Duh! Maha Kok Jadi Hilang Kebesarannya

Sebuah artikel yang dikirimkan ke suratkabar, tapi gagal termuat. “Apes tur yo elek sih”.
Aku rombak ulang. Jadinya begini:

SEBENARNYA uneg-uneg atawa rerasan ini saya rasakan ketika masih kuliah di kampus tercinta Universitas Sebelas Maret Surakarta. Catatan ini pun sebenarnya sudah lama sekali aku buat. Saat masih menjadi mahasiswa. Awalnya mau cari uang dengan menulis artikel di suratkabar, tetapi nyaris saja tak termuat. Malah tulisan teronggok dalam folder, yang lama tak tersentuh. Iseng saja aku buka-buka lagi, siapa tahu ada ide muncul untuk mengisi blog. Ketemu ide juga, catatan yang semula berjudul “Quo Vadis Mahasiswa Kini?” Aku ubah saja menjadi judul di atas, sebagai sebuah ekstase pikiran saja.

Melihat kehidupan kampus yang sudah berubah, aku merasa prihatin. Keprihatinanku muncul dalam gejolak batin serta pikiran ini cukup berasalan. Bagaimana kondisi mahasiswa, kini, kurang menghargai semangat mencari ilmu. Mereka sepertinya lebih pada modal tampang, yang kata orang filsafat, hidup mereka bersifat hedonis.

Rasanya kok ada rasa ketidakterimaan saja, melihat kondisi kultur kampus berakulturasi dengan kultus mal atawa supermarket. Bagaimana ini dapat diterima, jika aku sendiri pernah mendapati mahasiswa yang berpakaian dan bergaya layaknya pergi ke bioskop ataupun mal. Dengan pakaian yang mini, dandanan menor, membawa mobil mewah layaknya selebritas, terus menggandeng tangan pacarnya, dengan santainya memasuki dunia kampus yang lebih pada jiwa intelektual.

Memang, itu hanya sebuah dugaan luar. Aku tidak mengetahui seperti apa sebenarnya (baca: niat). Tapi, bagi seorang akademis hal seperti, tentu saja tidaklah wajar, terlalu berlebihan dan memprihatinkan. Dan jika yang dibanggakan adalah semacam itu, sepertinya itu bukanlah jiwa para pencari ilmu. Bukankah dalam mencari ilmu kita malah disuruh prihatin, sabar, ikhlas, serta tetap ikhtiar?

KAMPUS adalah sebuah institusi sosial yang mengusung nilai-nilai pendidikan, memberikan materi-materi ilmu serta mempunyai tujuan dalam pengembangan daya intelektual seseorang. Akan tetapi, citra kampus seperti itu sekarang sudah terkikis digerus waktu. Kampus bukan lagi menjadi tempat mencari ilmu, melakukan penelitian-penelitian, mengembangkan daya intelektual, dan pendewasaan seseorang. Kampus menjadi semacam pertemuan yang tidak jauh beda dengan sebuah kafe atawa mal.

Barangkali akan ada pertanyaan, “Ah, kamu saja yang sirik, ngapain mikirin orang lain. Enggak ada kerjaan saja. Mari kita tunjukkan siapa yang cepat lulus dan dapat kerja?”

Ah, anak-anak kampus yang kritis dan sering berkutat atawa pura-pura tersungkur dengan buku kadang berpikir, kalau teman-temannya yang cuma kongkouw, bercanda, tugas copy paste, skripsi beli atawa copy paste kakak tingkat, pulang tidak sampai rumah tapi mampir dulu di mal bisa dibilang telah melanggar “kaidah etik’ seorang mahasiswa.

Mungkin saja, mahasiswa dalam pandangan anak-anak kritis itu: mahasiswa itu sibuk penelitian, kutubuku, dandan agak kumal atawa sederhana, rambut kalau bisa (laki-laki) gondrong, punya jenggot, bacaannya Karl Max, Nietzche yang terbilang berat, biar menunjukkan kalau dia mahasiswa. Dan kalau bisa kuliah itu lama, tidak tiga atawa empat tahun kelar. “S-1 kok tiga setengah tahun,” barangkali itu kata mereka yang kritis.

Aku sendiri sebenarnya bukan diantara keduanya. Tapi kadang-kadang kok cenderung ke pihak anak-anak kritis. Sayangnya, aku sendiri lulus cepat: empat tahun. Dan aku sendiri tidak begitu kumal dan bacaanku memang seperti itu. Akan tetapi aku juga suka ke mal atawa Gramedia. Apalagi kongkouw di warung hik/angkringan tiap malam, itu sangat menyenangkan. Dan aku termasuk yang mana?

Pasti kamu bingung?

YANG ingin aku katakan adalah bahwa stereotip-stereotip seperti itu terlalu dikotomis. Dan seperti yang aku sudah katakan sebelumnya, aku tak mengerti benar niat mereka. Hanya saja, aku sendiri miris melihat tingkah teman-teman ke kampus semakin hari makin ‘gila’ dengan mode. Aku tak menganggap mereka bodoh, tapi kemana rasa cintanya pada ilmu, pada pendidikan?

“Ini bukan cuma cari ijazah untuk melamar kerja. Bukan mencari titel doktorandus, insinyur, sarjana ekonomi, sarjana hukum dan lainnya. Ini masalah masa depan?” kataku.

“Kok bisa, masa depan,” protesnya.

“Lah tentu saja, bagaimana generasi penerusmu.’

“Kan mereka sendiri yang menentukan. Aku kuliah juga pakai uangku sendiri, boro-boro mikirin orang lain.”

Kalau jawaban seperti itu yang kita ketemui, alhasil bagaimana rasa cinta dengan generasi mendatang. Mereka berpikir untuk dirinya sendiri. Egoistik. Merasa dunia memang untuk diciptakan baginya seorang.

Aku jadi teringat, kisah cerita pendek karangan AA Navis, “Robohnya Surau Kami”. Haji Saleh harus berjibaku memrotes Tuhannya, karena dia ternyata malah dimasukkan ke neraka bukan surga. Padahal tak kenal lelah, tiap siang dan malam, beribadah menyembah Tuhannya. Tapi, kata malaikat yang menjewernya, Haji Saleh dianggap egois, tidak peduli dengan sesama, istri, dan anak-anaknya. Barangkali aku kutipkan saja, percakapannya, seperti ini:

“Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.”
“Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?”
“Ada, Tuhanku.”
“Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Terus bagaimana?

Karena sebuah rerasan tentu saja aku pun mengusulkan suatu hal, ide, atawa gagasan. Melihat kutipan di atas, tentu saja itu hanya sebuah analogi, bahwa kita hidup ada penerusnya. Kalau hari ini kita tidak peduli dengan namanya etika, penerus kita bisa meniru dan ikut-ikutan salah juga, bukan? Siapa yang bertanggung jawab?

Ide yang keluar dari pikiranku adalah bersikaplah mahasiswa itu layaknya seorang pencari ilmu. Bertanggung jawab dengan niat semula. Mencoba menghujamkan niat dalam hati, kelak aku akan membangun bangsaku, aku berikan ilmuku, aku wariskan karya-karya tercintaku, aku baktikan hidupku untuk masyarakat, aku bantu masyarakat kelur dari kemiskinan, dan memberikan berita-berita yang benar bukan berita yang salah. Sebab, ini urusannya bukan dunia tapi akhirat. Aku bukanlah sok suci, tapi mari kita telaah lagi siapa sebenarnya kita? Untuk apa kita diciptakan, kalau tidak untuk beribadah. Dan beribadah tidak hanya ibadah secara vertikal tapi horisontal.

Kita perlu memikirkan berapa banyak harta yang dikeluarkan orang tua. Bayangkan jika S1 gagal: bunting di tengan jalan, kena HIV/AIDS, pengedar atawa pemakai narkoba, pengganda VCD porno.

Selama kuliah hanya untuk urusan gengsi atawa pacaran saja. Apa yang akan kita banggakan di depan ibu/bapak. Aku sebut ibu karena dia yang paling memahami. Kita minta uang padanya, jarang kita minta uang pada bapak hanya untuk urusan pakaian, sepatu, handphone, pulsa, mobil, motor, lipstik, tas, jam tangan, semir rambut, kutek, dan lain-lan. Memang, manusia itu benar-benar makhluk yang suka bermain. Homo Ludens!

Pamulang, 14 Desember 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s