Gelisah Hati

SUATU hari di Agustus 2003, sebuah berita mengabarkan, Chung Mong Hun tewas bunuh diri. Ia menjatuhkan diri dari lantai 12 di kantornya. Chung ialah Direktur Utama PT Hyundai Asa, Korea Selatan, sebuah satu sayap perusahaan Hyundai Corporation. Ia-lah salah seorang pewaris kerajaan bisnis otomotif Hyundai; bisa dibayangkan betapa besar kekayaannya. Namun, hidupnya berakhir secara tragis.

Enam tahun kemudian, 27 Juli 2009, Raja Pop dunia, Michael Jackson meninggal dunia. Dunia geger. Belahan bumi utara, selatan, timur dan barat riuh rendah menangisi kepergian sang pemimpi dunia anak-anak: Peter pan. Ia bangun dunia impiannya itu dalam sebuah Istana. Tentu saja dengan hartanya yang berjibun setelah album-album lagunya laris di pasaran.

Di kehidupannya, dia selalu gelisah dengan penampilan dirinya. Mukanya pun bermetamorfosis dari warna hitam menjadi putih, rambut keriting jadi panjang bergelombang, hidung pun mancung, wajahnya sudah seperti boneka barbie. Seluruh tubuhnya sudah dipermak habis. Namun, di akhir hayatnya, ia juga sama tragisnya dengan Chun. Ia tak menikmati kekayaannya dan meninggal dengan meninggalkan utang mencapai Rp 5 triliun. Bahkan sampai aku menuliskan ini, jasadnya belum juga dikuburkan.

Siapa tak mau bahagia? Punya harta, tahta dan istri cantik, barangkali bisa satu atau lebih. Akan dicari terus bagaimana jalan menuju sana. Saya seorang lak-laki, pemuda umur dua puluhan, angan-angan seperti itu selalu berkelindan. Punya pekerjaan matang dan mapan, dan juga seorang wanita?

Bergelanyut detik per detik. Selalu. Melihat kesuksesan orang, selalu hati gundah. Kenapa saya tidak? Maunya secara cepat, bukan proses. Saya kemudian menyadari bahwa tujuan itu pun beraneka ragam. Kiblat hidup itu berbeda-beda.

Aku pun menjadi ingat perkataan sahabat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib radliyallahu’anhu. Suatu kali pernah berkata, yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami, ”Akan datang kepada manusia suatu zaman yang cita-cita mereka adalah soal perut, kemuliaan mereka adalah soal kesenangan, kiblat mereka adalah wanita, dan agama mereka adalah dirham atau dinar (uang). Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk, dan mereka tidak memiliki bagian sama sekali di sisi Allah.”

Membaca perkataan Ali di atas, membuat hati dan pikiran Saya terganggu. Ada cemas, sedih, dan ketakutan-ketakutan. Bergelanyut dan terus membuntuti di tengkuk ini.

Bagaimana persoalan saat ini, seperti perut, wanita dan harta serta sifat-sifat kepragmatisan, pengejaran keduniawian yang instan sudah dikatakan oleh sahabat nabi sebelumnya. Ini menunjukkan pada saat itu kejadian-kejadian atau realitas sosialnya tak jauh beda dengan sekarang, hanya berubah dalam masalah rekayasa teknologi. Namun, Saya perkirakan tidak beda secara naluriah seorang manusia baik laki-laki maupun wanita.

Mari kita menengok sebentar, riuh rendah, malang melintang, penduduk kota Jakarta siang malam bekerja untuk kehidupan keluarga. Deru arus lalu lintas dan arus perputaran uang di kota ini saban hari meningkat. Sibuk sekali bekerja, dan waktu pun hanya tergolek sia-sia di jalanan karena saking macetnya.

Bisa dikatakan, kehidupan di kota Jakarta lebih banyak di luar rumah yaitu antara 15-20 jam, di rumah paling hanya 3-4 jam. Kebanyakan waktu terbuang di jalanan. Makanya penduduk di pinggiran kota, selalu, selalu bergegas dengan agak tergesa-gesa untuk menghindari macet agar cepat sampai kantor. Sebab, telat sedikit ada-ada saja sanksi yang didapat, entah pengurangan poin penilaian kerja atau potongan upahnya.

Otomatis mempunyai rumah di Jakarta seperti mengabadikan sebagai museum pribadi. Kosong selama berjam-jam dan berpotensi digaruk bromocorah.

Mereka, termasuk saya di dalamnya, mencari makan untuk perut, yang juga mencari jabatan. Kemudian kalau sudah tercapai menikahi seorang wanita idamannya.

Namun begitu, Saya sendiri masih perang secara pribadi dengan kota ini. Belum merasa iya, akan realitas-realitas yang selalu, selalu menyepelekan masalah etik, moral, kebajikan, dan agama.

Dari pengetahuan Saya, para pekerja yang berpengetahuan moral pelan-pelan, seperti halnya proses abrasi laut terhadap pantai, terkikis sudah: hilang sebuah prinsip atau idealisme hidup dalam dirinya. Mereka telah terkalakan dengan tawaran pekerjaan (uang), umpatan dan tekanan atasan, serta target-target yang perlu dicapai.

Bisikan-bisikan,”bagaimana kalau kamu menjadi miskin, sudahlah turuti saja perintah bos,” tak ayal, pelan mulai dituruti yang kemudian menjadi sebuah tradisi dirinya dalam pekerjaannya.

Sistem. Ya, sistem itu yang membuat diri Saya atau mereka terkikis kode etik atau moralitasnya. “Bagaimana bisa kamu merubah sistem, bekerja itu ya seperti ini, apalagi kamu ikut orang lain, makanya kalau ga mau gini, bikin perusahaan sendiri.”

Menangis. Hati Saya seperti tersayat sembilu. Apakah harus selalu, selalu sebuah perusahaan seperti itu. Kalau aku pun menjadi pengusaha, apakah aku bakal tidak seperti itu? Siapa yang mampu menjamin Saya?

Namun, dalam pendapat Saya, masalah etik, moralitas, kebajikan dan agama itu terus dan terus dijunjung di atas laba, uang dan kesenangan memabukkan lainnya.

Contoh-contoh seperti Chun dan Jackson, adalah contoh sebagian dari kita yang mencari kebahagiaan. Namun, apakah kebahagiaan itu terbungkus oleh kebajikan, moral atau tidak saya tidak berani memvonis. Tapi bila melihat gelagat mereka, tentu saja mereka gelisah dengan hidup yang serba materi.

Melalui tulisan ini bukan wewenang saya hendak menghakimi dirinya, namun saya hanya mengambil indikator saja bagaimana gambaran realitas sosial saat ini, masih ada contoh seperti itu.

Memang masa-masa, dimana cita-cita adalah soal perut, kemuliaan adalah soal kesenangan, kiblat adalah wanita, dan agama mereka adalah dirham atau dinar (uang), itu sudah benar-benar dapat kita lihat dan kita rasakan. Meski sulit kita buktikan secara de facto, sebab pasti kita berbeda pandangan satu sama lain. Dan itu, terserah masing-masing.

3 thoughts on “Gelisah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s