Faktor Keluarga Bikin Anak ke Jalanan

by labib akmal basyar

 HAMPIR seluruh kota besar di Indonesia tumbuh anak-anak jalanan. Banyak faktor yang menyebabkan mereka lebih memilih tinggal di jalanan. Tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Dosen Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Suharma, PhD di Kota Bandung, Jawa Baratcmenunjukkan, anak-anak turun ke jalan karena faktor dorongan orangtua.

“Untuk anak berumur di bawah 5 tahun, faktor orangtua yang paling dominan,” ujar Suharma kepada saya di Grand Sahid, Jakarta, Rabu (11/9) dalam acara “Konferensi tentang Kemiskinan Anak dan Perlindungan Sosial”.

Hal itu dikarenakan, kata dia, orangtua selalu mengarahkan atau mendoktrin bahwa tugas seorang anak adalah membantu orangtua. Ini dilakukan demi mencari pendapatan guna memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, termasuk untuk biaya sekolah.

Sementara, anak-anak usia remaja memilih di jalanan karena faktor lari dari orangtua. Penyebabnya, pengaruh perceraian orangtua, konflik keluarga, penolakan anak oleh orangtua, atau kondisi yatim piatu. Faktor penarik yaitu sebagian masyarakat masih suka memberikan uang kepada anak-anak jalanan, sebagai bentuk sedekah. Suharma mengatakan,hal ini menjadi pro-kontra di masyarakat. Akan tetapi, “Selama masih ada pengguna jalan yang memberikan uang terhadap anak jalan, selama itu pula anak jalanan ada,” kata dia.

Oleh karena itu, menurut dia, perlu adanya edukasi kepada orangtua dan masyarakat. Dikarenakan, “Orangtua tidak menyadari dan tidak tahu bahwa sesungguhnya melibatkan anak dalam pemenuhan ekonomi keluarga merupakan pelanggaran hak anak dan berbahaya bagi perkembangan anak,” ujar Suharma.

Di Kota Bandung, misalnya, sudah menerapkan peraturan daerah yang melarang pemberian uang kepada anak-anak jalanan. Ini sebagai strategi untuk mengurangi jumlah anak jalanan. ”Barang siapa memberikan uang akan dikenai sanksi. Tapi spirit ini masih setengah-setengah dilakukan, karena adaya pro-kontra di kalangan masyarakat,” kata dia.

sumber: smokingroom.deviantart.com

Menurut dia, ada perubahan perilaku pada mengikuti perkembangan umurnya. Ketika anak beranjak dewasa, sekitar 15-18 tahun, mereka cenderung untuk keluar dari jalanan. Ini karena faktor himpitan ekonomi; mereka tak memiliki penghasilan tetap dan kebutuhan hidup sudah banyak. Kata dia, mereka kemudian beralih pada pekerjaan sektor informal atau malah terbelit tindak kriminal.

Pekerja Anak

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) melansir pada Juli 2012 sedikitnya terdapat 12 juta anak usia 5-15 tahun berasal dari ekonomi rendah. Dari studi di Provinsi Lampung setidaknya terdapat 63,32 persen dari tenaga kerja anak tidak lagi bersekolah.

Menurut Rizqa Fithriani, peneliti di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mengatakan, dengan adanya para pekerja anak merupakan salah satu refleksi dari kemiskinan.

Ia mengatakan, sebagian besar pekerja anak tersebut membantu menopang perekonomian keluarga. “Sebagai tenga kerja keluaga atau tenaga kerja tak dibayar. Dan umumnya bekerja pada sektor pertanian yakni sebesar 58,08 persen,” kata dia.

Rakyat miksin di Indonesia, menurut BPS Pusat, sampai Maret 2013 jumlahnya mencapai 28,07 juta orang (11,37 persen). Ini berkurang sebesar 0,52 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2012 yang sebesar 28,59 juta orang (11,66 persen).

(Dimuat di HARIAN NASIONAL 12 September 2013)

About these ads