Terbunuhnya Istri-istri Iblis

“Coba perhatikan deh, perempuan ini dikenal dengan Rosa. Ia seperti mawar, tiap malam selalu memakai warna merah. Dan, dia memiliki tato berbentuk salib tapi terbalik dan di sebelahnya tertulis huruf C O G, secara vertikal. Kamu apa tidak tertarik sama sekali? tanya istriku menyelidik.

diambil dari google.com

DERIT roda besi kereta memecahkan pagi yang lindap itu. Kabut masih bergelayutan di sepanjang rel kereta. Seorang laki-laki tua mendorong rombong sayur melintas rel. Di belakangnya, seorang perempuan berjalan tergopoh-gopoh, sambil menggendong anaknya.

Bocah gelandangan tiba-tiba muncul dari seberang rel. Sebuah botol kecil dilemparkan ke arah kereta.  Prraaakk!

Ia meringis, kemudian berjingkrak. Kaca kereta berhasil ia pecahkan. Sambil bersungut-sungut ia menyeberang rel dan mendekati penjual nasi goreng. Mereka ngobrol sesekali. Bocah itu meminta makan. Sayang, penjual itu hanya memberinya uang beberapa lembar. Tanpa permisi, ia langsung ngloyor begitu saja dengan menggendong beberapa gembolan di punggungnya.

Kabut berpendar. Lindap suara orang-orang di sepanjang rel mulai terdengar. Hampir sepanjang satu kilometer, pinggiran rel itu berdiri gubuk-gubuk. Di tempat itulah, sedari sebelum subuh, orang-orang sibuk berjualan sayuran.

Suara bising kereta menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Sesekali mereka merapat ke pinggir sewaktu kereta melintas. Tapi, namanya naas, kecelakaan pun kapan saja bisa terjadi. Suatu kali penjual dan rombongnya tergilas lokomotif.

Dari kesibukan mereka, tiba-tiba dari arah ujung deretan gubuk, bocah gelandangan tadi berlari terengah-engah, sembari berteriak:

“Mayat.. ada mayat..,” teriaknya berkali-kali.

Orang-orang di sekitaran mengalihkan pandangannya ke arah teriakan bocah tersebut. Penjual nasi goreng menyetop tiba-tiba. Ia diinterogasi dengan cepat.

“Aaa…aada mayat pak,” katanya.

Muka bocah itu tampak pucat, nafasnya tersengal-sengal dan keringat mulai keluar di pelipisnya. Gembolan di punggungnya tak terlihat lagi, terjatuh di dekat gerobak mayat.

“Di mana? Jangan ngawur kamu!” sergah penjual nasi goreng.
“Beneran pak. Dia ada di gerobak Bang Metro,” jawabnya. “Waktu saya mau tidur, di sana ada seorang wanita, saya bangunin kok enggak bergerak.”

Penjual itu pun lantas berlari ke arah gerobak, beberapa orang mengikutinya ramai-ramai. Ketika badan mayat itu dibalik. Semua terbelalak. Mulut mayat itu berbusa dan berwarna ungu. Matanya mendelik, tapi tak ada satu pun darah atau tusukan benda tajam ke arahanya.

“Ooohh..kena racun itu!” tukas seorang laki-laki.”Semalam dia sempat mampir di warungku bersama laki-laki,” timpal pemilik warung kopi di seberang rel.

Semua bergumam, bercerita berbagai kemungkinan yang terjadi. Diantara mereka menduga karena masalah pelanggan. Sebab, si mayat sering dicemooh sebagai lonthe sekitaran Senen.

“Dasar lonthe,” celetuk seorang bapak.

“Husssh..hussshh…mulutnya itu di jaga pak,” ujar beberapa ibu-ibu.

“Dasar mulut enggak pernah bau sekolahan!” seloroh lainnya.

**

diambil dari blog

AKU mendengar cerita pembunuhan itu beberapa hari ini dari surat kabar ibukota. Kabar kematian hampir tiap hari terjadi di kota ini, mulai dari korban kebakaran atau pembunuhan. Kota ini sudah menjadi semacam kota kutukan. Ramai-ramai orang mengutuk kota ini, dianggapnya sebagai buah kekotoran pejabat pemerintahannya yang korup.

Mana peduli aku dengan pejabat-pejabat itu. Aku lebuh peduli dengan hidupku saat ini, menikmati pagi dengan segelas susu dan koran pagi yang sedikit berengsek karena berita pembunuhan.

Setiap pagi aku menyedu susu di beranda ini, sambil menunggu bakul nasi megono lewat. Istriku biasanya membuatkan aku pisang dan tempe goreng. Sambil bercerita tentang keluarga, kami bersenda gurau di pagi yang cerah ini. Menikmati hidup berkeluarga itu dimulai dari pagi hari, di saat matahari masih malu-malu di ujung timur sana.

Istriku selalu bertanya, “Mas, barangkali hanya kita ya yang menikmati hari di pagi ini?”. Dan aku selalu menjawab, mana kutahu hanya kita saja yang memuja pagi. “Tapi, kalau dilihat sebelah rumah juga tak pernah seperti kita, menyedu susu dan bercengkerama hingga sinar matahari menyentuh bawah pintu,” jawabku.

Beberapa tetangga, sedari azan subuh mereka sudah bangun. tapi bukan untuk menikmati pagi, mereka sudah mulai gelisah karena harus berangkat kantor dan tentu saja kemacetan beberapa jam lagi itu yang membuatnya gelisah, sehingga harus bangun pagi. jadi bukan perkara memuja pagi, tapi karena mereka gelisah terhadap pagi yang macet. lagi-lagi kota ini memang dikutuk oleh orang-orang di dalamnya.

“Mas, apa dirimu tidak tertarik dengan cerita mengerikan ini?” Istriku seperti biasa memanasi aku untuk berkomentar soal pembunuhan.”Biasanya soal beginian dirimu langsung gunting dan esok harinya kau telpon si burhan untuk menanyakan penyelidikan, kira-kira yang ini bagus atau tidak?”

“Mana aku tahu, burhan tak mungkin suka dengan beginian. Pelacur mati di gerobak pinggiran rel, itu sudah biasa. kalau bukan masalah pelanggan, mungkin dengan petugas yang minta duit,” kataku.

“Coba perhatikan deh, perempuan ini dikenal dengan Rosa. Ia seperti mawar, tiap malam selalu memakai warna merah. Dan, dia memiliki tato berbentuk salib tapi terbalik dan di sebelahnya tertulis huruf C O G, secara vertikal. Kamu apa tidak tertarik sama sekali? tanya istriku menyelidik.

Aku memang tak membacanya terlalu detil, sehabis judul berita aku hanya sampai empat paragraf pertama. karena modus pembunuhannya biasa dan aku sendiri memperkirakan diracun, jadinya tak aku lanjutkan sampai bawah.

Mendengar kata ‘salib terbalik’ aku menjadi penasaran.”Sebentar-sebentar, ‘salib terbalik’ dan COG? Coba kau ingat-ingat, ada yang aneh tidak dengan peristiwa tiga bulan lalu, seorang perempuan juga mati terbunuh ditusuk pisau di dalam kamar hotel. perempuan itu juga memiliki tato sama.”

“Mmm…masa sih?”

dari google.com

“Dik, coba kau ambilkan klipingan pembunuhan di map merah bertuliskan salib, coba cek sudah berapa jumlah model pembunuhan seperti itu. aku curiga ini berantai dan berkaitan.”

Selama 10 tahun aku bekerja menjadi detektif partikelir, aku memang mengkliping seluruh berita pembunuhan. bahkan, aku lebih sering dikenal di polisi-polisi ketika mereka mentok menyelidiki kasus. kebodohan mereka satu, tak pernah mengkliping berita dan mencermati objek.

Bahkan, aku sendiri sering diminta untuk menjadi penulis obituari karena seringnya aku bergelayutan di dunia kematian seperti ini. mereka merasa kurang puas bila aku belum menuliskan obituari dengan cara detektif. sebetulnya semua bisa menulis seperti aku, hanya saja aku lebih awal memulainya, jadinya terkesan aku yang jago nulis. padahal, aku cuma merekonstruksi dan menyusunnya layaknya cerita pendek kematian. keluarga-keluarga yang ditinggalkan suka sekali dengan gaya tulisan seperti itu, lebih indah dan menyentuh jiwa.

“Kalau dikliping dan dipajang kan enggak malu-maluin, masak tulisan mati model berita gitu, bikin kami tambah kehilangan” ujar salah satu kerabat keluarga suatu kali.

“Sudah ada sebelas kejadian, Mas” teriak istriku dari dalam rumah.

“Coba kau bawa ke sini aku mau baca.”

Aku lihat satu per satu klipingan berita itu. klipingan pertama itu tahun 1997, baru kemudian terjadi lagi di awal 1998. Tapi baru kemudian marak terjadi pada 2001 hingga 2004, hingga 9 kali pembunuhan. Dua terakhir terjadi tahun 2009 awal, dan tiga bulan lalu, di penghujung tahun ketika peristiwa tahun baru. dan kini, hal serupa terjadi lagi hari ini. berarti sudah ada dua belas kejadian.

Tanpa pikir panjang aku pun meminta istriku untuk mengontak si burhan. siang ini, kemungkinan aku harus bekerja lagi. Ada yang menggelitikku untuk segera merampungkan masala ini. Aku yakin, si pembunuh masih menyisakan satu target lagi.

to be continued….

2 thoughts on “Terbunuhnya Istri-istri Iblis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s