Tetesan Air Mata Liem

DALAM pagi yang muram,
pengantar koran datang ke rumah bersepeda Tiongkok produksi 1940-an.

Ia selalu datang tanpa suara. Tahu-tahu koran melewati atas pagar depan.
selalu tepat melemparkan koran, tergulung terlebih dulu dan terdampar di bangku beranda rumah.
: dari dialah semua kabar duka maupun suka.
Aku lihat Liem tercekat. Ia baca pelan-pelan memastikan.

Tapi, mata Liem menetes

ketika matanya terpaku

pada sebuah obituari baru

“Telah pulang ke rumah Bapa di Surga dengan damai pada hari Rabu, 6 Oktober 2010 di Jakarta; anak gadis kami tercinta : Ling Ling. Usia 27 Tahun”

: kau telah mendahuluiku Ling.

Liem menerawang ke halaman luar.

rintik hujan baru saja turun.

udara dingin membuat Liem melipatkan lagi selimut

yang selalu melingkar di kursi rodanya.

:aku akan selalu mengenangmu

Malam terakhir ia berucap itudi sebuah operet di Glodok.
Kacu merah bertulis Ling Ling diremasnya.
sejak kecelakaan itu, Ling pergi ketika seluruh Tiongkok berhari raya.
Petir menyambar di luar.
hujan turun menderadi pagi yang muram
semuram mata Liem.
Rawamangun, 22-10-2010



2 thoughts on “Tetesan Air Mata Liem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s