
SEKITAR jam sembilan malam, aku pulang kerja. Badan terasa letih, sehabis memasukkan motor, kemudian aku rebahan di lantai. Bau asap bercampur keringat terasa betul di tubuhku. Saya belum sempat untuk cuci muka, padahal wajah ini sudah tebal bersaput karbon.
Istri yang menunggu sedari sore memintaku bersih-bersih dan segera tidur, daripada rebahan begitu. Permintaan itu sedikit tak kugubris, sampai kemudian istri sedikit meninggi suaranya. Apa boleh buat, suara istri lebih menakutkan dibandingkan suara setan, bukan?
Aku meminta istri membersihkan mukaku terlebih dulu. Setelah itu, aku ternyata ketiduran dan ketika bangunsudah menjelang jam tiga pagi, dan baru sadar aku belum shalat Isya. Aku bilas bagian tubuh yang terasa panas dan lengket karena keringat.
Saat berganti pakaian, tak lama berselang, terdengar suara tapak kaki di tangga, seperti turun dari lantai dua. Suaranya lembut.
Ya, kontrakan rumahku dua lantai. Lantai atas untuk keperluan memasak dan bercengkrama di depan televisi, sedangkan kamar di bawah untuk kamar tidur. Dulu, sempat berkamar di atas, lantaran kalau siang panas kami putuskan untuk pindah di bawah. Apalagi di atas juga sedikit bocor, enggak nyaman kan kalau pas tidur tiba-tiba bocor?
Dengan rumah dua lantai otomatis aktifitas pun naik turun. Ini yang kadang membuat malas. Rasanya kaki tak mau bergerak untuk naik, bila ada saja barang yang tertinggal di atas, padahal baru saja nonton televisi. Ya meski begitu, ini sudah menjadi semacam rutinitas olahraga.
Kamar di atas jarang sekali dibuat tidur. Beberapa minggu sebelumnya, kamar atas masih sering untuk makan dan ngobrol ketika sepulang kerja. Lagi-lagi karena capai aku mending di bawah dan istri mengambilkan air minum atau makan malam dari atas. Istriku memang olahragawan sejati. Belakangan air minum aku taruh bawah sehingga tak perlu repot mengambil ke atas. Cukup ambil gelas, sehingga sewaktu-waktu bisa ambil air tanpa harus naik tangga.
Aku belum jadi shalat Isya ketika mendengar suara tapak kaki itu. Seperti langkah orang turun dari loteng. Memang ada lubang udara di atas dapur, tapi kalau untuk orang jelas mustahil. Lubang itu cukup untuk kucing dan tikus menyelinap dan menggasak makanan di atas. Dan ini sempat terjadi. Ketika kami keluar, pulang-pulang hendak makan, ternyata daging ayam istriku raib. Entah siapa yang mengambilnya.
Aku pun mengecek keluar, tak ada siapa-siapa. Aku gedor dinding, tapi kemudian suara kucing yang menjawab.
“Meoooooongg”.
Tak mungkin kalau suara tapak kaki itu datang dari kucing, karena tapakan kakinya lembut, berbeda dengan berat kaki orang. Terkadang terdengar suara orang berjalan di tangga dari tetangga sebelah. Tapi ini pukul 3 pagi.
Kejadian ini saya simpan dari istri, karena saya cemas bila dia dengar cerita itu, dia menjadi takut di rumah.Saya kaget. Saya tunggu kucing itu di bawah, kok tidak juga muncul. Aku gedor lagi, tak ada jawaban kali ini. Kalau benar itu kucing tentunya dia akan lewat di depan kamarku. Posisiku berada persis di depan kamar, sementara tangga berada di belakang kamar.
Kamar atas jadi makin sunyi dan kurang begitu nyaman. Akhir-akhir ini istri juga mengeluh. Ia serasa tak betah tinggal di rumah, merasa bosan, katanya. “Kok rasanya enggak seperti pertama kali ngontrak ya?
Apalagi setelah peristiwa suara itu, depan rumah ada yang kesurupan. Istriku jadi takut. Katanya, suara-suara burung milik tetangga berkicau terus. “Katanya itu tanda kalau setannya masih di sekitar rumah, mas? katanya padaku.
Tapi kemarin, dia minta cerita kejadian malam itu, yang sempat saya singgung. Sebetulnya cuma ingin membuat istri penasaran. “Enggak takut? Yakin?” kataku. Dia menjawab yakin. Karena siang hari, mungkin saja ia berani, tapi sehabis mendengar cerita dia malah memintaku menulis cerita ini.
Setelah kejadian suara itu, aku putuskan untuk tidur di atas sama istriku. Ternyata masih tak jauh beda dengan sebelumnya: kamar terasa panas.
Lalu suara tapak kaki dari loteng itu, siapa?



