Buku: kebutuhan atau gaya hidup?

BUKU apa yang mengubah hidup Anda? Tak banyak orang di Jakarta ini, bahkan untuk seluruh negeri ini mengatakan, “Ini buku yang bagus, ini membuat saya mengubah cara berpikir saya terhadap hidup.”

Alih-alih menjawab seperti itu, barangkali malah akan mengatakan,”Apa bagusnya buku itu? Makan saja enggak bisa, mau beli buku. Buku bukan kebutuhan, tapi pemborosan.”

Sudah tidak asing lagi, bilamana kebudayaan baca di Jakarta, atau seantero negeri ini masih kurang begitu baik. Kita bisa cek pengamatan pertama di sekeliling Anda; berapa jam keluarga Anda menonton televisi dibandingkan membaca sebuah koran, majalah, atau buku?; berapa banyak diantara calon penumpang busway atau kereta di Jakarta yang rela sibuk dengan buku yang dibawanya; atau sekedar membawa sebuah buku di tasnya, meskipun itu sebuah komik, yang sering dianggap bacaan rendahan.

Kebiasaan membaca di publik Jakarta belum sepenuhnya tersadarkan. Mereka yang sadar atau boleh jadi yang pura-pura ingin dianggap intelektual, membaca di kafe, kedai makan, yang khusus ada sajian kopi dan lampu yang hangat, dan menempatkan diri di paling pojok; seolah-olah sembunyi dari kebisingan kota, tapi entah apakah membacanya itu sebagai bagian dari perubahan hidupnya.

Ketika firman Allah SWT turun pertama kali, Nabi Muhammad diminta untuk membaca. Malaikat Jibril menyuruh anak Abdullah dari Bani Hasyim Mekkah itu, “Iqra..” artinya bacalah.

Muhammad SAW adalah seorang yang ummi, tidak bisa baca dan tulis, tapi dengan bantuan Jibril dirinya bisa membaca. Umatnya pun hingga kini diminta terus membaca Al Quran, wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad melalui Jibril. Di sini, umat muslim sudah sejak awal kelahiran agama ini, sudah diminta untuk mencintai membaca, apa pun itu bentuknya; sebab membaca bisa berupa teks alam atau sebuah teks tertulis.

Jadi, tak ada alasan bagi muslim untuk tidak mengenal membaca. Kalau pun kemudian, banyak muslim terlantar hidupnya, negerinya muslim kok miskin dan terbelakang, bisa jadi karena membaca ayat Tuhannya pun enggan. Padahal, resep kehidupan sudah tertulis di kitab suci.
16-29 Desember 2011

Tabik,

ASN

3 thoughts on “Buku: kebutuhan atau gaya hidup?

  1. kebutuhan. bisa juga sebagai gaya hidup, jika menggunakan asumsi bahwa gaya hidup adalah salah satu dari kebutuhan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s