Keliling Dunia Berkat Jeniper dan Jenisa

SUATU hari kelak, Benhardi yakin akan menjadi pengusaha besar. Keyakinan itu tak membuat dirinya kecewa ketika harus melepas jabatan sebagai general manager (GM) pada 1996. Jabatan sebagai seorang GM di Jakarta dengan gaji Rp4 juta per bulan kala itu ia tanggalkan. Padahal, berapa banyak orang yang berani ambil risiko?

Tetapi, Benhardi mau berisiko. Ia turuti mimpinya untuk berwirausaha. “Saya ingin menjadi pengusaha. Sejak kecil, itu mimpi saya,” katanya kepada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu di sela acara pelatihan Indigopreneur Usaha Kecil Menengah di Kuningan, Jawa Barat.

Bermodal sekitar Rp3,8 juta, bersama keluarga, Ben memilih jualan jeruk nipis. Ia memandang usaha makanan atau minuman tak akan pernah mati, apalagi produk berbahan jeruk nipis masih sedikit di pasaran.

Ia paham bila jeruk nipis ini hanya dijual seadanya, tentu tak begitu menarik perhatian orang. Ia butuh merek andal sampai bertemu nama, “Jeniper“, singkatan dari jeruk nipis peras.

“Saya ingin punya nama enggak hanya untuk saat ini, tapi 10-15 tahun ke depan masih enak didengar,” kata pria kelahiran Jakarta 46 tahun silam ini. Dan ternyata, setelah masa 15 tahun, produknya makin diburu orang.

Di awal-awal berbisnis, Jeniper belum laku. Sulit bagi produk baru berkompetisi di pasaran. Akan tetapi berbekal pengalamannya sebagai GM di supermarket, ia menantang para pemilik toko. Ia menaruh 10 dus, tiap dus berisi 10 botol. Ada dua ukuran botol yang ia jual: 140 mililiter (ml) dan 630 ml. “Saya bilang ke pemilik tokonya, ‘kalau dalam sebulan ini tidak habis, silakan bapak bagikan ke karyawan bapak’. Padahal itu nilainya sekitar Rp1 juta,” ujarnya.

Biasanya kalau toko ditantang seperti itu, apalagi toko besar, mereka pasti malu kalau tidak laku. “Ternyata dalam dua minggu, Jeniper sudah habis,” kata pria yang lama bekerja di bidang perminyakan ini.

Sejak awal hingga kini, harga Jeniper sudah naik enam kali. Awalnya botol ukuran 140 ml hanya dijual seharga Rp500, tapi kini dibanderol Rp2.300. Hal sama dengan botol besar. Awalnya dijual seharga Rp6.000, kini harganya sudah mencapai Rp11.000.

Lagi-lagi, ini adalah sebuah keputusan berisiko. Tapi peraih penghargaan Usaha Kecil dan Menengah Berprestasi Terbaik 2007 Tingkat Jawa Barat itu tetap bergeming. “Saya memang senang dengan yang namanya risiko,” ujarnya.

Menurut Benhardi, produknya itu memiliki keistimewaaan dibandingkan produk minuman ringan lainnya. Karena jeruk nipis berguna menyembuhkan sakit batuk. Atas dasar itulah, ia yakinJeniper bisa laku di pasaran. “Kalau minuman lain kan hanya pelepas dahaga,” katanya.

Untuk menambah pasar lebih luas lagi, ia juga menciptakan produk baru pada 2004, yaitu “Jenisa” atau jeruk nipis asli. Produk ini hampir sama dengan Jeniper, bedanya Jenisa diberi tambahan madu.

Kini, sebagai direktur CV Anugrah Alam Lestari (produsen Jenisa), dan komisaris di CV Mustika Flamboyan (produsen Jeniper), Benhardi sudah bisa menikmati jerih payah kerja kerasnya. Dalam sebulan, omzet penjualan Jeniper mencapai Rp300 juta, sedangkan Jenisa Rp150-200 juta. “Pada awal-awal omzetnya baru sekitar Rp1 juta per bulan,” katanya.

Bersama 27 karyawan dalam sehari, kini ia bisa memproduksi sampai 3.500 botol per hari. Berbeda dengan awal-awal usahanya yang hanya 50-70 botol per tiga hari. Dalam sebulan, kini Benhardi mampu mengirim Jeniper dan Jenisa ke luar Kuningan sekitar 200-300 dus.

Melanglang Dunia

Pameran, bagi Benhardi, suatu celah promosi produk. Ia ikuti hampir setiap pameran produk makanan. Ia rela jauh-jauh ke Jakarta ikut pameran produk unggulan di Gedung Smesco, Jakarta pada 2006. “Saya sadar biaya untuk promosi itu sangat tinggi,” ujarnya. Dan tanpa dinyana, produk jeruk nipis bikinannya mendapat penghargaan sebagai produk unggulan terbaik se-Indonesia.

Walhasil, ketika ada ajang pameran ke luar negeri, pemerintah pun mengajaknya. Pria yang kini menetap di Kuningan itu dibawa ke beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Spanyol. Ia juga hadir sebagai peserta kehormatan dalam “Indonesian-China Economic and Bussines Seminar” di Shanghai, China, Juli 2010.

Produk minuman jeruk miliknya cukup diminati di beberapa negara. Namun para pembeli meminta dia tak memakai kemasan botol kaca lantaran sulit dalam pengiriman. “Di Spanyol, ada toko obat herbal yang meminta, tapi lagi-lagi terkendala kemasan,” katanya.

Ia sadar ini masalah pelik. Hingga kini Ben belum menemukan botol plastik yang sesuai untuk jeruk nipis mengingat tingkat keasaman jeruk nipis yang tinggi. “Kalau produknya rusak, peminumnya pun bisa rusak (sakit),” ujarnya.

Kualitas menjadi ukuran pertama strategi dagang Nominator Pemuda Pelopor Penggerak Pembangunan Jawa Barat Tahun 2008 ini. Makanya, tiap tiga bulan sekali ia selalu mengevaluasi kualitas produk. Termasuk kemasan. Sudah delapan kali desain kemasannya ia gonta-ganti agar menarik perhatian pasar. Ben dibantu konsultan di Bandung. “Slogan saya, ‘inovasi tiada henti’,” katanya

UNTUK menjaga kualitas produk, Ben punya strategi ABG. Apa itu? Perwujudan dari komposisi tiga unsur yakni academic/akademisi, businessman/pebisnis, dan government/pemerintah. Strategi ABG ini tak keliru. Produknya yang dinilai bagus, membuat pemerintah mulai mengajaknya ikut pameran ke Medan, Batam, Bali, dan kota lainnya.

Tapi butuh waktu sepuluh tahun hingga produk minuman jeruk nipis olahannya diterima pasar. Tepatnya sekitar tahun 2005-2006. Jeniper dan Jenisa mulai merambah ke Yogyakarta, Semarang, Brebes, Pekalongan, Cirebon, Majalengka, Indramayu, Bandung, dan Jabodetabek. Bahkan, untuk luar Jawa, sudah banyak pesanan dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.

Untuk memastikan produknya berkualitas, mantan surveyor di Conoco ini menggandeng tiga perguruan tinggi, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, dan Universitas Pasundan. “Bila ada keluhan konsumen, saya kemudian bertanya kepada mereka. Dan itu bebas biaya,” katanya seraya tersenyum.

Menurut Benhardi, apa pun usahanya, yang pertama harus dilakukan fokus menjual produk. Baru kemudian membangun jaringan bisnis. Dengan terjaganya kualitas produk dan fokus membangun jaringan, pasar akan melirik. Produk akan terbeli sendirinya. “Otomatis uang akan berputar,” katanya.

Ben punya resep bagi mereka yang ingin terjun berbisnis. Yaitu jangan memikirkan modal. Modal bisa datang sendirinya, bila produk laku di pasaran. Bagaimana bisa?

Ia sudah membuktikan. Beberapa kali “tukang kredit” dari bank menawarinya modal, tapi ia tolak. Bahkan, sekelas manajer di bank harus turun menawarinya pinjaman. Tapi lagi-lagi ia tolak.

“Penolakan ini membuat pihak bank penasaran,” katanya. “Pak Ben, memang maunya berapa,” ujarnya menirukan seorang manajer bank. Ia meminta beberapa ratus juta rupiah, yang dalam sehari harus cair.

Manajer bank tersebut awalnya ragu, sebab pihak bank biasanya harus survei lapangan terlebih dulu untuk memastikan kualitas peminjam. “Saya bilang, ‘Ya sudah Pak kalau tidak bisa, saya ke bank lain saja’. Biasanya mereka mencegah.”

Untuk urusan kepercayaan perbankan, ia menjaga satu hal: meminjam dalam posisi punya uang. Sebab bila tiba-tiba terjadi kredit macet, bank tak percaya lagi. “Saya suka pinjam jangka waktu dua tahun, tapi baru setahun saya sudah lunasi,” katanya.

(dimuat di Jurnal Nasional, 5 Juli 2011)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 160 other followers

%d bloggers like this: