Perpustakaan DPRD DKI Bak “Etalase Buku”


JURNAS.COM | JAM baru menunjukkan pukul 11.15, Senin (2/5) di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta. Hilir mudik pegawai negeri sipil sibuk bekerja.

Seorang pegawai menenteng tumpukan bundelan klipingan koran hari itu, kemudian mengantarnya ke ruang-ruang anggota dewan. Hampir setiap hari, begitulah kesibukan bagian publikasi, dokumentasi dan perpustakaan.

Kusno masih duduk santai di kursinya, ketika Jurnal Nasional menemui di ruangannya. Kusno adalah Kepala Sub Bagian Publikasi, Dokumentasi dan Perpustakaan DPRD DKI. Ketika Jurnal Nasional ingin bertanya tentang perpustakaan, awalnya Kusno enggan memberikan informasi. Bila menyangkut kondisi perpustakaan baik frekuensi pengunjung dan jumlah buku, ia menyarankan ke petugas jaga karena lebih paham.

“Sebetulnya yang lebih paham penjaganya. Tapi ini sedang cuti, yang satunya sudah pensiun per 1 April lalu,” katanya. Maklum, dirinya memang baru di posisinya tersebut. Ia baru sebulan dipindah dari bagian kepegawaian. Tapi akhirnya ia mau mengantar Jurnal Nasional ke perpustakaan.

Menurutnya, ada dua petugas yang tiap hari jaga. Karena ada yang pensiun, dalam waktu dekat pihaknya akan mencarikan pengganti.

Begitu memasuki ruang perpustakaan yang berada di lantai 1 dengan luas kurang lebih 100 meter persegi, tak ada petugas jaga di sana. Makanya kondisi ruangan senyap dengan ditingkahi suara AC. “AC ini dihidupkan terus selama 24 jam,” kata Kusno.

Bentuk ruangannya tak persis persegi karena dindingnya menyudut di sisi-sisinya, sehinga terkesan tak beraturan. Ruangannya terdiri dari ruang baca, ruang kepala perpustakaan, dan sisi belakangnya untuk tumpukan beberapa koran langganan.

Menurut Kusno, ruang kepala perpustakaan sudah tak digunakan lagi semenjak perpustakaan bergabung dengan bagian publikasi dan dokumentasi. Bila di perpustakaan lain, setiap masuk selalu ada daftar buku pengunjung, tapi kali ini tidak seperti itu.

Kusno sendiri tak tahu menahu di mana buku pengunjung itu berada, ketika Jurnal Nasional menanyakan jumlah pengunjung. Lagi-lagi, penjaga perpustakaanlah yang memegangnya.

“Kalau jumlah pengunjung saya enggak hafal, nanti saja tunggu petugasnya,” katanya. Kusno menceritakan, memang tak banyak pengunjung perpustakaan. Lebih banyak staf ahli anggota dewan, yang datang untuk mencari referensi buku atau peraturan daerah.

Meski begitu, perpustakaan ini juga terbuka bagi orang luar dewan, tapi hanya diperbolehkan baca di tempat karena buku tidak dipinjamkan. Selain berisi aturan-aturan daerah, juga terdapat koran, majalah, dan buku literatur. Ada buku politik, agama, biografi, sejarah, dan lainnya. Kusno mengatakan, majalah masih aktif berlanganan ada dua yaitu Gatra dan Tempo, sementara koran sebanyak 21 harian.

Koleksi bukunya banyak yang menarik seperti biografi “Kartini”, “Soekarno Sebuah Biografi Politik” (John David Legge: 1985), “Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa (Dawam Rahardjo: 1996), “Panglima Besar Sudirman” (1986), “Muhammad Sebagai Pemimpin Militer” (Afzlur Rahman), “Pedoman Ideologi Islam” (Yusuf Qardhawi), “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Deliar Noer), dan masih banyak lainnya.

Di meja baca, terdapat tumpukan koran dan mesin ketik kuno. Karena keterbatasan ruang, hanya dua rak ditata berjajar. Beberapa lemari penuh tumpukan buku dan dokumentasi perundang-undangan.

Sementara di pojok ruangan bertumpuk secara berderet koran-koran lama. Kusno tak hafal berapa jumlah koleksi bukunya, atau penambahan buku baru. Tapi, katanya, memang akan ada penambahan buku. Ke depan, katanya, perpustakaan akan ditata kembali agar tampak rapi.

“Kami sedang berencana untuk bekerjasama dengan pustakawan untuk membantu menata ini. Kami juga akan mencari petugas jaga profesional,” katanya.

Ruangan perpustakaan ini lebih tepat seperti “etalase buku”, buku-buku tersebut sudah serupa barang-barang yang hanya ditumpuk, tertata rapi, dan indah dipandang mata, tapi tak tersentuh untuk dibaca.

Ketika Jurnal Nasional mengambil salah satu buku, sampul buku ada yang lengket dengan buku lainnya, sehingga agak merepotkan. “Sepertinya enggak pernah dibaca ya pak?” tanya Jurnal Nasional.

“Ya enggak bisa dibilang begitu sih, ada beberapa yang datang juga,” kata Kusno sambil tersenyum, sedikit menahan malu.

Tahun ini, DPRD DKI menganggarkan bahan bacaan anggota dewan sebesar Rp440 juta, penyusunan, penerbitan dan pengiriman majalah “Legislatif Jaya” sebesar Rp402,6 juta, penyusunan, penggandaan dan pendistribusian kliping koran sebesar Rp136,8 juta.

Selain itu, yang cukup mencolok adalah pengadaan buku Ensiklopedia sebesar Rp1 miliar. Anggaran bernilai besar ini mudah-mudahan tepat sasaran dan tak terbuang percuma. Sebab, bisa-bisa buku-buku ensiklopedia tersebut bisa bernasib sama hanya menjadi “Etalase Buku”.

4 thoughts on “Perpustakaan DPRD DKI Bak “Etalase Buku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s