Pesan Untuk Cucuku

EPISODE awal menerka hidup, entah untuk kemana pastinya langkah berlabuh. Tancapkan jangkar dan tali pada pasak di bibir pantai. Sementara hujan badai terus-menerus mengejar, yang berhenti ketika nyawa tak lagi ada.

Episode ini, permulaan lagi untuk menghirup udara segar. Sejenak duduk diberanda menikmati seduhan susu hangat tercampur teh jawa. Bersanding tempe dan tahu hangat gorengan Nyai Minah. Menatap lembar-lembar masa silam. Merengkuh kenangan yang telah lama hilang. 

Aku bercerita kepada cucuku tentang dunia hilang. Menghilang semua jagad raya, hilang tertelan waktu. Tertelan “goro-goro” orde yang sedang berjalan. Lampiasan dari nakhoda kapal yang terlalu bengis selama tiga dasawarsa. Percikan darah terlalu banyak, ketika anak-anak terlepas dari pelukan sayang ibunya, ayahnya pergi…

entah terdampar dimana: Wiji Thukul…lelaki yang kurus keriting itu.

Dari sini semua tidak tampak jelas dan aku pun masih menyaru menjadi bayi-bayi yang terlempar dari sistem. Pergolakan terlalu membahayakan, revolusi bukan jalan yang tepat, hanya diplomsi tapi terlalu lemah. Karena akan begitu banyak campur tangan orang lain, terlalu membuka pelung untuk kalah, dan sejarah mengatakan kita belum pernah punya ahli diplomasi yang ulung, makanya negeri ini menjadi kere! Cucu-cucuku tersentak terperanjat kaget, karena selama ini dari mulut-mulut pak dan bu guru negara kita adalah negeri khayangan, subur, tentram, makmur dan indah,”gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kartorahardjo”

Ini adalah episode awal tahun awal memulai waktu awal menjadi manusia yang kembali ke awal jangan pernah menjadi cecurut yang mudah tertipu umpan, karena umpan tak selalu membuat kita kenyang dan merasa tentram.

Cucu-cucuku, pergilah kau ke negeri seberang, tahun ini, tahun yang bagus untuk merantau, jangan kau berdiam diri disini, untuk apa kau tidur dan makan di negeri orang miskin ini, cukuplah kakek yang menderita bersama orang-orang miskin dan orang-orang yang hilang di negerinya sendiri, kau adalah penerus tahta kerajaan keluarga, kau harus bangkit, tunjukkan kau punya kekuatan, kencingilah negeri seberang, jadikan mereka budak-budak yang dapat memberikan kucuran emas.

Lalu kembalilah bangun kembali negerimu sendiri, meski dulu kau terhinakan oleh negerimu sendiri. Tapi dalam prinsip keluarga kita tak ada balas dendam, tak ada “habis manis sepah kemudian…..”

Jangan kau ikut-ikutan orang-orang yang telah mendahului kamu, mereka adalah para pengecut, tak mengakui darah ibunya yang telah mengalir segar yang menjadikan dirinya mampu berkibar di neger-negeri orang…

Tapi cucuku, kau harus pulang, jangan terlena dengan wanita dan emas berlimpah,

“Wanita adalah pembual dan orang yang hina adalah pengecut tapi yang paling hina adalah pengkhianat. Hati-hati cucuku, pergilah sekarang!”

(03 Januari 2007)

2 thoughts on “Pesan Untuk Cucuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s