Tiga Kali Kopi di Lobi Fraksi*

SEORANG office boy bolak-balik mengantar snack dalam kardus putih ke ruang rapat panja di Nusantara 2 Gedung DPR. Ini adalah kali kedua, setelah sorenya snack pertama diantar.

Sebelumnya, tiga kali pula dia mengantar kopi dan dua kali minuman mineral sejak rapat lobi dimulai pukul 15.30.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, tapi rapat lobi fraksi-fraksi tentang pasal 7 ayat 6A belum juga kelar. Padahal sebelum pukul 00.00, RUU APBN-P 2012 harus segera disahkan.

Dalam pasal 161 ayat 4 UU MPR/DPR/DPD/DPRD dikatakan bahwa penetapan harus segera dilakukan setelah satu bulan usulan RAPBN-P diserahkan ke DPR. “Jika tidak maka kembali ke UU APBN sebelumnya,” kata anggota Fraksi PPP Romahurmuziy di luar ruang robi.

Setengah jam kemudian, satu per satu anggota fraksi dari Demokrat, Golkar, PKS, PKB, PPP dan PAN keluar dari ruang lobi. Rapat lobi kelar.

Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas tenang melangkah. Di belakang mengikuti Sutan Bhatoegana dan anggota Fraksi Demokrat lainnya. Jurnal Nasional sempat disergah pengawal Ibas, ketika hendak mewawancarainya. “Nanti saja,” kata pengawal itu sambil menarik tangan saya.

Sutan seperti biasanya, sumringah. Kepada saya, ia menceritakan bahwa rapat lobi berjalan alot. Masing-masing fraksi ngotot dengan usulannya. “Tadi tidak ada titik temu,” katanya sambil masuk ke pintug belakang ruang rapat paripurna.

Rapat lobi berjalan sekitar tujuh jam sejak pukul 15.30 Ketua DPR Marzuki Alie menskors rapat. Rapat ini menyamakan pandangan dari beberapa fraksi anggota partai koalisi yang berbeda pandangan dalam usulan pasal 7 ayat 6A yaitu dalam prosentase kenaikan. Tidak ada perwakilan dari PDIP, Gerindra, dan Hanura.

Rapat lobi sempat tertunda lama, karena Golkar dan PKS berkonsolidasi di luar rapat. Konsolidasi PKS langsung dipimpin oleh Presiden PKS Lutfi Hakim.

Ketika rapat kembali dibuka sekitar pukul 22.25, tapi PDIP belum juga hadir. Masih sempat molor selama 15 menit.

Dalam rapat paripurna, usulan partai koalisi yang tadinya pecah dengan beberapa usulan, akhirnya satu suara, kecuali PKS. Partai koalisi mengusulkan dalam pasal 7 ayat 6 ditambah ayat 6A dengan ketentuan harga rata-rata ICP yang berjalan naik 15 persen dari asumsi ICP yang ditetapkan dalam APBN-P 2012.

Sementara PKS yang tadinya meminta usulan prosentase 20 persen dalam rentan waktu 90 hari terakhir, kemudian menarik usulan tersebut dalam forum lobi. Tapi, dalam kelanjutan sidang paripurna PKS berubah lagi, mal ah memilih untuk sependapat dengan gerbong PDIP, Gerindra, dan Hanura.

Perdebatan di ruang rapat, kembali bermunculan. Semua ingin bicara. Sempat terjadi ricuh di depan meja pimpinan, mesiki akhirnya anggota dewan kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Marzuki Alie sempat kesulitan menenangkan anggota. Bahkan, sampai dirinya mengutip pernyataan almarhum Presiden Gus Dur bahwa DPR seperti taman kanak-kanak, “Benar apa yang dikatakan Gus Dur waktu itu…,” ujar Marzuki yang tak meneruskan kata-kata selanjutnya.

Jam menunjukkan 23.58, dan pemungutan suara dilakukan terhadap keberadaan pasal 7 ayat 6 dan ayat 6A. Sebanyak 82 anggota menolak, sedangkan 356 anggota setuju. Sisanya, anggota dari Fraksi PDIP dan Hanura walk-out.

*(Dimuat di Jurnal Nasional, Sabtu (31/3/2012))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s