Surat dari atas bukit

“ksatria tidak boleh menyerah karena penderitaan. ksatria harus mampu menghadapi situasi apa pun, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. bersabarlah, Dinda!” suara Yudhistira itu terus menyelinap di telingaku. [4]

\untuk Guruh ‘Tari’ Persada

 

setelah berhari-hari akhirnya aku mencapai puncak bukit ini. semribit angin kencang menikam wajahku. bendera kupancang tegak lurus langit.

tubuh ini kusandarkan pada dinding batu terjal menghadap senja. kulihat berarak senja di batas cakrawala bersama deretan burung, seperti siluet di kanvas-kanvas galeri.

seperti melihat foto-foto di kalendar awal tahun ini. kuletakkan tas rangsel dan akhirnya aku bisa mereguk air, setelah panjatan demi panjatan disertai gemetar dan ketakutan. aku lempar botol mineral ke lembah. ia melayang-layang terbawa angin.

bermil-mil jauh di bawah sana membentang hijau dedaunan. aku masih tak yakin. aku benar-benar takjub. aku saksikan kelokan sungai yang memanjang seperti ular melintas di sela-sela hutan. gerojogon air terjun. cericit burung-burung elang yang terbang di antara lembah, melayang-layang mencari mangsa.

dan itu semuanya itu dilengkapi dengan sepuhan cahaya senja yang jingga. oh, Tuhan, aku sudah seperti di surga.

“Drupadi, istriku, seorang ksatria harus memegang teguh janjinya,” gumamku. [1]

bukanlah menjadi perkara apa yang terjadi. aku menikahimu bukan menikahi tubuhmu, bukan pula matamu, telingamu, bibirmu, rambutmu, atau dadamu. sebab keteguhanku ini tetaplah untuk meminangmu, yaitu pada ruhanimu.

“jiwa berkelompok-kelompok bagaikan kelompok tentara. jiwa yang saling mengenal akan harmonis dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.” [2]

“ruh itulah yang mengantar menuju keabadian, sehingga menciptakan ketentraman.” [3]

begitu pulalah diriku.

seperti halnya memanjat tebing ini yang begitu terjal berhari-hari, begitulah aku bertekad meminangmu. sebab bukan harta atau pula raga, tapi aku ingin menikmati surga, bagai apa yang sedang kusaksikan di hadapan mataku ini.

tak perlulah kau bersedih pada apa yang terjadi. aku adalah jelata, tapi bagi dirimu aku akan menjadi ksatria. betapa pun keadaanmu, hatiku tetap satu.

“ksatria tidak boleh menyerah karena penderitaan. ksatria harus mampu menghadapi situasi apa pun, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. bersabarlah, Dinda!” suara Yudhistira itu terus menyelinap di telingaku. [4]

meski begitu, aku tak ingin menjadi Yudhistira yang tega memasang Drupadi di arena dadu. sehingga ia harus diseret dan dijambak seperti binatang oleh Dursasana.

dinda, aku adalah tetaplah diriku.

tak kuasa aku menahan degup jantung ini. seperti guyuran hujan, rintihan ini menyerang, membuat mataku berkaca.

senja hampir habis di telan malam. tak kusadari aku telah meneteskan air mata di pojok kedua mataku.

“inilah air mata cintaku padamu, dinda!”

Kalibata, 25 Februari 2011

03.27

sambil menunggu istri tiba dari kereta yang meluncur dari timur.

#keterangan:

[1] Dikutip dari buku Apriastuti Rahayu yang berjudul “Drupadi, permaisuri pandawa yang teguh hati”, hal. 41

[2] Sabda Rosululloh saw yang dikutip KH Quraish Shihab dalam bukunya “Pengantin Al-Quran”, hal. 107

[3] KH Quraish Shihab, idem ditto.

[4] Apriastuti Rahayu, op.cit hal. 41

3 thoughts on “Surat dari atas bukit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s