, SQ itu dalam Pergulatan Membangun Pondok Pesantren, sebuah biografi dirinya yang ditulis oleh Amin Idris.

“Tapi, tekad saya terus membara. Saya berjanji dalam hati, akan ikut terlibat dalam problematika ini. Setidaknya, sebagai santri saya terpanggil untuk membangun akses di bidang pendidikan, karena bidang inilah yang diwariskan orangtua dan guru-guru saya,” kata dia.

Bersama tema-teman kuliahnya ia pun membentuk kegiatan di Masjid Al Muchlisin, Pluit, Jakarta Utara. Kegiatannya pun merangkul anak-anak remaja dan pemuda jalanan untuk mendalami agama. Di sinilah cikal bakal dirinya terjun di dunia pendidikan.

Prinsipnya jelas, “Sebagai seorang pendidik, saya harus berpikir memberi. Kelak, sesuatu yang telah diberikan itu akan membuahkan kepercayaan. Seorang pendidik yang sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat, nilainya sangat tinggi daripada pemberian materi,” ujar dia.

**

KETIKA Kiai Noer berusaha membangun ponpes di tengah kota, ia sadar betul tantangan yang akan dihadapi. Kultur, itulah yang menjadi tantangan berat. Membangun Pondok Pesantren Asshiddiqiyah adalah upaya membangun citra pesantren yang dalam dekade 1970-an telah surut.

Pesantren masih dianggap miring oleh sebagian masyarakat, karena seperti sebuah komunitas aneh. Pandangan yang selama ini bahwa santri sebagai tukang baca doa dan tukang bungkus berka adalah keliru. Inilah yang kemudian meminggirkan posisi para santri di kehidupan modern.

“Itu terjadi karena tidak ada keberpihakan sistem pembangunan terhadap santri dan ponpes,” ujar dia. Kiai Noer pun optimis, santri harus dididik agar merespons perkembangan zaman.

“Saya membuka jenis pendidikan yang bervariasi bukan tanpa alasan. Salah satunya, saya yakin, tidak semua santri harus menjadi kiai. Mereka harus menjadi tenaga-tenaga potensial yang bisa masuk di segala bidang kehidupan modern.”

“Seorang santri bisa menjadi ekonom, bankir, teknokrat, petani, pedagang, pendidik dan sebagainya. Ketika kehidupan modern menuntut tenaga-tenaga di bidang itu, santri tidak mesti ada di pinggiran. Ia harus bisa mengakses dan masuk di dalamnya secara profesional,” ujar dia.

Namun bagi Kiai Noer, ada yang lebih mendasar dari cita-cita besar itu. Kiai Noer adalah pecinta kesederhanaan dan kejujuran. Makanya, ia pun tak sekedar asal melabeli ponpesnya itu dengan nama Asshiddiqiyah. “Niat saya itu bagaimana, santri-santri keluar dari sini bisa menjadi Abu Bakar-Abu Baka Sidiq (sahabat Nabi) di abad modern ini. Santri-santri nanti itu menjadi jujur terhadap dirinya, orantuanya, Tuhannya, masyarakat dan bangsanya. Pada akhirnya tidak haya menjadi orang baik tapi mampu memperbaiki masyarakatnya,” kata dia.

Di tengah modernitas, Asshiddiqiyah tetap melestarikan tradisi-tradisi pesantren. Prinsip yang ditanamkan adalah memelihara hal-hal yang lama yang baik dan bisa mengambil hal baru yang lebih baik (al muhafazhoh ala al-qodimis sholiih wal akhz bil jadid al-ashlah).

**

PONDOK Pesantren Asshiddiqiyah berdiri pada bulan Rabi’ul Awal 1406 H (1 Juli 1985 M). Didirikan oleh KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dia adalah putra dari salah satu kyai besar Jawa Timur yang berasal dari Banyuwangi yaitu KH. Iskandar. Lahan ponpes ini merupakan tanah wakaf dari H. Abdul Ghoni Dja’ani (Haji Oon), putra dari KH. Abdul Shiddiq di kawasan Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Awalnya, Ponpes Ukhuwah Islamiyah yang dipegang H Rosyadi Ambari, seorang staff ahli Menteri Agama era Alamsyah, akan didirikan, namun selama lima tahun ponpes tak kunjung terwujud. Kiai Noer pun kemudian ditawari tanah seluas 2000 meter itu untuk mengelola menjadi ponpes. Ia pun terima.

“Waktu itu baru ada tanah 2000 meter, mushola kecil ukuran kurang lebih 7m x 9m, belum dilantai dan hampir dua tahun sebagai kandang kerbau. Tahun 1984 mulai saya pelajari lingkungannya, masyarakatnya, status ponpesnya, dan tahun 1985 baru saya mulai dan mulai saya adakan kegiatan. Dari situlah mulai saya bangun sebuah Ponpes yang saya berinama, Asshiddiqiyah yang berarti kejujuran,” kata Kiai Noer saat ditemui di rumahnya, Sabtu (7/8) lalu.

Dalam bukunya, mushola itu digambarkan sangat miris yaitu dibangun dengan tripleks di atas tanah rawa-rawa dan berdekatan dengan pembuangan sampah bagi penghuni perumahan mewah Sunrise Garden. “Namun saya punya tekad, Asshiddiqiyah sedapat mungkin tidak menjadi institusi pendidikan, tapi menjadi agen perubahan bagi kondisi umat Islam yang menderita keterbelakangan,” kata dia.

Ketika bendera Asshiddiqiyah telah berkibar, sambutan masyarakat memang belum ada. Bahkan pada tahun pertama, yang datang hanya satu orang, santri itu bernama Iskandar. Itu pun calon santri Ponpes Manbaul Ulum di Sumber Beras, Banyuwangi, ponpes yang didirikan oleh KH Iskandar, ayah Kiai Noer. Selama tujuh bulan, Iskandar mengikuti pembinaan, baru kemudian datang santri perempuan dari Kuningan, Jawa Barat, yaiti Rohanah. Sebelum memakai pendidikan madrasah formal, Asshiddiqiyah menerapkan sistem Ribathiah yaitu khalaqoh salaf. Para santri belajar mengaji kepada guru dan kiai sambil memegang salah satu bidang pekerjaan di pondok. Selain itu, ada pengajian mingguan.

“Dari bekal santri Ribathiah dan santri mingguan ini, saya mencoba mendirikan madrasah formal tahun 1986,” ujar mantan anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Apa yang digagasnya, tak meleset. Setahun MTs dibuka, animo masyarakat banyak, makanya ia pun menambah dengan membuka MA. Jumlah santri di Kedoya pun mulai sesak, tapi rezeki itu datang ditengah kesulitan Kiai Noer. Sebuah tanah wakaf diberikan H. Jamhari dan H. Musa di Batu Ceper, Tangerang, Banten. Lahan seluas 1 hektar itu diterima dan kemudian didirikan ponpes kedua. Menyusul kemudian, tanah wakaf dari H. Sayuthi di Cilamaya, Karawang untuk menjadi ponpes ketiga. Juga mendapat tanah di Serpong seluas 42 hektar.

“Tahun ke tahun penerimaan meningkat, di Kedoya sekitar 3000 santri, di Batu Ceper sekitar 5000 santri, di Cilamaya ada 2000 santri,” kata dia. Ponpes yang di Kedoya saat ini telah berkembang dengan luas 2,4 hektar. Yang di Batu Ceper sudah menjadi 6 hektar, di Cilamaya menjadi 11 hektar, dan di Cijeruk, Bogor ada 42 hektar. Sampai kini, tahun 2010, Ponpes pun berkembang sampai sembilan ponpes.

**

SABTU, 7 Agustus 2010. Kegiatan di Ponpes Asshidiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat sepi. Terlihat lalu lalang santri yang pulang, orangtua santri yang menjemput atau sanak famili yang berkunjung. Akhir pekan ini, biasanya dipergunakan para santri yang rumahnya di sekitar Jakarta pulang ke rumah. Tidaklah sulit untuk ijin ini; pertama harus mendapat ijin dari pengasuh pondok, dan kemudian memperlihatkan surat ijin kepada petugas keamanan.

“Pulang ke mana, Bu?” kata saya.

“Ke Cilandak, Mas,” kata seorang ibu yang baru saja menjemput anaknya, M Rizk Hidayah, santri kelas 81.

Di sekolah itu, ia baru setaraf SMP. Berbeda dengan ponpes lainnya, ponpes ini memasukkan pendidikan formal ke dalam tradisi pendidikan santri. Makanya ada Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah/MTs (setingkat SMP), Madrasah Aliyah/MA (setingkat SMA), SMP Islam, SMA Islam, SMK (Kejuruan dan Otomotif), SMK Program Bisnis dan Manajemen, Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah berbeasiswa S-1 (kosentrasi Syariah, Ilmu Al Quran, dan Tarbiyah), dan Pesantren Anak Yatim berbeasiswa 5 tahun (kompetisi Tahfidzul Quran, Kitab Salaf, Bahasa Inggris/Arab, dan Agrobisnis).

Untuk yang terakhir, ada kurang lebih 32 anak yatim piatu yang diasuh ponpes ini. Salah satunya adalah Eko (11). Ia dibawa Kiai Noer langsung dari Lampung. Ayahnya telah meninggal, makanya Ibunya menitipkan ke ponpes ini. “Seneng kok di sini banyak temannya,” kata dia malu-malu.

Untuk pendidikan non-formal, di ponpes ini antara lain, kursus Bahasa Inggris/Arab, pengajian Kutubus Salafiyah (Kitab Kuning), Tahfidz Al Quran, training retorika dan praktek dakwah, Bahtsul Masail (tanya jawab masalah agama dan kemasyrakatan), dan training manajemen dan metodologi pengajaran.

Mereka pun tidak hanya mengaji, tapi juga diajarkan untuk aktif di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti KKR dan PMR, Pramuka, Muhadharoh/Retorika Dakwah, Pecinta Alam, Komputer, Hadroh (Sholawat), Pesantren Kilat, Marawis, Naghomat Al Quran, Teater, Kaligrafim Taekwondo, Drumband dan Paskibra. Selain itu, juga ada kegiatan yang melatih keterampilan seperti bidang otomotif, kewirausahaan, tata boga, tata busana, pertanian dan peternakan.

Kerangka pendidikan yang diembannya mengusung Trilogi Ponpes Asshiddiqiyah, yaitu menguasai Iptek, serta membangun Iman dan Taqwa secara lebih mendalam; Berakhlakul karimah (dasar dari perikehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air); dan menguasai bahasa asing (Bahasa Arab/Inggris) seiring perkembangan zaman dengan tanpa meninggalkan sokoguru daripada dasar pendidikan Islam.

Kini umur Asshiddiqiyah sudah seperempat abad, beberapa cabang pun berdiri di beberapa daerah, a.l: Ponpes Asshiddiqiyah Pusat, Kebon Jeruk Jakarta Barat; Ponpes Asshiddiqiyah II, Batu Ceper, Tangerang, Banten; Ponpes Asshiddiqiyah III, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat; Ponpes Asshiddiqiyah IV, Serpong, Tangerang, Banten; Ponpes Asshiddiqiyah V, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat; Ponpes Asshiddiqiyah VI, Sukabumi, Jawa Barat; Ponpes Asshiddiqiyah VII, Way Kanan, Lampung; Ponpes Asshiddiqiyah VIII, Musi Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan; dan Ponpes Asshiddiqiyah IX, Putra Buyut, Lampung Tengah; dan Ponpes Asshiddiqiyah X, Cianjur, Jawa Barat. Kiai Noer pun sadar betul bagaimana kelanjutan ponpesnya kini.

Seringkali, terdengar kabar bahwa ponpes tidak bisa membangun kembali suskesi internalnya, ketika nakhoda awal telah pergi. Namun, hal itu dijawab Kiai Noer tegas. “Saya tidak mendidik anak saya secara instan. Saya tidak mau mereka menjadi matang bukan karena proses alam. Dengan cara yang alami pula anak-anak saya akan meneruskan perjuangan ponpes ini kelak,” kata Kiai Noer.

Ia mengatakan, anaknya kini sudah ada yang bisa mengelola ponpes seperti di Karawang, Batu Ceper, atau di Kedoya. Ia tak melihat akan berkurang sinar Asshiddiqiyah bila kelak dipegang mereka. “Terbukti santrinya semakin banyak. Alhamdulillah itu pertanda, bukan berkurang kepercayaan itu, malah bertambah baik,” ujar Kiai yang mempunyai istri dua ini.

Tak salah bila warisan terbesar dari turunan keluarga bear Kiai Noer adalah warisan pendidikan. Ayah Kiai Noer, KH Iskandar sukses membuat Ponpes Manbaul Ulum. Kakaknya, KH Ali Muchaidlori Iskandar, satu ibu dari istri kedua KH Iskandar, Ny Siti Rabiatun, juga seorang pendidik. Dia juga yang mengusulkan kepada ayahnya untuk memasukkan sistem pendidikan madrasah formal. Kiai Iskandar sempat tak setuju, sebab itu tanggungjawab pemerintah.

Dengan argumentasi cerdas, Kiai Ali berkomentar, “Pendidikan formal bukan indikasi kemodernan (khalaf), ia dapat dikatakan modern dalam arti perangkat atau alat saja, bukan berkenaan dengan akidah Islam,” ujar Kiai Ali seperti dikutip dalam Tiga Kiai Khos (PT LKIS Pelangi Aksara: 2008) karya Ainur Rofiq Sayyid Ahmad.

“Apalagi bila ponpes hanya berkutat pada kitab kuning saja, ke depan ponpes tak bakal diminati lagi oleh masyarakat”. Mendengar alasan, Kiai Iskandar pun setuju.

Semangat dan cita-cita yang ada dalam Kiai Iskandar, memang begitu mendarah daging dalam diri Kiai Noer saat ini. Alhasil, semangat itu pun terwujud dalam bentuk Ponpes Asshiddiqiyah. Sebuah ponpes yang bukan sekedar melahirkan santri, tetapi ingin melahirkan sosok Abu Bakar-Abu Bakar Sidiq modern asal Kedoya, Jakarta Barat.

About these ads

5 thoughts on “Dari Kedoya hingga Palembang

  1. wawan says:

    Semoga Alloh SWT berikan Kekuatan Kepada para Pengasuh Pon-Pes ini, dan semoga benar-benar terwujud mimpi-mimpinya untuk mencetek generasi yang jujur.

  2. Zulfan Barron says:

    Ya Allah saya sebagai alumni Asshidiqiyah th 2000 (Zulfan Barron asal Palembang) sangat haru dan bangga dengan ponpes ini. smg asshiddiyah terus berjaya, dan ilmu yg terberikan kepada saya menjadi barokah dan manfaat amin….

  3. MUHAMMAD NASICHIN says:

    MAN JADDA WA JADDA..TDK ADA SESUATU YG SIA-SIA KL KITA LAKUKAN DG SUNGGUH2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s