Dari Johar 8: Uang dan Sebuah Kutukan

WILL Salas sadar bahwa hidupnya hanya mencapai 25 tahun, dan setelah itu ia hanya punya modal waktu sebanyak satu tahun. Jika tak pandai mengatur, jatah waktu itu bisa habis dalam sejam. Padahal, Will orang miskin.

Makanya, ia berangkat kerja seperti orang diburu anjing. Ia berlari untuk memperpendek jarak dan agar waktu tidak terbuang percuma. Ia tak naik bus karena tiket mahal. Waktu adalah uang, ia ingin berhemat. Saban hari, hidupnya adalah memburu waktu, sebagai modal untuk memperpanjang hidupnya.

Sementara orang-orang kaya atau yang memiliki warisan banyak hidup istimewa di Kota Greenwich. Memiliki jatah waktu hidup puluhan tahun bahkan berabad-abad, tentu saja hidup tak perlu tergesa-gesa.

Mereka “merasa” tidak perlu lagi bekerja. Tapi mereka membuka kasino, berjudi, mabuk di bar, bahkan “mengatur waktu” hidup orang lain dengan menguota waktu per wilayah. Apa susahnya bagi orang kaya mengambil jatah waktu orang miskin?

Di zaman itu, tak ada yang namanya uang, tapi waktulah yang menjadi uang. Time is money. Segala sesuatu dibayar dengan waktu yang kita miliki. Semakin banyak kita mengeluarkan waktu, artinya hidup kita semakin menipis. Dan ajal pun di depan mata.

Itulah yang terjadi di film In Time (2011) garapan Andrew Niccol, yang dibintangi Justin Timberlake (Will Salas) dan Amanda Seyfried (Sylvia Weis). Andrew menyindir manusia modern dan kaum kapitalis yang selalu hidup diburu waktu (uang), sehingga yang dipikirkan adalah uang dan uang.

Kaum kapitalis tentu tidak memikirkan hidup orang kecil. Mereka hidup manis di menara gading karena banyak uang, sedangkan orang miskin harus diburu waktu untuk mencari uang, hanya karena untuk hidup.

Dunia ini seperti tidak adil, bukan? Seolah-olah kaum kapitalis itu yang menggenggam dunia, dan orang-orang miskin itu hanya menyewa dunia.

Di sisi lain, Andrew juga mengajak kita berpikir. Apakah kehidupan itu sebatas uang? Dan apakah tanpa uang kita disebut miskin? Padahal, Tuhan sekalipun tak pernah mengutuk seseorang itu menjadi miskin. Tuhan meminta kita hidup bersyukur dan apa adanya.

MISKIN itu masalah persepsi. Banyak orang bergaji tinggi dan tunjangan besar, tapi merasa miskin. Tapi ada yang bergaji pas-pasan, mereka sudah merasa kaya untuk mencukupi keluarga.

“…mereka menjadi miskin karena tidak melakukan sesuatu, bukan karena tidak memiliki sesuatu,” begitulah kata Peraih Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen.

Semenjak mengenal alat tukar, dari situlah orang-orang mengejar uang. Dari sinilah, peradaban ekonomi berubah. Sampai akhirnya permainan uang tidak cuma dalam dunia nyata, tapi juga di dunia maya (pasar modal).

Maka dari itulah, saban hari orang-orang bekerja mencari uang. Dengan uang segalanya menjadi mudah. Karena uang, orang-orang mencari jalan pintas: merampok, mengutil, atau menggangsir uang negara yang dilakukan oleh koruptor.

Mereka seolah tak ingin ditinggalkan oleh uang. Bagi mereka uang adalah dewa. Mereka itulah yang telah dikutuk oleh uang. Uang menjadi sebuah benda kutukan di abad modern. Money is a curse.

Apakah kaum urban di sekitar segitiga emas Jakarta (golden triangle Jakarta) juga mengejar benda kutukan itu? Yang tiap pagi berderap kaki-kaki mereka memburu waktu karena tak ingin terlambat. Kaum komuter serudak-seruduk dengan motornya, menggilas aspal Jakarta sejak subuh hari dan pulang ketika mendekati dini hari.

Sepatutnya, kita bekerja adalah untuk melakukan sesuatu agar sesuatu lain itu tercukupi. Bukan kemudian kita bekerja untuk membeli sesuatu. Apakah Anda ingin menjadi makhluk kutukan uang?

(di muat di Jurnal Nasional, 21 Februari 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s