labib akmal basyar

Akil Mochtar: Dari Kebun Sawit Hingga Titiek Sandhora

In Feature on 6 April 2013 at 05:50

DUA hari sebelum pemilihan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), saya sempat berbincang selama satu jam dengan Akil Mochtar, Senin (1/4) di kantornya. Akil menceritakan, karirnya dari nol sampai akhirnya kini sebagai hakim.

Masa kepemimpinan Mahfud MD, ia ditunjuk sebagai juru bicara MK. Ia sangat dekat dengan wartawan. Ia tipe orang yang suka bercanda dan banyak bicara. Sekalinya berdiskusi, lupa waktu kapan berhentinya.

Wartawan yang “ngepos” di MK selalu menggodanya jabatan RI 9 – ini adalah nomor pelat mobil ketua MK) jelang Mahfud MD lengser. Tapi, ia mengaku tak berambisi menjadi ketua. Tapi, Rabu kemarin, ia memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan sebagai ketua MK.

Perjalanan Akil sampai ke Jakarta cukup pelik. Ia berasal dari Putussibau, daerah terpencil perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Jaraknya sekitar 860 kilometer, seperti jarak Jakarta-Surabaya. Untuk sampai ke Pontianak, ia membutuhkan 15 hari perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. “Saya harus pakai kapal,” ujarnya. Akses jalan baru dibuka pada 1994.

Di luar kesibukannya sebagai hakim, Akil aktif sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). “Kenapa saya memilih itu? Ya daripada berorganisasi yang yang berafiliasi politik, lebih baik saya mengurus organisasi olahraga,” ujarnya.

“Kami kumpul dengan anak-anak muda dan selalu teringat dengan masa muda.” Sejak kuliah, ia memang suka pergi ke alam dan aktif di pencinta alam Universitas Panca Bhakti, Pontianak.

Ia adalah anak ke-6  dari sembilan saudara pasangan Mochtar Anyoek-Junnah Ismail. Dari saudara-saudaranya, Akil-lah yang menggapai sukses paling tinggi. Kakaknya-kakaknya hanya tamatan SMP, sedangkan beberapa adiknya berhasil sampai tingkat S-1 dan S-2.

Di keluarga, ia sebagai anak pertama yang merantau ke Pontianak, karena harus melanjutkan ke SMP. “Karena sekolah harus ke Pontianak. Pada 1974 di kabupaten saya belum ada sekolah. Kabupaten saya paling terisolir, paling ujung,” katanya.“Kalau enggak ya seperti temen-temen, setelah SMP kawin, sekarang sudah punya cucu 7-8, he..he..”

Ia banyak mengingat kenangan saat itu. “Ayah saya bilang, ‘Saudaramu banyak ada sembilan, ayah enggak mampu kalau kamu sekolah, ya merantaulah. Karena dengan merantau nantilah ada jalan,” kata Akil menirukan ucapan ayahnya.

Sejak merantau ia susah untuk pulang karena faktor jarak dan biaya. Jika pulang selama di kapal, ia membantu bongkar muat barang biar dapat duit. “Masalahnya 15 hari perjalanan. Jadi kami bantu-bantu karena kami makan di situ,” katanya.

Selama merantau ia tak pernah dikirimi duit. “Mana ada kiriman. Serabutanlah,” tuturnya. Berbagai pekerjaan ia lakoni, seperti loper koran, tukang sol sepatu, dan sopir angkot. “Saya itu kerja apa saja sudah kecuali mencuri,” katanya.

Ia biasanya membantu tukang sol sepatu yang lagi banyak pesanan. Tak banyak yang dia dapat dari bekerja itu. “Kerelaan dia mau ngasih berapa. Sehari paling banyak Rp10-25, emang lu pikir banyak,” katanya.

Ia lalu menceritakan sulitnya mencari duit ketika akan mengikuti ujian skripsi pada 1984, karena harus membayar Rp75 ribu. Untuk dapat uang itu, ia harus menjadi sopir sejak subuh hingga jam 8 malam. Yaitu ia mengantarkan seseorang karena harus mengambil gambar (video shooting) pernikahan.

“Setengah mati saya cari duit Rp75 ribu. Saya lalu jadi sopir dibayar Rp50 ribu, sisanya pinjem temen,” katanya. “Ketika saya jadi lawyer, ada yang pernah bilang ‘saya kenal bapak’. Ya, pastilah karena pernah bawa angkot.” Beprofesi sebagai lawyer ia jalani selama 16 tahun sejak 1984.

akil

Berikut cuplikan wawancara Jurnal Nasional dengan pria kelahiran 18 Oktober 1960 di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Anda suka naik gunung, ya? Kalau gunung-gunung kecil tak bernama sudah banyak. Sekelas Gunung Rinjani saya sudah jalani itu. (Ia mengatakan bahwa dirinya lebih banyak melakukan hiking ke alam daripada naik gunung).

Apa kegiatan Anda, jika sedang libur? Kadang-kadang saya mengisi ceramah-ceramah di seminar dan mengajar pascasarjana di Pontianak. Kadang-kadang juga ada usaha kecil.  Saya punya kebon sawit dan penangkaran Ikan Arowana, itu usaha keluarga. Tiga hari kemarin (29-31 Maret 2013) saya naik speed boat selama tiga jam ke kebon sawit di Putussibau dari Pontianak. Ke sana memberi ketentraman karena ke desa-desa. Sambil menikmati suasana kebon.

Memangnya punya berapa hektar kebun sawit? Saya punya 100 hektar. Itu sudah lama. Jadi sedikit demi sedikit belinya, sejak saya menjadi pengacara, sejak 20 tahun lalu.

(Ia kemudian menceritakan, satu hektar kebon sawit bisa memproduksi satu ton sawit. Harga sawit dihitung sekitar Rp18-20 per tandan. Sehektar, katanya, penghasilannya sekitar Rp800 ribu, jika dipotong untuk ongkos produksi untungnya sekitar Rp300 ribu per bulan per hektar. “Tinggal kemudian dikalikan berapa hektar,” katanya)

Bagaimana dengan penangkaran Ikan Arowana? Di daerah saya hampir semua orang punya Ikan Arowana. Orang bikin kolam di belakang rumah. Saya punya enam kolam, satu kolam ukurannya 8 meter x 60 meter. Investasi Arwana itu cukup besar. Investasi kolam saja di luar ikan bisa Rp300-400 juta. Yang mahal ikannya. Kalau induknya it antara Rp30-100 juta satu ekor. Itu baru induknya.

(Sekedar diketahui, kekayaan Akil termasuk tiga teratas diantara hakim lainnya di MK. Data Komisi Pemberantasan Korupsi mencatat, kekayaannya pada 2002 sebesar Rp3,46 miliar, Rp8,4 miliar (2006), dan Rp 5,2 miliar (2011). Hakim terkaya lain yaitu Hamdan Zoelva Rp9,6 miliar (2011) dan Achmad Sodiki Rp5,9 miliar (2011).

Sekarang punya berapa induk? Saya punya 160 ekor induk, itu bertahap tidak langsung beli. Kadang ada teman yang jual, lalu saya beli.

Jadi pengusaha kan lebih enak, kenapa harus ke politik? Saya memang awalya dari pengacara. Dulu itu di Kalimantan mulai pada buka kebun sawit. Karena tidak mungkin bisa ikut perusahaan besas, terus saya belilah lahan sedikit-sedikit. Kemudian saya jadi pengacara, dapat duit, lalu saya beli lagi. Sawit itu yang ngurus orang desa situ, bukan saya.

Kita kan bukan pengusaha, mereka itu pengusaha besar, seperti PT Sinar Mas dan PTPN XIII. Kita ini ‘pengusaha gelap’, he..he… Sampai sekarang itu sebenarnya bukan pengusaha, ya memang kita tradisi di sana banyak.

Saya punya sapi lebih dari 50 ekor. Saya juga punya tanak banyak sekali. Orang tua saya tanahnya dulu banyak. Dulu ayah saya yang membuka hutan. Kan orang dulu gitu, siapa yang nebang jadi huma, itu nanti milik kita. Sekarang tanah itu jadi kota.

Bagaimana hubungan Anda dengan ayah? Hubungan saya biasa saja. Ayah saya meninggal pada 1994. Orangtua berpesan agar bekerja dengan semangat, selebihnya diserahkan kepada Allah. Jangan dendam sama orang.

Kenapa memutuskan masuk ke DPR? Ya karena saat itu masa reformasi. Partai-partai dibuka. Kita ingin memberikan advokasi rakyat jelata. Kalau lawyer sekarang ‘mengoceh’ seperti apa dimuat sama koran, kalau dulu diuber-uber tentara. Enggak ada yang peduli sama kamu. Setelah itu reformasi partai politik terbuka, banyak yang ngajak.

Itu ceritanya panjang. Mantan kepala sekolah SMA saya yang mengajak masuk Golkar. Karena saya dianggap sebagai muridnya yang mandiri dan sukses, sudah jadi lawyer. (Ia menirukan ucapan kepala sekolahnya, “Bantu bapaklah kalau menang kau wakil ketua DPD 1″). Saat itu saya berusia 30-an, tapi sudah kantor sendiri.

Banyak yang membantu saya. Saya punya teman-teman aktivis 1998, semua bergerak. Saat itu ada yang bilang, kenapa masuk ke Golkar. Golkar itu bau tahi, orang mau keluar kamu mau masuk. Mau apa kau di sana.

Tapi saya tak percaya, apa benar Golkar roboh sampai tingkat bawah. Dengan perhitungan politik saya masuk pada Oktober 1998. Di daerah saya, Golkar rontok dari tujuh kursi menjadi dua kursi. Yaitu satu orang lama, dan kedua saya menang mewakili kabupaten.

Tapi kenapa tidak betah di DPR? Saya ingin mengatakan anggota DPR masa paling happy itu ya periode 1999-2004, semua orang masih clear, pikiran masih jernih, kita merasa sebagai reformis. Kita yang bikin UU KPK lahir, UU HAM berat, UU Pencucian Uang, dan UU MK. (Pada Pemilu 2004), saya masuk lagi dengan suara terbanyak, tidak ada lawan. Tapi suasana politik mulai tidak enak baik internal partai maupun DPR. Sistem politik kita mulai tidak bener. Rekrutmen tidak bener, artis mulai masuk, maaf ya.

Itu yang memicu bapak keluar? Tekanan politik yang tidak baik lagi, pikiran waras yang seharusnya dituangkan, kembali ke masa lalu partai. Terhadap pemikiran reformasi itu, Anda sudah tidak bisa mengembangkan lagi. Kalau saya tidak bisa melawan saya mengalah makanya saya hijrah. Kemudian saya sama Pak Mahfud masuk ke MK.

Karir Anda sudah selevel presiden, apa lagi yang sebetulnya belum Anda raih? Tidak ada, saya mengalir saja. Artinya, berjalannya ya sampai di batas: di mana batasmu kamu harus sampai. Dalam perjalananmu itu kamu mengisi. Kita ini ibarat sekrup kecil dari sebuah bingkai besar. Saya bersyukur. Soal siapa menjadi apa itu urusan Allah.

Di umur 54 tahun Anda masih kelihatan bugar? Saya enggak ada penyakit. Saya kemarin mau diajak Pak Erry Riyana Hardjapamekas (mantan wakil ketua KPK) ke Gunung Kinabalu (Sabah), saya enggak ikut. Hobi saya ke alam terbuka. Dulu saya Karateka, Dan 1, tapi saya berhenti makanya badan melar nih. Sekarang saya jogging di taman. Kalau kurang di treadmill.

Apa kesukaan film Anda? Detektif. Haduh saya enggak pernah terpikat judul, tapi jenisnya saya suka. Kalau detektif itu mengajak berpikir, gitu loh. Terakhir di bioskop saya nonton film, Habibi-Ainun bersama keluarga. Saya jarang di bioskop. Di TV HBO banyak sekali.

Punya idola sejak muda? Saya suka film Nagabonar jilid 1. Di situ Dedi Mizwar bagus sekali. Tapi, saya kagum sama Jenderal Besar Sudirman. Pemikirannya luar biasa jadi doktrin TNI sampai sekarang. Luar biasanya, dia enggak ada pangkatnya, dia kan guru.

Dulu idola wanita Anda seperti apa? Kalau jaman saya SMA itu kan pasangan Muchsin Alatas-Titiek Sandhora. Impian wanita ya kayak gitu. Kan mereka pasangan ideal saat itu, sampai bikin lagu Dunia Milik Berdua. Kita tahunya itu aja, kan informasi masih terbatas.

Akhirnya dapat yang sesuai dong? Soal jodoh itu, saya percaya betul itu dari Tuhan. Saya pernah tunangan menentukan hari kawin, tapi batal.

Bagaimana kisah cinta Anda? Saya seringkali (jatuh cinta). Saya ini tipe orang yang banyak pacar. Masa kuliah jadi rebutan kaum perempuan. (tersenyum)

Anda termasuk pria playboy, ya? Jaman-jaman itu memang menuntut seperti itu. Hehe…

Ngomong-ngomong dari sekian Presiden Indonesia, siapa yang Anda kagumi? Saya termasuk orang yang tidak mengagumi presiden di Indonesia. Tapi kita harus mengagumi presiden kita dengan segala kekurangan dan kelebihan.

Setelah pensiun apa yang ingin Anda lakukan? Saya mau mengabdikan ke kepentingan sosial dan agama, kalau ada waktu dan umur. Yang kedua, ya jadi petani itu. Punya kebun, enggak pusing.

#Dimuat di Jurnal Nasional, Sabtu (6/4).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 160 other followers

%d bloggers like this: