Mitos atau Budaya?

BEBERAPA waktu lalu, tepatnya di daerah Widuran, Solo, saya sempat melihat ada tulisan “Sugeng Lenggah” pada sandaran kursi tukang becak. Bagi saya itu sebuah keunikan baru, meski tulisan itu barangkali sudah ada jauh hari sebelumnya. Hanya saja, saya cukup merasa terkesan, kok tukang becak mempunyai ide semacam itu.

Tulisan “Sugeng Lenggah”, bagi saya merupakan sebuah tulisan penuh simbol, penuh tanda tanya dan banyak tafsiran. Ini seperti halnya kita, menemukan kata mal; kita akan langsung berimajinasi tentang tempat belanja modern, yang ada ekskalatornya, ada fast-food-nya, ada bioskopnya, serta lainya yang berbau modern.

Tapi ketika saya membaca tulisan tersebut, imajinasi yang terbersit adalah makna simbol kultural. Secara tidak sadar si tukang becak sedang melakukan komunikasi yang simbol. Ia sedang berbicara soal ciri kultural lokalitas.

Ketika saya menemukan tulisan tersebut di Solo, secara tidak langsung, tukang becak tersebut telah mulai mengenalkan saya pada citra Solo yang ramah terhadap pengunjung atau penumpang transportasi. Artinya mitos akan budaya Jawa-nya orang Solo; lemah lembut, santun penuh keramahan, kental dengan budaya kratonnya, yang dipegang masyarakatnya semakin terkukuhkan (myth concern).

Saya kemudian menjadi sedikit cemas, jangan-jangan tulisan tersebut akan menjadi penguat mitos budaya orang Solo, yang selama ini diagung-agungkan. Ini bisa terjadi, sebab sifat budaya itu makin lama makin luntur.

Bila ingin bukti, saya sarankan keliling Kota Solo jalan kaki, dari situ akan menikmati bagaimana kota dan masyarakat Solo sesungguhnya. Kalau hal itu sulit membuktikannya, coba dengan menyambangi seperti sekitar RRI dengan deretan PSK-nya, stasiun atau terminal sebagai muara bertemunya orang asli Solo dan luar daerah.

Jika melihat Solo sekarang sudah mengalami berbagai perubahan budaya. Dulu, Solo yang terkenal lebih pada budaya Jawa kraton Surakarta. Tapi, kini cenderung lebih permisif, hedonis, dan kental modernitas. Belum ditambah kehidupan anak mahasiswa yang indekost.

Ditambah pula Solo sudah menjadi ikon sebagai pusat bisnis dan lirikan para investor luar kota. Pengemasan interior mal yang lebih indah dan bersih, dibanding pasar tradisional, memberikan daya tarik masyarakat. Karakter mal adalah mencoba terus mengikuti mode yang disajikan media, di mana apa yang diberikan media biasanya diterima sukarela, dan dianggap sebagai standar yang modern serta bermutu tinggi.

Pola pikir masyarakat Solo diarahkan dan didorong terus menuju pada konsepsi barat. Pada sebuah konsepsi kapitalis, individualistis, dan materialistis, yang sangat bertentangan dengan kekeluargaan dan tepo sliro.Makanya, ketika sifat orang Jawa Solo bergeser pada keadaan seperti di atas mengindikasikan ada kesalahan dalam frame berpikir masyarakat.

Di sinilah, konsepsi mitos yang saya katakan tadi akan terkait. Pada dasarnya mitos adalah cerita yang biasanya digunakan untuk menunjuk pada cerita buatan yang tidak memunyai kebenaran historis. Namun, bukankah kita ini sebenarnya juga para pembuat mitos yang kemudian terlanggengkan dalam bentuk tradisi baru dan kemudian dinamai sebagai budaya.

Kita patut kritis terhadap budaya kita sendiri, apa benar sekarang ini, budaya Jawa-nya orang Solo benar-benar masih tulen? Atau jangan-jangan sudah terkontaminasi unsur budaya lain yang kemudian serta merta diterima menjadi budayanya?

Perubahan itu semakin lama tidak semakin berkurang tapi akan menjamur dan budaya baru pun akan berdiri. Manusialah yang menciptanya. Ketika sudah seperti itu, apa yang terjadi bagi masyarakat Solo 30-50 tahun yang akan terus berbeda dari sekarang.

Dan orang Jawa Solo yang terkenal dengan keramahan, santun, lemah lembut, warung hik/wedangan, kraton, klewer, dan lainnya menjadi mitos bagi generasi ke depannya. Bukankah kharisma raja dan kraton, kini, juga bak angin lalu? Kecuali bagi orang-orang di sekitar kraton.

Budaya menjadi mitos belaka jika budaya itu cuma “mampir” [sebentar saja] karena tergerus arus dari luar yang lebih diterima. Makanya, benar jika budaya itu, kata Umberto Eco, sebagai komunikasi dan atau signifikasi [penandaan]. Dia bersifat cerita dan komunikasi itu sendiri. Tidak hanya penyampaian pesan, tapi juga pelanggengan keyakinan atas sesuatu yang dianggap adiluhung. Ketika komunikasi dan signifikasi tidak lagi berjalan atau dibangun oleh masyarakatnya, budaya suatu daerah tertentu akan lebih mudah punah, dan selanjutnya akan menjadi mitos itu.

Barangkali ada benarnya, pendapat kaum semiotisi yang mengatakan, budaya adalah system of signification. Dalam sistem semacam itu, kita bisa melihat bagaimana anggota masyarakat memilih, menggabungkan, dan mengungkapkan tanda-tanda yang sudah tersedia. Mereka melakukan tarik menarik/hubungan dialektis antara sistem tanda-tanda yang ada dan kebebasan mereka untuk memakainya sesuai dengan kebutuhan pribadi atau kelompok (St Sunardi, 2004: 66).

Makanya ide kreatif tukang becak tersebut patut kita hargai, karena sebagai sarkasme tulen, ia bisa bersifat negasi bisa juga sebagai penguat. Lokalitas adalah aset maha penting yang kita punyai. Kita akan mengatakan cuma Solo yang punya dua raja, Taman Jurug, Taman Sriwedari, Manahan, dan Grujugan Sewu atau air terjun Tawangmangu. Dan begitu pula dengan ciri khas daerah lainnya.

Ketika batik Pekalongan diklaim Malayasia sebagai produk budayanya dan reog Ponorogo diklaim dengan istilah Barongan dari Malaysia, kita sudah kebakaran jenggot. Ini bukan salah Malaysia, tapi kita sendiri yang tak becus memeliharanya.

Begitu juga, tulisan “Sugeng Lenggah” di atas becak tersebut pun akan tetap ‘ada’ jika budaya itu [ciri khas orang Jawa Solo] terus langgeng. Lain halnya jika manusianya sudah tidak lagi pada ciri lokalitasnya, yang terjadi adalah tulisan “Sugeng Lenggah” menjadi mitos atas representasi ciri orang Jawa Solo. Apakah ini yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita?

Solo-Tangerang Selatan, 2008-2010

3 thoughts on “Mitos atau Budaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s