Kemana Kamu Labib!

Nugroho:
“KEMANA kamu labib!?
Sudah lama tak berjumpa lagi denganmu. Sudah enggak asyik lagi sepertinya menulis itu buatmu?
Apa gerangang yang bisa membuatmu seperti itu. Apakah kesibukanmu bekerja sehingga tak sepeserpun tenaga kau infakkan untuk sekedar menulis : hai, apa kabar? atau sudah berapa cerpen yang kamu buat? katanya ingin jadi penulis. DASAR SOMBONG kamu,,NGACA!!!”

Labib:
“Kenapa kamu marah-marah padaku”

Nugroho:
“Kamu adalah saudaraku. Kenapa tak lagi bergiat dan lincah lagi menulis.” aku menyesal punya saudara seperti kamu. katanya pengen menyenangkan keluarga dengan berkarya. tapi apa yang sekarang kamu lakukan dengan tubuhmu dan otak kotormu itu?”

Labib:
“Kok bisa-bisanya kamu menyebutnya aku punya otak kotor. Jangan asal tuduh. Emangnya kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku? aku bekerja, aku capek dijalanan, naek motor, apalagi aku juga lagi sebel sama kantor. kamu tidak tahu kondisiku seperti apa? apakah kamu mau menerima beban seperti aku?”

Nugroho:
“Aku tak peduli dengan bualanmu itu. aku hanya ingin melihatmu menulis saja di dinding ini. entah apa yang akan kau tulis. kau menulis tulisan F**K atau Annnjjjiiii** terserah kamu,. yang aku pengen kamu harus terus menulis”

Labib:
“Kenapa kamu memaksa aku untuk menulis.”

Nugroho:
“Lah, kamu kan suka menulis. kenapa tidak menulis. kenapa blogmu selalu kosong dan yang ada tulisan-tulisan KAMPRETmu itu.”

Labib:
“Mau KAMPRET kek atau jelek kek atau apa..itu tulisannku. apa tidak boleh aku tidak menulis. apa hakmu melarang aku tak boleh menulis dan memaksa aku harus ada disetiap tulisan itu. dan harus update tiap harinya. apa karena teman-teman lainnya pada rajin menulis terus aku malas sendiri tak boleh.!”

Nugroho:
“Tak boleh. kamu harus terus menulis. aku hanya ingin membantu bagaimana mewujudkan mimpi2mu. aku ini saudara sedarag dan sedaging jug sehati satu mata satu jiwa…serba satu. ”

Labib:
“Terus kenapa harus seperti itu”

Nugroho:
“Ya harus. pokoknya harus. ga boleh enggak. kamu harus menulis. kamu harus bikin bangga aku sebagai saudaramu”

Labib:
“Loh urusan bangga atau tidak itu kan masing2 dari kita kan. itu hidup kamu. kamu enggak berhak memutuskan aku harus hidup seperti apa. aku ingin menjalani hidup seperti pilihanku. kenapa kamu yang sewot”

Nugroho:
“Jelas aku sewot karena kamu saudaraku. sudah berapa kali aku bilang. kamu bego atau memang benar-benar bego”

Labib:
“TErus kalau saudara lantas apa? lantas boleh mengubah-ubah, memilah-milah,mengatur-atur ini untuk kamu ini tidak, emang siapa kamu? aku kan yang punya hidup sendiri. kamu juga punya hidup sendiri. siaoa yang melahirkanm?

Nugroho:
“Durhaka. durhaka. kamu jangan lari dari takdirmu. kamu segaris darah dengan ku. kamu adalah aku. jadi aku berhak dan malah wajib memaksamu untuk menulis lagi. bukan bermain fesbuk atau chatting dengan cewek-cewek yang ga jelas”

Labib:
“Eloh.Kok sampai menyinggun masalah cewek segala. itu perempuan, perempuan aku. kenapa kamu ikut ngiri. sekali lagi jauhi aku dan tinggalkan kebusukan mulutmu itu yang suka memaksa seenaknya. seenak udelmu sendiri. jangan-jangan kamu engga punya udel. hahaha…”

Nugroho:
“Cewekmu adalam cewekku juga jadi kita sama. kenapa harus dipisahkan. udelmu juga udelku. DASAR GOBLOK lu. gitu aja pengen jadi penulis. KAMPUNGAN!

Labib:
“Enak saja.jadi selama ini ketika aku menciumnya kamu juga merasakannya.Alamal jang..taik kucing, kutu kambing, dahi kutil..apa aku tak sadar telah direnggut oleh babi kampret. dasar mutoooo..”

Nugroho:
“hahaha…kamu misuh atau jengkel sama saja kau jengkel dengan dirimu sendiri. kenapa harus dikeluhkan. pusing?”

Labib:
“Sudahlah aku tak mau berbicara lagi denganmu. pergilah, aku mau menulis lagi.

Nugroho:
“Nah, begitu. itu yang aku cari dari kata-katamu.

Labib:
“Ya ampun. aku mengatakannya. berarti aku masih sadar dan punya rasa ingin menulis lagi”

Nugroho:
“Benar . benar. tulislah apa adanya..selamat menulis,penulis KAMPUNGAN”

Labib:
“Apa kau bilang. berani-beraninya bilang begotiu. ku sepak rubuh kau. pergi..pergi..
……….

(pertengkarannya berlanjut dalam hati masing-masing..bersatu..wujuding satu diri)
Jakarta Selatan, 3 Maret 2009

3 thoughts on “Kemana Kamu Labib!

  1. ada kah memmangnya dua kepribadian dalam dirimu teman?
    menurutku, di dalam diri masing2 oarnag tidak hanya ada dua, bahkan berlipat2….

  2. hee, pak arif yang ganteng makasih, dah selalu mengunjungi dagangan di blogku.sampai kini belum juga ada tulisan yang aku upload. salut kawan buat kamu yang rajin. semoga lebih kreatif lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s