Kepada: Jean Paul Sartre

Mari kita coba koreksi konsistensi diri kita, sudah luruskah atawa masih diselipi cabang-cabang?

Apa kita ada karena keberadaan kita? Catatan untuk menyiapkan kita ke pintu gerbang kehidupan selanjutnya; setelah mati.

BARANGKALI hanya mati yang membuat semuanya menjadi bermakna dan tersingkap segala rahasia. Kenapa harus mati? Jawabannya tentu saja membutuhkan pendalaman yang lebih serta memerlukan pemahaman batin selain kericuhan yang bergumul dalam pikiran. Aku belum mendapatkan lebih soal itu. Catatan ini hanya berisi keluh kesah. Bukankah kita diciptakan memang penuh dengan keluh kesah?

Dan ketika Tuhan menciptakan raga, kemudian meniupkan ruh kepada raga itu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita kemudian diminta menjadi agen Tuhan. Diminta Tuhan menghuni bumi, menjadikannya sebagai tempat berpijak, ber-taqarub, serta memperbanyak keturunan. Bumi diberikan kepada manusia untuk dijaga dan dilestarikan. Tentu saja beban besar ada ditangan kita sebagai manusia, sampai-sampai malaikat pun mempertanyakan, bagaimana mungkin mereka (baca: manusia) mampu bertindak kebaikan di muka bumi?

Suatu kali, penyair Chairil Anwar berseru, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Dia meminta hidup yang lama. Tapi bukan itu hendak aku bicarakan. Tapi kemana hidup setelah kematian? Tentu saja, aku meyakini bahwa hidup itu tidak sampai di sini saja. Kematian, simpul St Thomas Aquinas, adalah sesutu mula dari kehidupan.

Hanya saja, aku sering gamang memikirkan itu. Ada ketakutan-ketakutan yang menimpa diriku. Apakah aku ke surga atawa neraka? Semuanya adalah akumulasi dari masa lalu dan masa kini serta yang akan datang, meski masih misteri. Masa lalu begitu menusuk pikiran dan hati. Masa sekarang, begitu gundah memperbaiki dan meneruskan perjuangan menambal masa lalu.

Memang kita tak boleh merasa takut akan kematian. Mati itu pasti. Tinggal menunggu waktu saja. Terima saja. Ketakutan yang aku rasakan, barangkali karena aku kurang beriman. Imanku yang silih berganti seperti air hujan. Kadang deras dan kadang gerimis. Seperti fluktuasi dolar. Uh, mati. Lepas dari semua itu kita perlu memikirkan mati, bukan?

Bagaimana tiba-tiba, aku atawa kamu ‘terpanggil’? Bagaimana jika saat itu aku atawa kamu malah berkata, “Aku tak bertuhan”. Atawa lebih disebut ateis. Makanya aku lebih takut memikirkan itu.

BERBICARA ateis atawa meniadakan Tuhan, aku jadi teringat pada filosof Jean Paul Sartre. Dan Jean Paul Sartre menyatakan dirinya adalah manusia yang tidak percaya adanya Tuhan. Segalanya yang membuat tinggi adalah pusatnya manusia. Manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Satre menyebutnya bahwa manusia adalah sebuah hasrat yang penuh dengan sia-sia.

Sartre menyatakan dirinya adalah ateis. Dia beranggapan bahwa yang ada di dunia ini karena manusia yang memikirkannya. Semua karena adanya manusia, jika tidak ada manusia tidak akan ada. Manusia sendiri ada karena absurd. Manusia menjadi sempurna bila dirinya bebas dalam moralitasnya. Manusia menjadi sejati, bebas, sempurna jika dirinya meniadakan Tuhan. Tidak ada hukum atau moralitas yang membatasi manusia, tidak diperlukan suatu pembenaran atau mengatakan bahwa tindakan itu adalah salah atau benar, itu indah atau jelek, menyakiti atau tidak karena mereka tidak merasa melakukannya dan itu tidak berdosa.

Menurut filosof dari Perancis itu, menjadi manusia adalah berusaha menjadi Tuhan, sebab jika tidak ada Tuhan berarti dirinya adalah legislator tertinggi pembuat kebijakan, moralitas apakah baik atau buruk, kebebasan manusia adalah mutlak.

Dan sampai pada perkataan itu, aku pun menjawabnya, aku tidak akan mudah menjadi percaya dengan tesis yang ia katakan. Aku akan menyatakan bahwa diriku ada karena memang tercipta. Aku menemukan sesuatu yang ada di depanku karena aku hanya menemukannya, tidak menciptanya. Apabila Sartre menyatakan bahwa semua benda yang ada karena manusia, saya tidak setuju.

Bagaimana dengan dirinya? Apakah dirinya juga ada karena manusia. Bagaimana dengan manusia pertama, bagaimana dengan udara dan matahari, bagaimana dengan adanya pohon, dirinya tidak bisa menjawab dan hanya berucap bahwa filsafat saya adalah sebuah upaya menarik kesimpulan penuh dari sikap ateis yang konsisten1

SEORANG filosof yang bodoh? Atawa cuma ingin tersungkur dalam pemikiran kejenuhan dan kemudian mengibarkan bendera putih sambil berkata, “Aku lelah berpikir terus, sampai pada keputusan bahwa tak yakin aku pada Tuhan.”

Kenapa juga menjadi seorang filosof jika absurd, muak, putus asa, bosan dan jenuh begitu saja membuat kamu menyerah untuk mampu mengenal semua yang ada di dunia ini. Sehingga bagi Albert Camus, memilih dirinya melakukan bunuh diri sebagai jalan yang teramat mudah menghilangkan ke absurditasannya sebagai manusia.

Camus berpendapat bahwa jika memang semua tak terjawab dan absurd ini menjadikan hidup menjadi susah, hanya dengan bunuh diri kita bisa lebih bahagia karena kita mati, bebas dari absurditas ini.

Dan bunuh diri baginya ada 2 yaitu bunuh diri dengan membunuh tubuhnya sendiri dan membunuh secara filsafati, yaitu menolak dasar dari fisafat eksistensialismenya sendiri.

Jadi buat apa susah-suah berpikir dan konsen pada eksistensialisme, jika akhirnya menjadikan dirinya tidak lagi percaya atau barangkali putus asa pada dirinya sendiri. Lebih bijak jika fokus dan mencari bagaimana dan kenapa? Juga apa yang harus diubah. Bukan menyerahkannya pada kematian.

Tapi kata Camus bahwa yang lebih penting lagi adalah pemberontakan. Memang semuanya akan hancur dan kita tidak bisa melawan kematian. Namun paling tidak kita bisa mengusahakan sebaik mungkin, bertanggung jawab pada eksistensi dirinya sebagai mausia. Dirinya menyatakan bahwa manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Itu saya setuju.

Tapi ketika perbuatan itu entah baik atau buruk, manusia tidak usah menyesalinya karena hidup ini absurd, sehingga tak butuh pembenaran terhadap perbuatan itu, sehingga pernyataan baik dan buruk adalah pernyataan yang tidak berarti apa-apa karena ia tak berdosa, saya tidak setuju.

Sungguh sangat menyakitkan jika harus mati dalam pemikiran yang bodoh ini. Kenapa juga mau-maunya mengorbankan yang namanya konsistensi demi sebuah hidup yang abadi. Bukankah kita tercipta bukan karena muncul begitu saja. Dan jika saya berucap begini karena saya beragama. Mari kita coba koreksi konsistensi diri kita, sudah luruskah atawa masih diselipi cabang-cabang?

Coba kita renungkan jika ada gunung, lautan dan sebagainya itu adalah karena manusia, maka itu adalah sebuah peniadaan yang konyol. Tentunya ada yang membuat; bumi tidak hanya sedemikian rupa hadir dalam eksistensi manusia. Dia dicipta dalam pikiran Tuhan. Kita tidak pernah tahu pikiran Tuhan, karena memang kita hanya manusia dan tidak perlu memikirkan Tuhan. Kita memang bukan Tuhan.

Seandainya disuruh memikirkannya, kenapa susah-susah? Tentu saja kita tak akan pernah bisa berpikir sampai ke sana. Percuma. Kita terlalu dangkal. Kita barangkali ditertawakan oleh Tuhan. Dia yang kekal, kita hanya sebatas hirupan nafas atau degupan jantung. Tak lebih dari beberapa detik.

Memang kita disuruh berpikir.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Ali Imran:190)

Dan kemudian dilanjutkan,

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran:191)”

Berpikir soal alam dan kekuasaan Tuhan. Bukan berpikir pada Zat atau wujud fisik Tuhan. Apakah berjenis kelamin atau tidak? Beranak atau tidak? Tidak seperti itu. Itu sudah melangkahi dari sikap tauhid.

Kita coba pergunakan akal kita untuk kemaslahatan diri, manusia, dan alam. Yang semuanya mengacu pada kebesaran Tuhan. Yaitu sebagai bentuk penyembahan atawa sujud pada-Nya. Wallahu a’lam bis showab.

Acuan:
[1] Sartre, Exixtensialisme and Humanism, terj. Philip Mairet, London, Methuen, 1984, hal 56 dalam Vincent Martin, O.P. (ed. Zulhilmiyasri), Filsafat Eksistensialisme (Kierkegaarg, Sartre, Camus), (Yogyakarta: Pusataka Pelajar: 2001).

Jakarta, 11 Desember 2008
[Ketika sakit demam akibat flu dan sedikit batuk melanda.
Dan hari ini pula, aku tak masuk kerja di Harian Merdeka]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s