Dan Sri Mulyani pun berdendang…

“Katanya ‘badai pasti berlalu dan sebentar’, itu bagi yang nonton!”
“Tapi kalau yang setiap hari ngrasain lama banget rasanya.”

KAMIS (29/4/2010). MALAM BARU BERJALAN sekitar dua jam di kawasan elit Bintaro Jakarta Selatan. Jalan Garuda yang berada sektor 1 itu tak begitu panjang. Kondisinya terlihat sepi, dengan segelintir orang lalu lalang, begitu pula kendaraan.

Seorang polisi, satpam dan segelintir orang terlihat berjaga diantara beberapa mobil mewah yang terparkir di Jalan Garuda 2. Saya juga memarkir sepeda motor persis di ujung Jalan Garuda 2.

Seorang laki-laki besar, berbaju safari hitam membawa handytalkie mendekat. Degup jantung tidak mau stabil. “Maaf mas dari mana dan ada keperluan apa?” ujar dia. Saya baru melemparkan jaket ke motor dan belum sempat menjawab. Kemudian teman saya, Apriarto dari Koran Tempo menimpali, “Kami dapat undangan acara,” kata dia.

“Tapi ini benar kan jalan Garuda 2/E 3 No 3,” saya ikut menimpali sembari membaca pesan di telepon genggam. “Ya benar,” jawabnya.

Tak lama kemudian sebuah Alphard B 1525 RFQ melintas. Ini pasti Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, kata Saya kepada teman Koran Tempo. Adanya mobil voorrijder atau mobil pembuka jalan, membuat saya tak salah menerka.

Seorang polisi, Ismayanto – begitu namanya tertera di atas saku dada, mencegah kami. Kami belum diperbolehkan masuk menunggu laki-laki bersafari hitam tadi meminta informasi dari dalam rumah. Sebelumnya, kami didesak agar berterus terang tentang identitas kami. Polisi itu seperti paham kalau kami seorang pewarta, barangkali dari gaya berdandan dan tas yang dibawa. Saya baru ingat kalau pakai kaos dan tas punggung besar yang selalu saya bawa liputan. Ini sangat mencolok, bukan?

“Dari media mana mas?” tanya polisi itu.

Saya menunggu Apri menjawab. Saya ragu mau jujur atau berbohong. Saya lihat ke Apri, dia tampak ragu menjawabnya, namun dia pun menjawab, “Saya dari Koran Tempo,” hal yang sama saya lakukan kemudian, “Saya Waspada Online.”

“Tunggu sebentar, biar ditanyakan dulu ke dalam, apakah memang ada undangan khusus,” kata dia. Kami kemudian berbincang-bincang santai mesti sebetulnya saya belum bisa santai sama sekali. Dari bincang-bincang dengan polisi tersebut katanya ada empat menteri yang hadir, bagaimana dengan Sri Mulyani? Dia tidak tahu.

“Cuma itu yang saya tahu tadi pas dikasih tahu,” ujarnya. Kami masih terus berbincang-bincang bahkan sampai berbicara masalah kasus di Kepolisian yang lagi disorot media. Sekedar berbasa-basi, yang sebetulnya saya tak begitu tertarik untuk menceburkan diri dalam perbincangan itu.

Satpam gendut lari tergopoh-gopoh sambil membawa kenut (pentungan khas satpam), memberitahukan bahwa kami tidak diijinkan untuk masuk ke dalam. Dia beralasan bahwa kami tidak ada dalam daftar undangan.

“Itu dari humasnya yang bilang,” kata Satpam itu.

“Ya sudah kami mau bertemu dengan humasnya, kenapa kami tidak boleh masuk,” sahut Saya spontan. Padahal grogi juga bila memang tak diijinkan masuk dan gara-gara itu kami hanya membuat ricuh acara. Sebab ini adalah peliputan di luar rencana dan tanpa persiapan apa-apa; lebih-lebih dalam suasana elitis, berbeda seperti dalam liputan hari-hari biasa.

Dari kejauhan satpam gendut tadi memberi kode. Ia melambaikan kenutnya, mempersilakan kami masuk ke dalam. Hati saya makin tidak karuan, entahlah dengan Apri. Bukan gimana-gimana, saya memakai kaos oblong, yang akan begitu kontras bercampur dengan para tamu ‘agung’ itu.

Dalam daftar tamu saya lihat banyak sekali tertulis nama tokoh terkenal negeri ini yang diundang. Ada Arifin Panigoro (pendiri Medco), Anis Bawesdan (Rektor Universitas Paramadina), Eef Saifullah (pengamat politik), Erry Riyana Hardjapamekas (mantan wakil ketua KPK), Rikard Bagun (Pemimpin Redaksi Kompas), Ferry Mursidan Baldan (anggota Nasional Demokrat), Faisal Basri (ekonom), Widyawati (istri almarhum aktor Sophan Sophiaan) dan masih banyak lagi. Saya tak boleh mencatat nama-nama itu, makanya hanya menghafal beberapa saja, secepat mata ini melihat.

Namun, Anies, Faisal, dan Eef tidak tampak dalam acara itu. Yang saya catat hadir dalam acara itu adalah Arifin, Erry, Ferry, Rikard, Widyawati, Romo Beny Susetyo. Tentu saja Sri Mulyani, Garin Nugroho, dan Franky Sahilatua.

Ternyata, Saya baru tahu setelah membaca Koran Kompas (Sabtu, 1/5/2010), Tonny Sumartono (suami Sri Mulyani), Samuel Nitisaputra dan Melky Lakalena (anggota Nasional Demokrat), Franky Welirang (pengusaha Salim Group), Gatot Indroyono (aktivis demokrasi), dan Elyya Muskita (pendiri Edvance Maluku) juga turut hadir.

**

PULUHAN ORANG MENGEPUNG PINTU GERBANG Kementerian Keuangan, Kamis siang itu. Massa yang tergabung dalam Komite Aksi Pemuda Antikorupsi (KAPAK) berunjuk rasa menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjemput paksa Ani, sapaan akrab Sri Mulyani agar diperiksa di kantor KPK di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Kenapa Sri Mulyani mendapat perlakuan berbeda?” teriak sang orator yang dikutip Kompas.com hari itu. Wartawan portal berita itu, Caroline Damanik menceritakan, massa membawa sejumlah baliho dan poster yang berisi gambar Sri Mulyani dan Boediono bertuliskan: “Gara-gara Gue Demokrat, Gue Mundur Deh….” Tulisan “Maling Century” menghiasi di bawahnya.

Hari itu Ani diperiksa oleh tim penyelidik KPK terkait bailout atau dana talangan Bank Century. Ini adalah pemeriksaan pertama kalinya kasus Century.

Ani datang ke kantornya sekitar pukul 08.40 dengan balutan terusan batik selutut. Caroline menulis, kedatangan dan kepergian penyidik KPK terkesan kucing-kucingan dengan media. Namun, hal itu disangkal oleh Kepala Biro Humas Kementerian Keuangan Harry Z Soeratin. Pemeriksaan yang digelar di Kemenkeu dimulai pukul 10.20 hingga 12.50

Penyelidik langsung ke ruangan kerja Ani. Harry tak mengetahui jumlah penyidik yang datang. Tapi Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan, Hekinus Mano mengatakan, ada tiga penyelidik. Mereka datang sekitar pukul 11.00.

Usai diperiksa sekitar pukul 13.15, Ani enggan berkomentar. Jumpa pers yang digelar Biro Humas setali tiga uang, tak ada keterangan yang signifikan, hanya sebatas waktu pemeriksaan tanp detil pemeriksaan. “Tapi no question and asking, ya,” ujar Harry, “Mengenai rincian materi dapat ditanyakan kepada Menkeu dan langkah-langkah lanjutannya dapat ditanyakan langsung kepada KPK.”

Esok harinya, Jumat (30/4), Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar dimintai komentar terkait pemeriksaan itu. Ia tidak mempermasalahkan pemeriksaan di kantor masing-masing. “Menkeu itu sentral dalam membahas APBN, kedudukannya sangat penting,” katanya di sela-sela kunjungan kerja di Medan, Sumatera Utara, Jumat seperti dikutip Kompas.com

Jauh di Jakarta, Juru Bicara Wakil Presiden Boediono, Yopie Hidayat kesal dengan wartawan terhadap pemberitaan Boediono. “Wartawan membuat saya agak kesal karena persoalan yang sederhana itu dijadikan soal kucing-kucingan. Padahal tidak ada kucing-kucingan,” kata Yopie, saat seorang wartawati televisi bertanya soal pemeriksaan Boediono yang terkesan “kucing-kucingan”.

“Saya kan sudah bilang Kamis. Tetapi, soal waktu dan tempatnya nanti akan diatur yang lebih sederhana dan mudah,” ujarnya.

Wartawan Kompas, Suhartono menceritakan, lokasi pemeriksaan Boediono akhirnya dilakukan di Wisma Negara, Jakarta. Lokasi pemeriksaan yang berada di dalam kompleks Istana Kepresidenan itu berbeda dari informasi awal yang menyatakan bahwa Boediono diperiksa di kantor Wapres. Yopie menyangkal kalau hal itu dianggap sebagai “kucing-kucingan”.

Menurut Yopie, dia sudah memberikan keterangan pers di Istana Wapres, Kamis siang itu, bahwa pemeriksaan Boediono bisa di Istana Wapres atau di Wisma Negara. “Kemudian penyelidik KPK datang pukul 13.30, sementara Wapres ada di Wisma Negara tengah mengadakan pertemuan dengan Presiden,” ujarnya seperti dikutip Kompas.com (30/4/2010).

“Ini supaya cepat dan tidak membuat repot karena di Istana ada rapat. Kan, gak salah kalau diminta datang ke sana. Kan, lebih terhormat. Masa begitu salah dan dibilang ‘kucing-kucingan’. Di sana, kan, ruang kerja Wapres juga lebih luas. Kan, juga tidak repot kalau ke sana. Jadi, bisa lebih mudah dan cepat,” lanjutnya.

Saat Yopie tengah ngomel soal “kucing-kucingan”, kata Surhatono, seorang wartawan lain bertanya soal lain, Yopie langsung menyambar, “Nanti dulu, saya mau ngomel dulu. Toh, saya complain (mengeluh, red) juga nanti tidak dimuat juga,” keluh Yopie.

Menurut Suhartono, sejak awal informasi soal waktu dan tempat pemeriksaan memang tertutup, sehingga hal itu terkesan ditutup-tutupi. Setelah menerima surat KPK, Rabu (28/4), Yopie menyatakan, Boediono akan bertemu KPK pada hari Kamis (29/4). Namun, sampai Rabu malam, Yopie masih belum bisa memberikan penjelasan soal waktu dan tempat pemeriksaan Boediono. Baru Kamis (29/4/2010) dini hari, Yopie memastikan lewat short message service (SMS) bahwa Boediono akan bertemu KPK.

“Tetapi, maaf informasi saya cuma sepotong karena belum bisa menyebutkan tempat dan waktunya,” tulis Suhartono.

Kamis paginya, Wapres yang ditunggu puluhan pers di Istananya ternyata tidak ada. Padahal, Wapres sudah berangkat dari rumah dinas di Jalan Diponegoro pukul 09.05. Setelah mengetahui Wapres tidak datang ke tempat biasa, wartawan lantas menelusuri keberadaan Boediono di tempat lain. “Ada wartawan yang mendatangi ke rumah pribadi Boediono di Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, tetapi nihil,” tulis Suhartono.

Akhirnya, Suhartono baru mengetahui Boediono datang ke Wisma Negara, setelah melihat mobil dinasnya parkir di depan gedung itu. Baru kemudian, Yopie mengakui bahwa Boediono akan diperiksa di Wisma Negara, Yopie menjawab, “Bisa saja dan sangat mungkin.”

**

SEPANJANG SEPEKAN DI AKHIR APRIL 2010, media meributkan pemeriksaan KPK terhadap Menkeu Sri Mulyani dan Wakil Presiden RI, Boediono menyangkut kebijakannya mengglontorkan bailout sebesar Rp 6,7 triliun kepada Bank Century. Keputusan memeriksa di kantornya masing-masing menuai kecaman media.

“Tolong jangan dipersoalkan tempatnya. Tidak ada maksud dari kita untuk diskriminasi,” ujar Kepala Biro Humas KPK, Johan Budi seperti dikutip Detik.com, (Selasa, 27/04/2010).

Ani sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) bersama Boediono, sebagai Gubernur Bank Indonesia waktu itu, dituduh membidani lahirnya kebijakan itu, makanyar dinilai harus bertanggungjawab. Audit investigasi Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) telah menyebutkan dugaan terjadinya penyimpangan dari proses awal pengglontoran itu.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengusulkan Hak Angket kasus Bank Century. Panitia Khusus (pansus) Hak Angket pun dibentuk. Media sibuk mengabadikan momen-momen penting bagi sejarah Indonesia, ketika seorang Wapres dan Menkeu aktif diperiksa bak pesakitan di sidang pengadilan.

Mereka bekerja sampai dini hari, memeriksa pihak-pihak yang bersangkutan. Hasil awalnya ada tiga. Opsi A menyebutkan kebijakan bailout tidak bermasalah karena menyelamatkan krisis. Sementara, Opsi B mengatakan, pengucuran melalui Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan Pernyataan Modal Sementara (PMS) itu tidak bermasalah, namun tidak dalam impelementasinya. Dan opsi C menjelaskan, secara kebijakan dan implementasi bermasalah.

Selasa, 2 Maret 2010, rapat paripurna DPR menyatakan dua pilihan saja yaitu opsi A, yang didukung oleh Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Amanat Nasional.

Kedua, Opsi C yang mendapat dukungan Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fraksi Partai Gerindra, dan Fraksi Partai Hanura. Sementara Opsi B telah gugur dalam rapat pansus sebelumnya.

Akhirnya diputuskan sebagian besar Dewan sepakat memilih opsi C yang menyerahkan kasus Century untuk diproses secara hukum. Sampai putusan ini, partai koalisi berantakan sebab partai pendukung koalisi tak sepenuhnya mendukung pilihan Demokrat. Demokrat hanya didukung penuh PAN.

PKB yang semula mendukung Demokrat, seorang anggotanya Lily Wahid, malah memilih opsi C. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono selama ini didukung koalisi Demokrat, Golkar, PKS, PKB, PAN, dan PPP.

Sebuah hasil politik, yang membuat Ani-Boediono terus banyak dihujat. Sampai-sampai dalam rapat pembahasan Rancangan APBN-P 2010, kedatangan Ani tak direstui. Beberapa anggota dewan menilai wanita kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962 itu tak layak mewakili pemerintah, sebab sudah sesuai rekomendasi pansus, dirinya dianggap bersalah dalam Bank Century.

**

ROMO BENNY SUSETYO BERJALAN KELUAR. Saya sempat menyapanya dan ia membalas. Ia meminta kami untuk masuk. Saat itu kami sudah masuk, namun hanya duduk di ruang tamu. Acara digelar di taman dekat kolam renang di bagian belakang. Tempatnya terbuka tanpa ada atap, ada beberapa pohon palem, seingat saya ada sekitar tujuh pohon palem besar-besar.

Sebuah layar besar sudah berdiri di depan kolam. Kursi-kursi di depannya ditata berderet. Saya melewati hidangan-hidangan malam, ketika Franky dan Garin sudah memulai acara di atas panggung. Saya kemudian mengambil tempat di bagian paling belakang, sebab paling sepi dan tak begitu mencolok bila dilihat dari depan. Apalagi bagian itu tak begitu terang.

Garin masih siap-siap mendongeng tentang Pancasila dan Negara ini. Dongeng Pancasila ini sudah kerap dia lakukan bersama Franky. Sebuah dongeng yang berisi nilai-nilai kebangsaan, tentang visi, pengalaman, emosi, empati dan cara berpihak terhadap masalah-masalah kemasyaratakatan.

Malam itu, ia mendongeng baik sekali. Semua yang hadir tersihir dengan cara mendongeng sineas film Opera Jawa itu. Ia banyak bercerita tentang negeri ini yang rakyatnya masih miskin, pejabat korup, Muhammadiyah, PKI, Soekarno, Papua, bunga Flamboyan dan pancaroba, masyarakat tanpa data atau gosip, bantal dan lain-lain. Ia pun tak lupa menyindir orang-orang yang cenderung memojokkan Sri Mulyani.

“Jangan menangis, yang menangis di depan umum itu adalah aktor. Menangislah sendiri di dalam kamar,” kata Garin.

Ada sepuluh lagu yang dibawa Franky, juga ada sepuluh dongeng yang dipaparkan Garin. Dongeng-dongeng itu disesuaikan dengan lagu-lagunya. Ketika mendongeng tentang bantal, saat itulah, lagu Send Me The Pillow karya Willie Nelson dilantunkan Sri Mulyani dan ditirukan bersama-sama.

Suara Ani tak begitu merdu bagi saya, agak berat dan kurang pas dengan nada gitarannya Franky. Tapi dirinya tetap berdendang. Franky mencoba menyesuaikan tinggi suara Ani. Semua yang hadir pun bernyanyi, sembari memegang teks lagu yang sudah dibagi terlebih dulu. Saya pun termasuk ikut menyanyi.

Ani begitu sumringah malam itu. Berbalut baju hitam, dia tampak cantik malam itu. Tak tampak letih setelah hari itu dirinya dari menit ke menit menghiasi televisi. Para komentator di televisi menghujatnya, tapi dia masih enak ketawa riang dan berdendang.

Send me the pillow that you dream on.
Don’t you know that I still care for you?
Send me the pillow that you dream on,
So darling, I can dream on it, too.

So darling, I can dream on it, too.

Garin menyela kembali dengan dongeng bantalnya. Ketika tidak ada bantal sebagai alas, berbantallah kita dengan tangan ini. Sejatinya saat berbantal dengan tangan ini kita menghadap pada Tuhan.

Tepuk tangan membahana usai Ani menyanyi. Seorang pramugari Garuda Indonesia, Tantri naik ke panggung sambil membawa satu buket bunga.

“Saya memberikan bunga ini untuk ibu, tapi saya tidak sendirian. Saya yakin di luar sana banyak juga orang-orang yang ingin memberikan bunga kepada ibu. Dan saya berharap suatu hari nanti kita semua bergabung bersama dengan ibu Sri Mulyani,” ujar dia.

Sorak sorai kembali menyeruak.“Terima kasih Mas Garin, Franky, dan Tantri,” Ani membuka kalimatnya.

Belum selesai Ani mau melanjutkan bicaranya, Franky menyela kemudian.“Jadi kalau ingat Ibu Sri Mulyani atau ingin bersimpati dan mendukung Ibu Sri Mulyani cukup dengan katakan saja, Send Me The Pillow,” kata dia.

“Dan lagu ini akan menjadi sebuah common point bagi kita mengukur seberapa banyak orang baik yang hari ini tetap diam dengan menyanyikan Send Me The Pillow tahu tentang sinyal keberadaan, tentang kebersamaan kita,” ujar Franky.

Ani tersenyum. Malam itu Ani benar-benar senyum lepas hingga terlihat giginya.”Ceritanya Mas Garin sudah menghanyutkan kita semua, kalu nanti saya bercerita mengganggu alur cerita,” kata Ani yang disambut ketawa oleh Garin.

“Hwaaahaaaa…” tawa Garin.

“Kayaknya tidak harus masuk di dalamnya (dongeng,red), tapi sebagai penikmat saja malam ini. Saya terus terang malam hari ini berterima kasih sedalam-dalamnya, setulus tulusnya,” kata Ani.

“Tidak pernah membayangkan, seperti yang dikatakan Mas Garin, ‘All of the time you feel alone dan lonely..’ itu mungkin merupakan tanda-tanda sehat. Jadi kalau saya bercerita tentang Flamboyan, saya baru tahu kalau dia berbunganya pada masa transisi, saya senang sekali apa tadi, pancaroba? Semoga Indonesia tidak pancaroba terus lah Mas Garin, yang penting show-nya,” ujarnya.

“Katanya ‘badai pasti berlalu dan sebentar’, itu bagi yang nonton!”
“Tapi kalau yang setiap hari ngrasain lama banget rasanya.”

Orang-orang kembali tertawa. “Hwuaahhaaaa…..” teriak hadirin.
“Sesi curhat sudah selesai, heee..hee,” celetuk Garin

Ani pun kemudian turun sambil disalami beberapa orang. Ia duduk kembali sembari mendengarkan lagi Garin mendongeng. Garin akan mendongeng tentang tanah timor. Dari deretan belakang, Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bagun pun diminta ke depan untuk bercerita tentang tanah timor.

“Saya berada di depan orang-orang yang saya kagumi,” kata Rikard membuka pidatonya. “Sudah lama saya perhatikan bahwa kedua teman ini (Garin dan Franky, red) adalah pencari kebenaran,” ujar dia.

“Saya mengandaikan sebagai (mereka seperti) Socrates yang di siang hari dia harus memakai lampu untuk mencari kebenaran, dan dia pergi ke pasar untuk mencari kebenaran, karena semua orang tidak melihat kebenaran. Dan malam ini juga meskipun lampu terang dan mata kita terbuka tapi tidak melihat ada kebenaran, di hati kita, ada sinar yang kita ucapkan tapi terlalu banyak orang menuntut untuk kebenaran itu.”

“Ini adalah jaman edan, jadi waktunya menjengkelkan, kemudian target kita menjengkelkan. Dari arah orang yang mampu untuk membantu negeri ini ke depan tetapi ingin dijegal orang berprestasi, katakanlah begitu, karena kita hidup dalam masyarakat yang tidak ikhlas lalu dituding, dipotong. Jadi seperti cara- cara Socrates membawa lampu di siang hari untuk mencari kebenaran,”

“Dan saya pikir di depan kita ini Bung Garin dan Franky sudah beberapa kali mencari dewi kebenaran, dan ada diantara kita sebetulnya dewi dewi itu,” tutur Rikard.

Intro lagu Bolelebo melalui gitar Franky mengalun lirih. “Bolelebo…baik tidak baik tanah Timor lebin baik,” Rikard mengawali bernyanyi.

Hampir dua jam acara di rumah mewah itu berlangsung. Sehabis acara tamu kemudian menyantap makanan yang dihidangkan. Ada lasagna, soto, kacang rebus, dan juga sekoteng. Para tamu tidak langsung membubarkan diri, mereka masih menikmati obrolan bergerombol. Dan malam itu, Ani menjadi pusat gerombolan. Garin kembali menyuguhkan joke-joke sehingga bikin orang tertawa. Tak ada rona muram malam itu, semua tertawa dan beberapa memegang gelas berisi air putih.

Saya dan Apri menunggu agak kejauhan, sambil memandang ke arah mereka. Saya lihat Rikard tidak menceburkan dalam obrolan; dia berada di atas. Agak menjauh. Tapi saya tidak mengerti kenapa sekelas petinggi Kompas menyempatkan datang ke sana. Saya tak mewawancarainya. Tapi saya curiga kedekatan ini bisa berimbas pada pemberitaan Kompas. Tapi yang saya lihat kemudian, Kompas memang cenderung bermain ‘aman’ dengan pemberitaan Ani dan Century. Ini tampak sekali di saat-saat Ani akan berpindah ke Bank Dunia sebagai managing director. Beberapa opini di halaman tengah koran itu, menurunkan artikel yang isinya semua memuji-muji Ani.

Misalnya Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Ia menulis begini,”Dan, tahun ini, kita menyaksikan umpatan-umpatan tidak sedap, bahkan tuntutan hukum terhadap Sri Mulyani. Padahal, di luar negeri ia dianggap sebagai menteri terbaik yang dimiliki dunia dan dalam pertimbangan saat memilihnya sebagai direktur pelaksana, Bank Dunia mengakui keberhasilannya dalam menangani krisis ekonomi, menerapkan reformasi, dan memperoleh respek dari kolega-koleganya dari berbagai penjuru dunia,” kata Rhenald seperti ditulis dalam Ekonomi RI Tanpa Sri Mulyani (Kompas, 6/5/2010).

“Persoalan yang dihadapi Sri Mulyani Indrawati adalah sama persis dengan anak- anak Indonesia yang gagal bersekolah di sini, tetapi berhasil di luar negeri. Saya sendiri mengalaminya, betapa sulit mendapat nilai bagus di sini, sementara di luar negeri kita sangat dihargai. Kita merasa bodoh di negeri sendiri bukan karena tidak mampu, melainkan karena betapa arogannya para pemimpin,” kata dia.

“Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya masa depan ekonomi Indonesia bila ia harus diurus oleh orang-orang yang taat pada maunya para politisi atau politisi yang berpura-pura menjadi ekonom,” kata dia.

“Tanpa Sri Mulyani, ekonomi Indonesia tentu akan tetap berjalan. Namun, sebuah kelumpuhan tengah terjadi karena orang- orang pintar memilih cari aman daripada memperjuangkan perubahan.”

“Sri, selamat bergabung di Bank Dunia. Tetaplah bantu negeri ini, seberapa pun perihnya cobaan yang kau alami; karena itulah hukumnya perubahan,” tulis Rhenald.

Begitu pula dalam kolom analisis ekonomi, rekan sejawatnya di UI, Faisal Basri berkomentar yang meninggikan Ani. “Pengakuan internasional terhadap sosok Sri Mulyani sangat tinggi, hampir tanpa cela. Tengok saja pemberitaan media massa asing minggu kemarin. The Wall Sreet Journal menjulukinya ‘Top Reformer’ dan ‘Respected Finance Minister’, Financial Times menyebutnya “Reform Champion”.

International Herald Tribune menilai kepergian Sri Mulyani ke Bank Dunia dengan kalimat: ‘..could be a major setback for a crackdown on graft and tax evasion in Indonesian country, which has the biggest economy of Southeast Asia’,” tulis Faisal dalam Bahaya Terselubung dari Mundurnya SMI (Kompas, 10/5/2010).

Faisal melanjutkan, dua koran Singapura menurunkan berita yang senada. Bahkan, The Straits Times memuat artikel dengan judul agak provokatif: “Sri Mulyani: World’s gain, Jakarta’s loss”.

“Bagaimanapun, bagi seorang nasionalis sejati, seperti juga Sri Mulyani, mengabdi kepada negara adalah yang utama.”

“Oleh karena itu, terasa kontradiktif dan ganjil membaca penggalan berita utama Kompas (6 Mei 2010) berikut: “Meski menilai Sri Mulyani salah satu menteri terbaik dalam kabinet yang ia pimpin, Presiden Yudhoyono mengizinkan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Presiden berharap di posisi barunya Sri Mulyani dapat memperkuat hubungan Bank Dunia dengan negara-negara berkembang”.

“Jika Presiden yakin bahwa Sri Mulyani adalah aset berharga bagi bangsa, mengapa Presiden tidak menolak seketika permohonan pengunduran diri Sri Mulyani. Kalaupun ditolak, kita agaknya yakin Sri Mulyani tak akan “mutung”.”

Tapi saya tidak hendak menuduh itu. Tapi dari segi publikasi di korannya, saya hanya bisa bisa menyimpan pertanyaan diri saya itu dalam hati saja. Tak perlu saya tanyakan ke Rikard apakah dia independen soal Century.

Saya juga heran lagi ketika, Jakob Oetama dan Agus Parengkuan juga hadir di acara yang digelar untuk Ani. Misalnya, ketika Agus datang ke pertemuan di Hotel Dharmawangsa, Minggu malam (10/01/2010), Jakarta Selatan.

Seratusan tamu duduk melingkar dalam beberapa meja bundar yang tersedia. Musik akustik mengalun dalam lampu temaram, suasana pun menjadi hangat. Mengenakan busana batik coklat, Ani tampak asyik bercengkrama bersama sejumlah tokoh seperti Kuntoro Mangkusubroto (ketua UKP4), Erry Riyana (mantan wakil ketua KPK), Goenawan Muhammad (mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo), Todung Mulya Lubis (praktisi hukum), Bambang Harymurti (Majalah Tempo) dan tampak Agus Parengkuan (Redaktur Senior Kompas)

“Ini ngumpul-ngumpul aja, makan-makan, dengerin musik. Ada juga alumni SMA 3 Semarang (SMA Sri Mulyani, red) yang hadir,” kata salah satu petugas di acara itu kepada wartawan Detik.com, Muhammad Taufiqqurahman. Betti Alisjahbana, kata petugas itu, salah satu pemrakarsa acara ini.

Taufiq menceritakan, usai memberikan sambutan singkat, ia kemudian melantunkan sebuah lagu. Tamu undangan pun bertempik sorai. Ani pun sempat curhat tentang kasus Century yang tengah dihadapinya.

Empat bulan kemudian, Rabu (19/5/2010), bertempat di di Financial Club Graha Niaga Lt 2, Jakarta acara pesta kecil dengan teman-teman baiknya dan perwakilan facebookers digelar. Tampak hadir Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu, mantan Menkeu Dr. Mar’ie Muhammad, mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Harjapamekas, Marsilam Simanjunak, Todung Mulya Lubis, Goenawan Muhammad, CEO Kompas Gramedia Jakob Oetama, Anis Baswedan, Jusuf Wanandi, Wimar Witoelar, Arifin Panigoro, dan tokoh lainnya.

Sebetulnya, saya juga diberitahu kabar akan perpisahan ini. Tapi tiba-tiba sebuah pesan pendek datang, mengabarkan kalau acara batal. Namun, malam harinya saya mengecek di portal berita Kompas.com, berita acara itu tetap digelar. Caroline menulis acara itu dengan judul, Sampai Malam Sri Tak Ganti Kostum.

Saya tanya kembali ke panitia acara, berhubung panitianya teman sendiri, saya bilang,”Kok acaranya tetap berlangsung?”. Ia hanya bisa meminta maaf, tanpa menjelaskan alasannya.

Selain Jakob dan Agus, saya juga menilai Garin pun cukup jelas membela posisi Sri Mulyani. Dalam sebuah artikelnya, lagi-lagi di Kompas berjudul Yudhoyono dan Krisis Komunikasi (Kompas, Rabu, 27/1/2010)berjudu, Garin berkata begini, “Pada akhirnya, terlihat masih sedikit anggota kabinet pemerintahan Yudhoyono yang memiliki karakter dan program yang terbaca, yang mampu memandu masyarakat di tengah perang informasi komunikasi.”

“Haruslah dipuji sosok Sri Mulyani dengan sedikit kelemahan, sebutlah senyum sedikit sinis meski manis,” ujar Garin.

**

SELESAI ACARA SAYA MENGHAMPIRI ANI yang berjalan didampingi Fery Mursidan Baldan dan diikuti lainnya. Saya cegat ketika di depan pintu keluar rumah.

“Ibu..” sapa saya. Ia tersenyum. “Heiii…” ujarnya.
“Suara ibu tadi bagus loh,” kata saya sedikit berbasa-basi.
“Ah masak…hee..hee,” jawabnya. Lainnya pun ikut tersenyum.

Sambil berjalan, Ani melihat taman sekililing. Saya belum berani menanyakan sesuatu, sambil menunggu momen pas. Saya masih di sampingnya ketika sampai depan Alphard-nya. Sebelum masuk, saya dan Apri langsung memberondong pertanyaan.

“Bu cerita dong soal pemeriksaan tadi,” kata Apri.
“Pemeriksaan apa?,” jawab Ani sembari ketawa lagi.
“KPK tadi pagi, Bu.”
“Ya tadi pemeriksaan berlangsung selama 2 jam 30 menit, dan tidak seperti pemeriksaan, karena kami juga banyak ngobrol,” ujarnya. “Kalau diperiksa itu kan pakai mikroskop,” Ani bercanda.

Beberapa diantara orang ketawa. “Acara kali ini sebagai coolling down, pemeriksaan tadi ya bu,” kata Apri.
“He..he..tanya saja ke yang punya rumah….tapi sepertinya begitu,” kata Ani.
“Udah ya udah ya…dah semuanya, selamat malam.”

Ia bersama suaminya masuk ke Alphard hitam. Sebuah voorijders membuka jalan. Mereka pun melesat. Tapi malam itu, Ani memang ceria dengan berdendang riang, setelah paginya diperiksa 2,5 jam lamanya.

**

KAMIS 26 MEI 2010 SIANG, SRI MULYANI AKHIRNYA meninggalkan Indonesia. Bersama suaminya, Tonny, ia terbang menuju ke tempat pekerjaan barunya sebagai Managing Director Bank Dunia di Washington DS, Amerika Serikat.

Sebelum berangkat Ani masih sempat menerima tamu, kolega dan staf Kemenkeu di rumahnya di Jalan Kertanegara 14 kebayran Baru, Jakarta Selatan. Sekitar 11.50, Ani dan suaminya melangkahkan kaki keluar pintu gerbang rumahnya, kepada wartawan dia hanya meminta doa restu menjalankan tugas baru. Ia juga meminta maaf karena menunggu lama di depan rumah,

Ia naik Alphard hitam bermomor B 1525 RFQ. Barang-barang bawaanya telah dibawa oleh sebuah Kijang berplat merah. Tiba di bandara semua pengantar besalaman dengan keduanya termasuk Menteri ESDM RI, Darwin Saleh. “Saya mohon pamit, selamat bekerja selama berprestasi, saya mohon maaf lahir batin, saya undur diri terima kasih ya semua,” ucapnya sambil melambaikan tangan sebelum masuk very very important person (vvip) terminal 1 bersama suaminya.

“Bisa dibilang kini Sri sdah resmi ‘tinggalkan’ kasus century dibelakangnya,” tulis Rakyat Merdeka, Kamis (27/5/2010. Mereka menggunakan pesawat Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ-959. Pesawat akan transit dulu di bandara Changi, Singapura sebelum bertolak ke Washington. Dan sampai kini, kasus Century pun seperti mati dan tak ada kabarnya lagi. Benar apa tulis Rakyat Merdeka ketika sehari setelah Ani pergi, “I’m Sorry Good Bye, Kasus Century…Sri Terbang ke Amrik dengan Sumringah.”

One thought on “Dan Sri Mulyani pun berdendang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s