Dari Johar 8: Hypno-marketing

“SAMA pulsa sekalian, Mas?”, “Tambah Rp2.000 lagi dapat produk ini loh, Bu?, “Ada yang lain lagi atau sudah cukup, Pak?”, atau “Enggak sekalian sama DVD-nya, Mbak, sedang promo?”.

Tentu, kejadian-kejadian seperti itu seringkali Anda jumpai ketika berhadapan dengan kasir atau salesman, entah itu di minimarket, supermarket, tempat makan waralaba, dan lain-lain. Dan itu berulang-ulang (repetisi) pada setiap pembeli.

Seorang kasir: yang ramah, mengulum senyum, dan berkata lembut, akan menawarkan sesuatu yang lain, ketika Anda sudah memegang belanjaan. Dan, terkadang pembeli menuruti saja rayuan si kasir.

Saat itu kasir menciptakan sugesti, mulai dari pilihan kata sampai gestur, untuk menciptakan emosional dan personal. Perhatikanlah setiap kasir berkata, adakalanya terselip kata Pak, Ibu, Mas, dan Mbak. Mereka ingin menciptakan kondisi personal.

Apa yang dilakukan kasir itu, saya sebut sebagai hypno-marketing. Sebuah cara penjualan yang memberikan sugesti ke dalam alam berpikir pembeli. Seperti layaknya, cara kerja hipnotis, penjual merangsang pembeli.

Dan diharapkan, pembeli mengambil keputusan yang cenderung dipengaruhi oleh alam bawah sadar, agar membeli barang kembali.

Cara marketing seperti ini, boleh saya katakan lebih ‘sukses’ menggaet pembeli dibandingkan dengan cara konvensional, melalui spanduk, baliho, atau iklan di media massa.

Cara kerja penjual ini mengandalkan komunikasi alam bawah sadar. Anda boleh tidak percaya, bahwa secara tidak kita sadari, sewaktu kita berbelanja kita menggunakan ketidaksadaran diri kita.

Sigmund Freud (1856-1939), ahli psikoanalisis, mengumpamakan kondisi kesadaran berpikir manusia itu seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut. Yaitu bagian yang tampak di atas terlihat lebih kecil (baca: pikiran sadar), ketimbang yang berada di bawah permukaan gunung itu sendiri (pikiran bawah sadar).

Dan memang kenyataannya alam bawah sadar itu lebih memegang peranan dibandingkan pikiran sadar. Contohnya, Anda dengan santai bisa bermain telepon genggam di saat menyetir mobil. Ada kesadaran dari dalam diri kita, sehingga mampu mengoperasikan telepon genggam di antara kemacetan.

Kembali ke masalah marketing tadi. Apakah dengan begitu, itu sebuah penipuan yang dilakukan si penjual? Tentu, pelaku usaha akan mengatakan serempak: Tidak! Menurut saya, itu adalah sebuah taktik atau siasat dalam berjualan.

Apakah bersiasat itu diperbolehkan? Ya tentu saja diperbolehkan sepanjang, siasat itu tidak menjerumuskan si pembeli.

Nah, yang terjadi adalah banyak sekali pembeli “tertipu” bujuk rayu tersebut. Dan sekali lagi, pembeli baru menyadari kekesalannya terhadap si penjual ketika berada di rumah atau saat di dalam mobil ngobrol bersama suaminya.

Perhatikan orang-orang yang mengantre di depan kasir. Sebagian besar orang akan melongo, terdiam, melihat kanan-kiri, sambil memegang barang, atau bermain blackberry.

Dalam kesempatan seperti ini, alam sadar kita tak terpakai 100 persen. Ketika ada suatu rangsangan yang ‘mengejutkan’, kerja alam kesadaran baru bergerak dalam kecepatan tidak penuh, tapi alam bawah sadarlah yang merespon cepat.

Celah kerja otak inilah dimanfaatkan para pelaku usaha di dunia modern saat ini. Tentunya ini, bukan kibul-kibulan ala seller, tapi siasat yang cenderung ‘menjebak/memancing’  pada pembelian impulsif.

Gaya marketing ini, harus Anda sikapi dengan sebuah kesadaran membeli yang analitis dan kritis. Jangan terlalu menurut dorongan primitif, tapi pakailah rasionalitas untuk menimbang situasi yang ada.

(dimuat di Harian Jurnal Nasional edisi 13 Maret 2012)

2 thoughts on “Dari Johar 8: Hypno-marketing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s