Kita itu Kok Begini ya? Kita? Loe Kali…

Pekerjaan yang dia miliki pun masih pas-pasan, apalagi untuk menghidupi keluarga masih kurang. Sialnya, mereka masih bangga

Catatan Harian ketika di Solo, 18 Maret 2008.
Diulang dan ditambah lagi ketika di Pamulang, 13 Desember 2008.

Dari slentingan jadilah keanyelan; sumpah serapah berhamburan di muka kita semua. Alhasil tak ada kepuasan, tapi malah keanyelan yang menumpuk.

18 Maret 2008. HARI ini adalah satu minggu lebih sedikit, resmi sudah aku menjadi pengangguran. Artinya melepaskan diri dari status seorang mahasiswa. Meskipun selama menjadi mahasiswa banyak menganggurnya. Tapi, status yang menjadikan semua menjadi berbeda. Ketika kita berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa atawa apa pun itu, kita akan merasa ‘aman’ dalam perbincangan orang-orang. Coba kalau kita mendengar ada kata-kata seperti ini, “Kamu tuh sudah lulus, kok masih menganggur. Kamu menambah beban pemerintah saja. Lihat sudah berapa banyak pengangguran di negeri ini!”

Ya kata-kata seperti ini yang akan sampai ke telinga kita jika tidak memunyai pekerjaan. Sebenarnya itu cuma omongan kosong, tapi sialnya aku pun termakan omongan itu dan menjadi banyak pikiran untuk selanjutnya.

Bagaimana mungkin aku dapat melepaskan omongan itu jika masih belum bekerja. Meski sebenarnya mereka yang berbicara seperti itu, belum tentu juga merasa bangga dengan statusnya sekarang. Pekerjaan yang dia miliki pun masih pas-pasan, apalagi untuk menghidupi keluarga masih kurang. Sialnya, mereka masih bangga.

Aku pun jadi teringat tokoh Azzam dalam Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburahman El Shirazy. Selepas pulang dari Universitas Al Azhar, dia pulang ke Kartosuro. Ibunya senang bukan kepalang. Anaknya lulusan kampus tertua di dunia, pulang dengan membawa ilmu seabrek. Meski lulus dengan pas-pasan, dia tahu tentang agama lebih dari rata-rata. Ini bisa ditunjukkan dalam cerita selanjutnya saat dia megajar ilmu tasawuf di sebuah pondok atas permintaan sang kiai pondok pesantren itu.

Pulang dari negeri para nabi itu, Azzam gundah dengan statusnya. Meski berilmu dia tak bekerja. Ia pun berpikir untuk indekost saja di Solo. Pagi berangkat ke Solo dan pulang sore harinya. Itu sebagai aktivitas untuk ‘mengelabui’ tetangga yang mudah bergunjing. Ia tak melakukan apa-apa di Solo. Dia berlaku seperti itu ya karena status tadi. Setelah berpikir dalam, dia pun memutuskan berjualan bakso seperti yang pernah dia lakukan semasa kuliah di Al Azhar. Dan status itu kemudian berganti. Dia pun akhirnya tak perlu bolak-balik Solo hanya untuk ‘mengelabui’ tetangganya.

Seperti halnya aku. Susah betul menerangkan pada orang-orang, bahwa belum tentu status S1 itu langsung menjadi orang terhormat. Mempunyai kedudukan tinggi, dan berduit banyak. Justru dengan S1 aku lebih malu dan takut. Takut gunjingan dan tentu saja pada pengorbanan orang tua. Orang tua bertahun-tahun menggelontorkan uang untuk kuliah, fotokopi tugas-tugas, buku-buku, dan kadang malah sering banyak buat main atawa pacaran. Tentu beban ini lebih dalam.

Menjadi tak punya status adalah pusing. “Ah, ngapain mikirin orang lain. Kan yang tahu kita sendiri,” kata pacarku suatu kali. Eh la dalah, kadang saya terima juga kata-kata itu. Tapi kemudian aku putuskan menolak pemikiran itu. Dengan alasan, aku hidup di masyarakat. Bukan soal aku menganggur atawa bukan, tapi aku lebih memikirkan pada psikologis orang tua. Apalagi aku hanya ada seorang ibu sekarang.
Beban ibu bisa menumpuk jika ditambah omongan orang. Maka aku pun terima omongan orang tersebut sebagai cambuk pada diriku.

Manusia itu memang begitu mudahnya tersinggung. Ambil contoh saja soal status (baca: pekerjaan atawa posisi) tadi. Bisa berang kuping dan hatinya. Selain itu, soal anak, jodoh, ranking/prestasi, harta, dan lainnya.

Suatu kali bisa saja, ditanya “kapan kamu menikah?”, “Loh kok, sudah lama nikah belum punya anak?” , “Adik ranking berapa?”, “Udah miskin engga tahu diri lagi?”.

Bukan itu saja, pada semua hal yang tidak mengenakan di kuping dan kemudian diteruskan di hati atas persetujuan otak, bakal berbuah perasaan tersinggung; “jadi enggak mood, ill feel,” begitu istilah yang dipaparkan pacarku. Ada-ada saja istilah yang digunakan.

Kita sering menemui itu pada keadaan terjepit atawa lapang. Seperti dalam ruang sekolah, kuliah, dan pekerjaan. Di sana penuh kata-kata yang berhamburan, meski sekedar guyonan. Dalam suatu pekerjaan, lebih-lebih banyak sekali slentingan yang bisa bikin jengkel. Kalau tidak bisa menahan, kita akan selalu berpindah-pindah kantor. Ada saja kata-kata keluar dari mulut masing-masing orang. Dari belakang atau terang-terangan. Di muka bos atawa menyelundup di ketiak bos alias menjilat.

Soal rambut atawa soal kulit pun bisa menjadi pertengkaran hebat. Ini biasanya diistilahkan rasisme. Entah, siapa yang membikin istilah itu, karena kesepakatan bersama aku pun ikut sajalah menggunakan istilah itu untuk menyebut seseorang yang suka menghina fisik orang.

BENAR, benar juga jika ada ungkapan, “Diam itu emas”. Lebih baik diam sajalah, daripada berbicara mulut kita menelikung perasaan seseorang. Berbahaya bukan? Ini penting untuk hubungan atau interaksi sosial. Awal indah sebuah hubungan tentunya dari bahasa. Bahasa bisa berujud verbal maupun non-verbal. Kata-kata atawa tindakan kita bukanlah benda yang mati, tapi dia seperti ‘pisau’ yang runcing, siap menebas leher-leher seseorang.

Aku sendiri, ngeri jika memikirkan soal itu. Aku sendiri tak lepas dari apa yang aku katakan sendiri. Susah benar, untuk menjaga lidah atawa gerakan badan. Barangkali awalnya omongan, gerakan tangan, untuk membuat lebih akrab. Namun sesungguhnya itu tidaklah benar. Kita sering berlagak sok kenal saja. Tapi memang susah juga berbincang akrab jika memang belum kenal sama sekali. Dengan orang yang yang sudah kenal saja, itu masih bisa mungkin canggung dan takut keliru berbicara.

Aku selama beberapa hari di Harian Merdeka, kerjanya begitu. Maksudnya mencoba menarik narasumber untuk berbicara. Atawa ada yang mengatakan komunikasi interpersonal. Jadi, aku selalu bertemu banyak orang, banyak muka, jenis kelamin dan karakter.

Pernah suatu kali mewawancarai di RS Tarakan. Aku sudah lama berbincang-bincang. Tapi tak tahunya, saudaranya perempuan datang, dengan muka cembetut dan menolak lagi untuk aku wawancarai. Entah apa yang aku katakan atawa aku lakukan? Sebenarnya, ibu yang aku wawancara oke-oke saja, tapi saudaranya itu yang ngotot tidak boleh keluarganya di liput. Aduh, ternyata takut masuk media.

“Maafkan saya bu,” kataku
“Oh, ndak apa-apa. Memang begitu saudara saya. Kurang pengalaman,” kata perempuan itu.

Alhasil aku gagal mencari keluhan pasien soal pelayanan publik kesehatan di rumah sakit milik Pemerintah Daerah DKI Jakarta itu. Ya, aku menjadi maklum. Memang susah berbicara itu, apalagi jika tak terbiasa. Aku sudah begitu berlagak sopan santun. Istilahnya, berbicara hati ke hatilah, tapi tetap saja belum mudah.

12 Desember 2008. Ada lagi ketika aku liputan soal keluhan para penumpang Trans Jakarta. Ada yang menyebutnya Busway, tapi kata itu salah kaprah yang lebih tenar. Aku naik dari shelter Ragunan sampai shelter Gor Soemantri depan Pasar Festival, Kuningan Jakarta Selatan.

Rencananya, aku hendak tanya-tanya di tiap halte. Oalah, ternyata susah juga. Para penumpang jarang yang menunggu dengan duduk, tapi berdiri di belakang pintu masuk, jadi seperti keburu-buru. Aku pun tak jadi tanya-tanya, apalagi saat di dalam juga penuh sesak. Sampingku malah tidur. Aku tanya-tanya juga dekat sopir. Ketahuan bisa berabe! Jika aku tanya-tanya di dalam bus semua orang matanya menuju tempatku dan itu lebih membuatku grogi. Ampun! Liputan yang ‘menyenangakan’, bukan?

Nah, ketika di shelter Gor Soemantri, di ruang tunggu aku sempat bertanya-tanya, awalnya susah juga bagaimana mengawali sebuah perbincangan. Apalagi di Jakarta, stereotip orang jahat tak melulu pada gembel. Di sini orang yang kelihatan baik pun bisa tak mendapat tempat di hati orang. Salah-salah bisa bikin jengkel. Memang masnusia begitu mudah tersinggung!

Nah, waktu itu untungnya dia duduknya dekat denganku. Aku basa-basi saja dengan penuh grogi. Tapi ternyata tanggapannya cukup encer juga, jadi enak ngobrolnya. Tapi belum sempat tanya nama dan alamatnya, Trans Jakarta keburu datang, dia pun pergi. Ampun, gagal maning-gagal maning! Bahasa sudah benar tapi kurang cepat. Aku ketawa sendiri sama temanku. haaa…

Beberapa lama setelah itu, datang dua orang wanita dan duduk pula di sampingku. Kali ini aku langsung tembak saja. Perkenalkan saja dengan tanpa basa-basi. Oalah, dia malah dengan cepat tanggap, “No Comment.” Sampuraasuuuunnnn…Gagal neh!

Begitulah, ceritanya. Komunikasi interpersonal itu sulit tapi juga gampang. Barangkali cuma masalah pembawaan dan jam terbang saja. Tapi belum tentu juga sih, kadang ada orang yang mudah diajak bicara. “Memang pintar-pintar kalian mendekatinya, ya biasa saja, jangan ketahuan kalau kamu wartawan,” suatu kali redakturku berceloteh ringan di meja rapat.

“Ah, ente, belum di lapangan. Ane udah. Apalagi ini rubrik baru, dan ane angkatan pertama. Jadi kelinci percobaan dong kita?” Aku sering ketawa sendiri dan teman-temanku pun menimpali dengan ketawa juga. Mari ketawa. Haaaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s