Masjid Cut Mutia dan Lika-Liku Politik

masjid-cut-mutia-225x300Wednesday, 26 August 2009 18:04
Ragam – Features/ WASPADA ONLINE

by Andi Sapto Nugroho

JAKARTA – KAMIS, 14 Juni 1991 rombongan haji presiden Soeharto dan istrinya, Tien Soeharto mendarat di Bandara Halim Perdana Kusumah. Sekitar pukul 11 siang, mereka kemudian telah tiba ke Masjid Cut Mutiah, Menteng, Jakarta Pusat untuk melakukan sujud syukur.

“Inilah masjid terdekat di Menteng,” ujar Heri Heriawan,  ketua pelaksana harian yayasan Masjid Cut Mutiah

Masjid yang terletak di daerah Jakarta Pusat ini memang menyimpan banyak sejarah. Masjid Cut Mutiah sempat terseret dalam arus perpolitikan. Ini sebagai imbas karena di tempat inilah penandatanganan Petisi 50, sebuah protes beberapa kalangan yang tidak setuju dengan kebijakan Presiden Soeharto waktu itu.

Kurun 1980-an, Pemerintahan Orde Baru memaksakan ideologi negara harus Pancasila sebagai asas satu-satunya. Ini yang kemudian mendapat kritik dari para anggota Petisi 50, salah satunya termasuk AH Nasution. Karenanya, sempat terjadi perselisihan antara AH Nasution dan Soeharto dan berimbas pada Masjid Cut Mutiah.

Isu Ibu Tien Kristen
Tahun 1991 santer terdengar isu bahwa Ibu Tien Soeharto beragama Kristen, maka tahun itu jugalah presiden Soeharto melakukan ibadah haji, untuk pertama kalinya beserta rombongan.

Menurut Heri, saat itu yang terlihat dalam rombongan haji selain Pak Harto dan istrinya, juga anak-anaknya, ada Moerdiono (Mensesneng), Wiranto dan Try Sutrisno (ajudan presiden), Bob Hasan (pengusaha dan muallaf) dan KH Qosim Nurseha (pembimbing haji). Ada 22 orang yang ikut dalam rombongan itu.

“Saya menerima di tangga, saya katakan, ‘Selamat datang Pak Haji semoga menjadi Haji mabrur,” kata Heri, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Masjid. Dan kemudian, kata Heri, Pak Harto menjawab,

“Terima kasih semoga harapan saudara menjadi harapan kami.”

Setelah pelaksanaan sujud syukur yang dilakukan presiden dan rombongan, lanjut Heri, ini mematahkan isu bahwa Ibu Tien Soeharto seorang Kristen. “Ini menjadi HL (headline) di Majalah Tempo saat itu,” ujarnya

AH Nasution pun sempat, jelas Heri, sempat berkomentar, “Memang Harto harusnya dari dulu masuk ke Masjid Cut Mutiah.” Ini yang kemudian, menurut Heri, sebetulnya Pak Nasution tidak ada persoalan dan tidak ada dendam.

Bahkan, menurut keterangan Heri, ketika Pak Harto mengalami permasalahan hukum setelah turun jabatan, “Pak Nas itu mengumpulkan imam-imam untuk mendoakan supaya persoalan yang dituduhkan kepada Pak Harto oleh rakyatnya dapat terselesaikan,” ujarnya.

Diawasi Intel-intel
Masa-masa sebelumnya (kurun ’80-an) sempat menjadi tekanan bagi para pengurus Masjid Cut Mutiah, sehingga pergerakan apa pun bahkan khotbah-khotbah para imam pun diawasi secara militer oleh Kopkmbtib, yang saat itu dikepalai oleh Jendral Sudomo.

“Dikirimkan intel-intel untuk mengawasi para khotib yang berprinsip ingin menggerakkan Islam secara kaffah. Setelah selesai ceramah dibawa ke kantor Kodim, kemudian diinterograsi dan ditekan secara psikologis,” jelas Heri.

Keputusan pengurus saat itu, lanjut Heri, kemudian menurut saja. “Sami’na waatho’qna, karena seorang Presiden sebagai imam.”

Makanya melalui SK Gubernur Nomor 1584 tahun 1987, semasa Gubernur DKI Jakarta, Wiyogo Atmodarminto, dirubahlah Yayasan Al Jihad menjadi Yayasan Masjid Cut Mutiah juga menetapkan Masjid Cut Mutiah sebagai masjid tingkat propinsi.

“Ya karena kata Jihad, kesannya terlalu gimana gitu (saat itu),” selorohnya.(dat02/wol-jkt)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s