Sajak Pelacur Tinta

Aku memeluk malam di langit yang padam
di sisimu yang meruntuki pilu
karena kata mereka
dikau juru tinta murahan

: ah kau ini seperti bunglon, kataku

Sejak dirimu memeluk kertas dan tinta
engkau menjual nama kebesaran

: aku membela rakyat!

bukan, bukan itu yang kudengar dan kulihat
tapi sejak itu pula kau mengais sen demi sen
melalui tinta yang kau goreskan.

daku paham kau perlu makan di hari siang
perlu nyaman di malam tenang

dikau slalu bersuara lantang:
bahwa kejujuran dan keadilan perlu ditegakkan
tapi mata kau seperti buram ketika
sen demi sen kau kantongi di balik
baju rendamu itu.
kritikkmu hanya semu dan dunia tak beda
selain abal-abal belaka.

: dan kumenyebutmu pembual

kau tak jauh beda dari peminta-minta
dikau tak suka membantah
sebab kau beralasan: aku hanyalah menerima
tapi, kau hipokrit dengan sen demi sen yang mengalir
di darahmu adalah karat yang tak kan lepas
sebelum dikau merunduk pilu
dan berkata, bahwa aku pelacur tinta.

aku berkata pada bumi
seberapa luaskah engkau ini?
aku ingin memeluk langit ini
dan bersembunyi di balik galaksi
sebab hati telah nyeri melihat
pelacur-pelacur itu tertawa makin nyaring
di telinga dan kedua mataku ini.

tabik,

ASN

One thought on “Sajak Pelacur Tinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s