Dari Ziarah Sampai Pantun Cinta

by labib akmal basyar

HAWA dingin masih menyelimuti sepanjang jalan setapak. Perjalanan diperlahan mengurangi hembusan angin yang atis di kulit. Saya melewati setapak-setapak berukuran satu meter. Sendiri. Kanan-kiri jalan setapak lebih terlihat pemandangan semak-semak dan pohon-pohon seperti bambu, jati, dan lainnya.

Saya memasuki kawasan wisata kota di Kota Purworejo yang dikenal dengan Geger Menjangan. Sebuah kawasan wisata kota terpadu yaitu paduan dari wisata religius, wisata air, dan wisata santai gardu pandang di atas bukit. Disebut Geger Menjangan, konon, hamparan bukit ini jika dilihat dari kejauhan tampak seperti punggung seekor menjangan, maka dari itu, masyarakat lebih mengenalnya dengan Geger (Indonesia: punggung) Menjangan.

Tinggi bukit ini menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwista setempat kurang lebih 400 m dari permukaan laut. Bukit yang cukup tinggi untuk keberadaannya di tengah kota. 

Saya naik ke atas kurang lebih pukul enam pagi. Saya kira perjalanan akan sedikit ramai, karena saat itu bertepatan dengan hari minggu. Ternyata, dalam perjalanan begitu sepi. Membuat bulu kuduk berdiri.

Sampai kurang lebih seratus meter dari pintu masuk lokasi wisata hanya suara burung-burung dan liukan-liukan bambu yang menimbulkam derit tersendiri, sehingga menambah suasana makin sunyi. Meskipun matahari pagi mulai merangkak naik dan menelusup ke sela-sela pepohonan dan semak belukar.

Lokasi wisata saya temui pertama adalah Makam Simbah Kyai Imampuro. Terlihat beberapa dua bangunan yang berada di sekitar makam. Bangunan yang lebih besar adalah tempat makam Simbah Kyai Imampuro. Sementara di sebelahnya, adalah mushola, biasa digunakan sebagai tempat dzikir bagi para peziarah yang datang ke makam. Makam terlihat tua dan sedikit rusak di sana-sini. Tetapi bagian dalam makam tidak terlihat, karena pintu masuk makam terkunci dan tidak setiap peziarah bisa masuk ke dalam.

Dalam kondisi sendiri, saya tak berani mendekat, apalagi pagi itu benar-benar terasa merinding. Kabut masih meruyak di sekeliling.

**

SIMBAH KYAI Imampuro merupakan ulama termashur di kota ini. Dia adalah pendiri Pondok Pesantren Sidomulyo, Ngemplak, Purworejo, yang sekarang lebih dikenal dengan nama Al-Islah. Menurut cerita, beliau masih keturunan ke sembilan dari Sultan Agung, Raja Mataram, yang hidup pada kurun waktu sekitar tahun 1800-1900.Penduduk sekitar wisata Geger Menjangan pun tidak mengetahui secara persisnya, kapan masa hidup dari Simbah Kyai Imampuro yang mempunyai nama asli Mbah Kunawi itu.

“Kulo mboten mangertos persisipun kapan Simbah Kyai Imampuro gesang, menawi critanipun nggih sekitar perang Diponegoro. Piyambakke nggih tumut perang Diponegoro nyerang penjajah londo”(saya tidak tahu kapan tepatnya Simbah Kyai Imampuro hidup. Menurut cerita, sekitar perang Diponegoro, dia sendiri juga ikut perang Diponegoro melawan penjajah Belanda) begitulah cerita dari Abdul Rohim penduduk sekitar makam, seseorang yang dipercaya untuk menjaga makam tersebut.Simbah Kyai Imampuro sendiri juga seorang tokoh agama Islam pertama di Purworejo yang membawa ajaraan Thoridqoh Syattoriyah. Beliau juga oleh kalangan tertentu dianggap disejajarkan dengan derajad Waliyullah karena kelebihan-kelebihan dari ilmunya.

Konon, dari kisah yang banyak diyakini kebenarannya, semasa hidupnya dulu, Kyai Imampuro senantiasa melakukan sholat jum’at di Mekkah walaupun jasadnya tetap berada di Purworejo. Kisah ini dibuktikan lewat penuturan seorang rombongan haji dari Kebumen yang tertinggal dari rombongannya di tanah suci. Tangannya digandeng seperti terbang oleh Simbah Kyai Imampuro, dirinya pun akhirnya bisa kembali pulang ke rumahnya. Inilah yang sering kita kenal dalam agama disebut sebagai karamah; keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang dikasihiNya.

**

BANYAK PEZIARAH yang datang ke makam tersebut. Ziarah akan ramai jika mendekati tanggal 22 bulan Sya’ban karena di sini akan diadakan khaul serta pengajian Akbar di malam 14 Sya’ban di Pondok Pesantren Al-Islah, Sidomulyo, Ngemplak Purworejo yang biasa diikuti ribuan orang.Saya tidak begitu lama berada di makam itu, hanya melihat sekeliling makam. Selanjutnya, meneruskan perjalanan naik melalui tangga pendakian. Jalan setapak yang saya lewati mulai tampak rusak, jalan pun mulai terasa berat. Semak-semak belukar yang kering begitu banyak berserakan di sepanjang jalan. Sepertinya, kurang begitu ada perawatan dari Dinas terkait.

Semakin ke atas kami pun mulai sedikit-sedikit menatap pemandangan yang terhampar luas. Pemandangan kota yang indah serta areal persawahan yang hijau mengahampar. Matahari pun sudah tampak penuh dengan sinar pagi yang cukup menyilaukan, udara dingin sewaktu di bawah tidak lagi terasa menusuk, tubuh mulai terasa gerah karena perjalanan mulai agak mendaki, sehingga cukup membuat peluh-peluh keluar dari pelipis.

Puncak gardu pandang belum tampak oleh mata. Tebalnya semak dan menjulangnya pohon-pohon perdu menutupi pandangan ke arah puncak. Tapi di sela-sela perjalanan, melewati sela-sela dedaunan dan ranting-ranting pohon, kota Purworejo mulai terlihat wajahnya, bangunan-bagunan dan rumah-rumah penduduk mulai terlihat jelas meskipun jarak cukup jauh. Tapi kamera sedikit mengurangi jarak yang jauh itu.

**

KESENDIRIAN SAYA akhirnya terobati setelah dua anak muda lewat begitu saja medahului, disaat sedang membidikkan kamera ke arah pusat kota. Semakin naik, pemandangan pusat kota dan hamparan Pegunungan Menoreh mulai terlihat cantik. Mendekati puncak, sayup-sayup terdengar obrolan beberapa anak muda, ternyata telah ada yang naik sebelum saya. Tampak anak-anak muda usia SMP sedang asyik bercengkrama di bawah pohon perdu, sambil menikmati hisapan rokok di jari-jari tangannya.

Saya akhirnya mencapai puncak. Kurang lebih membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk mencapai gardu pandang, mungkin bisa lebih cepat jika tidak menyempatkan untuk memotret pemandangan selama perjalanan.Gardu pandang itu berbentuk seperti gasibu, persegi empat dengan ukuran 10 m x 5 m. Dari puncak kami begitu leluasa melihat pusat kota Puworejo dan beberapa rumah penduduk di sebelah selatan. Jika anda melemparkan pandangan ke sebelah timur, gugusan dari pegunungan Menoreh terlihat begitu indah.

Kabut yang tebal masih menyelimuti rimbun pohon-pohonnya sehingga menambah kelembutan tersendiri. Kamera pun, sempat mengabadikan lukisan alam itu. Kelokan-kelokan sungai Bogowonto yang tampak seperti seekor ular memanjang menghiasi pemandangan di bagian utara, dengan areal persawahan yang begitu menyejukkan mata di sisi-sisi kanan-kirinya. Wisata air, kolam renang Artha Tirta pun terlihat cukup jelas dari sana.Sayang, keindahan yang begitu kami rasakan itu harus ternodai dengan kondisi gardu pandang yang tak terpelihara. Banyak coretan-coretan di tiang-tiang penyangga dan atapnya. Tangan-tangan jahil para pengunjung yang tidak bertanggungjawab itu begitu banyak memenuhi seluruh atap. Mulai dari tulisan jorok sampai pantun cinta. Sebait pantun cinta sempat mencuri perhatian, “Jika kamu punya keris, Tusukan ke ikan hiu. Jika kamu pintar bahasa Inggris, artikan kata I Love U”, begitulah bunyi pantun itu.

Tapi memang kondisi kawasan wisata Geger Menjangan kurang mendapat perawatan, sepanjang jalan yang dilalui, jalan setapak meskipun masih tampak baru tapi sudah rusak. Semak-semak pun tidak terawat dengan baik, mereka tumbuh liar sepanjang setapak. Pengelola wisata sepertinya tak memperhatikan itu.

**

MUNGKIN INILAH yang menyebabkan potensi wisata Geger Menjangan kurang diminati pengunjung. Ini dibuktikan dengan sedikitnya pengunjung yang datang, meskipun hari minggu. Pengunjung yang berada di gardu pandang saat itu, hanya berjumlah 12 orang. Mereka kebanyakan penduduk sekitar Geger Menjangan. Hanya dua orang yang berasal dari Kecamatan Gebang. Ketika kami tanya dia sendiri mengatakan sangat menyesal dengan coretan-coretan yang merusak gardu pandang.“Suasananya sebenarnya enak dan menyenangkan, tapi sayang kurang perwatan, Mas!” begitu ujarnya.

Dia juga menambahkan lebih bagus lagi jika ada taman di sini mungkin akan tampak indah. Penjual minuman pun tidak terlihat banyak, hanya ada satu orang, itu saja tak ada pembeli yang menghampirinya.

Namun, itu semua tetap tak mengurangi saya menikmati keindahan kota Puworejo dan keindahan alam sekitarnya. Ketakjuban alam sekitar serta segarnya udara menjadi aset tersendiri untuk menarik pengunjung. Anda pun, jangan terlalu khawatir untuk berkunjung ke sana.

Untuk mencapai sana, lokasinya pun cukup mudah. Tanya saja pada setiap orang di Puworejo, nama Geger Menjangan pun tak asing lagi untuk disebut. Tapi ketenaran namanya belum bisa menarik pengunjung dari kota lain. Kebanyakan pengunjung dari kota lain lebih pada ziarah ke makam Simbah Kyai Imampuro.

Nikmatilah perjalanan Anda dengan ziarah (wisata religius) sampai menikmati ‘pantun’ cinta di gardu pandang puncak Geger Menjangan.

About these ads