Memeluk Drupadi

APAKAH matamu itu perlu menangis, sayang? duri-duri itu menancap di punggungmu yang layu, menahan kesalmu.

kau kembali sibuk bekerja,
mencoba menipu dendammu.

Tapi, mengapa aku sudah tak tahan melihatmu, sayang.
apakah perlu daku membantu dengan air mataku,
biar rasamu itu mereda.

apakah perlu menghunus belati? kepada laki-laki yang setelah kutahu,

ia hanya bermodal penis, ketika menikahimu.
“Tidak saudaraku, yang aku cemaskan hanya satu,
anakku harus tetap tumbuh:

kelak ia akan menceritakan pada keturunannya,
bahwa ibunya seorang wanita terhebat yang pernah ada”
aku terdiam.

dari sudut matamu air surga itu mengalir
aku hanya tercekat. aku pun ikut menetes
tubuhmu kupeluk.

aku seperti memeluk Drupadi
memeluk kepasrahan dan kesetiaan yang tinggi
kau tak pernah mengucap keluh.
di telingaku, ia berucap lirih:

“Jagalah istrimu baik-baik, saudaraku” ujarnya.
makin erat aku memeluknya. air mataku menderas
kulihat anaknya nyaman dipelukan bantal mungilnya.
sementara malam terus memeluk sepi. memeluk duka di hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s