Menunggu Sambil Meracik Bumbu Yang Sedap

Dan kepala rasanya cenut-cenut saja. Begitu ricuh. ‘Penyakit-penyakit’ itu terus mengrecoki aku saja. Tiap pagi sudah membuatku was-was, apa hari ini aku jadi manusia bebas atawa sebagai ‘boneka’ yang hanya geleng-geleng kepala menggerutu nasibnya. Seperti yang sudah-sudah aku terlalu kacau untuk berbicara apalagi bercanda dengan Anda. Ah,enaknya Anda atawa kamu aku menyebutnya. “Tak usah sungkan, terserah Anda saja,” kata Anda. Loh, Anda dan kamu malah memanggilku Anda. Sudahlah lebih baik kita putuskan saja, dengan kamu. Begitu lebih baik.

Pertengkaran barangkali sebuah permainan yang mengasyikkan. kita bisa ucapkan sumpah serapah,gelepotan makian. rendahnya bahasa bisa dituturkan di dalamnya. enak bukan? tapi sungguh menjengkelkan jika kita tak meraciknya menjadi semacam bumbu yang pas.
“Ah kamu berbicaranya absurd. mau kemana toh.berlebit amat sih,” kata kamu.

Duh, sungguh, ini namanya saja permulaan dan sedang menunggu format yang pas,makanya aku curahkan saja barangkali cenut-cenutku yang bisa berakibat pertengkaran itu. Situ tahu enggak soal ‘keanyelan’. Nah, dari situ mungkin kita samakan persepsi.

Mungkin kita sudahi dulu sampai persamaan kita menyatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s