Cinta Gola Gong

MEMBACA ITU SEPERTI menyelami. merasakan kenikmatan bercakap-cakap dengan si penulis. menangkap dan mengikat makna dari setiap larik kalimat yang tersusun.

itulah yang aku rasakan ketika membaca kisah cinta sepasang suami-istri, Gola Gong dan Tyas Tatanka. keluarga kecil dengan penuh cinta, yang dirajut dari kecintaan terhadap dunia tulis-menulis.

kisah cinta mereka bukan kisah cinta muda-mudi yang bertemu di mal, cafe, atau bioskop, kemudian kencan di akhir pekan. atau kisah yang terajut melalui blackberry messenger ala anak alay masa ini.

kasih sayang mereka muncul dari korepondensi. siapa yang tak mengenal nama Gola Gong, penulis novel termasyhur “Balada Si Roy” yang muncul di Majalah HAI akhir masa1980-an. ia memiliki sahabat pena yang banyak sekali. ia mencintai hal berkirim surat, sebagai salah satu cara mengasah keterampilannya menulis. dan salah seorang yang saat ditemui dalam temu penulis di Solo suatu kali, Tyas Tatanka, dialah yang kelak menjadi istrinya.

dalam buku “Ini Rumah Kita Sayang…” (Gema Insani Press: 2006), keduanya menuliskani kisah-kisah cintanya. cerita yang mengalir indah. bagaimana Gong begitu resah di awal-awal keputusannya untuk menikah. di sela-sela desakan dari keluarga. sebab kakak dan adiknya sudah keburu mendahuluinya menikah. dalam umur 33 tahun, ia pun putuskan menikah. sebuah keputusan yang tersusun lama untuk melepas jiwa kelaki-lakiannya, sebagai jiwa pengembara.

hal serupa dialami Tyas. ia berkirim sebuah puisi, yang dianggap Gong sebagai suatu tanda. puisi itu seperti down payment, bahwa rasa cintah dan kasih sayang Tyas telah ada, meski dirinya malu mengutarakan itu. Gong pun sudah gumede rumongso (ge er), seolah-olah sajak-sajak gadis Solo itu isyarat untuk siap dilamar. “Saya merasa Tyas sudah “melamar” saya lewat sajaknya,” kata Gong. (hal.25)

sebagai istri, Tyas memilik prinsip patuh dan setia kepada suami. tak hanya memaknai istri dalam budaya Jawa sebagaikanca wingking (teman tidur atau memasak di dapur), tapi seorang istri bisa mendampingi suami dalam merenda kehidupan keluarga. mengurus anak, keuangan, dan meluruskan suami, jikalau sekali-kali langkahnya keliru.cerita unik, peliknya hati, harapan dan cita-cita terangkum elok dalam buku mungil hanya setebal 167 halaman ini. bagaimana mereka masih mengontrak, berjalan bergandengan tangan di jalan-jalan ibukota, makan malam di warteg, menakar dan menengok rumah-rumah mewah di Kedoya Jakarta Barat, menontonn film dan lainnya.

“Bagi saya menjadi ibadah paling fun, memperlakukan suami bak raja saat bermesraan, sementara di saat lain, saya yang menjadi ratunya, hoho..hoho,” kata Tyas. (hal.43).

bagi Tyas hanya ridha Allah-lah yang ia harapkan. makanya, keputusan tak bekerja di luar rumah adalah keputusan besar dalam hidupnya, untuk tidak mengejar ambisi. di situlah ia menemui telaga ikhlas. dan akhirnya, dari rumahlah ia merenda hidup sebagai penulis.

ya, mereka membuktikan bahwa hidup bisa dirajut hanya dari kata. mereka membangun keluarga melalui kata-kata.

“…Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantra…,” suatu kali begitulah penyair Sutardji Calzoum Bachri berkata. barangkali bagi Gong dan Tya, kata-kata itu persis dijadikan “mantra”, sehingga puluhan karya telah terwujud. dari dunia yang absurd, kata menjadi konkret dalam kehidupan nyata. begitulah, kata-kata menjadi indah dan menyatakan dirinya.

apakah kini, kalian tak ingin meniru mereka? dan, sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer berpesan,”Menulislah. Jika engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dunia dan dari pusaran sejarah”.

tabik,

ASN

Kalibata, 05052011

One thought on “Cinta Gola Gong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s