Derita Warga Desa Oebelo

Sebuah Ulasan Berita

SURATKABAR Kompas (24/12/2008) mengabarkan, selama empat hari terkahir, dua orang meninggal akibat diare di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, sebanyak 64 warga lainnya yang menderita diare masih dirawat di rumah masing-masing. Dalam pemberitaan itu, Selasa (23/12), Kepala Desa Oebelo Apelles Bullan mengatakan, jumlah penderita diare dan disertai muntah-muntah terus bertambah. Pada hari pertama, Sabtu (20/12), jumlah penderita sebanyak 21 orang. Hari kedua, penderita bertambah menjadi 37 orang, dan hari ketiga mencapai 58 orang dan hari keempatnya, sudah ada 64 orang.

“Penyakit ini merambat begitu cepat. Dua orang meninggal dunia pada hari kedua setelah diare menyerang. Mereka adalah Oktavia Fretes (27) dan Martha Dasilva (62). Keduanya mengalami diare secara terus-menerus dan dilanjutkan dengan muntah-muntah sampai meninggal dunia,” begitu kata Bullan seperti dikutip Kompas.

Yang menjadikan saya miris adalah Oktavia sedang hamil enam bulan. Sementara suaminya, Atrade da Silva adalah buruh bangunan.

***
SEBUAH berita, tentunya memberikan kontribusi yang baik bagi masyarakat. Dia menjadi cermin tentang bagaimana kondisi masyarakat. Terkecuali berita-berita yang dibuat atau dipaksakan untuk merusak warga.

Jika membaca berita di atas, saya atau barangkali Anda akan miris hatinya. Bagaimana tidak, jika tak ada satu pun dokter yang ditanyai soal keberadaan penyakit itu. Tak ada komentar dari pemerintah kabupaten atau Propinsi NTT. Sedih saya membaca berita itu.

Seharusnya media sekelas Kompas, tak harus menjadikan berita itu dikolom kilas daerah. Yang hanya terbaca oleh orang yang teliti saja. Saya yakin sebagian besar tak akan begitu tahu kalau ada berita itu. Letaknya yang dipojok kiri atas. Bahkan hanya satu paragraf saja. Kompas benar-benar belum tersentuh. Bagaimana Amanat Hati Nurani Rakyat-nya, bung?

Kenapa bisa hal itu terjadi? Ada beberapa faktor yang barangkali saya dapat jelaskan:

Pertama, isu yang kurang menarik dibandingkan berita lainnya. Sehingga tak mungkin masuk kategori Headline halaman 12 rubrik Nusantara. Akan lain halnya, jika disebutkan meninggal sampai 64 orang. Itu baru dipertimbangkan dewan redaksi. Sayangnya hanya dua orang yang meninggal.

Kedua, barangkali wartawan Kompas tidak mendapat berita secara dalam. Bisa jadi daerahnya terpencil jadi kesulitan akses. Atau barangkali wartawannya sendiri yang ogah-ogahan mencari bagaimana sebenarnya terjadi peristiwa itu.

Ketiga, bisa jadi berita sekilas itu berita tambah-tambahan saja untuk mengisi kekurangan berita. Dan kalau yang terakhir ini yang diambil, tentu saja, itu adalah sebuah keputusan yang sembrono dan tak bernurani.

Bagaimana bukan sebuah berita yang menggemparkan, jika empat hari berturut-turut meninggal sampai 2 orang dengan penderita sampai 64 orang. Yang dari hari pertama sampai keempat semakin bertambah penderita diarenya. Bagi saya itu lebih heboh daripada berita Partai Politik yang bingung mencari calon presidennya.

Bisa dilihat dan dimaknai, secara konotasi teks, bagaimana kondisi masyarakat Oebelo. Ini bisa dijadikan acuan:

[1] Sementara itu, sebanyak 64 warga lainnya yang menderita diare masih dirawat di rumah masing-masing. Ini bisa menandai, kalau warga sekitar tak begitu mampu untuk pergi ke dokter. Atau bisa jadi, wilayah tersebut sangat jauh untuk mendapatkan perawatan medis. Bagaimana kita tahu akan keberadaan Posyandu atau Puskesmas? Rumah sakit pun dalam benak saya, tak ada. Sebab, kondisi tersebut terdistorsi dengan pemberitaan yang tidak lengkap. Selama ini kita tak tahu bagaimana kondisi daerah-daerah. Berita selalu memusat pada Jakarta atau tempat lainnya. Dan media harusnya tahu kalau Indonesia tidak hanya Jakarta tapi warga Wamena, Sorong, dan Oebelo ini!

[2] Sementara suaminya, Atrade da Silva adalah buruh bangunan. Buruh selalu dekat atau identik dengan penghasilan yang pas-pasan. Belum tentu hari atau bulan ini dapat kerja dan dapat uang. Upah biasanya diterima akhir pekan, itu kalau di Jawa Tengah. Saya tidak tahu yang berlaku di Oebelo. Paling-paling upah sehari sekitar Rp 50 ribu, itu saja kalau memang proyeknya bagus. Kalau hanya membangun rumah milik orang desa, bisa hanya sebesar Rp 20 ribu per hari.

Dikalikan satu minggu, sekitar antara Rp 140-an Rp 350 ribu. Itu hanya perkiraan saya, karena ibu saya pernah membayar kisaran seperti itu. Nah, berbeda dengan orang lain, itu tergantung kebijaksanaan tiap pemilik rumah. Jika baik tentu lebih besar. Saya tak begitu paham, bagaimana yang berlaku bagi warga Oebelo. Tapi, jika ditarik dari pekerjaan, itu menunujukkan warga sekitar Oebelo masih tertinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s