SMART CITY: Mengontrol Kota dari Tangan Kita

BERMODAL telepon pintar (smartphone), kita bisa ikut berkontribusi mengontrol pembangunan kota Jakarta. Resah dengan masalah sampah, misalnya, kita bisa memotretnya lalu membagikannya ke laman smartcity.jakarta.go.id.

Pelapor tak harus warga Jakarta, tapi siapa saja yang berada di wilayah Ibu Kota, dan tentunya harus memiliki telepon berbasis Android. Kita cukup mengunduh aplikasi gratis bernama Qlue di Playstore. Semua foto-foto dikirimkan melalui Qlue, otomatis akan ditampilkan di laman smartcity.jakarta.go.id. Selain aplikasi Qlue, laman tersebut juga terkoneksi dengan aplikasi Waze –terkait dengan kondisi lalu lintas.

Laman Smart City (Kota Pintar) ini baru diluncurkan resmi, Senin (15/12) oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Disebut Smart City karena warga bisa mengetahui bermacam informasi tentang kondisi kota melalui satu wadah. Mulai laporan warga soal banjir, selokan, sampah, atau lokasi kemacetan. Bahkan, tersedia informasi lokasi wisata hingga tempat belanja dan kuliner. Program ini bagian dari publikasi terhadap program yang dikerjakan pemerintah. Continue reading “SMART CITY: Mengontrol Kota dari Tangan Kita”

SMART CITY: Mengontrol Kota dari Tangan Kita

Sepotong Cerita Ahok Soal Bir

BUKAN Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), jika tak punya cerita. Kali ini, Gubernur DKI Jakarta ini mengomentari soal peredaran minuman keras (miras) di Jakarta. Ia mengatakan, penjualan miras di Jakarta akan diperketat, khususnya bagi anak-anak.

Namun, ia tak mempersoalkan pabrik memproduksi miras asalkan penjualan dilakukan di tempat tertentu. “Jangan biarkan orang di kampung-kampung bisa produksi,” katanya di Jakarta, Jumat (12/12). Ia meminta camat hingga lurah untuk mengecek lagi apakah ada keberadaan pengoplos miras di wilayahnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, memang memiliki saham sekitar 26 persen di PT Delta Jakarta, pabrik anker bir (berkadar 4,5 persen). Pabrik bir yang berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur, Jawa Barat ini, pada 2014 menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) DKI Rp 50 miliar, meningkat ketimbang pada 2012 Rp 48,34 miliar. baca selanjutnya

Sepotong Cerita Ahok Soal Bir

Djarot: Jakarta sudah Kelebihan Beban

TAK pernah terlintas di benak Djarot Saiful Hidayat untuk menjadi wakil gubernur DKI Jakarta. Meski akhir-akhir ini, ia tahu namanya kerap disebut-sebut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon utama.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri sudah merestui namanya. Surat pencalonan telah disodorkan Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Boy Bernardi Sadikin kepada Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (3/12).“Saat pertama tahu, ya aku kaget juga, ternyata Pak Basuki itu memonitor jejak karier seseorang,” ujar Mantan Wali Kota Blitar, Jawa Timur, dua periode (2000-2010).

Djarot mengenal Ahok sejak 2006 saat mengikuti sebuah pertemuan kepala daerah di China — Ahok masih menjadi Bupati Belitung Timur. Ia mengaku memiliki kesamaan visi dan misi dalam hal mengisi otonomi daerah, menyejahterakan rakyat, dan menata birokrasi.

Tidak ada pertemuan khusus antara dirinya dengan Ahok terkait wakil gubernur. Namun, Ahok pernah secara tidak langsung “meminangnya” suatu kali di awal 2014. “Dia bilang: ‘Pak bantu aku di Balai Kota’. Tapi saya cuma bilang: ‘Wah nanti dululah saya selesaikan tugas saya dulu,” ujar Djarot. Setelah itu tak ada kelanjutan cerita soal itu. baca selanjutnya

Djarot: Jakarta sudah Kelebihan Beban

Wasiat Terakhir dari Gang Jambu

Rumah Henk Ngantung akan dijadikan taman publik. Pemprov DKI menyediakan anggaran Rp 9 miliar untuk membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter persegi itu.

HARI masih pagi ketika Hetty meminta kepada anaknya untuk dibawa ke rumah sakit. Ia mengeluh sakit pinggang. Seumur-umur baru kali itu Hetty sambat sakit kepada anaknya. Kalau pun sakit tak pernah ia minta diantar ke rumah sakit.

Kamang Solana Ngantung, anak yang ketiga, mengantar Hetty ke RS Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jakarta Timur. Lokasi yang tak jauh dari rumahnya di Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jaktim. Continue reading “Wasiat Terakhir dari Gang Jambu”

Wasiat Terakhir dari Gang Jambu

Sekelumit Catatan Politik Anas

Judul : Janji Kebangsaan Kita (Kumpulan Esai Sosial-Politik)
ISBN : 978-602-14111-0-0
Penulis : Anas Urbaningrum
Penerbit : Penerbit Sierra bekerjasama dengan Perhimpunan Pergerakan Indonesia
Cetakan : Pertama, September 2013
Tebal : 210 + xxiii
Harga : 49.500

ANAS Urbaningrum memang menarik khalayak. Kicauannya di akun Twitter pun bisa menjadi sebuah berita dan tentunya masih ingat status BlackBerry-nya yang membuat “geger” politik terkait apa dan mengapa ia menulis: Politik Para Sengkuni?, saaat ia “berkonflik” dengan internal Demokrat. Anas memang news maker, apalagi sejak ia diduga menerima gratifikasi dalam proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Tiga bulan sebelum ia dijebloskan ke tahanan KPK, buku terbarunya, Janji Kebangsaan Kita, dicetak. Tap ia baru diluncurkan pada 17 Januari 2014 bersamaan dengan peluncuran buku Selalu Ada Pilihan karya Susilo Bambang Yudhoyono. Continue reading “Sekelumit Catatan Politik Anas”

Sekelumit Catatan Politik Anas

Memahami Serba-Serbi Jurnalisme

Judul : 50 Tanya-Jawab tentang Pers
Pengarang : Agus Sudibyo
ISBN : 9789799106650
KPG : 901130760
Ukuran : 200 x 135 mm
Halaman : 226 halaman
Harga : Rp 40,000

APAKAH infotainment termasuk bagian dari jurnalistik? Pertanyaan ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan pan jang di kalangan pers. Sebagian kalangan media menilai infotainment hanya mengekspos hal-hal yang berbau privat dan gosip para selebritas yang tidak layak ditonton khalayak.

Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers periode 2010-2013, menjelaskan secara lugas persoalan hal itu dalam buku terbarunya berjudul “50 Tanya-Jawab Tentang Pers”  (2013).

Ada tiga tolak ukur yang dipakai Agus Sudibyo untuk menilai apakah produk infotainment termasuk jurnalistik atau bukan.  Pertama , siapa yang memproduksi atau yang bertanggungjawab secara langsung atas program infotainment di stasiun televisi?  Ruang redaksi (newsroom) atau divisi lain? Jika program infotainment dimaksudkan sebagai program jur  nalistik, jelas dia harus melekat kepada ruang redak si, menjadi bagian integral lingkup tanggungjawab penanggungjawab redaksi. “Perlu digarisbawahi, ranah jurnalistik di sebuah stasiun televisi sebenarnya terbatas pada ruang redaksi ini,” tulis Agus. (hal. 37).

Tolak ukur kedua , apakah yang dibahas dalam tayangan infotainment? Perlu digarisbawahi, tidak semua segi dari kehidupan seorang artis bersifat pribadi dan tidak koeksisten, dan tidak bersifat komplementer atau saling menggantikan,” tulisnya (hal. 39).

Tak hanya persoalan itu yang dipaparkan Agus dalam bukunya. Banyak hal tentang jurnalisme yang dibahas seperti budaya amplop, berita negatif, keberimbangan di media siber, kekerasan terhadap wartawan, komentar-komentar di media siber menjadi tanggung jawab siapa, jurnalisme warga, media sosial sebagai sumber liputan, cara pengaduan ke Dewan Pers, fungsi humas, surat pembaca, dan lain-lain. Buku ini disusun dalam bahasa yang populer yang lebih mudah dimengerti pembaca. Continue reading “Memahami Serba-Serbi Jurnalisme”

Memahami Serba-Serbi Jurnalisme

Mereka Memilih Menjadi Patung

salah seorang manusia patung di Monas, Jakarta Pusat (foto: andisn)

BAGAIMANA rasanya dipanggang Matahari seharian? Tanyalah kepada Sugeng Raharjo (37), yang sehari-hari menjadi manusia patung di Taman Monumen Nasional, Jakarta.

“Risiko panas itu sudah biasa. Saya punya hobi naik gunung, saya pernah jalan Jakarta-Bogor, jadi seperti ini enggak kaget,” ujar Sugeng di sela melayani pengunjung Monas untuk berfoto bersama, Kamis (5/12).

Ia memakai baju ala militer bewarna emas. Sampai wajahnya pun diwarnai emas, hanya giginya yang tak ia warnai. Memanggul bedil layaknya tentara, ia pun mematung. Jika ada pegunjung meminta foto bersama, ia berhenti lalu berpose sesuai selera pengunjung. Hari itu, ada empat orang yang menemaninya. Tiga orang berdandan militer juga, sedangkan satunya ala kuntilanak. Continue reading “Mereka Memilih Menjadi Patung”

Mereka Memilih Menjadi Patung