Kitab Sampeyan Apa, toh?

HARI kemarin, sehabis ikut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto ke percetakan PT Balai Pustaka, aku shalat Jumat di Masjid Sekolah Labschool, kompleks Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Timur. Karena tak lagi di belakang mobil Wagub, yang pakai voorijder, aku meminta sopir bus rombongan untuk mampir shalat Jumat.

sembari menunggu khotbah, aku membaca buletin Jumat, “Al Mimbar”. Edisi no.11 th XVI, 13 Rabiul Akhir 1432 H/18 Maret 2011 itu mengangkat judul “Etika Bertetangga”. buletin itu memang agak membosankan. Bertele-tele. Padahal itu media dakwah. Ada bagian kalimat yang membuat tertarik, ketika Abu Nidaulhaq, penulis artikel itu, menerangkan arti kata “tetangga”.

dalam bahasa Arab kata “tetangga” adalah “Al-Jaar“, memiliki arti meliputi tetangga muslim, non-muslim, kafir, fasik, kawan, lawan, orang asing, berasal dari negara yang sama, seseorang yang dapat mendatangkan manfaat atau keburukan, kerabat, dan mereka yang rumahnya jauh ataupun dekat.

sampai di balaikota, aku baru tahu adanya pengeboman di sebuah mesjid, kompleks Mapolres Cirebon Kota. Ada-ada saja. Biadab betul orang itu!

aku tak terlalu peduli. tapi malah berpikir soal buletin tadi sewaktu kawan Bisnis Indonesia, mbak th. wulandari dyah tanya kepadaku, “Apa itu termasuk syahid”. mbak wulan ini Kristen. “Wah itu jelas bukan,” jawabku.
tulisan ini aku buat karena terbersit sesaat, “kenapa bom-bom masih terjadi? kenapa masih saja bikin kerusuhan? Kita ini bangsa apa, toh?”terus aku kasih buletin tadi. dia baca sekilas. entah dibaca seluruhnya atau tidak, sebab aku lagi fokus makan sate padang.

**

bangsa ini sedang sakit. dipikirnya dengan bom bunuh diri itu mereka mendapat surga. surga sepertinya berada di ujung-ujung pelaku bom bunuh diri. apa iya surga didapat dengan membunuh orang? dilihat dari silogisme tentu saja premis-premisnya sudah salah kaprah. ibarat makan rujak tapi pakai bumbu sate, ya jelas enggak mathuk!

kita ini bangsa apa, toh! maunya kok menang sendiri, maunya diperhatikan tapi ndak mau memperhatikan orang lain. orang-orang yang suka ngebom, itu kan orangnya terkucilkan. mereka itu enggak mau campur sama kita-kita ini. kalau barengan, guyon-guyon, nanti dibilang kafir, karena bermain dengan orang-orang tak sejenis. lah, kalau enggak sejenis, sampeyan ini apa, bangsa jin? iblis? atau malaikat?

makanya aku terus terang jadi bingung sendiri. sedari kecil aku diajar sama bapak agar baik-baik dengan tetangga. bapakku cukup dikenal di kampung. boleh dibilang dari jagad sisi utara hingga selatan, nama bapakku semua orang kenal. “Oh pak achmad saroni, rumahnya sana…”

itu kenapa? karena bapakku itu orangnya enggak pilih-pilih. semedulur karo sopo wae. dari tukang becak sampai pejabat kabupaten. bapakku itu perokok berat. kalau merokok bisa sebungkus dua bungkus sehari. dia terkenal dengan rokok dji sam soe, banyak yang kehilangan ketika bapak meninggal. mereka kehilangan semuduluran. kehilangan saat merokok bersama. kehilangan ketika bapak hobi ke bengkel benerin mobil atau vespa sama aku. kehilangan ketawanya yang agak lepas.

resik-resik pak kaji (haji)!”. bapakku itu belum naik haji tapi karena sering pakai sarung dan peci, terus dipanggil kiai atau pak kaji. ya seenaknya orang memanggil saja, tapi bapakku ini enggak marah, malah senyam-senyum. “Alhamdulillah dipanggil kaji. mugo-mugo wae munggah temenan,” katanya. sampai dia meninggal, niat itu belum kesampaian. tapi dua tahun lalu, ibukku titip mangkatke bapak haji lewat adik bapak. mudah-mudahan, terkabulkan.

apa yang ingin aku katakan dari tulisan ini? kita ini umat Islam sudah diingatkan berkali-kali bagaimana bertetangga dan hidup berdampingan dengan lainnya.

Rosulullah itu panutan kita yang paling benar. Sifat Rosul itu Al-Quran. model semedulur dengan siapa saja itu harus ditegakkan. kita ini hidup bersama dengan siapa saja, bukan? kita ini punya tetangga. entah itu kawan atau lawan. kafir atau tidak. fasik atau tidak.

Allah SWT saja sudah menjelaskan dalam firman-Nya: “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, keluarga, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga jauh” (QS Al-Nisa [44]: 36).
apa ya orang yang ngebom itu tidak baca kitab Al Quran? Kalau tidak, lah kitabnya sampeyan itu apa? Primbon? SDSB? Das Capital? atau apa?

orang-orang yang suka ngebom itu kan enggak punya sedulur. hidupnya kebingungan. pengennya dapat surga langsung. mungkin bom bunuh diri itu dianggapnya diskon perjalanan hidup. kalau enggak bom bunuh diri kan lama dan mahal. tapi apa yo enek kayak gitu?

kalau mau jadi orang Islam, ya Islam beneran. kalau mau jadi orang Kristen ya jadi orang Kristen beneran, jadi Hindu ya Hindu beneran, Budha ya Budha beneran. enggak usah neko-neko. kalau udah seperti itu kan beres.

Kanjeng Nabi saw pernah bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatiku untuk berbuat baik kepada tetangga hingga aku menyangka dia akan mewariskannya-hak waris antar tetangga.

Dikutip dari bukunya Adnan Tharsyah, “Manusia yang Dicintai dan Dibenci Allah: Kunci-kunci Menjadi Kekasih Allah“(PT Mizan Pustaka: 2004), Rosul bersabda,”Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Orang orang bertanya, siapa wahai Rosulullah? Beliau menjawab orang yang tidak memberikan ketenangan terhadap musibah tetangganya.

Nabi memerintahkan kita untuk hidup bertetangga yang baik. Bahkan, Rosul sampai bersumpah seperti itu. Adnan menafsirkan hadis itu bahwa musibah (al-ba’iqah) adalah bala, kejelekan, keburukan, bencana, dan sesuatu yang membinasakan.

Adnan mengutip apa yang dikatakan Syaikh Abu Muhammad ibn Abi Hamzah. Syaikh Abu, suatu kali, berkata, “menjaga tetangga termasuk dalam kesempuranan iman. dahulu orang jahiliyah melakukan hal tersebut, melakukan wasiat bisa dilakukan dengan memberikan berbagai macam kebaikan sesuai dengan kemampuan seperti hadiah, mengucapkan salam, bermua ceria, ketika bertemu, mencari tahu keadaan, dan membantu hal yang dibutuhkan.”

“…sabda Rosul itu tiada lain adalah peringatan untuk memerhatikan hak tetangga dan menganggapnya sebagai dosa besar jika memudaratkannya. hal tersebut berlaku untuk tetangga saleh dan tidak saleh.”

“berbuat baik kepada tetangga juga mencakup berbuat baik kepada semua orang. memberikan nasihat yang baik mendoakan agar mendapatkan hidayah dan tidak memudaratkannya kecuali situasi ketika dia memang harus dimudarati, baik dengan ucapan maupun perbuatan…”

“tetangga tersebut bisa ditinggalkan dengan niat untuk mendidiknya tetapi harus dijelaskan penyebab hal tersebut agar ia berhenti dari kejelekannya.”

mudahnya, bila sampeyan membuat sup atau makanan, kita ini diminta untuk memberi sebagian. meski apa yang sampeyan berikan itu tak seberapa nilainya. bahkan Rosul pernah bersabda, “wahai perempuan mukmin janganlah seseorang menghina tetangganya walaupun memberikah dengan hadiah kuku domba.

yang dimaksud Rosul bukan bentuk hadiahnya tapi maknanya. bukan besar kecilnya hadiah. tapi hadiah itu sebagai bentuk rasa bersyukur untuk hidup berbagi.

**

makanya kita ini diminta untuk semeduluran, bukan saling membenci. atau malah mencari masalah ngebom atau bunuh tetangga. tetangga itu ya termasuk musuhmu atau kawanmu itu. “saling memberi hadiahlah kalian, pasti akan saling mengasihi,” begitu Rosul bersabda.

Syaikh ahmad al-sa’dani dalam “Sajian Ruhani Penyejuk Iman (10 resep hidup mulia berdasarkan Al -Quran” [Mizan: 2010]) menuliskan sabda Rosul saw, begini: “Tahukan kalian apa hak tetangga? jika ia meminta bantuanmu, bantulah. jika ia mendapat musibah hiburlah, jika ia mendapat kebaikan ucapkanlah selamat keapadanya, jika ia ditimpa musibah hiburlah, jika ia meninggal antarkan jenazahnya.”

“jangan membangun rumah lebih tinggi daripada rumahnya sehingga menutup lubang udara kecuali atas izinnya, jangan mengganggunya dengan bau kotoranmu, tetapi hendaklah kamu membuangnya.”

“jika kamu membeli buah-buahan hadiahkanlah sebagian kepadanya jika tidak mungkin menghadihaknan sebagiannya bawalah masuk buah-buahan itu ke rumahmu secara diam-diam.”

“jangan biarkan anakmu membawa buahnya itu keluar sehingga anak tetanggamu menangis karena menginginkannya. apakah kalian memahami apa yang aku katakan? Hanya segelitir orang yang dapat memenuhi hak tetangga yaitu mereka yang dirahmati Allah.”

Termasuk jug didalamnya, kita juga diminta bersabar bila terhadap gangguan tetangga. Kisah kesabaran kita terhadap gangguan tetanggap, dengan apik diriwayatkan dalam kitab Al-Kaba’ir karya Al-Dzahabi. Dalam kitab tersebut dikisahkan tentang Malik bin Dinar, tokoh sufi.

Malik mengatakan, “tetangganya seorang Yahudi. orang Yahudi itu membuat kamar mandi bersebelahan dengan dinding kamar mandi tidur Malik bin Dinar. dinding kamar mandi itu rusak sehingga setiap hari kotoran dan najis masuk ke dalam rumah Malik.”

“setiap hari pula Malik membersihkan rumahnya dan tidak pernah mengatakan apa pun kepada tetangganya. akhirnya tetangga itu mengetahui sehingga merasa bersalah lalu mendatangi Malik dan berkata, “aku telah sering mengggumu , tapi mengapa kamu bersabar?”

“Malik menjawab, karena Nabi saw, berwasiat kepada kami tentang tetangga sehingga kami mengira bahwa tetangga berhak mendapat waris.” orang Yahudi itu akhirnya masuk Islam dan sangat taat.

kalau kemudian terjadi caci-maki, bentrok, gontok-gontokan, bahkan sampai bunuh-bunuhan sesama bangsa atau sedulur sendiri – di sana juga ada kaum muslim- yang jadi panutan sampeyan itu siapa?

kalau ngaku Islam, panutannya ya Rosulullah saw, Kristen ya panutannya Yesus, Hindu ya Dewa Wishnu, Budha ya Sidharta Gautama. kitabnya ya jelas, Islam itu Al-Quran, Kristen itu Injil, Hindu itu Weda, dan Budha itu Tripitaka. kalau sampeyan sudah sesuai dengan jalan masing-masing, masalah bom-bom begini enggak mungkin terjadi. Aku sekarang jadi tambah bingung, kalau sampeyan bikin kerusuhan dengan ngebom begitu terus kitab sampeyan itu apa?

tabik,

ASN

Kalibata, 17042011

One thought on “Kitab Sampeyan Apa, toh?

  1. kitab yg saya percayai dan imani belumlah selesai dan khatam dipahami, klo cuma dibaca atas nama mulut udah banyak yg selesai. tp klo dipahami dan dilaksanakan belum.entah sampai kapan, yg jelas cuma berusaha..semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s