Tradisi Ciam Si di Awal Tahun Baru

MUKA Chen A Wen (21) bingung. Ada dua bilah bambu yang terjatuh dari kotak. Sambil tersenyum malu, dipungutnya bilah itu dan dimasukkan kembali ke kotak yang berisi puluhan bilah bambu. Saudara perempuannya memintanya mengulangi sekali lagi.

Kocokan kedua, Chen akhirnya mampu menjatuhkan satu bilah bambu. Kemudian ia melempar dua keping kayu. Ternyata, Dewa Kwan Kong menerimanya: keping kayu yang jatuh, masing-masing berlainan sisi. “Kalau begitu artinya diterima,” ujar Chen kepada saya, Kamis (3/2) sore itu di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin di Jalan Dr Satrio, Kuningan Jakarta Selatan. Baru kemudian, ia mengambil syair Ciam Si, untuk mendapatkan jawaban atas permintaan doanya.

Ciam Si sering dikenal sebagai ramalan/peruntungan. Ini merupakan tradisi kuno yang berlangsung lama di masyarakat China. Ada yang mengatakan, tradisi ini dimulai pada Dinas Tang. Ada juga yang mengatakan sejak Zhang Tao Ling membentuk agama Tao.

Dikarenakan pengikut Tao bertambah banyak, sang guru kemudian mendirikan banyak tempat sembahyang atau klenteng untuk melayani para pengikutnya. Mereka biasanya meminta atau ingin mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi. Biasanya permintaan itu seperti jodoh, nasib, pekerjaan, atau penyembuhan penyakit. Karena sang guru tidak selalu di tempat, makanya dibuatlah Ciam Si dalam bentuk syair-syair sederhana. Awalnya, Ciam Si satu set cuma ada 36 nomor. Sesuai perkembangan zaman, nomor Ciam Si bertambah hingga 88 atau 120 nomor. Ini bergantung pada selera masing-masing klenteng.

Sebelum mengocok, pemohon harus melalui persembayangan dulu. Kemudian, berdoa memohonan di hadapan dewa/dewi yang berada di depannya. Pemohon cukup menjatuhkan satu bilah bambu, selanjutnya melempar dua keping kayu yang harus jatuh dalam posisi berlainan. Jika posisinya sama, maka orang yang akan diramal belum memperoleh izin dari sang dewa. Namun bila berlainan, pemohon boleh melakukan ramalan Ciam Si.

Chen menceritakan makna syair yang ditulis dalam kertas kecil. Syair itu, katanya, menganjurkan agar dirinya harus berhati-hati dalam memutuskan sesuatu seperti jodoh atau pekerjaan ke depan. Setiap tindakan harus direncanakan dan dipikir masak-masak. “Ini sebuah kejutan bagi saya sebab tahun kemarin enggak (diramal,red),” kata Chen, yang baru tiba di Jakarta beberapa waktu lalu, setelah tiga tahun kuliah di Selandia Baru.

Di tahun Shio Kelinci Emas ini, Chen berharap diberi kesuksesan dalam hidupnya. ” (Kertas) ini akan saya bawa pulang dan disimpan,” kata Chen atau nama lainnya Alvin Kusuma itu. Ia tinggal bersama keluarga di Jalan Kelapa Puon 4 NB5 No. 33, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perayaan tahun baru China atau Imlek ke 2562 kali ini membuat Chen sumringah. Meski di Jakarta, suasana perayaan hampir menyerupai perayaan di negeri asalnya, China. Ciri khas seperti barongsai, liong, dan hiasan-hiasan Imlek ramai di mana-mana. “Beneran mirip waktu saya kecil di China,” katanya.

Klenteng Hok Tek Tjeng Sin sudah ramai sejak Rabu (2/2) sore hingga dini hari. Warga China berduyun-duyun ke Klenteng menikmati barongsai, liong, pemberian angpao, dan pesta kembang api,. Kamis paginya pun masih banyak yang berkunjung untuk bersembahyang. “Perayaan akan berlangsung hingga dua minggu sampai Cap Go Meh,” ujar salah seorang pengunjung lainnya, Anyan (72).

Anyan atau nama lainnya Chandra Setiawan, tidak cuma tiap tahun baru berkunjung ke klenteng. Ia saban hari berkunjug ke klenteng baik untuk bersembahyang atau sekedar bercengkrama dengan kawan-kawanya. Tahun ini, Anyan cuma berharap keselamatan dan kesehatan umur panjang, Di usia tua, ia tak meminta apa-apa lagi selain kedua hal itu. “Kalau masih muda ya, bisa minta yang lain,” ujar warga Tanjung Duren, Kepak Duri, Jakarta Barat itu.

Ia juga merasa senang, karena tahun baru ini ditandai dengan turunnya hujan, meskipun tak begitu besar. “Kalau hujan lebih bagus, lebih subur lebih berkah. Jadi tahun ini lebih tenang,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s