MALAM pertama itu selalu dinanti-nanti pasangan yang baru menikah. Apalagi bersama pasangan cantik disampingnya dan musim hujan di bulan November ini. Romantis yang tak terperi.
Ibas dan Aliya, sama pula dengan pasangan pada umumnya. Orang menikah tentunya memiliki niat yang mulia, tapi bagaimana bisa pernikahan kali ini banyak dicibir masyarakat Indonesia. Hampir kebanyakan orang, entah wartawan, karyawan, pegawai negeri, penyiar radio, politikus, aktivis, LSM, pengangguran mencela pernikahan anak ragil Presiden SBY ini.
Padahal, menikah itu sebuah kebaikan. Dan kenapa, orang yang sudah mampu menikah masih saja dicibir? Menikah itu sebuah jalan. Memang banyak rintangan, entah goda wanita dan harta di sepanjang jalan. Tapi, menikah adalah bisa menenangkan syahwat.
saya tak bisa membayangkan apa yang dikatakan Ibas kepada Aliya di malam pertama mereka. Boleh jadi, Aliya berkata, “Mas, kenapa dirimu banyak yang membenci? Apakah kamu benar-benar jodohku selama ini?”
“Kamu kok tiba-tiba berkata seperti itu, adinada?” Ibas duduk di pinggir ranjang bersprei putih, bernuansa mawar di sekeliling ruang. Berbau arum cendana.
“Aku menikah adalah sebuah kehormatan. Aku rela melepas kesendirianku dan kepribadianku untuk berbagi kepadamu, tapi kenapa orang banyak mencela dirimu sedemikian rupa?
“Mereka tak membenciku, mereka terlalu sayang padaku. Mereka hanya tak tahu seperti apa sebenarnya diriku.”
“Apakah karena kamu anak Pak SBY dan dirimu dari Partai Demokrat?
“Mereka iri, aku anak presiden dan menjadi anggota DPR. Partai berkuasa, dan seolah-olah mendapatkan semua ini adalah karena bapak, bukan itu adinda, percayalah.”
“Aku paham, aku anak dari Hatta Rajasa, ketua partai PAN. Partai pendukung pemerintahan ayahmu, aku sendiri selalu berkata pada diri sendiri ketika malam sunyi di sepertiga malam, ‘apakah benar pernikahan ini hanyalah pernikahan politik? Makanya di malam pertama ini, aku ingin bertanya langsung kepadamu soal ini? Benarkah aku tumbal untuk perkawinan politik?
“sssttt…janganlah kau ucapkan perkataan tumbal politik. Tak ada. Itu hanyalah akal-akalan media untuk menjual beritanya.”
Ibas memegang tangan Aliya. Diremas dan dikecupnya tangan lentik putih itu. Kening Aliya dikecup sekali. Ibas pun berdiri. “Apakah kamu lihat aku menangis tersedu-sedu di kala hari sebelum midodareni?”
“Ya. Sayang, aku melihat.
“Banyak yang bilang aku menangis ini lantaran aku sedih menerima dan bakal menjadi istrimu. Banyak yang menyayangkan aku kok mau sama kamu.
“Mmm….”
“Tapi mereka salah. Mereka keliru, mereka telah berburuk sangka padaku dan juga kamu. Mereka sok tahu, mereka sepertihalnya komentator bola di layar kaca. Membual saja.
Ibas senyum dan kembali ke samping Aliya, setelah melepas kemejanya, Kini ia hanya memakai kaos oblong putih, seperti kaos orang yang berangkat haji, kaos-kaos yang banyak dijumpai di tenabang.
“padahal kalau kamu tahu, aku menikah karena tugasku akan berat. Aku menikah karena pasrah, memasrahkan diri untuk mengabdi sebagai istri. Aku tak akan mendapati bersenda gurau dengan kawan bermain, sebab aku mulai menjadi bagian yang terhormat. Banyak bilang, nanti kenapa setelah menikah kamu jarang bergaul? Dan banyak sekali pertanyaan itu.
“Aku salut denganmu, adinda.”
“tapi sekali lagi mereka itu sok tahu, mereka kira menikah itu seperit makan sepotong kue dan setelah itu makan lagi kue berikutnya, karena masih lapar.tapi bagiku menikah itu seperti menimba air, terus memenuhi kendi, untuk kemudian membersihkan diri bersama-sama, untuk kamu, aku, dan anak-anak kita. Jalan ini adalah jalan rosul.
“tapi benarkah, jalan menikah ini jalan politik ayah kita?
Ibas hanya termenung mendengarkan istrinya berkata dengan linang air mata.“Sudahlah, tak usah kau pikirankan berat-berat persoalan itu. Hapuslah air matamu saying. Lebih baik kita menikmati malam baru kita ini.”
Ibas tersenyum dan mulai menggoda Aliya. Ia mendekati wajah Aliya, dipegang dagu istrinya itu, ditatap matanya. Pelan-pelan Ibas menyambar sudah bibir Aliya. Mereka beradu sementara waktu.
“Sebentar Mas, aku belum siap soal ini.
“Ada apalagi saying. Ini sudah jam 2 pagi. Besok masih banyak waktu untuk keluarga.”
“aku masih ingin tahu, kenapa kamu dibenci orang kebanyakan di Jakarta ini?
Aliya tertunduk lesu di pinggir ranjang, ia melihat segundukan hadiah dari tamu-tamu agung malam itu. Ia melihat foto dirinya bersama orang tuanya. Ia mengambil dan air matanya menetes lambat. Ibas pun terpekur. Ia tak bisa berkata-kata. Ia berhenti mendekati istrinya, ia hanya berbisik ke telinga Aliya.
“Besok saja, aku jadi tak berhasrat lagi, gara-gara banyak tanyamu ini.” Ibas melempar badannya ke ranjang dan dengan cepat sudah dibalik selimut. Ia memiringkan badannya. Belum setengah jam berjalan, dengkurannya terdengar keras.
Aliya melihatnya dan ia masih menangis sendiri, di sepertiga malam. Ia bertanya sekali lagi, “Kenapa kamu banyak yang membenci mas?”
26 November 2011
Tabik,
ASN



