Physically or What?

Pamulang, 29 Desember 2008

Belum mandi sedari pulang kerja pukul 23.30 wib.
Jam menunjukkan 01.15 wib.
Dengan nyamuk terus mengerubuti
Barangkali bau menyengat
Mata lelah. Mata merah
Aku ingin tidur.

Tabik,

***

SUATU kali teman sekantor saya bertanya, “Siapa kira-kira yang kamu calonkan untuk presiden 2009?” Saya pun menjawab, belum ada dalam pikiran saya untuk memilih apalagi menjagokan suatu calon. Karena teman saya itu lumayan keras, teman saya satunya lagi ada yang mendengar dan menyahut, “Kalau aku sih masih SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Karena ganteng sih.”

Aku sedikit tertawa dalam hati. Tapi saya akui, memang ada benarnya juga teman saya yang terakhir itu. Apalagi dia itu seorang cewek. Melekat betul pada diri cewek, dia masih memilih dari faktor fisik. Selain SBY yang ‘aman-aman’ saja – lepas dari konteks dosa-dosa politik politik SBY – keberadaan SBY secara pribadi masih lekat sebagai calon yang diunggulkan. Calon incumbent (penjabat sebelumnya) – mesti tidak selalu – tapi masih dipercaya untuk memimpin kembali.

Faktor fisik. Begitulah, mau tak mau kita selalu memakainya dalam pergaulan sehari-hari. Bagaimana kita memutuskan berhubungan dengan si A, si B, atau si Z. Meski tak selalu, fisik begitu kuat pengaruhnya dalam memberi kontribusi bergaul. Orang cantik atau tampan bisa lebih cepat dapat teman atau mudah mendapat simpatik orang lain. Berbeda dengan orang yang bertampang buruk atau pas-pasan. Apalagi kemudian konsepsi warna kulit dipadukan juga. Orang yang berkulit putih tentu lebih terbuka peluang disukai daripada hitam atau cokelat yang terlihat luthuk (kumal).

Seorang public relation, tidak mungkin akan dipilih yang berkulit hitam, kecuali di negeri dataran Afrika. Kebanyakan dari perusahaan akan memilih wanita ‘cantik’ dengan kategori: putih atau minimal kuning langsat, tinggi, rambut panjang lurus atau pendek bergaya Bob, suara halus sedikit mendesah, berbadan sintal dan padat – tidak mungkin memakai wanita gendut, – bermata indah; bila perlu bulu matanya ditambah mascara biar terlihat lentik, berjalannya satu garis dengan lambaian mbalarak sempal (baca: gemulai) dan lain-lain.

Berkaca pada teori semacam itu, dalam konsepsi pikiran orang kebanyakan, persoalan penampilan dianggap segala-galanya. Saya pun jadi teringat pada sebuah cerita novel teenlit berjudul Belle Prater’s Boy karya Ruth White. Buku tersebut telah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Kaifa dengan judul Rahasia Embusan Angin.

Melalui tokoh Amos Leemaster, ayah Gypsy, Ruth menjewer kuping kita, bahwa seolah-olah kita ini terlalu sempurna. Amos yang tergila-gila akan kesempurnaan penampilan rela menembak dirinya sendiri. Dia selalu dihantui pikiran yang tidak-tidak mengenai wajahnya yang hangus terbakar. Padahal, istrinya diceritakan dalam novel tersebut adalah wanita tercantik di Coal Station. Apa yang hendak dicari oleh Amos?

“…Sayang sekali, Ayah mementingkan penampilan secara berlebihan”, Mama mendesah. “Karena itulah ia terpukul sekali oleh cacat bekas luka itu.” (lihat hal. 174)

Apa yang diputuskan Amos adalah suatu keputusan yang terlalu picik. Dirinya sudah terkotak dalam dunia kesempitan. Adanya ketakutan kalau-kalau dalam jiwanya. “Kadang-kadang Tuhan memberi yang kita anggap buruk, padahal itulah yang baik untuk kita. Kadang-kadang Tuhan memberi yang menurut anggapan kita baik, ternyata itulah yang buruk untuk kita,” begitulah meminjam suatu ajaran yang terkandung dalam Agama Islam.

Seharusnya Amos tak perlu membunuh dirinya sendiri. Meski ia telah kehilangan wajahnya yang tampan, ia pasti masih mempunyai kelebihan-kelebihan lain yang mungkin tak tampak oleh mata. Manusia tercipta bukan karena ganteng saja, bukan?

“…Penampilan cuma itu, Gypsy — cuma penampilan, bukan diri yang sesungguhnya. Waktu itu aku masih mengajar di sekolah, aku perhatikan bahwa gadis dan pemuda yang paling cantik dan tampan bisa sejahat ular berbisa. Anak-anak yang buruk rupa bisa berhati mulia. Tapi bukan berarti tidak mungkin mereka yang rupawan berhati baik. Bisa juga seperti ibumu. Juga, tidak mustahil mereka yang buruk rupa, berbuat jahat. Ini bisa juga. Tapi, cuma isi hatilah yang benar-benar penting.” (lihat hal. 122).

Ruth juga ingin menampilkan pada pembaca untuk menjadi diri sendiri, tak perlu menjadi orang lain.

“…Kalau kau jadi dirimu sendiri, tidak ada yang bisa menyaingimu. Belle tak pernah menyadari hal itu. Akibatnya, dia banyak menderita.” (lihat hal. 152)

Pergaulan secara fisik tentu saja akan terbentur pada segala hal. Kita tidak bisa secara wajar bercengkrama, berceloteh sesuka hati, minum kopi bersama atau makan nasi kucing bersama, begitu? Orang yang tak mengerti bahasa budaya akan selalu memilah, “Oh kamu anak desa, pantasnya yang warung hik saja. Cukup es teh kampul dan bakaran sate kere.”

Mereka yang membedakan seperti itu tak akan bisa bercampur dengan renyah. Mereka akan memilih teman-teman yang sepaham seperti pergi ke Dunkin Donats atau McDonalds, “genteng merah“ Pizza Hut dll. Barangkali sekedar cari gengsi dan wah saja. Biar terbilang kaya atau pura-pura kaya. Pura-pura jadi anak mal dan pura-pura berbudaya tinggi.

Tapi sebenarnya mereka yang berpura berbudaya tinggi, ingin juga bercengkrama dengan santai dalam temaram lampu teplok dengan ditemani tiga ceret. Makan tempe bacem, kicot, dan bila tak teliti bisa makan saren atau didih, darah ayam atau kambing atau sapi yang digoreng. Karena sudah terlanjur berjarak dengan budaya rendah, makanya dengan terpaksa, meski kantong tipis dipaksakan juga ke tempat yang mewah tadi.

Itu adalah efek tajam yang bisa terjadi jika pergaulan hanya ditentukan secara fisik. Awalnya cuma masalah warna kulit atau tinggi badan. Tapi efeknya demikian domino. Kita yang dicampakkan seperti itu bisa minder, tak percaya diri, sehingga tersungkur pada kekurangan diri, menjauh pada pergaulan lingkungan. Menjadi apatis, pendiam, dan introvert.

Kalau memang dirinya benar-benar terluka dengan perlakuan seorang teman atau orang lain seperti itu, stres bisa melanda. Dan dalam ilmu psikologi, beban stres itu jika terus menumpuk bisa berdampak pada pelaku depresi. Yang dikhawatirkan adalah pelaku depresi yang tidak lagi bisa menahan. Sebab keputusan untuk membunuh dirinya sangat terbuka luas.

Awalnya memang fisik, tapi dampaknya begitu besar. Sudah saatnya kita bebaskan diri dari konsepsi itu. Bergaulah pada sesama yang wajar. Kalau memang dia jelek, ya tidak usah dibilang jelek. Tapi dekati dengan bahasa lainnya. Belum tentu dia jelek fisik, terus jelek pikiran dan ilmu pengetahuan.

Siapa sangka Descrates yang tak serius belajar – sementara teman-temannya di kolese Yesuit yang sangat Skolastik, digembleng begitu keras – dia masih saja tidur dan bangun siang hari ketika pelajaran olahraga berkuda, anggar dan bermain flute. Kebiasaan bangun siang hari ia pertahankan sampai tua.

Bagaimana duga, jika anak berona pucat, rambut ikal lebat, bermata besar, berkeluyuran di kebun buah denganmantel hitam dan celana sedengkul, topi lebar di kepalanya, juga selendang penghangat yang melingkar lehernya, bakal menjadi tokoh filsafat Matematika. Begitu mendewakan intelektualitas.

Secara fisik seperti itu, kita bisa bayangkan bagaimana diri Descrates. Atau kita lihat Einstein, Karl Marx, Pramoedya Ananta Toer, dsb. Lagi-lagi fisik bukanlah hal yang begitu berarti, lebih baik: kita menyadari diri kita dan merangkul sesama. Mari kita wujudkan hidup yang indah. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s