Pinocchio Mengubah Hidup Pak Raden

JUMAT 13 APRIL 2012. Pagi itu, Maman dan Fain, sibuk dengan boneka dan properti syuting acara Si Unyil di Trans7. “Ini lagi buat pesawat UFO untuk episode terbaru,” kata Maman.

Maman dan Fain, dua perajin boneka, yang sehari-hari menemani Pak Raden. Rumah itu di sebuah gang di Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta. Kondisi rumah berantakan dengan lukisan dan perangkat lain. Sumpek, bau pesing, dan kotoran kucing yang nyaris di setiap sudut ruang. Bahkan, di kolong tempat tidurnya, berserakan tikar dan obat nyamuk. Selain Maman dan Fain, ada Nanang yang sehari-hari mengurusi makan hingga segala sesuatu yang dibutuhkan Pak Raden.

Hari itu, Pak Raden kaget ketika saya datang ke rumahnya. Ia termasuk orang yang displin dan terjadwal. Sebab, ia memiliki kesibukan dari melukis, menulis buku, lagu, dan lainnya. “Lain kali sebaiknya janjian dulu ya,” kata Pak Raden.

Kala itu, ia bercerita tentang “anaknya” yang hilang: Si Unyil. Sejak diserahkan ke Produksi Film Negara pada Desember 1995, ia sama sekali tak diberi royalti atas pemakaian karakter dan tokoh Unyil. Pada saat kedatangan saya itu, dia sedang menyiapkan pernyataan sikap atas karyanya itu. Dan, Sabtu (13/4/2012), ia membacakannya saat acara Koin untuk Pak Raden. Hadir pula Bondan Prakosa bersama grup Fade2Black. Sejak itulah masalah Pak Raden menjadi perbincangan.

“Bertahun-tahun saya kerja, sama sekali saya tidak memetik hasilnya. Tapi orang lain dan senang pakai nama ‘Si Unyil’ dan nama ‘Pak Raden’,” ujar Pak Raden, yang hingga meninggal tinggal di rumah milik kakaknya. bakar Sejak 1980-an, ia tiga kali pindah rumah kontrakan.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia melukis. Sejak 2010 Pak Raden sulit jalan. “Kata dokter, dengkulnya sudah keropos,” ujar Nanang. Meski sudah senja, Pak Raden masih memiliki daya ingat yang kuat. Ia pun tak pakai kacamata untuk menulis atau melukis.

Usahanya untuk meraih hak ciptanya kembali dan royalti, akhirnya kesampaian pada 2014 (baca grafik di bawah).

**

NAMA aslinya Suyadi. Dikenal sebagai Pak Raden ketika dia menciptakan tokoh Si Unyil yang tayang di TVRI antara 1980-1991. Ia juga yang mengisi suara tokoh Pak Raden di acara itu. Ia selalu identik dengan pakaian beskap hitam, blangkon, suara tawa yang berat dan serak, bertongkat dan tak lupa kumis tebal melintang.

Di serial Unyil, karakternya kental budaya Jawa. Segala sesuatu yang dikerjakan selalu mengacu pada primbon kesayangannya. Ia penyuka burung perkutut dan memiliki bakat melukis. Dalam serial itu ia selalu berusaha menghindar bila ada kerja bakti dengan alasan penyakit encoknya kambuh.

Karakter Suyadi, tak jauh beda dengan Pak Raden. Ia paling suka mendengarkan langgam atau gending Jawa. Hampir tiap hari, di rumahnya gending-gending itu diputar. “Setiap hari lagu itu diputar, menemani Pak Raden melukis,” kata Maman, yang kebetulan hari itu, Pak Raden menyetel gending Jawa.

Anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini juga penyayang binatang, bedanya di realitas, ia memelihara kucing bukan perkutut. Dua ia memiliki banyak kucing, terakhir, ia hanya dua kucing yaitu Pussy (betina) dan Kacung (laki-laki). “Kalau yang ini Pussy,” kata Pak Raden saat itu. Pussy melingkar tidur di meja, di belakang lukisan.

Sebagai pelukis, Suyadi lebih banyak melukis obyek manusia. Kebanyakan berupa tarian Jawa dan karawitan, sosok Pak Raden, dan dunia anak. “Meski saya suka pemandangan saya tidak pernah melukis itu,” katanya.

Pendidikan seni Suyadi didapat ketika menimba ilmu di Seni Rupa ITB dan lulus pada 1960. Pada 1961-1964, ia terbang ke Prancis, ia belajar animasi film kartun di studio-studio Les Cinèastes Associès dan Les Films Martin-Boschet. “Sekembalinya dari Prancis, dia mengajar di ITB Seni Rupa untuk mata pelajaran Ilustrasi dan Animasi dari tahun 1965-1975,” dikutip dari Rantau dan Renungan: Budayawan Indonesia Tentang Pengalamannya di Prancis Jilid III (KPG: 2011) yang disunting Ramadhan KH dan Ade Pristie Wahyo.

Suyadi, yang tergabung dalam Kelompok Pecinta Bacaan Anak (KPBA), sudah melanglang buana ke sejumlah negara untuk mendongeng. Lembaga yang pernah mengundangnya, antara lain Children’s Literature New England, Amerika Serikat; Musee Guimet dan UNESCO, dan lain-lain. “Dia adalah dalam pertama yang menggelar wayang kulit di KBRI Paris pada Agustus 1962,” tulis Ramdhan KH.

Adalah film Pinocchio (1940), yang memengaruhi perjalanan karya Pak Raden selama ini. Film garapan Walt Disney Production itu begitu terkesan. “Film itu merubah hidup saya. Karakter tokohnya, pewarnaannya, story telling-nya… semua dapat nilai sempurna,” kata Pak Raden sepert dituliskan Prasodjo Chusnato Sukiman, manajer Pak Raden, dalam Pak Raden Dalam Tiga Babak (ditulis di baltyra.com pada 2010).

Chusnato menceritakan ketika Pak Raden kembali menonton film itu dalam format compact disc. “Kami berdua menonton film animasi berdurasi 88 menit itu tanpa kacang goreng atau soda gembira. Menit pertama dia tertegun…Lalu beberapa menit kemudian, matanya membelalak. Dia beranjak dari kursinya,” tulis Chusnato.

“Saya biarkan saja…Dia ikutan menyanyi, lalu menyanyi lagi, dan berdiri mengambil posisi terbaik untuk suara baritonnya. Dia menyanyikan lagu Hi-Diddle-Dee-Dee dan lagu paling kemilau di soundtrack film itu, When You Wish Upon the Star, yang membuat rumah itu bagai gedung opera.”

JEJAK PAK RADEN

– Nama asli, Suyadi. Lahir di Puger, Jember, 28 November 1932. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara.
– Status: Lajang
– Profesi: pendongeng, pelukis, dan penulis buku anak.
– Rumah: Jalan Petamburan III, No.27 Jakarta Pusat.
1952-1960
Menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Dari studinya ini ia mendapatkan gelar doktorandus. Ia pun sering dikenal Drs. Suyadi.

1961-1963
Ia melanjutkan studi khusus mempelajari animasi di Prancis. Sekembalinya dari perantauan, ia juga sempat mengajar di ITB dan pengajar khusus animasi di Institut Kesenian Jakarta.

1980-1991
Terlibat langsung dalam pembuatan serial Si Unyil yang diproduksi oleh Produksi Film Negara (PFN), salah satu perusahaan BUMN. Masa jayanya, serial ini mencapai lebih dari 603 seri film boneka.

1995
Desember 1995, ia pernah meneken perjanjin dengan PFN, yang isinya menyerahkan kepada PFN untuk mengurus hak cipta atas tokoh Si Unyil. Namun perjanjian hanya berlaku lima tahun. Muncul lagi surat kontrak baru tapi tidak mencantumkan batas masa berlaku.

1998
Pak Raden teken surat penyerahan hak cipta atas 11 lukisan boneka termasuk Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, dll.

1999
15 Januari 1999, PFN mendapat surat penerimaan permohonan pendaftaran hak cipta dari Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek Departemen Kehakiman atas 11 tokoh itu. Walau begitu, Pak Raden tidak dapat royalti.

2003
Pada 21 April hingga awal 2003, Si Unyil ditayangkan Minggu pagi di RCTI. Lalu, medio 2003 hingga akhir 2003 di TPI tiap sore pukul 16.30 WIB.

2007
Trans7 mengangkat tokoh Si Unyil dalam program acara Laptop Si Unyil. dan Buku Harian Si Unyil setiap Sabtu dan Minggu.

Pak Raden hingga masa tuanya aktif melukis dan menulis buku. Puluhan buku cerita anak beredar sejak 1970-an hingga sebelum wafat. Salah satu bukunya, Petruk Jadi Raja (Kelompok Pecinta Buku Anak: 2008).

2012
Pak Raden kembali mempersoalkan masalah royalti atas penggunaan tokoh Si Unyil kepada PFN. Tahun ini gerakan dukungan terhadap Pak Raden. Persoalan ini juga menyentuh sejumlah kalangan tokoh dan selebritas, termasuk Menteri BUMN Dahlan Iskan. Pak Raden sempat ditawari “uang damai” Rp 10 juta dari PFN, namun ditolak.

2013
Pada 13 September, ia menawarkan lukisan “Perang Kembar” kepada Gubernur Joko Widodo. Namun, lukisan yang dihargai Rp 60 juta itu batal dibeli. Pada akhirnya, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto-lah yang membeli seharga Rp 50 juta. Uang itu dipakai untuk pengobatan sakit kakinya.

Pada 25 April-5 Mei, Pak Raden menggelar pameran sketsa hitam putih Jakarta-Paris miliknya bertajuk “Noir Et Blanc” di Bentara Budaya Jakarta. Pameran ini tanda “60 Tahun Pak Raden Berkarya”.

2014
15 April 2014, Pak Raden dan PFN telah bersepakat terkait dengan tokoh Si Unyil. Dalam kesepakatan ini, PFN memakai karakter Si Unyil selama 10 tahun, termasuk kontrak progresif menyangkut lukisan kartun tiga dimensi, boneka, dan mini operet.

2015
Buku “Gambar Dongeng” dicetak ulang. Ini menghimpun karya Pak Raden (1962-2012)berupa lukisan, sketsa, ilustrasi, drawing, doodle, dan manuskrip (storyboard) dongeng yang diseleksi dari ribuan karya yang sengaja disusun dan dirangkai seperti dongeng. Tepatnya, gambar yang mendongeng.

Pada 26 Oktober, Pak Raden terima hadiah rumah dalam Silet Award.

Pada Jumat, 30 Oktober sekitar pukul 09.00, pada akun Facebook Pak Raden, pengelola admin menulis bahwa Pak Raden masuk RS Pelni Jakarta. Dan, berita duka itu tiba pada pukul 22.20 WIB.

sumber foto: deviantart.net

Dimuat di Harian Nasional, 2 November 2015

SMART CITY: Mengontrol Kota dari Tangan Kita

BERMODAL telepon pintar (smartphone), kita bisa ikut berkontribusi mengontrol pembangunan kota Jakarta. Resah dengan masalah sampah, misalnya, kita bisa memotretnya lalu membagikannya ke laman smartcity.jakarta.go.id.

Pelapor tak harus warga Jakarta, tapi siapa saja yang berada di wilayah Ibu Kota, dan tentunya harus memiliki telepon berbasis Android. Kita cukup mengunduh aplikasi gratis bernama Qlue di Playstore. Semua foto-foto dikirimkan melalui Qlue, otomatis akan ditampilkan di laman smartcity.jakarta.go.id. Selain aplikasi Qlue, laman tersebut juga terkoneksi dengan aplikasi Waze –terkait dengan kondisi lalu lintas.

Laman Smart City (Kota Pintar) ini baru diluncurkan resmi, Senin (15/12) oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Disebut Smart City karena warga bisa mengetahui bermacam informasi tentang kondisi kota melalui satu wadah. Mulai laporan warga soal banjir, selokan, sampah, atau lokasi kemacetan. Bahkan, tersedia informasi lokasi wisata hingga tempat belanja dan kuliner. Program ini bagian dari publikasi terhadap program yang dikerjakan pemerintah. Continue reading “SMART CITY: Mengontrol Kota dari Tangan Kita”

Sepotong Cerita Ahok Soal Bir

BUKAN Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), jika tak punya cerita. Kali ini, Gubernur DKI Jakarta ini mengomentari soal peredaran minuman keras (miras) di Jakarta. Ia mengatakan, penjualan miras di Jakarta akan diperketat, khususnya bagi anak-anak.

Namun, ia tak mempersoalkan pabrik memproduksi miras asalkan penjualan dilakukan di tempat tertentu. “Jangan biarkan orang di kampung-kampung bisa produksi,” katanya di Jakarta, Jumat (12/12). Ia meminta camat hingga lurah untuk mengecek lagi apakah ada keberadaan pengoplos miras di wilayahnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, memang memiliki saham sekitar 26 persen di PT Delta Jakarta, pabrik anker bir (berkadar 4,5 persen). Pabrik bir yang berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur, Jawa Barat ini, pada 2014 menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) DKI Rp 50 miliar, meningkat ketimbang pada 2012 Rp 48,34 miliar. baca selanjutnya

Djarot: Jakarta sudah Kelebihan Beban

TAK pernah terlintas di benak Djarot Saiful Hidayat untuk menjadi wakil gubernur DKI Jakarta. Meski akhir-akhir ini, ia tahu namanya kerap disebut-sebut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon utama.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri sudah merestui namanya. Surat pencalonan telah disodorkan Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Boy Bernardi Sadikin kepada Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (3/12).“Saat pertama tahu, ya aku kaget juga, ternyata Pak Basuki itu memonitor jejak karier seseorang,” ujar Mantan Wali Kota Blitar, Jawa Timur, dua periode (2000-2010).

Djarot mengenal Ahok sejak 2006 saat mengikuti sebuah pertemuan kepala daerah di China — Ahok masih menjadi Bupati Belitung Timur. Ia mengaku memiliki kesamaan visi dan misi dalam hal mengisi otonomi daerah, menyejahterakan rakyat, dan menata birokrasi.

Tidak ada pertemuan khusus antara dirinya dengan Ahok terkait wakil gubernur. Namun, Ahok pernah secara tidak langsung “meminangnya” suatu kali di awal 2014. “Dia bilang: ‘Pak bantu aku di Balai Kota’. Tapi saya cuma bilang: ‘Wah nanti dululah saya selesaikan tugas saya dulu,” ujar Djarot. Setelah itu tak ada kelanjutan cerita soal itu. baca selanjutnya

Wasiat Terakhir dari Gang Jambu

Rumah Henk Ngantung akan dijadikan taman publik. Pemprov DKI menyediakan anggaran Rp 9 miliar untuk membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter persegi itu.

HARI masih pagi ketika Hetty meminta kepada anaknya untuk dibawa ke rumah sakit. Ia mengeluh sakit pinggang. Seumur-umur baru kali itu Hetty sambat sakit kepada anaknya. Kalau pun sakit tak pernah ia minta diantar ke rumah sakit.

Kamang Solana Ngantung, anak yang ketiga, mengantar Hetty ke RS Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jakarta Timur. Lokasi yang tak jauh dari rumahnya di Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jaktim. Continue reading “Wasiat Terakhir dari Gang Jambu”

Sekelumit Catatan Politik Anas

Judul : Janji Kebangsaan Kita (Kumpulan Esai Sosial-Politik)
ISBN : 978-602-14111-0-0
Penulis : Anas Urbaningrum
Penerbit : Penerbit Sierra bekerjasama dengan Perhimpunan Pergerakan Indonesia
Cetakan : Pertama, September 2013
Tebal : 210 + xxiii
Harga : 49.500

ANAS Urbaningrum memang menarik khalayak. Kicauannya di akun Twitter pun bisa menjadi sebuah berita dan tentunya masih ingat status BlackBerry-nya yang membuat “geger” politik terkait apa dan mengapa ia menulis: Politik Para Sengkuni?, saaat ia “berkonflik” dengan internal Demokrat. Anas memang news maker, apalagi sejak ia diduga menerima gratifikasi dalam proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Tiga bulan sebelum ia dijebloskan ke tahanan KPK, buku terbarunya, Janji Kebangsaan Kita, dicetak. Tap ia baru diluncurkan pada 17 Januari 2014 bersamaan dengan peluncuran buku Selalu Ada Pilihan karya Susilo Bambang Yudhoyono. Continue reading “Sekelumit Catatan Politik Anas”

Memahami Serba-Serbi Jurnalisme

Judul : 50 Tanya-Jawab tentang Pers
Pengarang : Agus Sudibyo
ISBN : 9789799106650
KPG : 901130760
Ukuran : 200 x 135 mm
Halaman : 226 halaman
Harga : Rp 40,000

APAKAH infotainment termasuk bagian dari jurnalistik? Pertanyaan ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan pan jang di kalangan pers. Sebagian kalangan media menilai infotainment hanya mengekspos hal-hal yang berbau privat dan gosip para selebritas yang tidak layak ditonton khalayak.

Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers periode 2010-2013, menjelaskan secara lugas persoalan hal itu dalam buku terbarunya berjudul “50 Tanya-Jawab Tentang Pers”  (2013).

Ada tiga tolak ukur yang dipakai Agus Sudibyo untuk menilai apakah produk infotainment termasuk jurnalistik atau bukan.  Pertama , siapa yang memproduksi atau yang bertanggungjawab secara langsung atas program infotainment di stasiun televisi?  Ruang redaksi (newsroom) atau divisi lain? Jika program infotainment dimaksudkan sebagai program jur  nalistik, jelas dia harus melekat kepada ruang redak si, menjadi bagian integral lingkup tanggungjawab penanggungjawab redaksi. “Perlu digarisbawahi, ranah jurnalistik di sebuah stasiun televisi sebenarnya terbatas pada ruang redaksi ini,” tulis Agus. (hal. 37).

Tolak ukur kedua , apakah yang dibahas dalam tayangan infotainment? Perlu digarisbawahi, tidak semua segi dari kehidupan seorang artis bersifat pribadi dan tidak koeksisten, dan tidak bersifat komplementer atau saling menggantikan,” tulisnya (hal. 39).

Tak hanya persoalan itu yang dipaparkan Agus dalam bukunya. Banyak hal tentang jurnalisme yang dibahas seperti budaya amplop, berita negatif, keberimbangan di media siber, kekerasan terhadap wartawan, komentar-komentar di media siber menjadi tanggung jawab siapa, jurnalisme warga, media sosial sebagai sumber liputan, cara pengaduan ke Dewan Pers, fungsi humas, surat pembaca, dan lain-lain. Buku ini disusun dalam bahasa yang populer yang lebih mudah dimengerti pembaca. Continue reading “Memahami Serba-Serbi Jurnalisme”