Mengunyah Steve Jobs (2)

WALTER ISAACSON adalah wartawan, ia pernah memimpin CNN dan sebagai manajer editor Majalah Time. Setelah keluar dari dua perusahaan itu ia menjadi CEO Aspen, sebuah perusahaan nirlaba internasional yang bergerak di bidang riset untuk membina kepimipinan, memuat dialog isu-isu kontemporer melalui seminar.

Kepiawaiannya menulis biografi, sepertinya membuat Jobs kepincut menggandengnya. Isaacson adalah penulis biografi “Einstein: His Life and Universe”, “Benjamin Franklin: An American Life”, dan “Kissinger: A Biography”.

Tak mudah bagi Jobs untuk membujuknya agar mau menulis dirinya. Isaacson pernah menolak tawaran itu, ia menganggap Jobs masih terlalu ‘muda’ untuk ditulis sebab masih berada di tengah karir yang sedang naik turun, dan Jobs masih dalam suka-duka dalam kerjanya. Makanya ia keberatan untuk menulisnya.

“Tidak sekarang. Mungkin satu atau dua dekade lagi, saat kau pensiun,” kata Isaacson (hal.xvi).

Tapi Jobs berpikir lain, ia seperti memiliki kekuatan untuk membaca masa depan. Saat Isaacson meluncurkan buku Einstein, Jobs diundang. Sambil berjalan dan bincang-bincang, Jobs menawarinya kembali soal ide bukunya. Jobs mengatakan bahwa dirinya akan menjadi topik yang menarik. Dan buktinya, sepekan diluncurkan buku Jobs laris manis tanjung kimpul! Tak ada yang menduga, tapi Jobs berpikir lain.

Keduanya memang sudah saling mengenal sejak Jobs mulai menggembor-gemborkan produknya Macintosh di era 1980-an. Sejak saat itu, ia melihat semangat juang Jobs dalam berinovasi. Ia mulai menyukai Jobs.

Setelah penolakan itu, ia pernah menanyakan soal logo Apple melalui email: apakah logo itu untuk penghormatan Alan Turing – penemu awal komputer asal Inggris, yang memecahkan kode pada zaman perang Jerman dan kemudian bunuh diri dengan menggigit apel berlapis sianida. Tapi  Jobs menjawab bahwa seandainya saja dia memikirkan hal tersebut, tapi dia tidak pernah berpikir itu.

Isaacson pun secara tak sadar mulai mengumpulkan catatan tentang Jobs. Padahal, ia belum akan memutuskan untuk menulisnya. Ia tahu Jobs adalah orang yang menjaga privasinya. “…untuk berjaga-jaga seandainya saya benar-benar memutuskan untuk menulis biografi tersebut,” katanya.

Tapi pada 2009, istri Jobs, Laurene Powell memintanya tawaran itu sekali lagi. Dalam kata pengantarnya, tak jelas Isaacson pernah ditawari menulis biografi berapa kali. Ia tak runtut menuliskan waktunya. Ia suka berloncat-loncat.

“Jika kau akan menulis buku tentang Steve, lebih baik kau menulisnya sekarang,” kata Laurene (hal. xvii). Saat itu kondisi Jobs sakit. Dalam keadaan sakit, Jobs pun selalu tertutup, bahkan istrinya pun tak tahu. Pada awal Jobs meminta Isaacson menulis buku, Jobs pun sudah sakit kanker.

“Jobs menelpon saya tepat sebelum dia akan menjalani operasi untuk mengangkat kanker,” kata Isaacson.

Akhirnya, Isaacson pun setuju. Ia mulai bertamu ke rumah Jobs di Palo Ato, California. Jobs adalah orang yang pekerja keras dan selalu ingin ada invosi di setiap produknya. Ia terinspirasi oleh Bill Hawlett dan David Packard yang mendirikan HP. Ia ingin memiliki perusahaan besar yang diilhami oleh kreativitas inovasi yang bisa bertahan lama.

“Aku selalu mengganggap diriku sendiri sebagai orang yang berperikemanusiaan ketika masih kecil, tetapi menyukai elektronika,” kata Jobs.

“Lalu aku pun membaca salah satu kisah pahlawanku, Edwin Land dari Polaroid. Ia mengatakan tentang pentingnya orang-orang dapat bertahan di antara bidang kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Kemudian aku memutuskan itulah yang ingin kulakukan,” katanya.

40 kali wawancara

Jobs punya alasan tertentu memilih Isaacson sebagai penulis biografinya. “Menurutku, kau pintar sekali membuat orang bicara, “ katanya. Ia mewawancari Jobs sebanyak 40 kali atau lebih. Ia lakukan melalui tatap muka, sambil berjalan-jalan, berkendara, dan melalui telepon.

Ia juga menemui keluarga dan seratusan teman, kerabat, pesaing, musuh, dan kolega Jobs, untuk meluruskan cerita Jobs. Insting jurnalisnya membuat buku ini menjadi komprehensif dari segi mana pun. Berbeda dengan biografi-biografi tokoh di Indonesia yang hanya dari satu sisi dan sekilas seperti pembenaran hidup sang tokoh.

Jobs tak menolak, ketika Isaacson mewawancarai orang yang pernah Jobs pecat, sakiti, dan ditinggalkan. Pertama kali, mendengar jawaban-jawaban orang yang pernah berlawanan, Jobs gugup. Tapi, beberapa bulan kemudian ia mulai melunak dan malah meminta mewawancarai lainnya. Jobs tak membatasi kerja Isaacson.

“Aku telah melakukan  banyak sekali hal yang tidak bisa kubanggakan, seperti kekasihku hamil ketika aku berusia 23 tahun dan cara aku mengatasinya,” kata Jobs, “Tetapi aku tidak memiliki fakta memalukan yang harus disembunyikan.”

Ketika naskah itu sudah selesai, Jobs tak pernah menggunakan haknya untuk membaca atau mengoreksi tulisan Isaacson. Begitu pula dengan istrinya, Laurene.

“Ada bagian dari hidup dan kepribadiannnya yang sangat berantakan, dan itulah kenyataanya,” kata Laurene.

“Kau tidak perlu menutupi kesalahannya. Dia pintar sekali berbohong, tetapi dia juga memiliki kisah yang luar biasa, dan aku ingin melihat semuanya diceritakan dengan jujur,” Laurene melanjutkan.

Isaacson menyadari bahwa persoalan kebenaran seperti apa, ia menyerahkan kepada pembaca. Memang akan banyak orang yang berpendapat berbeda terhadap hidup Jobs. Tapi buku ini, kata Isaacson, adalah buku dari seorang yang semangat dan pengusaha kreatif yang memiliki hasrat untuk gigih dan sempurna.

Hasrat itu yang membuat masyarakat dunia bisa menikmati Macbook, IPod, IPhone, dan lainnya. Di saat Amerika Serikat sedang mencari cara mempertahankan era inovasinya, dan ketika masyarakat di seluruh dunia berusaha untuk membangun perekonomia era digital yang kreatif, kata Isaacson, Jobs muncul sebagai satu-satunya ikon dari daya cipta, imajinasi, dan inovasi berkesinambungan.

“Dia (Jobs) tahu cara terbaik menciptakan nilai pada abad 21 adalah dengan menghubungkan kreativitas dan teknologi,” tulis Isaacson (hal. xx)

Jobs bukanlah pemimpin atau manusia sempurna. Kata Isaacson, Jobs adalah sebuah paket sempurna yang bisa disamai. Kini, ia membuktikan prinsipnya yang berbeda itu. Ia pun menjadi bagian dalam legenda sejarah. Bahkan, Macolm Gadwell menuliskan dalam The New Yorker sebagai “Steve Jobs’s Real Genius”.

“Siapa saja orang yang cukup gila untuk berpikir bahwa mereka bisa mengubah dunia, berarti mereka adalah orang yang benar-benar mengubah dunia,” begitulah isi slogan Apple yang berjudul “Think Different” (1997) atau berpikir dengan cara yang lain).

Jalan Damai, 13 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s