Muhaimin dan Doa Tolak Bala

DRAMA politik rombak kabinet Indonesia bersatu II telah usai Oktober lalu. Melihat hasilnya, tanggapan publik toh biasa-biasa saja dan barangkali mau bilang,” Olala…begitu saja?”

Mau dikata menteri-menterinya bagus, tapi kok di dalam hati bilang enggak. Mau bilang enggak pantas, kok ya hasilnya mereka tetap dilantik. Ya sudah. Kita sebagai warga negara yang baik menonton tingkah polah mereka saja. Sampai sejauh mana sepak terjang di tugas barunya.

Barangkali, kalau ada yang ‘keseleo’, paling banter kita tempik sorai dengan tepuk tangan. Yang jadi wartawan kerepotan sana-sini mencari pernyataan. Karena kebanyakan statement, kebenaran yang dicari hilang. Wartawan sibuk mencatat ‘ludah-ludah’ para tertuduh yang malah asyik mejeng di layar kaca. Ya begitulah. Ya sudah.

Tapi ada yang menarik perhatian saya ketika rombak kabinet kemarin. Ketika membaca Majalah Tempo edisi 10-16 Oktober 2011, ada judul menarik dari tulisan media yang berkantor di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat itu: “Wirid dan Gertak Sambal”.

Tulisan itu diawali dengan cerita aktivitas para kiai dan santri pondok pesantren yang khusus diundang Partai Kebangkitan Bangsa ke kantor pusatnya di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Mereka melakukan doa-doa amalan meminta pertolongan dan perlindungan (hidzib an-nashr) dan doa tolak bala (hidzib al-bahr). Termasuk, juga amalan doa Nabi Ibrahim. Amalan itu wajib dilakukan selama 40 hari.

Tujuannya adalah untuk melindungi dan menyelamatkan ketua partai itu, Muhaimin Iskandar dari segala cobaan dan masalah. Muhaimin sedang dirundung kasus korupsi skandal suap sebesar Rp1,5 miliar di Kemenakertrans, tempat dirinya sebagai menteri.

Saat itu, Muhaimin yang terganjal kasus suap, desas desusnya bakal diganti. Makanya para kiai dan santri disiapkan untuk ‘membentengi’ dirinya. “Jadi semua ritual itu dimaksudkan agar Muhaimin lolos dari kasus di KPK dan tak ikut digeser dari kursi menteri,” ujar sumber Tempo di PKB.

Mau percaya atau tidak, begitulah sumber itu bicara sama Tempo. Kesukaan majalah ini tak menyebutkan nama, membuat pembaca ‘terpaksa’ percaya. Padahal belum tentu juga, Tempo benar punya narasumber. Apa boleh buat, kebiasaan ‘buruk’ ini, selalu memaksakan kehendak orang harus memercayai mereka bahwa sumber itu valid dan kompeten. Pokoknya A-1, deh!🙂

Saya kok jadi ingin ketawa sendiri membaca artikel itu. Sedari bangun pagi tadi, saya langsung menyaut majalah ini dan membuka-buka lagi. Setelah pinjam dari kantor pekan lalu, saya belum sempat membaca seluruhnya. Setelah dibuka pas tertarik di artikel itu.

Lagi-lagi saya berpikir begini, kok ya ada menteri ketakutan dirombak atau lengser. Gimana-gimana hak presiden mau mencopot si menteri atau tidak. Ini menunjukkan kalau si menteri takut kehilangan wibawa, jabatan, dan tentunya uang.
Saya tidak tahu, lantaran dia bekas seorang santri, kemudian tahu doa-doa tolak bala, maka dipraktekkanlah ritual itu agar Presiden SBY ‘terlabur’ matanya oleh awan-awan doa, sehingga harusnya mencoret Muhaimin jadinya si menteri lain.🙂

Kayak jaman sekolah saja. Saya dibekali doa-doa agar bisa lulus ujian (ini beneran loh!). Kalau dulu saya diberi doa itu karena saya tidak ada masalah, tapi saya hanya butuh pertolongan Allah subhanahu wa ta’alla biar lancar dan tawakal dengan hasilnya. Maksudnya, biar apa pun hasilnya itu yang terbaik. Bukan, setiap mencoret pilihan jawaban, secara mujarab tangan berjalan sendiri mencoret yang benar. Tapi lebih pada ketenangan batin sehingga bisa berpikir lebih cermat menghadapi persoalan.

Kalau yang satu ini, membuat saya ketawa. Yang lebih lucu, ya para kiai dan santri, diminta datang untuk berdoa di tengah hingar bingar dan politik omong kosong di kota metropolitan ini.

Saya masih bingung dengan panitia yang membikin acara ini. Atau para kiai itu memang sudah ‘terkontaminasi’ politik, jadinya seperti itu. Tapi suatu kali dalam persidangan Tipikor, Dharnawati, tersangka suap proyek infrastruktur kawasan transmigrasi, menyebutkan bahwa Muhaimin membutuhkan uang untuk kiai.

“Cerita itu terungkap dalam dokumen pemeriksaan Dadong Irbarelawan, Kepala Bagian Evaluasi dan Perencanaan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yang salinannya dimiliki Tempo. Dadong juga tersangka dalam kasus suap senilai Rp 1,5 miliar tersebut.

Beginilah keterangan Dadong itu: “Ibu Nana (nama panggilan Dharnawati) bercerita kepada saya bahwa Ibu Nana pernah ditelepon oleh Pak Dani. Menurut Ibu Nana, pada saat itu Pak Dani mengatakan bahwa Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi membutuhkan uang untuk diberikan kepada para kiai. Kebutuhan untuk itu lebih dari Rp 1,5 miliar sehingga Ibu Nana diminta untuk segera mencairkan Rp 1,5 M.” [1]

Ah, saya enggak mau suudzon, karena sejumlah kiai sudah membantah itu. Yang jelas, kisah ini seperti anak kecil merengek minta bundanya membelikan pistol-pistolan di abang jerapit yang sedang lewat. Padahal, si anak sudah membuat kamar berantakan dengan cucuran bedak. Si anak berharap rengekan itu membuat bundanya kasihan dan membelikan pistol untuknya. Sayangnya, bunda tahu bagaimana membuat si anak agar belajar dari tingkah lakunya.🙂

Jalan Damai, 15 November 2011

Tabik,
ASN

[1] http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2011/09/12/fks,20110912-2066,id.html

2 thoughts on “Muhaimin dan Doa Tolak Bala

  1. Silahkan anda pelajari kasus ini dari banyak sumber bung, banyak kejanggalan-kejanggalan yang ada di sana, saya 100% yakin kalo kasus ini konspirasi politik :
    1. Dharnawati mengaku nggak kenal muhaimin, tapi justru kuasa hukumnya sendiri mengatakan hal yang bertentangan. kok bisa, pernyataan kuasa hukum tidak sama dengan kliennya????
    2. Kalo memang muhaimin bersalah, kenapa mau datang di acaranya TV-One Jakarta Lawyers Club
    3. Dana PPID ini bukan dananya menakertrans, tapi menkeu.. ngapain nyuap muhaimin yang nggak ada hubungannya sama PPID??? Goblok banget Dharnawati bisa ketipu Dani, Dadong sama Nyoman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s