Geliat Kartu Lebaran di Era Internet

kartu-lebaranThursday, 10 September 2009 17:25
Ragam – Features/ WASPADA ONLINE

by Andi Sapto Nugroho

JAKARTA – BASYIR tengah sibuk menata kartu-kartu lebaran yang ada di hadapannya. Gurat di dahinya sudah lekat, matanya pun tampak redup, umurnya pun sudah tidak muda lagi, 56 tahun. Kecintaannya pada kartu-kartu lebaran, membuatnya tetap setia berjualan dalam ratusan tumpukan kartu lebaran.

”Kalau kata mbah Surip, cinta-nya full,” kata pemilik nama lengkap Basyir Syarif saat Waspada Online menyambanginya di gedung Kantor Pos Ibukota, Jakarta Pusat.

Ia hanya ditemani anak perempuannya. Tak banyak orang yang singgah di stan dagangannya. Hanya sesekali. Melihat-lihat kemudian membolak-balik kartu lebaran itu. Membaca kata-katanya, dan kemudian pergi. Kantor Pos saat itu cukup ramai.

Basyir membuka usahanya di dalam gedung. Ia diberi tempat yang strategis, di dekat pintu masuk. Ini juga karena dirinya sudah lama kenal dengan pihak Kantor Pos. Otomatis ketika orang baru masuk pertama kali akan melihat tumpukan kartu-kartu lebaran berjejer panjang dengan beraneka rupa.

Bulan Ramadhan 1430 H sudah memasuki pekan ketiga. Pada awal-awal puasa sudah ada yang beli, meski cuma satu atau dua orang, begitu pula pada pekan kedua. Namun, seiring bertambahnya hari, memasuki pekan ketiga ini, menurut Basyir, penjualan kartu lebarannya menunjukkan peningkatan. Sudah banyak pembelinya.

”Awal-awal puasa bisa 10-20 kartu, minggu kedua bisa 100-200 kartu,” ujarnya terkait jumlah penjualan per harinya yang selama ini. Dia pun berharap pada pekan ketiga ini, penjualannya bisa mencapai lebih dari 500 kartu.

Kartu-kartu itu dipatok dalam beberapa variasi harga antara Rp1.000 sampai Rp6.000. Pemesannya banyak dari kalangan instansi pemerintah, bank, dan para pedagang yang mempunyai banyak relasi.

”Kita di sini sudah memiliki langganan se-Jabodetabek. Dari Tangerang juga mengambil dari sini. Ini karena kita jualan di sini sudah puluhan tahun,” jelasnya.

Sudah sejak tahun 1980-an ia menekuni jualan kartu lebaran.  Dimulainya perjuangan hidupnya melalui berdagang alat-alat tulis dan perangkat pos di Kantor Pos Ibukota lama Jakarta , sebelum akhirnya dia ikut boyongan, pindah ke Kantor Pos Ibukota, sekarang, yang ada di jalan Raya Pos, Jakarta Pusat. Kantor pos ini berada di sisi utara lapangan Banteng atau sederetan dengan gereja Katedral.

IA berasal dari Brebes Jawa Tengah. Setamat Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) sekitar tahun 65-an, ia pun nekad ke Jakarta .

Belum ada pekerjaan yang ia dapatkan ketika tiba di ibukota. Ia hidup menggelandang selama 10 tahun. Pekerjaan pun seadanya, tapi dia sudah mulai berjualan alat-alat tulis dan perangkat pos di Kantor Pos Ibukota lama, sekitar tahun 1970-an.

Tahun 1980-an ia pun menikah. Dua tahun setelah itu, ide membuat kartu lebaran itu terbesit. ”Kalau saya ingat awal jualan. Saya menemukan kertas-kertas kosong tahun 1982. Saat itu banyak gambar-gambar Hello Kitty. Saya inget banget,” kenangnya.

Gambar-gambar Hello Kitty itu, kemudian ia perbanyak dengan memfotokopi warna-warni, ada warna hijau, kuning dan biru. Setelah itu, baru dia potong dan menempelnya, serta dibubuhi kata-kata dengan tulisan tangan. Sehabis itu dikemas sedemikian rupa menjadi kartu lebaran.

”Tenyata habis. Lalu saya berpikir saya bisa membuat kartu (lebaran-red). Begitu dihitung-hitung untungnya juga lumayan menjanjikan,” katanya.

Dia mengatakan saat itu biaya fotokopi cukup Rp10. Modal yang dia keluarkan senilai Rp50 ribu.

Ia memilih membuat kata-kata mutiara dibandingkan menggambar. Makanya dia meminta teman-temannya yang pandai menggambar untuk melukis kartu lebaran. ”Saya mempunyai banyak perbendaharaan kata-kata mutiara,”ujarnya.

Demi menambah perbendaharaan kata-katanya ia pun rajin membaca buku-buku terutama sastra seperti puisinya Chairil Anwar sampai pujangga Khalil Gibran. ”Ya apa saja buku-buku puisi yang dijual di pasaran,” lanjut Basyir yang bertempat tinggal di Jl Petukangan Rt 16/4 No 78, Rawa Teratai, Cakung, Jakarta Timur ini.

MASUKNYA era telepon seluler benar-benar menggempur industri kartu lebaran. Tahun 2001, dirasakan betul bagi Basyir suatu keruntuhan usahanya.

”Turun drastis,” jelasnya. Ini berbeda sekali dengan tahun-tahun 1990-an, dimana produksi kartu lebaran sangat begitu tinggi. Pembeli pun masih banyak. Bahkan dirinya pun sampai memunyai 20-an karyawan sampai akhir tahun 2000.

Namun, kini karyawannya sudah tak ada lagi. Hanya dirinya seorang sekarang yang meneruskan. Tapi dia tak menggambar, dia bekerja sama dengan orang lain dalam produksi.

Serbuan ponsel yang bisa mengirimkan pesan pendek (SMS), yang memunyai fungi sama, berkirim pesan selayaknya kartu lebaran, dianggap Basyir sebagai tantangan. Pekerjaan ini baginya sudah mendarah daging. Makanya dia pun tak berpindah ke lain hati, meski serbuan teknologi semakin canggih. Ia tetap menekuninya sampai sekarang.

”Kalau sekarang orang ditanya kamu lebih memilih dikirimi SMS atau Kartu lebaran, tentu saja milih kartu lebaran. Ada kenangannya,” tutur Basyir.

Kartu lebaran masih diminati untuk orang-orang tua. Karena bagi kawula muda, budaya berkirim kartu lebaran sudah berganti dengan era SMS atau digital melalui internet. Sekarang semua begitu cepat sampai. Pesan yang baru dibuat dalam beberapa menit, selang beberapa detik sudah dapat dibaca dan dibalas kembali oleh si penerima.

Namun, Basyir tak perlu repot-repot mengurusi persoalan itu. Dia masih yakin dengan masyarakat yang memilih kartu lebaran. Apalagi, kata dia, pihak kantor pos sendiri sering melakukan kampanye bahwa mengirim kartu lebaran lebih terhormat dan berkesan dibandingkan dengan berkirim pesan pendek.

Ini cukup membantu usahanya, tanpa perlu promosi besar-besaran. Sebaliknya, pihak kantor pos pun bisa untung melalui penjualan perangko atau lainnya.

Setelah tahun 2001, Basyir mengatakan bahwa geliat penjualan kartu-kartu lebaran sudah mulai naik. ”Ini ibarat orang jatuh sudah siuman, setelah tiga tahun mulai bangun walupun masih merangkak tapi sudah bangun.” ungkapnya.

Awal puasa ini saja, penjualan pun cukup menyenangkan baginya. Omzet yang ia terima bisa sekitar Rp100 ribu. Dia tak menyebutkan apakah itu omzet kotor atau bersih.

”Kita mengikuti hari per hari, nanti bisa saja naik 100- 200 gitu,” jelasnya. Basyir sendiri mengakui, penjualan kartu lebaran itu cenderung naik, bahkan tahun kemarin dia bisa mencapai angka Rp1 juta dalam penjualan per harinya.

”Perkiraan tahun ini belum memprediksi, tergantung keadaan ekonomi. Keadaan ekonomi sekarang bagaimana,” katanya sambil tertawa pada Waspada Online.

Angpau Islami

Angpau biasanya identik dengan umat Cina saat merayakan hari raya Imlek, namun kini budaya itu juga diadaptasi oleh umat Islam. Seperti yang dikatakan Basyir, penjualan angpau Islami ini sudah dilakukannya sejak dua tahun kemarin.

Dia mendapat inspirasi itu dari seorang pembeli kartu lebaran ditempatnya. Saat itu, pembeli itu mengatakan bahwa di Batam, tradisi angpau bergaya umat Cina dalam memberikan sangu atau hadiah lebaran bagi saudara-sudaranya sudah berjalan di kalangan umat Islam saat Idul Fitri. Ini yang kemudian membuatnya ikut menjualnya.

”Sudah ada pergeseran budaya di sini yang sebelumnya dilakukan oleh orang Cina kini, orang -orang Islam pun turut memakai juga,” ujarnya.

Minat pembelinya pun, lanjut dia, cukup banyak. Tahun kemarin sudah ada, sudah 2 tahun ini berjalan. “Sangat antusias sekali, ini boleh juga. Tapi enggak tahu sih perjalanannya gimana,” cetusnya.

Ia menjual angpau itu dengan harga bervariasi tergantung motifnya. Ada Rp1.000, Rp15.000 dan Rp2.000 per bungkus yang isinya 10 lembar. (dat06/wol-jkt)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s