Kematian Mat Boni

Dor..! Dor..!!

DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. Orang-orang belingsatan, suasana pun menjadi ricuh: berpencar, bersembunyi di balik meja, beberapa dinding kios roboh dijejal massa. Dagangan berhamburan, tercecer ke mana-mana; tumpah daging, beras, cabe, gula, sayuran, dan lainnya menjadi satu di tanah. Padahal hujan baru saja turun, tanah pun menjadi becek. Air menggenang. Sementara air got sudah meluap dari tadi. Bau apek menyengat hidung.

Hening.

Udara bergerak lindap. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan; dari balik keranjang, tiang, pagar, meja, dinding sampai punggung orang di depannya.

“Aku takut,” kata seorang perempuan tua di balik punggungku. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. Perempuan tua itu tetap ngeyel.

“Ada apa,” kataku pada orang yang tak kukenal di depanku.
“Mati. Ada orang tertembak,” katanya.

“Mati?”

“Mati bu, ada orang mati di depan,” kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku.

Perempuan itu diam. Tangannya yang dipundakku, ia turunkan. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. “Saya duduk saja, takut nyasar,” jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk.

Aku beranikan mengintip. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. Mukanya terbenam di genangan air. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. Aku mencoba untuk mengenali, namun tak ada tanda-tanda di dirinya yang bisa kukenal. Bajunya lusuh, sandalnya pun lepas, sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya.

“Mampus!”

Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Tubuhnya kurus kerempeng. Matanya mendelik dan berwajah beringas. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Pistol masih di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Ia mabuk sepertinya.

Lu belagu sih. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas,” cerocos petugas yang mabuk itu.

Mata semuanya menyorot padanya. Ternyata si Codet. Ketika tahu siapa yang berbuat, orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. Ternyata urusan cinta. Codet terkenal menjahili istri orang. Semua pedagang di Pasar Tua, tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk, pemeras, dan suka melecehkan perempuan. Tak segan, istri orang pun dia goda juga.

Terakhir, istri Mat Boni, pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu, kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam, Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang.

Di ujung pasar, Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas, namun ia tak ingin menyetopnya. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar.

Sudah satu jam duduk termenung, Wati mulai gelisah. Beberapa toko mulai tutup. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan, hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri.

Mat Boni adalah pedagang keliling. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti, kalau dirasa cukup penjualan hari itu, ya dia akan pulang. Ia jarang pulang sebelum magrib, pasti sesudahnya. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Hanya kali itu, ia ingin sekali menjemputnya.

Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan, untuk menunggu angkot. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya, sepekan lalu. Sudah pukul 8 malam.

Dari arah kiri, sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Setelah membuka helmnya, Codet melempar senyum. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya.

“Iye bang,” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot, barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang.

“Abang anter aja yuk,” Codet menawarkan diri, sambil turun dari sepeda motornya.
“Kagak usah bang, Wati bisa pulang naik angkot.”
“Kan lu tahu sendiri jam segini, angkot ke rumahmu sudah jarang.”
“Kagak usah bang…makasih.” Wati menjawab ketus. Ia berjalan agak menjauh.

Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. Ia melihat pinggul yang menonjol. Memang dari awal bertemu, Codet sudah naksir, sayang ia keduluan sama Mat Boni. Beberapa kali menggoda Wati, membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni.

Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar, Codet pun mudah ditaklukkan. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got.

Ada niat mesum di otak Codet. Tanpa aba-aba, ia menyambar Wati dari belakang. Wati teriak minta tolong. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. Pasar Tua ini sudah sepi, terbenam oleh malam di kaki bukit.

Udara malam yang dingin mendesir. Wati masih berontak. “Bajingan kau, mau kau apakan aku. Lepaskan!” bentaknya. Ia terus memukuli tubuh Codet, kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. Sayang, kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet.

Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. Tak jauh dari tempat kios Wati. Suasana tampak muram. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Codet menamparnya.

“Diam kau. Kau harus layani aku!”
“Dasar keparat kau. Suamiku akan membunuhmu.”
“Suamimu sibuk dengan dagangannya, dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian.”

Plak!

Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. Wati merintih. Ia menangis tersedu, sampai ketika pakaiannya tersingkap. Codet merobek pakaian atasnya. Codet dengan ganas menerjangnya. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet.

Malam hening.

Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. Ia menutupi diri dengan seadanya. Codet berdiri dan merapikan diri. “Mari kuantar kau pulang, Wati?” ajak Codet.

Wati hanya terdiam. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. Beberapa hari setelah itu, Mat Boni tahu kelakuan si Codet. Ia meradang. Dan ya, hari inilah mereka duel. Barangkali, ini balas dendam Boni. Sayang, dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni.

Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Di daerah Tua ini, memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu, meski hanya untuk menakut-nakuti, dan kemudian memeras pedagang. Dan penembakan ini, baru pertama untuk Boni.

“Mak, mak…ada pelangi tuh, bagus ya,” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu.

“Hus..huss..diem, jangan keras-keras. Ntar dia ke sini,” seorang laki-laki menegurnya. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya.

Aku toleh pelangi itu. Ia melengkung indah di atas pasar. Beberapa burung pun melintas di depannya. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau, seperti kisah-kisah masa kecilku itu. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni?

Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah, setelah ada tembakan peringatan. Codet pun melemparkan pistolnya. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Jasad Boni pun diangkut ambulans.

Pasar pun kembali berisik. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu. Dan kali ini, orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi.

“Itu pelangi untuk Boni,” seru beberapa orang di sekitarku. Barangkali.


Kalibata, 19 Juli 2010; 09.37

#dimuat di media online Okezone.com, 3 Januari 2013.

link cerpen: http://news.okezone.com/read/2013/01/03/551/741005/kematian-mat-boni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s