Drainse Buruk, Anggaran Terbuang Percuma

drainaseDimuat di Merdeka, 16 April 2009 (Tulisan ini belum memasuki editan redaktur)

BURUKNYA sistem drainase perkotaan di DKI Jakarta sudah menjadi rahasia umum warga Jakarta. Ketika hujan tiba, air bisa dipastikan menggenang di sebagian jalanan ibukota. Akibatnya banjir tak terhindarkan, kemudian berimbas pada rusaknya fasilitas jalan umum. Seharusnya hal itu bisa ditanggulangi bila sistem drainase yang ada di kanan kiri jalan berfungsi baik.

Wakil Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Tubagus Haryo mengakui kondisi buruknya drainase di Jakarta itu. Menurut Tubagus, selain karena tipografi Jakarta yang rendah dari permukaan air laut. Mestinya, hal itu menjadi tugas besar dan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta untuk membenahinya.

“Karena sudah banyak anggaran terbuang hanya untuk tambal sulam (jalan-red) saja. Tapi (perbaikan jalan -red) tidak dimbangi dengan perbaikan sistem drainasenya. Percuma juga,” kata Tubagus kepada Merdeka, Rabu (15/4) seusai acara jumpa pers di Gedung Jakarta Media Center, Jakarta.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto mengakui sistem drainase dan sungai yang ada tidak terawat dengan baik. Bahkan sudah 32 tahun saluran air tidak pernah dikeruk. Untuk menangani permasalahan itu, pada APBD 2009 ini Pemprov DKI sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 399, 5 miliar untuk lima wilayah DKI Jakarta.

Sistem Folder
Sementara itu, menanggapi perkembangan tata ruang Jakarta, Tubagus mengatakan, sudah saatnya pembangunan Jakarta itu sifatnya ke atas (vertikal). “Mau enggak mau seperti itu,” ungkapnya.

Perubahan tata ruang ini, bisa berakibat buruk bila tak diikuti perbaikan sistem drainase. Tubagus melihat kelemahan-kelemahan dalam proyek perumahan adalah masih tidak memperhitungkannya sistem drainase.

“Ketika mereka membuat gorong-gorong atau selokan tidak memikirkan, air akan mengalir ke mana. Apalagi ada perumahan yang dibangun di daerah yang lebih rendah dari yang lain,” ujarnya.

Kecuali perumahaan tersebut, kata Tubagus, memiliki sistem folder (penampungan air), sehingga air bisa dipompa dan bisa dialirkan ke dataran yang lebih tinggi. “Saya kira ini masalah teknologi. Biar bagaimanapun pembangunan sentra-sentra perumahan baru atau pun jalan harus dievaluasi semua,” katanya.

Tubagus memandang pihak Dinas Pekerjaan Umum harus turun ke bawah (turba) untuk melihat dan mendengar apa yang dimaui warga terkait perbaikan sistem aliran air tersebut. “Masyarakat punya kapasitas, Pemda punya otoritas dan anggaran,” tegasnya. Andi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s