Dari Johar 8: Pasar Boplo

SELASA malam, 31 Januari 2012. Sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya, seorang wartawan menanyakan, “Kantormu kebakaran ya?”

Saya sudah di rumah waktu itu, saya pun menelepon kawan kantor. Benar, kebakaran terjadi di belakang kantor Jurnal Nasional. Karyawan sempat panik dan keluar gedung, tapi api tidak mencapai gedung kantor. Hanya Pasar Boplo atau Gondangdia yang ludes dilalap si jago merah. Enam kios dan tiga rumah raib. “Tadi sempat evakuasi, sekarang kita sudah kerja kembali,” jawab kawan saya itu.

Terbakarnya sebuah pasar, otomatis melumpuhkan roda perekonomian masyarakat bawah. Berapa jumlah pedagang yang merugi hingga jutaan rupiah karena dagangan dan kiosnya hilang. Tak hanya itu, kebakaran itu juga mengancam kerja ekonomi di sekelilingnya, ada perusahaan rekaman Nagaswara dan tentu kantor saya sendiri.

Bayangkan kalau api itu melalap dua kantor tadi, secara domino melumpuhkan ekonomi usaha lainnya. Ada orang gagal jadi artis gara-gara rekaman gagal, oplah koran turun karena tak terbit berbulan-bulan dan tentu tak ada pemasukan perusahaan. Para karyawan menunggu gaji yang tertunda, sedangkan utang keluarga menumpuk, karena terlambat bayar.

Pemerintah barangkali tak menaruh perhatian sampai hal sekecil itu. Pemerintah baru sadar bila hal itu terjadi di Pasar Tanah Abang. Di mana, ratusan mata rantai usaha ada di pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara. Tapi, kemungkinan hal itu kecil bagi Pasar Boplo untuk masuk radar perhatian pemerintah. Sebab pasar tradisional sepertinya bukan target pertumbuhan ekonomi pemerintah. Lebih menarik lonjakan saham di Bursa Efek Indonesia.

Selama ini pemerintah selalu berpikir meningkatkan investasi asing ke dalam negeri. Lembaga pemeringkat investasi internasional Fitch dan Moody’s Investor Service seolah menjawab mimpi pemerintah. Mereka menyatakan Indonesia sebagai negara layak investasi (investment grade).Kabar baik setelah 14 tahun terlena dalam utang negara.

“Penaikan peringkat merefleksikan pertumbuhan ekonomi yang kokoh, tingkat rasio utang rendah, memperkuat likuiditas eksternal, dan kebijakan makro yang cukup hati-hati,” ujar Director Asia-Pacific Sovereign Ratings Fitch Philip McNicholas melalui situs resmi di Singapura, 15 Desember 2011.

Fitch memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia rata-rata lebih dari 6 persen per tahun hingga 2013 meskipun di tengah pusaran kurang kondusifnya perekonomian global.

Fitch menilai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia adalah ekonomi berorientasikan konsumsi domestik. Keunggulan itu mendorong pertumbuhan ekonomi yang relatif kokoh tanpa terganggu ketidakseimbangan eksternal.

Fitch benar, kekuatan ekonomi Indonesia ada di ekonomi rakyat kecil bukan di investor asing. Sayangnya, pemerintah lebih berbangga hati ketika ratusan triliun investasi ada di bursa saham. Dan ketika para spekulan menggoyang bursa, pemerintah pun kebakaran jenggot.

Krisis ekonomi di Yunani, memang tak menembus Indonesia, tapi jauh-jauh hari pemerintah membentengi agar tak merembet ke Indonesia. Begitu pula, ketika terjadi krisi Amerika Serikat tahun 2008, para bankir dan ekonom cemas para investor kabur dari Indonesia.

Tapi sekali lagi para bankir dan ekonom tak gusar ketika para pelaku usaha domestik menjerit soal modal, infrastruktur, suku bunga tinggi, dan politik gaduh di pusat. Sementara mereka yang di bawah terus bertahan dengan sendirinya.

Begitulah. Mereka para pelaku pasar tradisional, usaha kecil menengah bawah, yang mengendalikan pesawat yang bernama Indonesia ini menjadi tangguh. Bukan usaha besar yang “manja” dan terus merengek minta beragam kemudahan.

(dimuat di Jurnal Nasional, 7 Februari 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s