Keroncong Senja

“Hati-hati di rantau. Kamu harus banyak belajar. Semoga sukses. Doa ibu selalu menyertaimu. Jangan lupa, tiap habis sholat kirim Al Fatihah buat bapak,” tulisnya.

SEPASANG mata bola

Seolah-olah berkata

Pergilah pahlawanku

Jangan bimbang ragu

Bersama do’aku…

Di luar rembang petang. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi, namun kini telah menjelma menjadi kota senja. Semburat senja, menjelang matahari tenggelam, menyapu sudut-sudut kota: di jalanan, gerbang kota, tiang-tiang lampu, stasiun, kereta-kereta usang, delman-delman, tukang becak, sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan.

Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku, ketika kubuka jendela kamar hotel. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman, dari gemuruh suara melengking Blink 182, L’arc en ciel, Aerosmith atau Bon Jovi.

Aku dengar suara Pak Surat, penjaga hotel, sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. Jagung-jagung itu masih demikian segar, kepulan uap demikian hangat, menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka.

Aku menatap senja, menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar, remaja-remaja SMP cekikan begitu mereka menyeberang jalan Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. Salah satuh gadisnya menggegam Black Berry, yang lainnya menenteng kardus, sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu.

Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. Ia membentak angkot, karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. Berseragam oranye, berkalung peluit butut, ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Sudah berapa ribu motor ia atur setelah usia kini menginjak 60 tahun? Ah, aku tak bisa membayangkan.

Sepasang mata bola

Dari balik jendela

Datang dari Jakarta

Menuju medan perwira …

Simbok Garwami baru saja datang bersama anaknya, Ratri, membawa gudeg dari rumahnya. Ia menyewa tukang ojek, yang dia carter dari pinggiran kota. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu, semenjak aku masih menetek ibuku. Ia masih setia menyajikan gudeg, nasi liwet, dan Kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas, manis dan kental). Di bawah merkuri, ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir, yang diatur Pakdhe Jarwo.

Ratri menggelar tikar-tikar pandan. Sudah remaja dia rupanya; diam-diam aku pandang secara lekat. Gadis yang manis. Bolehlah berbangga Simbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Ia selalu mengatakan, anaknya adalah titisan Dewi Sembodro, dan aku selalu ketawa mendengar itu.

“Lah, Dik Sastro ini enggak percaya toh. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. Tapi saya tolak. Bukan apa-apa, lah mereka, anak-anak berandalan di tikungan sana, siapa mau toh,” cerita Simbok Garwami kepada saya suatu malam.

“Masak ndak ada pria yang bener toh, Mbok?” tanyaku dengan harapan, Mbok Garwami mau curhat. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar, jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu.

“Dik Sastro, mancing-mancing nih. Ndak mau ah, rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Ia sudah mengenalku sejak lama, aku sudah menganggap dia sebagai adik. Sebab kami sama-sama semata wayang.

Suara adzan Magrib dari mushola belakang hotel melengking tajam. Suara yang berat dan tersendat. Kemanakah anak-anak muda sekarang?

Rokok yang tinggal sebatang aku sulut, kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Cukup mengatakan nama hotelnya, ia sudah paham.

Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak, sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. Rambut sebahu agak ikal, berjenggot tipis,kumis tipis, berkaos oblong, berjins sedikit pudar, sandal jepit, tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi, meski aku baru turun dari kereta eksekutif.

Kagumku melihatnya

Sinar sang perwira rela

Hati telah terpikat

Semoga kita kelak berjumpa pula

Sembari menanti ke hotel, aku rogoh kantong jaketku. Sepotong surat warna ungu, bertulis tangan. Di dalam becak, aku buka kembali surat itu. Aku simak bait-bait surat itu. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan.

“Cepatlah datang, Mas,” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta.

Aku kaget membaca surat itu. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku, tapi tulisannya berbeda. Ternyata, tulisannya ditulis oleh Ratri. Ya, ia begitu dekat dengan keluargaku. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. Makanya aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku, meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik.

Surat terkahir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. Kangen memang menunggu suratnya. Hati ini selalu begitu gemetar, membaca tulisan tangannya. Tulisan itu tidak begitu panjang, hanya enam baris. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Aku hafal betul tulisan itu. Ia tak suka bertele-tele, singkat padat dan berisi. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. Ia begitu agung bagi hidupku.

Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. Meski sudah berumur 67 tahun, ia masih suka membaca. Ia seorang kutu buku sejak remaja. Darinyalah aku belajar sastra, dari sanalah aku mengenal Motinggo BusyeSapardi Djoko Damono atau Danarto.

Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan, sebuah harian yang baru didirikan. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. Di tumpukan baju teratas, surat itu diletakkan di atas. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Tulisan latin tempo dulu, seperti guru-guru SD-ku. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu.

“Hati-hati di rantau. Kamu harus banyak belajar. Semoga sukses. Doa ibu selalu menyertaimu. Jangan lupa, tiap habis sholat kirim Al Fatihah buat bapak,” tulisnya.

Pertama kali aku menerimanya, hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. Meneteskan air mata.

Suara muadzin baru saja selesai. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan, bersanding di liang suami yang ia cintai. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini, karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Tapi, sebenarnya bukan itu saja, pemilik hotel ini adalah paklikku, dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. Kamar di lantai satu, berada di depan, sehingga memunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang.

Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja, ya seperti senja kali ini, selepas hujan. Dan dia selau berujar, “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita, ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia, sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu”.

Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. Dari empat toko, lagu itu terus yang ia mainkan.

Hampir malam di Jogya

Ketika keretaku tiba

Balaikota, 01:00 WIB – 12 Oktober 2010

 

#dimuat di media online Okezone.com, 30 Agustus 2012.

link cerpen: http://news.okezone.com/read/2012/08/30/551/682682/keroncong-senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s