labib akmal basyar

Soekarno, Chavez, dan Kisah Payudara

In Esai on 15 April 2011 at 17:14

SOEKARNO marah besar ketika para pemuda bertanya kepadanya. Ia menganggap para pemuda itu tidak paham soal seni. Ndeso!

“Jangan marah, Bung.”

“Aku marah! Marah besar! Aku pikir para pemuda revolusioner bisa fasih bicara kesenian. Sontoloyo! Kalau pemuda tidak paham kesenian, apa yang kalian pahami tentang wanita telanjang?”

“Bung…”

“Tidak setiap ketelanjangan adalah amoral…”

Bung Karno menganggap mereka tak tahu arti dari gambar perempuan telanjang. Menurut dia, bagaimana memahami perempuan telanjang, bila tidak pernah melihat wanita telanjang. Para pemuda itu bertanya mengapa banyak lukisan dan patung koleksi telanjang. Para pemuda itu menganggap karya-karya itu bertentangan dengan revolusi. Karya-karya telanjang itu dianggap milik kaum reaksioner dan kaum borjuis.

“….Karya seni rupa demikian, meninabobokan revolusi, dus bikin kita melempem,” kata pemuda.

“Buktinya aku tidak melempem…”

“Bung tidak melempem, tapi para menteri melempem.”

“Jangan ngawur kamu! Buktikan!”

….

“… Lukisan atau patung wanita telanjang tidak ada hubungannya dengan moral dan agama…Tidak setiap ketelanjangan adalah amoral…,” kata Soekarno.

**

ITULAH cukilan cerita pendek “Si Denok” (2006) karya Sastrawan Danarto. Cerita itu cuma rekaan alias fiktif, yang berkisah soal seni wanita telanjang. Dan, “Si Denok”, salah satu koleksi Soekarno ini. “Si Denok” adalah patung perempuan telanjang dalam posisi jongkok, yang ada di Istana Bogor.

Presiden Indonesia pertama itu memang penyuka seni. Ia mengkoleksi banyak lukisan, bahkan lukisan telanjang. Kedekatannya di dunia seni, bisa dilacak sejarahnya bagaimana Soekarno begitu mengagumi lukisan Basoeki Abdullah. Keduanya ini, sama-sama penyuka wanita. Keduanya pun, sama-sama penyuka gambar wanita telanjang.

Entah apa yang mau dicari Soekarno dengan ketelanjangan perempuan. Kisah itu kemudian memang bukan lagi sekedar rekaan. Jurnalis senior, Rosihan Anwar mencatat momen langka, lagi-lagi, yaitu tentang payudara atau tetek. Rosihan bercerita dalam buku “Sejarah Kecil “Petite Histoire” Idonesia volume 1” soal itu.

Pada suatu kali kunjungannya ke Indonesia pada 1964, kata Rosihan, Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Joseph Marie Antoine Hubert Luns, atau sering dikenal Joseph Luns, diajak oleh Soekarno menikmati beberapa lukisan. Luns diajak ke ruangan koleksi lukisan telanjang.

“Saya punya sebuah koleksi seni. saya mengumpulkannya dengan bantuan beberapa orang saja, tapi saya bersedia memperlihatkannya kepada Anda, Apakah Anda mau?” kata Soekarno.

Luns pun menjawab, “Apakah saya mau Tuan Presiden? Itu adalah keinginan hidup saya. Cuma saya tidak berani menanyakannya.”

Lalu Soekarno memperlihatkan kepadanya karya telanjang. “Tidak bohong,” kata Rosihan. Soekarno menunjuk salah satu lukisan dan bertanya, “Bagaiamana pendapat anda tentang posisi ini, tuan Luns? Luns menjawab, “Untuk suatu posisi, itu adalah suatu posisi.”

Dan Soekarno terus saja dengan ceritanya, “Itu benar-benar payudara yang montok (weelderige boezems) bukankah begitu, Meneer Luns? dan yang satu ini benar-benar untuk digigit.”

Luns menanggapi, “Ya tapi itu jangan dilakukan sering, heh heh heh”

Kisah yang langka, bukan? Bahkan, Rosihan pun menuliskan begini: “Soekarno (itu) seorang pemburu rok perempuan fanatik (een fanatiek rokkenjager). Hampir abnormal.”

Ya begitulah, lagi-lagi, payudara menjadi begitu sentral diminati. Tokoh sekelas, Soekarno pun pengaggum payudara montok.

**

LAIN cerita di Venezuela, Amerika Selatan. Urusan payudara digunakan untuk urusan politik. Adalah politikus Venezuela, Gustavo Rojas yang memiliki ide gila itu. Ia menawarkan operasi untuk membuat payudara montok sebagai hadiah undian pada pengumpulan dana buat kampanye pemilu parlemen yang diincarnya. Edan!

“Banyak orang suka TV dan kami memutuskan untuk memberikan tawaran ini. Ini hadiah memikat dan bakal menarik banyak perhatian,” kata Rojas seperti dikutip Koran Tempo (31/08/2010).

“Undian adalah mekanisme finansial, tak lebih. Hanya dokter yang mengoperasi, bukan saya,” katanya.

Di negara Amerika latin itu, operasi pembesaran susu, barangkali menjadi citra negara tersebut. Bahkan,banyak perempuan rela berhutang demi operasi payudara. Industri bedah kosmetik sedang booming di Venezuela. Venezuela Society of Plastic Surgeons mencatat, sekitar 40.000 wanita tiap tahunnya, memperbesar payudaranya.

Di ibukota, Caracas, bahkan bank-bank menawarkan kredit hanyak ntuk mendanai operasi. Dan itu dipajang di iklan-iklan billboard di jalan-jalan Ibukota. Barangkali itulah mengapa negara ini juga memiliki sejarah keberhasilan dalam kompetisi kecantikan, setelah memenangkan enam Miss Universe dan lima Miss World, sehingga menambah tekanan perempuan untuk tampil indah.

Karena itulah, Presiden Venezuela, Hugo Chavez bekomentar keras. Ia mengutuk keras tren-tren operasi payudara di negerinya. Ia marah kepada dokter-dokter yang meyakinkan beberapa wanita, bahwa “jika mereka tidak memiliki dada besar, mereka harus merasa buruk.”

Telegraph.co.uk (16/03/2011) menuliskan, Venezuela merupakan salah satu negara dengan tingkat operasi plastik tertinggi per kapita di dunia. Dalam beberapa kasus, gadis-gadis remaja memiliki pembesaran payudara sebagai hadiah ulang tahun dari orang tua mereka.

Berbicara di televisi negara, Chaves dengan lantang bereseru. Menurutnya, para perempuan yang operasi itu, lebih memilih untuk mengeluarkan biaya hanya untuk dibedah, padahal berasal dari keluarga miskin.

“Sangat menyakitkan melihat gadis-gadis atau wanita yang mungkin tidak memiliki sumber daya memadai untuk perumahan, untuk mengakomodasi perumahan bagi anak-anak, [membeli] pakaian, yang mencari untuk melihat bagaimana melakukan operasi pada payudara,” katanya.

Komentar keras itu membuat Chavez mendapat beberapa pujian, meski salah satu koran oposisi, El Nacional, mengritiknya. Koran itu menuliskan apa yang dilakukan Chaves sebagai sikap “kuno, militeristik, kasar, sikap represif” terhadap kebebasan perempuan.

MASALAH payudara memang begitu menghebohkan. Bagian ini paling sensitif di mata laki-laki atau perempuan itu sendiri. Perempuan merasa bangga bila memiliki bentuk payudara yang aduhai. Makanya banyak wanita kini memilih operasi plastik untuk memperindah dan memperbesar tetek-nya itu. Bahkan, tercatat operasi payudara mengalami pertumbuhan pesat.

Pada 2010, seperti dilaporkan Harian The New York Times, sebanyak 296.203 pasien menjalani implan payudara dan 90.000 pasien menjalani breast-lift, dengan total operasi untuk memperindah payudara naik 40 persen dari 2000. “Sebanyak 91 persen pasien yang menjalani prosedur kosmetik tersebut adalah perempuan. Dan, sekitar setengahnya memiliki rentang usia 40-45 tahun,” demikian seperti diwartakan Media Indonesia.com (3/04/2011).

***

Dan sekali lagi, payudara merupakan bagian tubuh dari perempuan yang paling diminati sebelum selangkangan dan bokong. Setelah itu, eksistensi payudara itu “melewati batas” fungsional. Memiliki komoditas politik kehidupan.

Sampai-sampai, Pablo Picasso, pelukis masyhur asal Italia berucap begini: “Tanyakan pada lelaki apa yang diinginkannya? Jawabannya singkat sepasang payudara montok! maka aku pun berkali-kali melukisnya dengan penuh gairah.”

Tabik,

ASN

Kalibata, 14042011

  1. wah rajin sebarkan tulisan di blog dan facebook ya bos…sorry ra tau mbuka tulisan di pesbuk, aku lg hiatus alias pensiaun pesbukan ndisik :)

  2. hehe,,pas sempet aja pakde..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 160 other followers

%d bloggers like this: