Aku Untuk Kita, Yuk!

Pamulang, 14 Desember 2008
– Sebenarnya ini bagian dari sebuah artikel yang aku buat, tapi kemudian aku sendirikan dan aku rombak lagi. Jadinya begini – :

“Jiwa hedonisme tidaklah membawa pada semangat profesional,
tapi pada kemunduran nilai hidupnya”

SEBELUMNYA aku sudah menulis soal jiwa mahasiswa yang makin luntur dalam mencari ilmu. Godaan modernisme semakin memberatkan mereka untuk lebih khusyuk dalam berstudi. Ada-ada saja godaan mahasiswa kini, meski tak menutup kemungkinan hal yang sama pernah ada pada masa-masa sebelumnya.

Belajar. Satu kata yang tak akan pernah putus dalam hidup. Tiap harinya kita belajar. Seorang profesor pun tak sudah menganggap dirinya penuh dengan pengetahuan, makanya dirinya selalu meng-update dengan berbagai macam informasi. Biar ketika ditanya mahasiswanya, tak melongo seperti celengan babi. Penulis handal pun begitu juga. Mereka selalu belajar untuk tetap eksis, makanya tulisannya makin hari makin berisi. Kita lihat saja tulisannya Seno Gumira Ajidarma, Indra Tranggono, Ariel Haryanto dan lain-lain.

Jika kemarin aku menulis, mahasiswa sudah seperti di dalam mal meski itu di kampus. Sepatutnya, kemudian kita mencoba fleksibel, yang bukan berarti menerima begitu saja, tapi lebih lentur untuk tetap kokoh meski didera hedonisme.

Aku tidak akan mengatakan, mahasiswa yang hobi ke mal itu bodoh. Hanya saja, mari kita coba berikan pandangan yang mengenakkan. Ini bukan aku membela mereka. Aku mencoba membuat rumus, bagaimana tetap eksis meski di dalam kubah yang berisi gemerlap kesenangan sesaat.

Dahulu, Socrates pernah mengajarkan ilmu-ilmunya di pasar. Dia berkeliling sambil mengajarkan filsafat kepada para muridnya dengan metode dialog. Sedangkan Plato sendiri mengajarkan pendidikan filsafatnya juga di pasar, di jalan-jalan, dan tempat-tempat terbuka dan bukan di kampus.

Aku hendak mengatakan, semua tempat bisa dijadikan belajar, kalau kita mau. Dan yang jadi kunci adalah niat itu. Dan kedua, adalah kejujuran diri: untuk apa aku hidup?

Barangkali, pemikiranku ini agak kaku dan terlihat konyol. Aku tidak hendak membut kaku, tapi tetap konsisten tanpa melepaskan siapa diri kita? Aku hendak mengatakan ,“ayo kita peduli!” Peduli pada siapa? Ya, pada masa depan. Pada generasi penerusku, kamu dan kita.

MELIHAT cerita Socrates, mari kita telisik lagi. Sepertinya ada kemiripan antara kampus dan mal: suasana dialog yang intensif. Seorang dosen ataupun mahasiswa berdialog mengenai ilmu pengetahuan yang menjadikan pikiran lebih terbuka untuk kebenaran. Sedangkan mal, dialog muncul dalam bentuk jual beli atau sekedar kongkouw di kafe. Dialog akan berakhir setelah tecapai sebuah kesepakatan antara penjual dan pembeli atawa setelah makanan yang dipesan habis dimakan. Lama dan intensitas aktivitas ini sangat ditentukan juga oleh seberapa banyak barang yang akan dibeli dan seberapa besar kantong kita mampu membeli makanan yang ada.

Sedangkan hal yang membedakannya: mal adalah jual beli dan kongkouw, di mana prinsip konsensus mengenai harga barang, itu yang berlaku. Sementara, kampus sesuai fungsinya menjadi tempat tukar-menukar ide atau suatu gagasan. Tapi yang mendasar adalah prinsip yang melandasi tukar-menukar itu sendiri. Suatu ide atau gagasan atau bahkan teori ditolak atau diterima berdasarkan argumen-argumen rasional; yang berlaku adalah prinsip-prinsip logika, pertimbangan filosofis, rasional, ilmiah, dan empiris.
BAGIKU, mungkin mal sekarang bisa dikatakan hampir sama dengan konsep jamannya Socrates atawa Plato. Kita cenderung mengatakan mal selalu jelek, yang menawarkan konsumerisme. Tapi justru, dari situ kita belajar. Belajar jujur, bahwa boros adalah memalukan dan memiskinkan hidup kita. Memalukan karena diri kita telah ditipu menta-mentah dengan kemasan iklan. Kita membeli bukan karena barangnya, tapi karena suatu kemasan iklan.

Mal telah menawarkan hal-hal yang baru, lebih santai, tidak ada tekanan, dan terasa tidak menyiksa dalam hal belajar. Entah itu hanya dengan membaca buku ataupun dengan melakukan diskusi dengan beberapa teman-teman. Sementara menanti minuman datang, bahkan sambil menikmati minuman kita dapat melakukan diskusi atawa membaca. Bahan bacaan pun bisa bermacam-macam sesuai selera, misalnya novel, buku ilmiah populer, atawa mungkin bisa dari filsafat sampai politik.

Kafe pun bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Mula-mula hanya sekedar kumpul-kumpul sambil minum dan ngobrol. Lama-kelamaan topik pembicaraan bisa beralih ke tingkat lebih serius dan aktual.

Berbeda dengan kampus yang terkesan tidak memberi kenikmatan dan kepuasan secara penuh. Bahkan cenderung membuat jenuh, bosan, monoton, aturan-aturan yang kaku, dan pola-pola interaksi yang hampir selalu formal dan terlalu menyiksa.

Diskusi dalam ruang publik, bisa disetting santai dan informal. Bisa saja mahasiswa bertemu dosennya atawa mahasiswa dengan mahasiswa terkait bimbingan skripsi, tesis, ataupun persoalan lainnya. Ini memungkinkan terciptanya ruang publik sebagai tempat bediskusi yang nyaman seperti konsepsi ruang publik menurut Jurgen Habermas: tempat yang memberikan kebebasan untuk berbicara, berkumpul, dan berpartisipasi dalam debat politik. Semua orang boleh berkomentar apa saja, mengkritik atau membahas tentang persoalan tertentu sesuai komunitasnya. Dari sinilah, akan memunculkan suatu masyarakat yang kritis.

“Ah, nanti malah enggak jadi belajar kalau ngerumpi di mal?”

Benar, benar itu. Kadang kita selalu malas serius ketika sudah berkumpul dalam suasana santai. Kita mudah menjadi lalai dengan hiburan yang ada. Tapi kembali ke niat kita. Dan satu hal juga yang perlu diperhatikan: jangan sampai kehidupan mal atawa kafe mendominasi hidup kita. Apalagi jiwa intelektualisme.

Kita harus bisa mengatur mana yang kehidupan untuk bermain dan mana yang serius. Sebab ini, bisa menjadi persoalan baru dan mengkhawatirkan. Semangat dan roh dari mal atawa kafe bisa mulai mengusik kehidupan jiwa kita atawa lingkungan kampus melalui perilaku dan style berdandan sebagian mahasiwa.

Style dunia kafe adalah santai, menikmati waktu senggang, melepas lelah selepas kerja. Sedangkan kampus adalah dunia yang jauh berbeda; dunia yang mengusung iklim dan suasana intelektualitas, dunia belajar, mengasah pikiran, diskusi, penelitian, semangat ketekunan dan bukan semangat santai dan senang-senang. Ini bisa memunculkan rutinitas relasi mahasiswanya: mal – kampus – dan mahasiswa. Sebaliknya, justru menguntungkan ketika semangat dan roh kampus dapat terbawa ke mal/kafe, tapi jika itu sebaliknya, ini akan berakibat runtuhnya asketisme (semangat suci) seorang mahasisawa dalam tugasnya mencari ilmu..

Memang repot. Mahasiswa telah diterpa produk-produk kapitalisme yang menawarkan pada kehidupan hedonis semata. Makanya, akan sangat terlihat mencolok ketika kita berada di kampus sebagian dari mahasiwa bergaya dan berpakaian atawa dalam hal barang bawaan seperti sedang berada di atas catwalk atawa mal.

6 thoughts on “Aku Untuk Kita, Yuk!

  1. Mal itu unsurnya kan ada macem2 tuh, diantaranya : fashion, food, book, film, … Nah, byk koq skrg mahasiswa kita yg otaknya makin encer karna sering nongkrong di mal. Jgn lupakan unsur hotspot gratis di cafe, kafe plus bookstore, dan pengetahuan itu luaaaaaas skali. Dari bioskop, qt bisa belajar memilah film mana yang bagus dan buruk, kemudian mensuggest teman tuk nonton film yg bagus itu, dgn begitu teman yg lain akan tambah pengetahuan lagi….

    Aku juga seneng klo ngeliat anak2 jaman sekarang yang pada pinter tapi masih bisa update dgn keadaan di luar sana. Mereka tanggap atas apa2 aja pembaruan di luar sana. Kyknya iPod terbaru (gadget2), meski mereka ga bakal beli tp intinya mereka pd tau n paham. Blom lagi kbykn dari mereka dah jago menilai uang dan harga2….
    Beda klo ngomongin dampak negatif ya, negatif mah negatif aja…..

  2. terima kasih mas annosmile yang cakep atas komentarnya. sepertinya kurang lengkap. masih banyak kekurangan kok

  3. iya benar, sekarang mal memang seperti itu. menawarkan berbagai kebutuhan masyarakat. memang yang aku bahas cuma kebiasaan orang-orangyang hanya mondar-mandir tak ada arti. lebih-lebih mahasiswa yang hidupnya begitu, tapi tidak serius kuliah. memang aku kurang komprehensif, jadi tulisan ini memang masih jauh dari sempurna. mohon bantuannya ya, memberikan ide-ide, supaya tulisanku lebih enak dibaca dan perlu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s