Serial Tentang Kanker

“Saya merasa seolah-olah saya mendapat hukuman mati,” ujar Jung Lie. Ini seperti kutukan ganda, bagi kedua pasangan yang saat itu baru memilik anak berumur tiga tahun.

Kisah suami-Istri penderita kanker

BELAJAR tidak hanya dari buku-buku atau ruang kelas, tapi berguru bisa kepada siapa saja dan di mana saja, termasuk kepada para penderita kanker. Dalam buku “Stories of Hope from the Cancer Clinic” (Kisah-kisah tentang Harapan dari Klinik Kanker) berisi kumpulan kisah-kisah membangun jiwa bagi pembacanya, baik yang belum terkena kanker maupun yang sedang mengidap kanker.

Kita akan mendapatkan ilmu hidup yang nilainya sungguh-sungguh tiada tara. Buku karya dr. Ang Peng Tiam, seorang konsultan kanker dari Parkway Cancer Centre, Singapura ini menyuguhkan kisah dari sudut penderita; bagaimana berjuang melawan penyakit yang terus menggerogotinya bertahun-tahun.

Kita bisa melihat semangat untuk hidup itu terus ada dan dikobarkan oleh para penderita kanker, meski seringkali mitos-mitos menghinggapinya, bahwa terserang kanker hanya ada satu jalan keluar yaitu kematian. Berikut salah satu kisah itu:

**

BARITA O Manullang (59) tak percaya ketika dokter memvonisnya terkena kanker paru-paru. Lelaki asal Batak Toba, Medan Sumatera Utara itu awalnya hanya untuk tes kesehatan di Singapura. Sebab, ia adalah perokok berat sejak kuliah di Amerika Serikat. Waktu itu, ia berpikir hanya akan dianjurkan menjaga pola makan dan latihan fisik. Namun, hasil tes menunjukkan hal berbeda.

Ketika buang air besar, ia mendapati ada tanda-tanda merah di pahanya. Ia kemudian berkonsultasi ke dokter. Ia disarankan menemui Dr. Ang Peng Tiam. Ia kaget bukan kepalang, ketika tahu bahwa dokter yang ia temui, ahli kanker dari Parkway Cancer Centre, Singapura. Ia pasrah, bahkan ia sampai mempelajari filosofi ikhlas dalam buku-buku Islam, meski dia adalah seorang Nasrani.

“Kami sanggupi berapa pun biayanya,” cerita Barita, aktivis lingkungan di International Animal Research (IAR) kepada saya, Sabtu (17/4/2010) di Jakarta.

Mulai saat itu, ia memutuskan untuk berhenti merokok. Dr. Ang mengatakan padanya bahwa rokok merupakan penyebab utama kanker paru-paru bagi pria. Tapi bagi wanita yang tidak merokok, faktor genetiklah yang berperan utama.

Tiga tahun kemudian, keadaan menjadi memburuk, manakala istrinya, Jung Lie (52), seorang bankir di CIMB Niaga, juga tahu-tahu terkena kanker yang sama. Padahal waktu itu, ia hanya ingin general check-up, mengecek apakah kondisi kolestrolnya sudah turun atau belum. Tetapi setelah itu, ia malah disarankan untuk menemui dokter yang sama dengan suaminya.

“Saya tak merasakan apa-apa, semuanya baik-baik saja, kok,” terangnya. Itu terjadi tak berapa lama setelah suaminya sedang memulai pengobatan.

“Saya merasa seolah-olah saya mendapat hukuman mati,” ujar Jung Lie. Ini seperti kutukan ganda, bagi kedua pasangan yang saat itu baru memilik anak berumur tiga tahun.

Awalnya ia berpikir kanker itu disebabkan oleh trombosis vena dalam, sebab ia seringkali melakukan penerbangan dengan pesawat terbang. Tetapi hasil biopsi, ternyata bukanlah trombosis.

“Saya telah membaca semua hal tentang kanker paru-paru, dan saya tahu apa yang sedang terjadi. Ini seperti deja vu bagi saya,” katanya mengenang.

Tapi keduanya tidak tenggelam dalam keputusasaan. “Mereka ada untuk saling melengkapi,” kata Dokter Ang. “Saya menyaksikan cinta dan dukungan yang diberikan Jung ketika Tuan Barita sakit, dan begitu pula yang dilakukan Tuan Barita ketika Jung diketahui mengidap kanker paru-paru.”

Dokter Ang merencanakan pemberian kemoterapi pada pasangan suami-istri tersebut sebelum melakukan operasi pada mereka. Mengobati kanker yang membuat mereka menderita sebelum kanker utama diangkat terbukti lebih efektif.

Barita menjadi pasien pertama yang menjalani Positron Emission Tomography-Computerised Tomography (PET-CT) scan di Singapura. Alat itu menggabungkan PET dan CT Scan, alat pemindai standar yang dapat menentukan lokasi kanker dengan tepat.

Dokter Ang berkata,”Saya ingat waktu menerima telepon dari bagian radiologi bahwa PET-CT Scan sedang diuji coba hari itu. Dan mereka memiliki dua dosis FDG (flourodeoxyglucose, sejenis gula yang digunakan dalam pemeriksaan menggunakan alat scan) gratis untuk siapa pun yang ingin menjalani PET-CT Scan.

“Pada saat itu, duduk di depan saya adalah tuan Barita. Waktu saya menawarkan PET-CT Scan gratis kepadanya, seraya menjelaskan keuntungan-keuntungan scan itu, dia langsung setuju,” lanjut Ang.

PET-CT Scan berfungsi membantu dokter mengevaluasi pasien kanker paru-paru. “Pemeriksaan dengan PET-CT Scan mengurangi tindakan operasi yang tidak perlu sampai 50 persen, dibandingkan dengan pemeriksaan menggunakan CT Scan dan scan tulang yang konvensional,” papar ia.

Sementara itu, untuk Jung Lie, Ang melakukan pengobatan meliputi pemberian Iressa, sebuah Tyrosine Kinase Inhibator. Obat ini tidak murah. Harga Iressa setiap tablet adalah 120 dolar Singapura.

Untungnya, pasangan ini memberikan respon positif. Jung masih ingat seberapa lega perasaannya waktu dia dinyatakan bersih dari kanker setelah menjalani operasi.

“Saya merasa lega, kamu sangat berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan kedua yang diberikan,” ujar dia.

Pengalaman ini juga mengubah perilaku mereka dalam menjalani hidup. Seperti mantan penderita kanker lainnya, mereka telah belajar untuk memperlambat dan menikmati kehidupan baru. “Kami tidak lagi terlalu ambisius terhadap apa yang kami ingin lakukan,” kata Jung, ”Sebelumnya, jika kami ada di rumah di akhir minggu, kami akan membersihkan seluruh rumah, melakukan ini dan itu. Sebelum kami sadari, hari telah berlalu.

“Sekarang tidak ada lagi tekanan. Kami melakukan segalanya dengan santai. Kini kami lebih menghargai hidup,” ujarnya.

3 thoughts on “Serial Tentang Kanker

  1. hmmm, hukum kedokteran. lha wong hukum bae nek ra mudeng kedokteran kadang bisa blunder,hehehe. kudune sekolah dokter/kesehatan ndisik😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s