Nasib Halte di Jakarta

Halte BaruDimuat di Merdeka, 15 Mei 2009
(Tulisan ini adalah tulisan yang belum masuk ke redaktur)

TERLANTAR dan tak terawat! Begitulah nasib halte-halte yang ada di Jakarta. Dalam pengamatan Merdeka, Kamis (14/5) mulai Jalan Bantan 1 Lebak Bulus Jakarta Selatan, TB Simatupang, Fatmawati, Panglima Polim, Dr. Suharjo, Prof. Dr. Supomo, Raya Pasar Minggu sampai Pejaten Raya, kebanyakan halte dalam kondisi tak terawat dan rusak.

Semuanya – baik model lama dan model atap betawi – nyaris ada coretan-coretan, kotoran sampah plastik maupun daun, bocor, cat mengelupas, besi-besi berkarat, lampu mati, lantai keramik rusak, tempelan iklan rokok atau majalah, bekas poster-poster partai politik dan lainnya.

Khusus halte-halte di Jl. Sisingamangaraja seperti halte Universitas Al Azhar – kondisinya berkarat, ada sisa-sisa tempelan kertas. Sementara untuk sepanjang Jl. Sudirman, yang sudah bermodel minimalis (kecil, berbangku satu, berbahan alumunium dan beratap seng plastik) meski tampak bersih dan baru, tapi sisa-sisa tempelan iklan dan beberapa titik masih ada pedagang kaki lima.

Apalagi ada yang beralih fungsi menjadi tempat jualan kaki lima (Jl. Fatmawati, Sudirman), tukang koran (di Jl. Raya Pasar Minggu dan Jl. Pejaten Ray), warung kopi (Jl. Raya Pasar Minggu), tukang ojek (Halte Volvo Jl. Raya Pasar Minggu), dan tukang gorengan. Bagi beberapa calon penumpang keadaan seperti itu cukup mengganggu.

Pantauan Merdeka, kondisi halte yang terlihat buruk adalah sepanjang Jl Fatmawati (Halte Pasar Mede sampai Halte depan Gd. Infomedia) dan sepanjang Jl. Raya Pasar Minggu. Halte-halte yang ada masih model lama dengan ukuran yang besar dan memanjang, terbuat dari besi dan beratap seng.

Terlihat cukup parah salah satunya halte Yayasan Santi Rama, depan Mal D’best Fatmawati Jakarta Selatan. Kondisinya: dua lampu tak ada, atap bocor dan kondisi sengnya berkarat juga sebagian mengelupas, kotor, dan banyak coretan. “Kalau hujan sini bocor dan penuh orang yang mau pulang kerja,” kata Stefanie, seorang sales promotion girls sebuah produk makanan di D’best.

Stefanie yang tiap hari menunggu bus ke arah Ciputat merasakan kondisi halte itu sudah tidak layak dan perlu diperbaiki. “Ya harapannya segera saja diperbaiki,” ujarnya. “Bagaimana pun juga halte itu masih penting, mas.”

Berebeda dengan Amran (41), sebagai tukang servis jok sepeda motor di halte Pasar Jumat di Jl Bantan 1 Lebak Bulus Jakarta Selatan atau depan Asrama Mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta. Ia memanfaatkan betul halte itu selama sembilan tahun, sejak belum ada halte berdiri sampai sudah berganti dua kali.

Alasan dia, karena mudah dilihat orang dan bila hujan bisa buat berteduh. Ia tak mau pindah tempat karena sudah memunyai banyak pelanggan tetap. Bila terpaksa pindah, bisa-bisa pelanggannya tidak tahu lagi. Tiap bulan ada uang setoran keamanan ke satpol PP. Selain itu, ada juga untuk uang rokok preman. “Satu bulan kadang ada 2-3 bungkus rokok buat preman,” katanya.

Menurut Amran, halte itu baru dibuat setahun lalu. Itu satu-satunya halte yang ada di sepanjang jalan itu. Kondisinya kurang begitu terawat, terlihat dengan adanya coretan-coretan, bekas poster-poster Adang Darajatun – Dani saat Pilkada DKI Jakarta 2007 kemarin, iklan dan bahkan pengumuman dari Komisi Pemilihan Umum terkait Data Pemilih Sementara (DPS) untuk Pemilihan Presiden 8 Juli 2009.

“Sejak bikin tidak ada perawatan,” kata Amran yang bertempat tinggal di Jalan Prupus Pondok Cabe Ilir itu kepada Merdeka, Kamis (14/5). Senada dikatakan Andi (35), seorang security di jasa tour dan travel Khatulistiwa, yang posisi kantornya dibelakang halte.

Andi menuturkan, masyarakat yang ingin naik angkutan lebih memilih menyetop di sembarang jalan. “Ya bagaimana lagi, warga sekitar sini, keluar gang saja langsung menyetop angkutan,” kata Andi. Meski begitu, lanjutnya, keberadaannya masih diperlukan, paling tidak bagi orang-orang jauh yang menunggu angkutan.

Menanggapi kondisi halte-halte rusak dan berubah fungsi itu, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Ramilan mengatakan pemerintah harus segera memperbaikinya sesuai dengan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang sudah ditetapkan dalam APBD 2009. Selain itu, perlunya penegakan hukum yang tegas bagi pedagang kaki lima sebab selama ini, katanya, hanya teguran saja. Tapi, selepas itu mereka akan muncul kembali.

“Atau bisa memberikan lokasi binaan seperti yang sudah ada saat ini misal di daerah Pasar Minggu, Cengkareng dan lainnya,” katanya. Dia setuju bila penerapan kaki lima di Jakarta mencontoh Pemkot Solo yaitu dalam satu lokasi.

Menurut Ramilan, pelayanan bagi warga kota Jakarta sudah menjadi tanggungjawab Pemprov DKI Jakarta. “Ini akan menjadi evaluasi dan kita ingatkan pada dinas-dinas terkait soal tindak lanjutnya,” katanya kepada Merdeka. Anggaran untuk perbaikan fasilitas umum sebenarnya sudah ada, katanya, hanya pemerintah konsisten saja melaksanakan program SKPD.

Namun, Ramilan khawatir bila pelaksanaan program yang ada tak sesuai dengan rencana semula. “Paling tidak, jangan sampai semua dilakukan di akhir tahun. Tapi saya cukup optimis, pemerintah bisa melakukannya. Yang penting ada ketegasan political will,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Riza Hasyim mengatakan, kepedulian masyarakatlah yang utama dalam hal perawatan halte-halte. “Bagaimana pun juga mereka-mereka sendiri yang menggunakannya dan perawatannya juga dari uang mereka,” katanya.

Menurut dia, perawatan halte tidak bisa dilakukan tiap bulan, karena memang sudah ada jadwalnya. “Ya tidak seperti dikantor tiap hari di pel,” jelasnya. Tapi, anggaran perawatan itu sudah ada, sayang Riza tak mengetahui detilnya untuk perawatan halte atau jumlah pastinya halte yang rusak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s