Mbok Garwami dan Jagung Bakar

HIDUP adalah perjuangan, begitulah grup musik Dewa 19 menggambarkan terhadap makna hidup di dunia ini. Setiap orang berbeda-beda dalam memaknai hidup. Begitu juga dengan Mbok Garwami, seorang wanita penjual jagung bakar. Wanita berumur 42 tahun itu bersama suaminya bekerja keras menghidupi keluarga. Setiap malam keliling berjualan jagung bakar dalam acara-acara tertentu.

Berhubung sedang hangat-hangatnya musim bola, dia bersama suaminya juga tak ketinggalan berjualan dalam acara nonton bersama dari desa satu ke desa lain.Prinsip hidupnya adalah terus bekerja.

“Saya takut berhutang, Mas, makanya saya bekerja keras. Dulu sewaktu anak-anak masih sekolah saya selain bekerja sebagai penjual jagung bakar juga jualan bubur sumsum pagi harinya. Terus siangnya jualan nasi gudeg dan sayur lainnya,” tutur Garwami saat ditemui acara pagelaran wayang di lapangan Group 2-Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Surakarta Senin (12/06/2006).

Memilih berjualan seperti itu dari awal tak pernah ia pikirkan. “Tidak tahu, Mas, kok akhirnya jadi jualan jagung bakar. Mungkin sudah dari ‘sana’-nya. Memang sebelum ini saya juga sekalian jualan sate. Tapi sudah lama saya tinggalkan, makanya sekarang tinggal begini. Tapi tiap pagi saya masih jualan nasi gudeg di rumah,” katanya.

Malam itu, dia hanya membawa 100 biji jagung dalam karungnya. Jagung bakarnya dijual dengan harga Rp.1000. Seumpama terjual semuanya malam itu, dia bakal menerima uang sebanyak Rp. 100.000. Namun ia tak tahu seberapa untung yang ia raup tiap harinya. “Karena telah dipotong sana-sani, Mas. Jadi kadang-kadang banyak, tapi kalau sepi sedikit yang diterima dan soal pendapatan bersihnya sih, dirata-rata cukup Rp15.000, Mas!” ujarnya sambil melumuri jagung bakar pesanan saya dengan air garam.

Wanita yang tubuhnya begitu subur ini telah dikaruniai dua orang anak. Anak yang pertama, seorang laki-laki, berumur 23 tahun dan yang kedua seorang perempuan berumur 20 tahun. Anak yang lelaki telah bekerja di Jakarta sebagai mekanik mesin. Sedangkan adiknya bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta di Solo Baru.

Suaminya, Sukiman (50), sudah tampak begitu tua. Walaupun begitu, masih setia menemani istrinya berdagang jagung bakar. Dia tiap pagi setelah subuh, baru keluar dari rumah untuk berbelanja jagung di Jatianom dan baru sampai ke rumahnya, di sebelah barat RS Dr. Oen Sawit, pukul 09.00 WIB pagi. Selain itu, dia juga masih merawat ternak, dengan beberapa kambing, serta mengurus sawahnya.

Malam itu, mereka berdua tampak begitu ceria, tak ada gurat rasa lelah setelah beberapa malam bekerja. Keduanya pun masih sempat guyonan kepada saya. Sungguh, keduanya orang-orang yang sangat keras dalam berjuang mengisi hidup. Walaupun sekedar berjualan jagung bakar tiap malam, namun itu sudah berjalan hampir 18 tahun. Waktu yang sudah begitu lama, tapi masih bisa bertahan di dunia yang sekarang makin hari makin susah mencari nafkah.

Itulah sebuah potret perjuangan seorang anak manusia yang begitu tegar dalam menempuh pahitnya dunia ini. Orang yang berprinsip mulia karena takut akan sebuah hutang, membuat telecut hatinya untuk selalu bekerja.

PS: Ini tulisanku jaman masih kuliah waktu itu semester 6. Ya semoga dapat menjadi bacaan ringan,😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s