Kisah Duit Hibah HB Jassin hingga Alex Asmasoebrata

“Bukanlah masalah panjang dan pendeknya umur, serta kekayaan yang menumpuk. Yang penting ialah pengisian hidup ini yang berguna buat manusia, agama, serta negara.”

diambil dari google.com

“APA yang kau cari Jassin? Setiap hari kerjamu tidak pernah lepas dari membaca buku sastra. Setiap ada yang bertanya, baik orang yang baru kenal, maupun kawan, dan lawan di masa Manikebu dan Lekra, kau selalu menyambutnya dengan lemparan senyum yang manis. Dari mana resepnya ini semua?

Itulah ucapan Oyong Sofyan, kerabat kerjanya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dalam tuisan khususnya kepada Hans Bageu Jassin 14 Juli 1984, saat ulang tahun Jassin ke-67. Tulisan itu terkliping rapi di Pusdok Sastra HB Jassin, saat Jurnal Nasional membacanya, Selasa (22/3).

Seluruh hidupnya diabadikan bagi khasanah sastra. Siapa yang tak kenal dengan karya “Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai” yang berjumlah empat jilid. “Belum ada seorang pun yang menandinginya dalam dunia kritik sastra dari segi kuantitas,” ujar Oyon.

Anak kelahiran Gorontalo 31 Juli 1917 itu tak pandai bicara di depan umum, tetapi ia pandai menulis. “Kalau saya disuruh bicara di depan umum, itu sama dengan menyuruh saya mati,” cerita Oyon menirukan kata-kata Jassin suatu kali.

Oyon mengatakan,”Bila ia memaksakan diri berbicara di depan umum, suaranya tidak enak didengar karena ia tidak punya intonasi yang baik. Kita sebagai pendengar perlu memperhatikan isi kalimat-kalimat yang diucapkannya…”

Jassin itu, kata dia, memiliki pola hidup asal sehat dan bisa berkarya. Pola berpikirnya lain dari orang-orang pada umumnya. “Baginya bukanlah masalah panjang dan pendeknya umur, serta kekayaan yang menumpuk. Yang penting ialah pengisian hidup ini yang berguna buat manusia, agama, serta negara,” kata Oyong.

Mati harimau meninggalkan belang, mati gajah meninggalkan gading, cukuplah peribahasa itu menempatkan posisi Jassin dalam bangsa ini. Pantaslah ia menyandang julukan Paus Sastra Indonesia, meski awalnya itu adalah semacam sindiran baginya.

Miris, ketika empat hari terakhir ini, mendengar kisruh duit hibah Pemprov DKI ke Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Apalagi di kala tepat sebelas tahun Jassin meninggalkan dunia ini. Ya, 11 Maret lalu, tepat hari ulang meninggalnya Jassin dalam usia 82 tahun. Ini seolah-olah mengingatkan bagi yang hidup untuk memperhatikan kembali “gading” yang telah ia tinggalkan.

Sastra menjadi terpinggirkan karena dianggap tak memiliki pemasukan secara material. Mata publik dibelalakkan kepada ketidakpedulian pemerintah terhadap khasanah sastra Indonesia.

Bagaimana mungkin duit hibah yang dikucurkan Pemprov DKI Jakarta pada 2011 hanya Rp 50 juta? Jassin mungkin akan menangis di alam kuburnya. Tak menyangka “harta karun”-nya mulai keropos. Dana itu mulai tahun 2003 pelan-pelan terpangkas dari nilai sebesar Rp 500 juta. Pusdok HB Jassin bisa berjalan, bila membutuhkan sekitar Rp 1 miliar.

“Karena itu jika tahun 2011 hanya disediakan dana Rp 50 juta, sangat mengejutkan kami dan Itu berarti PDS HB Jassin harus ditutup,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin, Ajip Rosidi.

“Bahkan kalau hanya mendapat Rp 160 juta atau Rp 350 juta tetap saja PDS harus ditutup. Karena kami tidak lagi mempunyai dana simpanan untuk menomboki,” ujar Ajip yang juga salah satu pendiri yayasan.

diambil dari google.com

Telinga Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo merah tertampar pemberitaan tersebut. Ia meminta maaf atas kekhilafan dana tersebut dan segera mengkoreksinya kembali.  Ia pun berencana menempatkan Pusdok HB Jassin dipindah di bawah koordinasi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, setelah beberapa tahun di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menampik bila duit hibah itu cuma sebesar Rp 50 juta. Mereka mengklaim duit hibah tahun ini sekitar Rp 200 jutaan. “Uang yang Rp 50 juta itu melalui Sekda, sementara sisanya berjumlah Rp 161 juta dari kami akan diberikan juga,” kata Wakil Kepala Disparbud, Tinia Budiarti kepada Jurnal Nasional.

Tinia menjelaskan bahwa Dinas juga membayar beban seperti tagihan telepon, air, listrik, dan biaya petugas pelayanan kebersihan.

Namun, Surat Keputusan Gubernur No.215/2011 yang menyertakan nilai duit hibah sebesar Rp 50 juta terburu dikirimkan ke yayasan. Pemprov tak bisa mengelak terhadap fakta angka tersebut.

Masalah dana ini pernah dikritik oleh Kritikus Sastra, Dami N Toda dalam bukunya Apakah sastra?: kumpulan esai kritik teori sastra budaya mengenang almarhum Dr. H.B. Jassin (2005).

Dami mengatakan, tidak pantas kini mengelola kekayaan tak ternilai dokumentasi sastra nasional hibahan HB jassin yang vital dan strategis sebagai harga diri negara dan bangsa itu, cuma diminta-mintakan biaya belas kasihan kepada donatur sepanjang jalan.

Menurut dia, nilai dokumenter kekayaan sastra nasional sebuah bangsa membutuhkan konservasi pembinaan dan pengembangan lanjut. Tidak mungkin, kata dia, hanya diperhatikan secara mini oleh belas kasihan uang rakyat DKI Rp 125 juta per tahun berupa hibahan APBD DKI (kurun waktu 2005).

“Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jasin itu harus mengemis untuk bisa membiayai hidup pendokumentasian, tidak boleh terus berjalan begitu saja,” tulis Dami.

Miris lagi bila hal itu dibandingkan duit hibah kepada lembaga-lembaga lainnya. Dalam SK Gubernur tersebut disebutkan, Alex Asmasoebrata Management menerima hibah sebesar Rp 2 miliar. Bahkan tahun sebelumnya mendapat sebesar Rp 4 miliar.

Alex adalah mantan pebalap nasional, kini tengah gencar mengorbitkan anaknya, Alexandra atau Andra sebagai pebalap nasional.  Ia juga menjabat Ketua Dewan Penasihat Generasi Muda Demokrat. Tak ada yang tahu, apa hubungannya Pemprov DKI dengan Alex?

Lain lagi dengan hibah ke Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) yang menerima Rp 1 miliar dan Pengurus Pusat Perhimpunan Masyarakat Melayu Baru Indonesia (MABIN) sebesar Rp 500 juta. LSM lingkungan Walhi Jakarta pun menerima hibah sebesar Rp 300 juta.

“Sepertinya tidak ada pejabat DKI yang menganggap penting PDS HB Jassin,” kata Ajip kesal.

Anggota Komisi E, yang membidangi kesejahteraan rakyat, DPRD DKI Jakarta, Wanda Hamida mengaku prihatin dengan jumlah-jumlah hibah tersebut. “Memang yang njomplang karena pembahasan anggaran yang tidak transparan,” ujar politisi PAN tersebut. Wanda yang ikut membahas anggaran pun meminta maaf. “Kami juga lalai,” ujarnya.

2 thoughts on “Kisah Duit Hibah HB Jassin hingga Alex Asmasoebrata

  1. pertama kali denger berita ttg HA Jassin,yg terbersit di benak bukan tokoh sastra itu. tp adalah “Lord Jassin”, yg merupakan sesembahan salah satu tokoh akatsuki dalam naruto😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s