Kelabu di Jumat Pagi

(Berita yang aku kirim ke Waspada Online tapi tak dimuat hee..)

JAKARTA – Sarapan_46072427_facade_ap pagi hari itu, Jumat (17/7) pun batal dan bakal terus tersimpan dalam memori, I Gusti Ayu Darsini, 63 tahun. Suaminya, I Gusti Agung Rai, 63 tahun, seorang anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), luka-luka di betis kirinya akibat ledakan di Hotel JW Marriot, pukul 07.45. Agung pun dilarikan ke Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC), Jakarta Selatan.

“Kata dokter tidak apa-apa,” jelas Ayu kepada para wartawan saat di RS MMC, Jumat siang.

Ayu awalnya ingin sarapan pagi bersama suaminya, namun tiba-tiba ledakan terjadi saat ia berada dalam lift untuk kembali ke kamarnya di lantai 27. Ada barang yang tertinggal di kamarnya. Ia sempat tertahan selama setengah jam dalam lift bersama dua petugas keamanan Hotel JW Marriot. Ia, akhirnya bisa keluar di lantai dua dan bergegas mencari tempat aman melalui dapur.

Ledakan itu pernah terjadi di tempat yang sama enam tahun lalu. Kini, terulang lagi di dekat Restoran Plaza Mutiara Hotel JW Marriott, tepatnya di atas pintu masuk parkiran hotel yang merupakan ruang pertemuan. Tak lama berselang kemudian, ledakan kedua terjadi di Coffee Shop di lobi Hotel Ritz-Carlton, yang berdekatan dengan Hotel JM Marriot.

Beberapa orang terluka baik warga negara Indonesia maupun asing. Terlihat warga negara asing terluka, kondisi celananya sobek-sobek, sambil dibawa mobil untuk diselamatkan. Ini pun sempat membuat para karyawan di sekitar Mega Kuningan berhamburan keluar mencoba menyelamatkan diri. Arus lalu lintas pun menjadi macet.

“Saya menemani suami saya yang sedang ada acara di sana,” Ayu kembali bercerita. Ia menemani suaminya dalam acara pertemuan seminar dengan 15 negara lain di Hotel JW Marriot, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Saat ini, suaminya masih di rawat di RS MMC.

Menurut Kepala Pusat Penanggulan Krisis, Departemen Kesehatan RI, Rustami S Pakaya, jumlah total korban ada 64 orang. Sembilan diantaranya telah meninggal yakni delapan orang Indonesia, satu orang warga New Zealand yaitu Timothy David Mickey, 60 tahun. Ia meninggal di perjalanan saat dibawa ke RS Medistra. Beberapa korban ada yang di rawat di RS MMC (39 orang, tiga orang sudah pulang), RS Jakarta (13 orang), RS Pusat Pertamina (2 orang) dan RS Medistra (1 orang).

Menanggapi terkait biaya para korban, Rustami mengatakan, “Biaya akan ditanggung pemerintah. Anggaran akan diambil dari pos bencana.”

Suasana di RS MMC sendiri penuh dengan wartawan, karena memang RS ini adalah tempat banyak korban yang dirawat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sempat mendatangi RS MMC sekitar pukul 14.30. Selama kurang lebih setengah jam, dia menjenguk para korban di lantai 1 dan 2.

Tak banyak komentar yang keluar dari presiden.

“Saya tadi sudah mengeluarkan statement,” ujar SBY ketika para wartwan mendesaknya untuk berkomentar. Memang, sebelum ke RS MMC, SBY sudah memberikan keterangan di hadapan pers terkait ledakan tersebut di kantornya, Istana Negara.

Ia pertama ke lantai satu, tak lama di sana, kemudian menuju lantai 2. Lift sempat macet, ketika dia hendak menuju ke lantai 2, makanya rombongan terpaksa melalui jalur tangga.

Hadir mendampingi dirinya yaitu Menseskab Sudi Silalahi, Mesesneg Hatta Rajasa, Panglima TNI Djoko Santoso, Kaplolri Bambang Hendarso Danuri, Jubir Presiden Andi Malarangeng, Menkominfo Muhammad Nuh, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Menkopolhukam Widodo AS, dan Kepala BIN Samsir Siregar.

SBY sempat berbicara singkat sebelum meninggalkan rumah sakit. “Berikan perawatan yang terbaik bagi saudara-sauadara kita, ” tuturnya. Sekitar pukul 15.00, rombongan presiden meninggalkan RS MMC. SBY menaiki mobil sedan hitam, berplat nomor B1305 RFN.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pun menyampaikan rasa duka citanya kepada para korban. Foke, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa ledakan tersebut sebagai bentuk perbuatan terkutuk yang tidak diterima agama atau kepercayaan manapun.

“Berikan waktu yang cukup kepada aparat untuk melakukan investigasi,” jawabnya.

Sementara, secara terpisah, Menkominfo, Muhammad Nuh juga berpendapat sama. Dia mengutuk perbuatan pelaku ledakan itu. Menurut Nuh, hal itu mencedarai tidak hanya orang-orang yang tidak bersalah, namun mencoreng nama bangsa.

“Anarkisme dalam bentuk apa pun tidak dibenarkan. Jika tidak setuju, bisa dilakukan dengan cara yang lebih berbudaya dan jalur terhormat,” kata Nuh. Dia tak menjelaskan apa maksud ketidak setujuan ini. Dia pun meninggalkan RS MMC sekitar pukul 15.40 menggunakan sedan hitam, berplat nomor RI 43.

BIN kecolongan

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Samsir Siregar mengaku kecolongan terhadap dua ledakan itu. Namun, dia mengatakan kondisi masih cukup aman, meski ada hal-hal yang cukup mencurigakan.

“Apakah ada gangguan susulan,” tanya wartawan.

“Mudah mudahan tidak ada. Soal kebobolan kapan saja bisa, bukan negara kita saja, yang superpower saja bisa kebobolan,” jawabnya saat setelah mendampingi presiden di RS MMC.

“Kok bisa kecolongan,” timpal wartawan.

“Memangnya saya Tuhan,” jawabnya.

Dia menyanggah bila ada peringatan asing bahwa peristiwa ini akan terjadi.

“Kapan memperingatkan? Kau mengarang saja. Tidak ada itu. Kau tanya saja sama asingnya,” sergahnya.

Sampai sekarang kepolisian masih mencari tahu siapa pelaku dan motif peledakan itu.

4 thoughts on “Kelabu di Jumat Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s