Akhir Sebuah Sandiwara Ayin

Detik-detik Vonis Artalyta Suryani

ayin

JAKARTA – GEDUNG Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan, masih terlihat sepi. Belum banyak pegawai yang datang. Jam menunjukkan 07.10 wib ketika Indonesia Business Today tiba. Sesekali ada pegawai berpakaian sipil tergesa-gesa menuju gedung yang dituju. Beberapa polisi berjaga-jaga di sekitar pos penjagaan.

Para Office Boy (OB) pun sudah memulai membersihkan sekitar gedung Bareskrim. Mereka keluar masuk gedung. Jam menunjukkan sekitar 07.30 wib, beberapa pegawai memasuki masjid, dekat gedung Bareskrim, melakukan sholat Dhuha.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil terparkir di depan gedung Bareskrim. Mobil Toyota Yaris, berplat nomor B 279 NN keluaran tahun 2007. Sedan pendek putih itu adalah milik menantu Artalyta Suryani atau Ayin (40), Lani Marisca (25). Ia adalah istri Romy Dharma Satriawan, anak Ayin. Ia datang untuk mendampingi ibu mertuanya pergi ke Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Hari ini (30/7) dijadwalkan pembacaan sidang vonis terhadap dirinya.

Sebelumnya, saat menjadi tersangka Ayin sempat menghuni rumah tahanan (rutan) Penjara Pondok Bambu. Tapi mulai 19 Mei 2008, dia dipindahkan ke rumah tahanan (rutan) Bareskrim Mabes Polri. Artalyta atawa Ayin terjerat dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) II yang menyeret pengusaha pemilik Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI), Syamsul Nursalim. Dia berstatus terdakwa setelah terbukti melakukan suap sebesar US$ 660 ribu kepada jaksa Urip Tri Gunawan.

Berselang beberapa menit, sekitar jam 08.00 wib mobil tahanan KPK berplat nomor B 8593 WU tiba. Empat orang turun dari mobil. Dua orang berpakaian hitam-hitam, satu berpakaian hijau lengan panjang dan memakai peci, serta seorang petugas polisi.

Selama lebih kurang 30 menit di dalam gedung Bareskrim, Ayin keluar gendung dengan digandeng Lani. Ia memakai baju lengan panjang warna biru bermotif abstrak. Kemudian dipadu dengan jins biru dongker yang sampai menutup high heel-nya. Menantunya, hanya memakai pakaian hitam-hitam.

Mobil tahanan dan mobil pribadi menantunya telah siap di depan mereka. Muka Ayin dipenuhi senyum. Tak ada beban. Tetap bersolek rapi seperti kebiasaannya. Berbedak cukup tebal, sehingga kulit mukanya terlihat terlalu putih dibanding kulitnya. Alisnya masih seperti biasanya, kecil tapi melengkung tegas di atas matanya. Rambut merahnya dijepit dibagian belakang.

“Bu Ayin, katanya, Gus Dur datang di sidang hari ini ya,”? Indonesia Business Today, mencoba menanyakan perihal kedatangan Gus Dur yang kabarnya diminta datang oleh dirinya. Tidak ada jawaban. Tapi senyuman penuh diberikannya sambil tetap menggaandeng Lani.

“Untuk keperluan apa Gus Dur datang bu,”? kembali Indonesia Business Today, mencoba membuka pembicaraan. Sambil senyum dan melirik, meraih simpati, dirinya menjawab, “Maaf, saya tidak tahu beritanya”.

Ayin duduk di bagian tengah, sendiri. Petugas polisi di samping sopir di depan, dan ketiga lainnya di belakang. Mereka berangkat menuju Tipikor sekitar jam 09.39 wib. Tanpa pengawalan yang terlalu ketat.

JAM menunjukkan sekitar 09.10 wib. Mobil yang membawa Ayin dan menantunya dari Mabes Polri tiba di Pengadilan Khusus Tipikor. Sudah banyak yang berjaga-jaga. Dua mobil polisi ditaruh di depan pengadilan. Lebih kurang satu truk mampu menampung polisi sejumlah 45 orang. Secara keseluruhan, personil yang diambil dari Polsek Setia Budi, sebanyak 111 orang. Dan untuk cadangan 80 orang dikerahkan untuk berjaga-jaga sekitar pengadilan.

Pengadilan begitu sesak. Wartawan baik televisi, internet, maupun cetak tumpah ruah di sana. Begitu pula para pekerja dari perusahaan milik Ayin. Menurut, salah satu pekerja dari Atosim Lampung Pelayaran (ALP) jumlah yang datang hampir 500 orang. Termasuk dari pekerja PT Bukit Alam Surya (BAS) dan Bukit Samudra Perkasa (BSP) yang semuanya masih satu group usaha milik Ayin. Mereka datang mengawal dan mendukung Ayin dalam persidangan. Berangkat dari Lampung sejak subuh dan tiba di Jakarta sekitar pukul sembilan pagi.

Asap rokok mengepul agak pekat. Padahal tertera dengan jelas “Dilarang Merokok” dan “Kawasan Bebas Asap Rokok”. Entahlah, tidak diketahui dengan pasti apakah orang-orang dari pendukung Ayin yang memulai menyulut rokok. Tapi dari penglihatan Indonesia Business Today, banyak pendukung Ayin yang menyulut rokok.

Mereka merokok dengan tanpa beban, meski dalam ruang ber-AC. Sambil menuggu di luar ruang Khusus Terdakwa, mereka bergerombol di pojok ruangan sekitar toilet. Beberapa membentuk pagar betis, melindungi Ayin jika hendak keluar ruangan menuju ruang sidang.

Sesekali bertepuk tangan keras dan mengucapkan, “Bebas.Bebas”, ketika Otto Cornelis Kaligis, pengacara Ayin, keluar ruangan sambil berucap, “Bebas, kan?”

Ketika Indonesia Business Today, hendak mewawancarai orang yang “dituakan”, orang tersebut selalu saja berkelit dan tak mau menjawab setiap pertanyaan. Selalu beralasan dirinya bukan pekerjanya Ayin. Bahkan malah meledek Indonesia Business Today bahwa semua celah tidak bisa dimasuki wartawan. “Semua celah sudah kami tutup,” katanya.

Loyalitas mereka kepada Ayin ditunjukkan dengan sikap yang protektif. Ketika Ayin menuju toilet, mereka membentuk pagar pengamanan sampai Ayin memasuki ruang Khusus Terdakwa kembali. Tapi, loyalitas sepertinya berlinier dengan persoalan uang.

Indonesia Business Today, sempat mendengar perbincangan beberapa dari mereka. Sambil menyatukan beberap jarinya, sebagai simbol uang, mereka berbincang-bicang, bahwa kedatangan mereka juga karena mencari uang. “Mencari ini sambil menepukkan tangannya ke perutnya,” kata salah seorang darinya.

Indonesia Business Today, kemudian, mencoba beramah tamah dengannya, menepuk pundaknya dan mencoba menggali berapa duit yang dibayarkan padanya. Sayangnya, dirinya tak mau menjawab.

Di ruang Khusus Terdakwa, Ayin ditemani dua orang laki-laki, salah satunya
Romy Dharma Satriawan, OC Kaligis, dan Lani Marisca. Di meja ruang Khusus Terdakwa, tersaji tiga botol Aqua di depan Ayin. Tas merah berlapis warna emas ditaruh di sebelah kanannya. Senyumnya masih mengembang seperti di Mabes Polri. Sempat melambaikan tangan ke beberapa orang di luar ruang. Ruang tersebut memang diberi kaca yang lebar jadi semua orang bisa melihatnya. Para kameraman dan fotografer berkali-kali mengambil gambarnya. Beberapa pengawalnya juga beberapa kali mencegah orang-orang yang mendekati kaca.

Sesekali Ayin berbincang-bincang dengan OC Kaligis dan kemudian senyum kembali dan melihat ke arah luar rungan melalui kaca. Menantunya, Lani, malah asyik memainkan kamera saku digital. Dan kemudian, OC Kaligis berpose bersama menantunya untuk diambil gambar. Begitu pula dengan Romy. Cheese..klik!

TAMPAK di persidangan kerabat-kerabat Ayin. Banyak dari mereka yang peranakan Tionghoa. Sekitar pukul 10.45 wib Ayin menuju ruang persidangan. Pengawalan yang ketat. Kamera televisi mencoba mengambil gambar dari dekat. Cahaya dari fotografer berkali-kali berkilat menerpa wajah Ayin. Dirinya langsung menuju kursi terdakwa dengan membawa tas merahnya.

Ditaruhnya tas merah itu di belakang badannya dan duduk menghadap microphone. Ia mulai mendengarkan upacara sidang yang akan dibuka.

Ketua Majelis Hakim, Mansyurdin Chaniago membuka sidang. Dibacakannya putusan vonis yang secara bergantian setelahnya oleh hakim anggota Ugo, Andi Bachtiar, Edward Patinasarani, dan Dudu Duswara.

Selama persidangan Ayin terlihat serius mendengarkan apa yang dibacakan Majelis Hakim. Menatap ke arah Majelis Hakim dengan seksama. Sesekali melihat ke lantai. Ketika dirinya mengelap sudut matanya, cahaya kamera dari fotografer kembali berkilat mengabadikannya. Begitu pula saat dirinya melirik ke arah penasehat hukumnnya di sisi kanan.

Ketika giliran Edward Patinasarani, Ayin mulai tampak lelah. Beberapa kali menunduk dan merenung menatap ke lantai. Sempat membetulkan posisi duduknya dan tas di belakangnya diaturnya kembali.

Hampir membutuhkan 40 menit menyelesaikan bacaan putusan tersebut. Manysurdin kemudian kembali berbicara untuk menegaskan tentang putusan terakhir.

Palu telah diketok. Dan Artalyta atau Ayin dinyatakan bersalah, dijerat hukuman 5 tahun penjara. Serta denda sebesar Rp250 juta kepada Artalyta.

Ayin telah melakukan tindak pidana korupsi, seperti diatur dalam pasal 5 ayat (1) b UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Tidak Ada hal-hal yang meringankan,” begitu kata Mansyurdin ketika membacakan perihal putusannya.

Mansyurdin kemudian melanjutkan, “Dengan keputusan ini Majelis Hakim memberikan waktu selama tujuh hari untuk mempertimbangkan keputusan. Jika dalam tempo tujuh hari terdakwa (Ayin-red) tidak ada tanggapan, maka dianggap telah menerima dakwaan ini.”

Ayin kemudian menatap ke OC Kaligis. Dan OC Kaligis meminta izin Ketua Hakim Majelis untuk mendekat ke Ayin. Berbincang sebentar dan OC Kaligis kembali ke tempat.

“Saya pikir-pikir dulu,” begitu jawaban yang keluar dari mulut Ayin.

Ayin sempat berkaca-kaca saat keluar dari persidangan. Kameraman mencoba kembali mengambil gambar. Sayang, pengawalan terlalu ketat. Sempat terjadi keributan ketika jalan dipenuhi wartawan. “Saya harus pake bahasa apa,” bentak polisi ke arah wartawan.

Setelah sidang, OC Kaligis sempat memeberikan komentar. “Itu akan dipikirkan selam tujuh hari ke depan. Aneh sekali, ada yang memberatkan tapi enggak ada hal yang memberatkan.”

Begitu juga dengan Romy, anaknya. “Pasrah aja. Kita pikir-pikir satu minggu. Keputusannya dzolim, kita terima aja. Keputusan itu tidak adil. Dari saksi tidak ada bukti yang menguatkan. Ini keputusan paling dzolim.”

OC Kaligis pun menambahkan, “Bu Ayin paling kooperatif. Selama ini kerja samanya paling bagus. Kerja samanya sama orang baik. Dia memang orang baik.” Ayin selama ini dianggap hanya memberikan pinjaman ke Urip Tri Gunawan.
Mengapa tidak langsung banding? OC Kaligis menjawab, itu menurut UU.

Ketika Ayin di ruang Khusus Terdakwa, Ayin langsung dipeluk Lani. Ayin menitikkan air mata. Di ruangan lain, famili dari Ayin ada yang tidak terima, sehingga memasuki ruang jaksa penuntut umum. Tapi, pihak polisi segera mengamankan. Putusan itu, membuat lemas sanak saudaranya.

 

[Dimuat pertama kali di Harian Indonesia Business Today, 1 Agustus 2008 dengan judul Detik-detik Vonis Artalyta Suryani. Kemudian saya rombak, pada 24 Desember 2008, sesuai tulisan sebelum masuk ke redaktur dengan judul di atas. Pada berita aslinya, bagian terakhir menceritakan kepulangan Ayin dari Tipikor sampai Mabes Polri, ditulis oleh teman saya, Devi P, maaf saya tidak bisa mencantumkannya karena arsip beritanya hilang – korannya dijual ke tukang loak oleh Pakde saya.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s