Harta Boediono

Gubernur Bank Indonesia periode 2008-2013, Boediono

[Dimuat pertama kali di Harian Indonesia Business Today, 23 Juli 2008 dengan judul Kekayaan Boediono Naik Rp 5 M. Kemudian saya ubah kembali dengan judul di atas. Ini adalah liputan pertama saya di harian tersebut.]

JAKARTA – KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengumumkan harta kekayaan Penyelenggara Negara (PN). Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Boediono, Gubernur Bank Indonesia (BI), tercatat sebagai yang terkaya diantara pejabat publik lain yaitu Hakim Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Anwar Nasution.

Dari keterangan yang diberikan pada konferensi pers di Kantor KPK, Rabu (23/7), Boediono mengungkapkan, kekayaannya sebesar Rp 18,6 miliar terhitung per 31 Mei 2008. Jumlah kekayaan itu mengalami kenaikan sebesar Rp 5 miliar dari laporan sebelumnya. Tercatat tanggal 24 Februari 2006, kekayaan Gubernur BI itu sebesar Rp 13,6 miliar. Kenaikan tersebut cenderung pada harta tidak bergerak, yang berupa tanah dan bangunan.

“Kenaikan itu berasal dari kenaikan NJOP,” kata suami Herawati Boediono itu. Pendapat itu juga diamini oleh Anwar Nasution dan Mahfud MD

Sedangkan untuk Anwar Nasution dan Mahfud MD, mengalami kenaikan masing-masing sekitar Rp 3 miliar dan Rp 1,7 miliar. Kekayaan Anwar Nasution pada laporan per 1 April 2007 sebesar Rp. 10,3 miliar dan per 17 April 2001 sebesar Rp. 7,3 miliar. Sedangkan untuk Mahfud MD per 9 Mei 2008 sebesar Rp 6,2 miliar dan per 1 Juli 2006 sebesar Rp 4,6 miliar.

Selain dalam bentuk rupiah, ketiganya memunyai simpanan dalam bentuk dolar. Masing-masing untuk Boediono sebesar US$ 10.000 (31 Mei 2008), Anwar Nasution sebesar US$ 745.565 (1 April 2007) dan S$ 501.960 (17 April 2001), dan Mahfud MD sebesar US$ 72.133 (9 Mei 2008) dan US$ 72.354 (1 Juli 2006).

Anwar Nasution menyatakan, kekayaannya dalam bentuk dolar tersebut diperolehnya karena banyak bekerja di luar negeri ketika masa Orde Baru. “Saya menjadi dosen, menulis buku dan macam-macam”.

Dirinya juga pernah mengalami keuntungan dalam jual beli valuta asing serta bermain saham. Sayangnya, dalam bermain saham dirinya selalu rugi.

Terkait dengan hibah, dia menambahkan, hibah yang dimiliki merupakan milik istrinya, Marayuna. Hibah yang berupa rumah tersebut, katanya, adalah pemberian orang tua istrinya. “Bapak saya itu guru. Apalah hebatnya dari guru. Kenaikan kekayaan itu karena perjalanan hidup saya panjang dari tahun 2001 sampai 2007,” ujarnya.

Pemeriksaan kekayaan penyelenggara ini merupakan kegiatan berkala KPK. Ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mencegah tindak pidana korupsi. Kriteria-kriteria yang diperiksa meliputi laporan dari masyarakat, hubungan antara kewenangan PN dengan fenomena yang terjadi di masyarakat, analisis kekayaan dan penghasilan, serta analisis perbandingan.

Mahfud sendiri menyatakan, laporan kekayaan ini sebagai pertanggungjawaban sebagai seorang pejabat publik sekaligus hakim Mahkamah Konstitusi. Dirinya mengaku sebagai seorang yang sering melaporkan ke KPK jika ada indikasi tindak korupsi baik dirinya maupun teman kerjanya. “Ini harus saya jelaskan karena saya hakim. Hakimi tidak boleh kotor,” tegas Hakim Mahkamah Konstitusi yang baru diangkat April 2008 lalu.

Kekayaan yang dipunyai, Mahfud, kebanyakan dalam bentuk tanah sebanyak lima buah, sedangkan untuk tanah dan bangunan sebanyak sembilan buah. Tanah dan bangunan itu ada yang dipergunakan untuk kos-kosan di Yogyakarta. “Istri saya itu suka membeli tanah karena lebih bernilai untuk investasi”. Semua tanah yang ada merupakan hasil jerih payahnya sendiri.

Mengenai perhiasan yang dimiliki istri masing-masing, Boediono dan Mahfud mengatakan bahwa istrinya itu tidak suka membeli perhiasan. “Dia itu enggak suka aneh-aneh. Sekarang, tinggal Anda percaya atau tidak,” begitu ujar mantan Menteri Keuangan itu.

Begitu juga dengan istri Mahfud, Zaizatun Nihayati, Mahfud mengatakan, istrinya itu tidak suka membeli perhiasan tapi lebih memilih tanah. “Meski banyak tapi imitasi. Dia suka modelnya bukan kualitasnya,” jelasnya.

Langkah KPK ini, setidaknya meminta agar masyarakat ikut aktif dalam memantau ketaatan PN dalam melaporkan kekayaannya. “Masyarakat bisa melaporkan ke KPK jika ada harta PN yang tidak dilaporkan,” kata Johan Budi, selaku humas KPK.

Daftar Kekayaan

Anwar Nasution
17 April 2001: Rp 7.346.607.205/US$ 501.960
1 April 2007: Rp 10.301.576.723/US$ 745.565

Boediono
24 Februari 2006: Rp 13.612.509.972/US$ –
31 Mei 2008: Rp 18.660.488.141/US$ 10.000

Mahfud MD
1 Juli 2006: Rp 4.555.813.073/US$72.854
9 Mei 2008: Rp 6.210.161.956/ US$ 72.133

4 thoughts on “Harta Boediono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s